Dua Hati

Dua Hati
Rumah Ayah


__ADS_3

Raka menatap dalam sosok wanita yang selama ini di carinya dan sangat di rindukannya. Garis senyum terus terukir di bibir tebalnya, hari yang di nanti-nantikannya kini hadir juga menyapanya.


Setengah berlari Raka mendekati gadis itu, merentangkan kedua tangannya namun gadis itu melangkah mundur membuat jarak. Raka terkejut dengan perubahan sikap Dhea, biasanya dia akan meringsek masuk dalam dekapannya, ada rasa kecewa, sakit, malu sedih dan segala jenis emosi berkecamuk di dadanya namun yang lebih mendominasi adalah rasa bahagia dapat kembali melihat gadis pemilik hatinya. Ya hanya dapat melihat tanpa bisa menyentuhnya.


Penampilannya yang berbeda dengan balutan hijab menambah kecantikannya luar dan dalam. Raka masih bisa mengenalinya dengan penampilan baru Dhea saat ini.


"Sayang akhirnya kamu pulang" ucapnya lirih dengan matanya berbinar melihat gadis tersayangnya.


Melihat sorot mata Raka yang berbinar melihatnya, tersenyum manis di hadapan Dhea. Ada sebongkah rasa bersalah menggelayuti hati Dhea saat ini, masih ada cinta dalam sorot mata Raka untuknya sama besar seperti ketika mereka masih bersama begitupun dengan Dhea masih ada cinta tersimpan di sudut hatinya untuk Raka meskipun cinta itu hanya bisa di kubur dalam relung hatinya yang paling dalam.


Ingatannya menerawang pada malam itu, cinta ini tidak seharusnya masih bertahta di hatinya, sosok di depannya adalah pria beristri. Terasa seperti tertusuk ribuan jarum membayangkan orang yang paling di cintainya di miliki orang lain, "Astagfirullah" Dhea beristigfar dalam hatinya " lupakan.. lupakanlah.." batin Dhea.


"Jangan bilang sayang kak, rasanya kurang pantas" ucap Dhea lembut namun penuh penekanan.


"Maaf" hanya itu yang bisa Raka ucapkan, mengingat 3 tahun berpisah mungkin kini Dhea sudah mempunyai kekasih atau bahkan suami, pikir Raka seraya menunduk merasakan sakit atas apa yang terbersit dalam benaknya barusan.


"Ehmmm.. kenapa kakak ada di sini? bukankah ini rumah ayah? aku tidak salah alamat kan? tapi kenapa bisa sangat berubah ya?" pertanyaan yang bertubi-tubi Dhea lontarkan.


Raka tersenyum melihat sosok gadis di hadapannya "Sekarang kamu cerewet ya?" Dhea saat ini memang lebih banyak bicara.


Dhea menundukan kepalanya malu dengan sikapnya yang tidak bisa menahan rasa penasarannya. Kembali hening ruangan itu sampai wanita paruh baya masuk dan membawakan minuman dam cemilan.


"Ayo di minum Dhe" ucap Raka bertindak sebagai tuan rumah yang baik.


"Hehe.. kamu kan tuan rumah disini ya?" Raka menggaruk kepala belakangnya menyadari kebodohannya.


"haha.." Dhea tertawa "Terima kasih kak" ucap Karina menyesap minuman yang di sajikan asisten rumah tangganya " oh ya kakak belum jawab pertanyaan aku tadi!" lanjut Karina setelah meletakan kembali minumannya di meja.

__ADS_1


"Panjang ceritanya Dhe, apa kamu siap mendengarnya?" tanya Raka di ujung kalimatnya. "Kamu punya waktu untuk mendengarkannya?"


"Aku selalu ingat impianmu memiliki rumah minimalis berlantai dua. Tadinya aku ingin membeli rumah impianmu untuk kita tapi aku urungkan kemudian aku mulai merenovasi rumah ayah menjadi seperti yang kamu inginkan dulu" menjeda ucapannya mengingat kata dulu terasa sesak dadanya gadis cantik di hadapannya kini terlihat dingin.


