Dua Hati

Dua Hati
Mangsa yang tepat


__ADS_3

Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi beberapa kali juga Raka melanggar lampu merah, dalam keadaan jalanan yang padat Raka menyalip mobil yang melaju di hadapannya.


Amarahnya kini berada di ubun-ubun, ia sudah tidak memperdulikan hidupnya lagi. Yang ada dalam pikirannya hanya kejadian yang di lihatnya di depan rumah Dhea.


"Aarrrgggh" Raka memukul-mukul setir mobilnya, ia ingin meluapkan amarahnya. Segala pikiran buruk berputar-putar dalam kepalanya.


Raka sampai di depan kantornya, memarkirkan mobilnya dengan kasar dan melemparkan kunci mobilnya kepada penjaga yang berada di dekatnya tanpa basa-basi. Wajahnya sudah tak perlu di tanyakan lagi ekspresinya sangat dingin, bahkan ia memberikan tatapan membunuh pada karyawan yang melakukan kesalahan meskipun itu hanya kesalahan sepele.


"Apa-apaan ini?" bentak Raka pada seorang Office girl yang membawakan minuman pesanan Raka ke ruangannya.


"Maaf Tuan itu pesanan anda tuan" dengan takut Office Girl itu menjawab.


"Kau sudah bosan bekerja disini? Aku minta minuman hangat, ini terlalu panas" bentak Raka keras bahkan suaranya menggema di ruangannya. Raka mengambil cangkir dan menumpahkan minumannya di kepala Office Girl tersebut.


Minumannya yang hangat tidak melukai Office Girl tersebut namun hatinya sakit di perlakukan semena-mena oleh atasannya itu. Walau sudah di kenal bahwa atasannya itu selalu bersikap dingin dan arogan namun ini pertama kalinya mendapatkan perlakuan yang terbilang kejam karna ia tidak melakukan kesalahan seperti yang Raka ucapkan.


"Keluar sana, lakukanlah pekerjaanmu dengan benar" usir Raka dengan keras mengayunkan tangannya memberi kode untuk keluar.


Dengan menangis office girl itu berlari ke pantry untuk membuat kembali minuman pesanan Raka.


Radit menghampiri Office Girl yang kini tengah mengeringkan rambutnya dengan tisu dan membuatkan kembali teh hijau hangat pesanan Raka.


"Ada apa sa?" tanya Radit mendekati office girl bernama Lisa yang sedang menangis.


"Maaf tuan, saya salah membuat minuman untuk tuan Raka" Lisa menundukan kepalanya ia takut kesalahannya kali ini akan membuatnya di pecat.


"Sudah kalau gitu bikin lagi yang baru, sekalian buatkan untukku" ucap Radit bijak lalu melangkahkan kakinya ke luar dari pantry.


Tok...tok...tok...


"Masuk" ucap Raka datar seakan tidak terjadi apapun sebelumnya.


"Ada apa Ka?" tanya Radit begitu sampai di depan meja Raka.


Raka tak menjawab pertanyaan Radit, ia terus menatap pada layar laptop yang sebenarnya hanya di tatapnya karna pikirannya melayang entah kemana.


Tok.. tok..tok..


"Permisi tuan" Lisa kembali masuk membawa dua cangkir teh hijau.

__ADS_1


"Silahkan" ucap Radit sopan.


"Minumanku taruh di sana" titah Radit menunjuk meja dekat sofa setelah Lisa menaruh minuman untuk Raka di meja kerjanya. " Kamu boleh keluar" ucap Radit lagi tak ingin office girl itu menjadi bulan-bulanan Raka yang terlihat penuh dengan amarah yang entah karena alasan apa.


"Kenapa kamu terlihat kesal, bahkan kamu murka hanya karena hal sepele. Apa telah terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Radit seraya memperhatikan ekspresi Raka yang sangat dingin dengan sorot mata seakan menyimpan kemarahan sekaligus kesakitan dan juga cinta yang sama besarnya.


"Bukan urusanmu" hardik raka dan bangkit dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangannya, langkahnya terhenti sesaat di depan pintu "Lakukan pekerjaanmu, buat jadwal ulang kalau ada meeting yang tidak bisa di wakilkan. Jangan ganggu aku hari ini" ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.


Radit hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah bos sekaligus sahabatnya. Ia sangat yakin telah terjadi sesuatu yang membuat Raka berubah menjadi seperti predator hari ini.


*****


Di satu meja sebuah kafe yang telah di pesannya sebelumnya Raka terduduk sendiri, minuman dan makanan tertata di mejanya, ia hanya menatap sebuah panggung kecil dengan tatapan kosong.


