Dua Hati

Dua Hati
part 6


__ADS_3

Ponsel gue berbunyi tanda ada panggilan masuk, ‘nyokap’ tertulis di layar ponsel gue yang berukuran hampir 6 inchi ini. Gue pun mengangkat panggilan masuk tersebut.


“Halo, iya, Mah?” sapa gue menjawab.


“Kamu di mana, kok enggak pulang?” tanya suara wanita dibalik telepon ini.


“Lagi ada kerjaan di luar, Mah, emangnya kenapa?” jawab gue asal.


“Oh, emangnya kamu kerja apa sampai enggak pulang-pulang gini?” tanya nyokap gue.


“Biasa mah, kerja lapangan suruh ngeliput,” jawab gue berbohong.


“Yaudah, kamu kapan pulang?”


“Bulan depan kayanya, Mah.”


“Yaudah, hati-hati, ya.” Telepon pun diakhirinya.


Pundak gue ditepuk oleh seseorang, “Ian, ibu lu yang telepon barusan?” tanya Gina dari kursi belakang.


“Iya,” jawab gue singkat karena tengah menikmati lamunan dan suguhan jalanan yang menanjak ini.


Setelah hampir satu jam mobil ini melaju, kami akhirnya bisa sampai di lokasi acara kantor. Tio pun memarkirkan mobil ini di parkiran yang sudah dipadati mobil-mobil lain. Gue pun turun sambil meregangkan tubuh dan menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Udara yang rasanya hampir berbeda dengan udara di kamar kosan gue.


Asti dan Gina pun turun dari kursi belakang mobil. Betapa indah pemandangan alam dan ditambah pemandangan kedua wanita ini yang bisa “me-laundry” mata gue ini.


“Duh, seger banget, ya, bro mata kita. Tiap hari liat layar komputer mulu sekarang liat pemandangan kaya gini,” ucap gue pada Tio yang sepertinya merasakan hal yang sama.


Gue mengambil koper dan tas ransel gue di bagasi belakang. Tio sendiri membawa tas tidak terlalu besar seperti gue. Kami berjalan menuju rumah yang bisa dibilang vila tempat acara kantor kami akan diadakan.


Rumah ini terlihat besar dengan dua lantai dan model cukup sedeharna. Sekitar 30 meter dari rumah itu terdapat area seperti lapangan dengan lingkaran tempat membakar api unggun dengan diameter sekitar 1 meter. Tapi bukan hanya itu saja, di ujung area lapangan ini, kita bisa melihat pemandangan kota yang sangat indah. Pagar kayu membatasi ujung lapangan itu menjaga kita agar tidak jatuh ke jurang yang dipenuhi pohon-pohon.


Terlihat beberapa orang panitia yang tengah duduk di meja yang terletak dekat pintu rumah tersebut. Kami berempat menuju meja itu untuk registrasi atau hanya sekedar menulis nama dan pembagian kamar kita masing-masing.


“Pagi, Mas,” ucap salah seorang yang duduk dibalik meja ini.

__ADS_1


Kami bersalaman dan berbasa-basi sedikit untuk membuat suasana sedikit cair. Dari penjelasan panitia, kamar di villa ini berjumlah 10 kamar dan rencananya setiap kamar diisi oleh maksimal 10 orang.


“Dari yang kami undang sekitar 50 karyawan, Mas, jadinya estimasi ada seratus orang kalau setiap karyawan bawa pasangannya masing-masing,” jelas Andri salah satu panitia acara ini.


“Si bos bakal datang enggak, Mas?” tanya Tio sambil mengisi absen.


“Ah, kaya enggak tahu si bos aja, paling dia tahun baruan diluar kota sama keluarganya,” jawab Andri disambung tawanya.


Akhirnya gue dan Tio menghuni kamar nomer 4 di lantai satu dan para wanita menghuni kamar di lantai dua.


“Duh, sayang banget dipisah, jadi enggak bisa ngintip,” ucap Tio berbisik pada gue.


Sebuah area luas berada di tengah rumah ini dan dikelilingi oleh kamar-kamar yang gue lihat saat memasuki rumah ini. Lantai duanya pun terlihat seperti beranda dengan lebar 1 meter untuk mencapai setiap kamar. Bagian tengahnya kosong dan dapat dilihat dari bawah.


Mungkin area ini bisa dijadikan tempat acara apabila cuaca diluar tengah hujan atau keadaan tidak mendukung lainnya. Tapi tentu saja kita tidak bisa melakukan acara api unggun bila di dalam sini.


Beberapa orang duduk di area ini, ada beberapa yang tersenyum melihat gue dan ada juga yang biasa saja. Gue masuk ke kamar gue setelah mengantarkan koper ke kamar wanita di lantai dua.


Kamarnya sendiri bisa dibilang cukup luas. Tempat tidurnya adalah tempat tidur tingkat ala militer dan dijajarkan dengan jarak yang ideal. Sebuah kamar mandi ada di setiap kamar tentunya.


