
Selesai makan kami masih belum pulang juga, aku ingin menikmati kencan pertamaku dengan suamiku lebih lama lagi. Tujuan kami setelah makan adalah beli baju bukan untukku atau untuk Gus Alvin tapi untuk Aira.
Sebenarnya aku awalnya tidak ada niat untuk membelikan baju untuk Aira. Tapi kami tiba-tiba berhenti di sebuah toko yang khusus bayi dan anak-anak.
Aku dan Gus Alvin menoleh bersamaan. Aku tahu dia memikirkan yang sama denganku. Dengan kompak kami menyebutkan nama Aira.
Aku memilih pakaian yang lucu-lucu dan tentunya sangat imut serta aku juga membeli pernak-pernik yang biasa di pakai balita perempuan.
Aku meminta pada Gus Alvin kali ini aku yang membayarnya karena aku memang ingin memberikan hadiah pada Aira.
Ternyata dunia itu memang sempit dan sangat kebetulan sekali. Kami bertemu dengan Mbak Anisa dan Shofi di depan toko bayi tersebut. Mereka sepertinya ingin berbelanja juga sedangkan aku sudah selesai berbelanja.
"Loh Mas sama mbak Nadia kok ada disini?" Ucapnya kaget setelah mbak Nadia mencium tangan Gus Alvin.
Shofi hanya sedikit tersenyum padaku. Aku tahu dia masih belum menerimaku dengan seutuhnya.
"Kami tadi habis makan mbak, terus lihat toko bayi ini jadi ke inget sama Aira jadi beli deh. Ini buat Aira.
Semoga suka." Kataku memberikan tas yang berisi pakaian balita perempuan.
"Alhamdullillah, MasyaAllah. Saya memang mau beli baju buat Aira tapi karena sudah dibelikan mbak Nadia, jadi tidak perlu. Makasih yaa mbak." Katanya dengan senang.
Aku melirik Gus Alvin dia sedang tersenyum melihat kami. Dia pasti bahagia karena dua istrinya akur tidak seperti di sinetron yang sering aku tonton.
Tiba-tiba, aku harus menjaga jarak dari mereka karena aku harus menerima telepon dari Fina.
"Iya Fina ada apa?" Jawabku.
"Mbak, klien kita yang bernama Fahri meng-cancel kita." Ucap Fina terdengar sedih.
"Alasannya?"
"Calonnya meninggal dunia." Ujar Fina pelan. Mungkin dia berkata dengan pelan agar tidak menyinggung perasaanku yang pernah di tinggal pergi dengan cara meninggal juga.
"Innalillah." Kataku bersedih. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan dia. Dia kehilangan orang yang dia cintai ketika mereka akan segera melangsungkan pernikahan.
"Terus mereka minta uangnya kembali." Kata Fina.
Mereka sudah membayar lima puluh persen dari harga yang kami tentukan. "Kasih saja." Kataku dengan ikhlas.
Aku memutuskan panggilanku dengan Fina dan kembali kepada keluarga Gus dan Ning itu. "Siapa yang meninggal mbak?" Tanya Gus Alvin dan mbak Anisa kompak. Bedanya Gus Alvin tidak ada kata mbak di belakang kalimatnya. Kompak sekali pasangan suami istri ini.
"Calon pengantin klienku." Kataku singkat.
Mereka terdiam dan menatapku prihatin. "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Kataku dengan tersenyum.
"Mbak Anisa sudah mau pulang? Mampir ke rumah yuk?" Ajakku senang sekalian mengalihkan tatapan mereka yang seperti menatapku dengan iba.
Mbak Anisa jarang sekali ke rumah. Hanya dua kali dia ke rumahku. Waktu melayat dan di waktu pernikahanku dengan Gus Alvin.
__ADS_1
"Maaf mbak, kapan-kapan saja yaa. Saya ini tidak bilang ke Aira kalau mau keluar pondok." Katanya cemas.
"Anisa, nanti Aira nangis cariin kamu." Tegur Gus Alvin.
"Airanya lagi main kok Mas sama mbak-mbak santri.
Untung mbak Nadia udah beliin baju buat Aira jadinya bisa cepat pulang." Ucapnya berterima kasih kembali padaku.
Gus Alvin lalu menoleh padaku. "Apa masih ada tempat yang mau kamu datangi Nadia?" Tanya Gus Alvin.
"Tidak ada." Kataku cepat.
"Yasudah ya Mas, mbak Nadia kami pulang duluan." Pamit mbak Anisa dan lagi-lagi Shofi hanya sedikit menganggukan kepalanya padaku.
Gus Alvin mencegah mbak Anisa dan bertanya dimana mereka memarkirkan mobilnya dan ternyata mereka memarkirkannya sama dengan tempat kami memarkirkan mobil kami.
"Yasudah, kita sama-sama saja pulangnya." Ucap Mas Alvin.
Gus Alvin menggemgam tanganku kembali dan mbak Anisa melihatnya. Dia lalu berpindah posisi berada paling pinggir jadi yang ada di sebelah Gus Alvin adalah adiknya, Shofi.
"Anisa sini." Panggil Mas Alvin memintanya agar berjalan berdampingan dengan kami.
Dia malah tersenyum dengan lembutnya. "Gak papa Mas, sekarang waktunya sama mbak Nadia, jadi Mas jangan sama saya." Katanya dengan hati yang begitu lapangnya.
Hati mbak Anisa terbuat dari apa sih?Apa dia tidak pernah cemburu?
