Dua Hati

Dua Hati
Bab 28 : Tersisihkan


__ADS_3

Acara Haul ini diadakan begitu besar. Bahkan para alumni juga hadir dalam acara besar ini. Ini kali keduaku berkumpul dengan keluarga besar Gus Alvin tentu saja keluargaku juga hadir dalam pengajian besar ini.


Aku merasakan perbedaan waktu pertama kali dengan yang saat ini mereka seperti mulai menerimaku. Para sepupu dan bibi dekat maupun jauh mendekatiku dan membicarakan tentang mereka yang ingin menggunakan jasa make upku.


Sepupu Gus Alvin akan bertunangan minggu depan dan dua minggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Ada banyak keluarga Gus Alvin yang menanyakan paket yang tersedia di jasaku. Aku memberikan diskon jika clienku masih family denganku.


"Mbak, nanti aku make up seperti ini yaa, terus aku pengen gaun yang ini. Dekor panggungnya juga ini." Kata Fisya ketika aku menampilkan foto yang aku sodorkan padanya. Biasanya Fina yang memberikan brosurnya dan kami akan mendiskusikannya bersama dengannya. Sebaiknya aku bawa saja Fina kesini minggu depan.


Mereka seperti mulai menerimaku, meskipun aku bukan dari kalangan mereka. Aku melihat kepada mbak Anisa yang duduk dengan umminya dia tersenyum padaku.


Kenapa situasinya jadi berbalik, pada acara yang dulu tidak ada satupun keluarga Gus Alvin yang mengajakku berbicara dan berkumpul denganku tapi sekarang malah mbak Anisa yang duduk berdua dengan umminya. Hanya ada beberapa keluarga Gus Alvin yang mengerumuninya.


Aku merasa khawatir dengan mbak Anisa semoga saja dia tidak berpikiran bahwa aku merebut posisinya sebagai Calon Nyai di pesantren ini. Semoga saja dia tidak merasa mulai disisihkan dan merasa diabaikan.


"Nadia, kamu sudah isi belum?" Tanya bibi Maryam kakak ummi mertuaku.


Aku yang terkejut dengan pertanyaan seperti itu tidak tahu harus menjawab apa. Penikahanku dengan Gus Alvin sudah lebih dari satu bulan. Tapi aku tidak mengecek apa aku sudah hamil atau belum.


"Doakan saja bibi." Kataku dengan tersenyum. Menjadi mantu baru harus banyak menebar senyuman meskipun hatinya sedang berbalik dengan senyumannya.


"Semoga laki-laki yaa, soalnya dari postur tubuh Anisa, sepertinya anaknya perempuan lagi. Jadi dari kamu lahir anak laki-laki." Ucap bibi Maryam.


Aku hanya tersenyum mendengarnya. Yang terpenting anaknya sehat dan lengkap. Mau itu laki-laki atau perempuan.


"Kalau kamu bisa melahirkan anak laki-laki. InsyaAllah kelak yang memimpin pesantren ini adalah anakmu." Ucap bibi Sa'adah. Kakak ipar dari Abi mertuaku. Ummi dari Fisha yang akan bertunangan minggu depan dengan seorang Gus dari Kudus.


Aku merasa tidak nyaman dengan ucapan bibi Sa'adah. Apakah ini sistemnya seperti sistem kerajaan dimana Raja yang mempunyai istri banyak dan istri yang bisa melahirkan anak laki-laki berpotensi menjadi penerus selanjutnya.


"Bukannya apa kami mengatakan seperti itu, karena biasanya kalau perempuan itu akan ikut suaminya. Ada juga yang tidak ikut. Tapi akan lebih baik jika yang memimpin pesantren kelak adalah keturuna laki-lakinya bukan menantu laki-lakinya." Ucap bibi Maryam yang sepertinya mengerti akan pikiranku.


Aku hanya tersenyum tidak nyaman mendengar hal itu. Semoga saja mbak Anisa tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Aku tidak berniat merebut posisi mbak Anisa dengan cara melalui anakku. Ayolah ini bukan sistem kerajaan pada zaman dahulu.


Aku semakin menguatkan keinginanku supaya anakku seorang perempuan saja.


"Oh ya mbak Nadia, aku pengen fotografernya teman mbak tuh, Mas fotogrefer terkenal yang namanya Ibram Aksa Januar. Dia kan pernah posting foto mbak di akun Ig nya dia. Aku sudah menghubunginya tapi belum di respon. Siapa tahu lewat mbak Nadia, cepat di respon." Ucap Fisha panjang lebar. Dia gadis yang begitu bawel tapi dia gadis yang manis dengan lesung pipit yang dia punya.


Pada akhirnya cepat atau lambat aku akan sering berhubungan dengan Ibram. Jadwal pernikahan sepupunya hanya beda dua hari dengan hari pertunangan Fisya. Fisya hari Rabu sedangkan sepupu Ibram hari Jumatnya.