“Waduh, udah berapa lama, ya, kita enggak ketemu,” ucap Mas Irfan sambil tersenyum.


Dia ini bisa dibilang sebagai penyelamat gue di kantor ini pasca kejadian kelam gue waktu dulu. Mas Irfan mengajak gue dan Tio untuk mengobrol di luar sambil menikmati suasana alam tentunya. Kebetulan sekali waktu gue keluar, Asti dan Gina tengah berdiri disamping pembatas lantai dua, sehingga gue bisa mengajak mereka berdua.


Kami bertiga lalu duduk di sebuah meja bundar di ujung lapangan sambil menikmati pemandangan kota. Kedua wanita itu datang menyusul dan gue kenalkan dengan Mas Irfan ini.


“Waduh, pacarnya Ian sampai dua begini,” goda Mas Irfan membuat kedua wanita itu membantah dengan cepat.


“Bukan, Mas, cuma temen.” Asti tersenyum tanggung.


“Kamu udah punya pacar lagi setelah kejadian itu, Ian?” tanya Mas Irfan mengungkit masa lalu gue.


“Kejadian apa, Mas?” tanya Asti penasaran. Gina pun terlihat penasaran namun dia seperti menahan pertanyaannya.


“Gimana, Ian? Ceritain jangan?” tanya Mas Irfan meminta persetujuan gue.

__ADS_1


Mas Irfan ini orangnya sudah berumur. Mungkin sekitar 40 tahunan. Mungkin banyak orang yang melihatnya dirinya bijak dan dewasa, tapi kalau udah menyangkut rahasia begini, dia bisa lebih "bocor" dari siapa pun.


“Terserah, Mas, aja. Saya pasrah kalau urusan beginian,” ucap gue.


“Yasudah, kalau kalian mau dengar ceritanya-” Mas Irfan mengeluarkan dompet dan mengambil uang 50 ribu, “belikan dulu kopi di warung sana.” Mas Irfan menunjuk salah satu warung dan menyodorkan uang itu kepada dua wanita.


Dengan gerakan cepat, kedua wanita itu pergi untuk membeli kopi yang akan menemani perbincangan ini. Sambil menunggu, gue pun sedikit bercerita padanya tentang kepindahan gue ke kosan hingga bertemu dengan dua wanita itu.


Mas Irfan pun sesekali memberikan wejangan pada gue. Kalau sudah mengobrol dengan orang ini, rasa-rasanya ingin berlama-lama.


Tidak berapa lama, kedua wanita kembali dengan membawa dua nampan. Yang satu berisi lima cangkir minuman dan yang satunya lagi berisi cemilan untuk menemani obrolan ini.


“Maaf, ya, Mas Irfan, uangnya dipake semua,” ucap Gina sambil membagikan cangkir minuman yang dibawanya.


“Oh, iya enggak apa-apa, kok, yang penting semua ini mesti dihabisin, ya. Kalau enggak habis nanti saya tagih lagi 50 ribunya.” Mas Irfan pun tertawa pelan.


“Tenang aja, ada Asti nih yang siap menghabiskan,” ucap Gina sambil menunjuk Asti yang tengah menyimpan piring-piring ke tengah meja. Asti hanya melirik ke arah Gina seperti berucap, tau aja sih lu.


Kami pun menikmati hidangan yang tersaji dengan santai. Sungguh suasana yang sangat nikmat yang saat ini kami rasakan.


“Jadi cerita enggak nih, Mas?” tanya Asti pada Mas Irfan.


“Oh, nungguin ternyata.” Mas Irfan pun tertawa menyindir. “Ian, ceritain sama kamu, ya.”


“Loh, kok sama saya, Mas? Kan tadi Mas yang nawarin,” tolak gue.


“Tapi kamu kan pemeran utamanya. Ceritain aja, kali aja dari dua wanita ini ada yang jadi pacar kamu, atau bahkan dua-duanya jadi pacar kamu.” Tawa Mas Irfan sejadi-jadinya.


“Ah, jangan gitu Mas, dulu aja satu sampai repot gitu, apalagi sampai dua pacar,” tolak gue.


Gue pun akhirnya bersedia untuk menceritakan kembali “luka” setahun lalu yang sudah gue lupakan, tapi gara-gara Mas Irfan gue jadi mesti ingat-ingat lagi. Gue mengambil cangkir yang berisi kopi dan meminumnya sedikit sebelum mulai bercerita.


“Jadi kejadiannya itu sekitar satu tahunan yang lalu, pas gue baru dua bulan jadi karyawan di kantor ini.” Gue pun berusaha mengingat setiap detail kejadian.


“Terus, terus?” ucap Asti seperti tidak sabar.

__ADS_1


“Gue pun gila kerja sampai akhirnya ....” Mata gue menerawang ke langit diatas kota.


__ADS_2