Ia mengingat hari bahagianya saat melamar Dhea di hadapan pengunjung kafe yang tengah ramai dan di saksikan oleh Vanya dan Rio. Kenangan yang selalu bisa menguatkan hatinya ketika jiwanya mulai merasakan keputusasaan, bahkan saat ia merindukan Dhea ia akan berlama-lama di dalam kafe hanya untuk duduk tanpa menyentuh makanan dan minuman yang di pesannya.


Di saat keadaan terlemahnya ia mencari sumber kekuatan dalam kenangannya bersama Dhea. Setiap berkunjung Raka akan memesan makanan minuman yang sama seperti saat ia melamar Dhea walau tak pernah di sentuhnya, ia juga meminta di putarkan lagu-lagu yang mewakili perasaan hatinya, ia menjadi pria melankolis jika berkaitan dengan Dhea.


**Ku selalu mencoba


Untuk menguatkan hati


Dari kamu yang belum juga kembali


Yang membuat ku bertahan


Penantian ini kan terbayar pasti


Lihat aku, sayang


Yang sudah berjuang


Menunggumu datang


Menjemputmu pulang


Ingat aku, sayang


Hatiku kau genggam

__ADS_1


Aku tak kan pergi


Menunggu kamu disini


Tetap disini


Jika bukan kepadamu


Aku tidak tahu lagi


Pada siapa rindu ini kan kuberi


Pada siapa rindu ini kan kuberi**


Tiga lagu yang harus di putar setiap Raka datang adalah lagu melamarmu, doaku untukmu sayang dan menunggu kamu seperti yang sedang di putarkan pelayan kafe.


Raka akan pergi setelah mendengarkan tiga lagu untuk mengisi kekosongan hatinya. Begitupun hari ini Raka beranjak meninggalkan kafe dengan perasaan yang lebih baik seakan di dalam sana ia telah mengisi power untuk mengisi daya.


Ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari kafe, membuka pintu mobilnya namun pandangannya menyapu jalanan yang lengang di jam kerja seperti saat ini kemudian matanya menangkap pemandangan yang membuatnya menyorotkan tatapan membunuh.


Terlihat seorang gadis yang tengah meronta-ronta dalam pelukan seorang laki-laki dan di kelilingi dua laki-laki lainnya yang tertawa, sepertinya laki-laki itu tengah mabuk.


"Lepaskan aku, hiks..hiks.." mohon gadis itu dalam isaknya. Gadis cantik dengan rambut pirang bermata coklat.


"Kau harus temani kami sayang" ucap laki-laki itu tak perduli dengan tangisan gadis yang tengah meronta dalam pelukannya.


Laki-laki yang lainnya mencoba untuk menyentuh gadis itu yang membuatnya semakin ketakutan dalam Isak tangisnya.


"Lepaskan dia" teriak Raka di hadapan laki-laki yang tengah mabuk di siang hari dan kerap kali membuat keonaran.


"Wow.. ada pahlawan kesiangan rupanya" ucapnya semakin memeluk erat gadis itu dan memberi kode kepada temannya untuk menghajar Raka.


Karena keseimbangan di bawah pengaruh alkohol membuat Raka dengan mudah mengalahkan kedua laki-laki itu hingga tak sadarkan diri.


"Lepaskan dia" Raka mencengkram kerah baju laki-laki pemabuk itu, membuatnya meregangkan pelukannya sehingga gadis itu terlepas.


Raka memberinya sebuah pukulan yang membuat bibir si pemabuk itu mengeluarkan darah segar, sungguh Raka mendapat mangsa untuk melampiaskan amarahnya saat ini.


"Brengsek" ucapnya mengusap darah di sudut bibirnya. Mencoba memberi perlawanan namun Raka dengan mudahnya menghindar sehingga Raka dengan mudah menambahkan beberapa pukulan lagi.

__ADS_1


Dengan terseok-seok pemabuk itu melarikan diri bahkan terlihat beberapa kali ia tersungkur di aspal "Awas Lo ya, gue gak akan tinggal diam" ancamnya seraya menunjuk ke arah Raka.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Raka menghampiri gadis yang kini tengah menangis memeluk lututnya. Ia mendongakkan kepalanya melihat Raka yang membungkukkan badannya. Melihat sorot mata sendu gadis itu, raka mengulurkan tangannya namun gadis itu memeluk Raka dengan sangat erat sebelum akhirnya tak sadarkan diri dalam pelukan Raka.


__ADS_2