"Iya. Kalau Mas Alvin gandeng tangan Mbak Anisa.
Gus Alvin tersenyum dan mengangguk mengerti. Dia hanya mengusap kepala mbak Anisa lembut.
Kami berjalan di belakang Anisa dan Shofi. Shofi sepertinya begitu dekat dengan mbak Anisa. Jadi wajar saja jika dia tidak menyukaiku. Mungkin karena mbak Anisa adalah kakak ipar yang sehati dengannya. Tapi tidak sehati denganku.
Di tempat parkir ternyata ada Amir yang sedang menunggu. Amir salim pada Gus Alvin dan menyapaku sopan.
Amir sebenarnya laki-laki yang manis. Tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek juga. Dia lebih muda dua tahun dariku dan satu tahun lebih tua dari Fina satu tahun.
"Eh Mas, Amir udah punya kekasih belum?" Tanyaku penasaran.
"Kenapa? Kamu mau jodohin sama Fina?" Tebaknya dengan sangat tepat.
"Kok Mas tahu?" Kataku terheran-heran.
Gus Alvin hanya tersenyum dan menghampiri mbak Anisa. Mbak Anisa pamit dengan salim pada Gus Alvin lalu Gus Alvin mencium kening dan kedua pipi mbak Anisa. Mbak Anisa hanya tersenyum senang dan Shofi mengajukan protesnya lagi yang dengan teganya bermesraan di depannya.
Gus Alvin meminta Amir menyetir dengan kecepatan sedang dan dengan hati-hati.
Namun Mbak Anisa meminta Amir untuk jangan segera berangkat karena ada telepon yang sepertinya dari pondok. Sebuah panggilan video dari Naura.
"Mbak Anisa." Teriak Naura. Naura adalah gadis remaja yang tidak ada tampang-tampangnya menjadi seorang Ning. Apa karena dia bergaul dengan Zahwa jadi Naura ketularan keponakanku itu.
__ADS_1
"Aira nangis bak, ini cariin mbak." Protes Naura.
"Ummi kemana?" Ucap Aira menangis sesegukan setelah melihat wajah umminya yang tersenyum di layar handphonenya.
"Maafin ummi yaa, Ummi gak pamit sama Aira. Ini ummi udah mau pulang dan ada oleh-oleh baju buat Aira yang beliin Umma Nadia loh." Katanya dengan menampilkan wajah Aira padaku. Aku menyapa Aira yang sudah berhenti menangis.
"Terima kasih Umma Nadia." Ucap Aira dengan gemasnya.
"Sama-sama sayang." Kalau Aira ada di dekatku sudah pasti aku peluk Aira dengan erat.
"Ada Abi juga." Ucap mbak Anisa.
"Gak mau." Tolak Aira langsung. Aku yang mendengarnya menahan tawaku. Kasian sekali suamiku ini. Di tolak sama putrinya sendiri.
"Aira... ini Abi." Rayu Mas Alvin.
"Gak mau. Aira mau sama ummi. Cepat pulang Ummi." Ucap Aira yang kini air matanya jatuh kembali.
"Iya ini Ummi sudah mau pulang. Kenapa Aira gak mau bicara sama Abi?" Tanya mbak Anisa penasaran dan aku juga penasaran karenanya.
"Abi gak pamit sama Aira kalau mau pergi ke rumah umma Nadia." Ucap Aira polos.
Aku tersenyum kecut mendengarnya. Entah apa yang di ucapkan mbak Anisa pada anak kecil yang baru menginjak umur tiga tahun. Tentang abinya yang punya dua istri. Mbak Anisa dengan berlapang hati sudah mengajari Aira dengan memanggilku Umma.
Gus Alvin mengambil handphone mbak Anisa dan berbicara berdua dengan Aira. Dia menjauh dari kami. Tapi masih terdengar suara mereka.
"Maafin Abi yaa, nanti kalau Abi pergi kemanapun Abi bakalan pamit sama Aira." Bujuk Gus Alvin dengan nada halusnya.
"Janji?" Tanya Aira.
"Iya janji." Kata Gus Alvin yakin
"Yasudah, Abi Aira maafin. Nanti kalau pulang dari rumah Umma Nadia bawa oleh-oleh juga yaa." Pinta Aira yang sudah senang kembali.
Ah, Anak kecil suka sekali marah tapi mudah sekali membujuknya. Betapa polosnya mereka.
"Ok tuan putri." Ucap Gus Alvin senang dan memberikannya kembali pada mbak Anisa.
Kami akhirnya berpisah, sekarang yang jadi pertanyaanku. Apa mbak Anisa tidak cemburu jika Gus Alvin bersikap manis padaku?
Padahal ketika aku melihat Gus Alvin begitu perhatiannya pada mbak Anisa dengan mengecup kening dan kedua pipinya serta meminta Amir untuk menyetir dengan hati-hati sudah membuatku cemburu.
Benarkah mbak Anisa tidak cemburu sama sekali?
Mungkin dia merasa sakit hati ketika Gus Alvin menggandeng tanganku terlebih dahulu. Bukan dia.
Tapi dia dengan pintarnya mengatakan kalau hari ini adalah bagianku. Jadi dia menolak Gus Alvin untuk menggandeng tangannya.
Aku yakin mbak Anisa sebenarnya cemburu juga.
__ADS_1
Tapi dia menyembunyikannya dengan sangat baik. Bahkan lebih baik dari diriku.