Semoga Ibram menjaga perkataannya sendiri untuk bersikap profesional. Terlebih jika dia menerima tawaran Fisya. Semoga dia benar-benar menjaga sikapnya di depan keluarga besar Gus Alvin.


❤❤❤


Setelah sholat isya' aku akan kembali ke rumahku dengan Gus Alvin yang mengantarku. Gus Alvin dan Aira sudah ada di mobil. Gus Alvin hanya menginap semalam jadi dia membawa Aira bersama kami.


Sewaktu izin ke Aira, Aira merengek ingin ikut ke rumahku. Aku tidak mengizinkannya dengan alasan mbak Anisa sendirian di rumah. Tapi mbak Anisa dengan santainya mengizinkan Aira untuk menginap di rumahku.


Aku kembali masuk ke rumah Gus Alvin karena ada barangku yang ketinggalan.


Botol minumanku tertinggal di dapur. Aku berhenti melangkahkan kakiku ketika mendengar suara isakan.


Aku berdiri mengintip dia. Dia menangis dengan tergugu. Tubuhnya sampai bergetar. Aku pertama kalinya melihat mbak Anisa menangis.


Dia menangis ketika tidak ada orang disini. Apa dia menangis setiap Gus Alvin menginap di rumahku? Atau mbak Anisa menangis gara-gara dia mendengar ucapan keluarga besar Gus Alvin.


Dia menangis sambil mengaduk susu khusus untuk dia minum. Susu untuk ibu hamil.


Tadi sebelum kami berangkat, Gus Alvin sudah menawarkan mbak Anisa agar dirinya yang membuat susu minumannya. Tapi mbak Anisa menolak dengan alasan bisa membuat sendiri dan menyuruh kami agar segera berangkat agar yang mau sampai ke rumahku tidak terlalu malam.


Mbak Anisa memang bisa membuat susunya sendiri tapi dengan keadaan hati yang sakit, perih tapi mencoba untuk sabar.


Aku bisa merasakan sakit hati yang dirasakan mbak Anisa tapi aku tidak tahu sebab apakah dia menangis.

__ADS_1


Aku berjalan mundur kembali ke ruang tamu. Aku akan berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang menangis. Aku akan memanggil mbak Anisa dari ruang tamu.


"Mbak Anisa, botol minum saya ketinggalan." Teriakku.


"Mbak Anisa dimana?" Teriakku lagi.


Mbak Anisa menampakan wajahnya dari bilik pintu dapur.


Aku menghampirinya. "Ada yang ketinggalan mbak?" Tanya mbak Anisa serak.


"Botol minum saya tertinggal. Mbak lihat? Sepertinya ada di dapur." Kataku berjalan masuk ke dalam dapur yang ternyata botol minumku ada di atas kulkas.


"Kenapa mbak tidak ikut saja kan cuman semalem.


Kalian bisa jalan-jalan sebentar sebelum balik ke sini." Kataku membujuknya meskipun aku tahu dia ingin sendiri.


"Justru karena cuman semalam. Saya tidak ikut. Biar gak ngerepotin." Tolak mbak Anisa halus.


Aku berseru kesal mendengar jawaban mbak Anisa. "Apanya yang ngerepotin sih?" Gerutuku kesal. Mbak Anisa hanya bisa tersenyum lagi, menyembunyikan hatinya yang terluka di balik wajah senyumnya.


"Yasudah kalau gak mau. Sini tangannya mbak." Pintaku.


"Buat apa?" Tanyanya bingung. Aku mengambil tangan mbak Anisa untuk aku cium. Tangan yang insyaAllah akan membuka semua pintu surga manapun yang dia kehendaki.


Tapi dengan cepat mbak Anisa menarik tangannya sebelum aku sempat mencium tangannya.


"Mbak Nadia kok salim sama saya? Saya kan lebih muda dari mbak." Tolaknya marah dengan menepuk pelan bahuku.


"Gak papa sekali-kali." Kataku mengambil tangannya kembali. Tapi dia kembali menarik tangannya.


"Mending seperti ini saja." Katanya dengan memelukku dan melakukan cipika-cipiki.

__ADS_1


Aku kembali memeluknya erat, mengelus punggungnya. Ingin mengatakan bahwa aku tidak akan pernah dan tidak ada niatan sama sekali untuk merebut posisinya sebagai Ratu di hati Gus Alvin dan sebagai calon Ibu Nyai di pesantren ini. Karena aku sadar diri aku tidak pantas mendapatkan kedua posisi penting itu.


Tapi yang keluar dari mulutku adalah. "Hati-hati yaa mbak jaga diri. Jangan sampai ceroboh lagi."


__ADS_2