"Aku sengaja tidak membuang barang yang ada di rumah ayah dulu, aku tahu itu sangat berarti untukmu. Aku juga tidak mengubah isi kamar ayah dan bunda. Aku hanya mengubah bangunannya saja dan menambah beberapa barang yang di perlukan. Apa kamu suka hasilnya?" menatap lekat wajah cantik di depannya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Kenapa kakak melakukannya? Aku bisa melakukannya sendiri, tidak perlu merepotkan kakak" Dhea berujar tanpa melihat lawan bicaranya, pandangannya menyapu seisi ruangan yang tidak banyak perubahan hanya bangunannya saja yang berubah seperti yang Raka ucapkan.


"Tampak lebih luas tapi tidak menghilangkan sejarah di dalamnya. Terima kasih kak, berikan nomor rekening Kaka biar Dhe ganti uangnya" mendengar ucapan Dhea membuat Raka tersentak ada perasaan terbuang tersisihkan terasa menjadi seorang yang asing untuk Dhea.


"Kak.." panggil Dhea karna Raka tak bergeming. Dhea memandang Raka yang mematung di kursi pandangannya lurus namun terlihat kosong.


"Kak.." panggil Dhea lagi seraya menepuk bahu Raka sekilas.


Raka menatap Dhea, tepukan di bahunya menyadarkan dari lamunannya.


"Berikan nomor rekening kakak" Dhea menyodorkan ponselnya yang telah siap untuk mentransfer melalui m-banking.


"Tidak perlu" ucap Raka bangkit dari duduknya "Aku melakukannya untukmu" Raka melangkahkan kakinya keluar dadanya terasa sesak ia memerlukan udara segar untuk ia hirup dalam-dalam.


Melihat Raka menjauh Dhea menjatuhkan ponselnya di atas kursi ruang tamu. Tangannya bergetar, sedari tadi ia menahannya agar tidak terlihat lemah. Airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos jatuh di pipinya. "Kenapa sulit sekali melupakan kamu kak, cinta ini salah, aku harus membuangnya, kamu pria beristri aku gak boleh menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian."


*****


Keesokan paginya Raka kembali ke rumah Dhea. Memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Dhea bergegas turun dengan senyum tak lepas menghiasi wajahnya, matanya berbinar langkahnya genap dan tegap penuh percaya diri.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab dari dalam rumah.


ceklek


Suara pintu di buka seseorang dari dalam, menampakan sosok cantik yang tengah di rindukannya.


"Selamat pagi Dhe" sapa Raka.


"Pagi kak" jawab Dhea, "Ada apa kak pagi-pagi sudah bertamu" ucap Dhea ketus, Dhea tak ingin memberi harapan kepada Raka tak ingin membangunkan cinta yang telah di kuburnya selama tiga tahun terakhir.


"Apa saya mengganggumu?" tanya Raka mendengar pertanyaan Dhea yang ketus.


"Ah.. tidak kak, apa ada yang tertinggal sampai sepagi ini kakak sudah ada di sini" tanya Dhea.


"Ya, hatiku tertinggal disini,, tertinggal pada seorang gadis manis yang telah membawa pergi sebagian dari diriku jauh"


"Apaan sih pagi-pagi sudah menggombal" ucap Dhea.


"Aku tidak menggombal Dhe, semua itu adalah isi hatiku yang paling dalam.." Raka menatap Dhea dalam " aku sangat merindukanmu Dhe" kata yang selalu di ucapkan pada bingkai foto seorang gadis kini dapat terungkapkan langsung kepada seorang gadis yang telah memporak porandakan hatinya.


"Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi, aku kesini hanya untuk memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi, sampai jumpa Dhe" dengan senyum menghiasi wajahnya, Raka berlalu mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Dhea.


Bersamaan dengan berlalunya mobil Raka terdapat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Dhea, Raka sempat melihat dari kaca spion sebelah kirinya. Raka memundurkan mobilnya karna belum jauh dari pintu pagar rumah Dhea.


"Mommy,," teriak Seorang gadis kecil keluar dari mobil berlari menghambur dalam pelukan Dhea,tak lama di susul seorang laki-laki menghampiri Dhea.


***********

__ADS_1


Maafkan aku yang banyak kekurangan maafkan bila kisah ini kurang menarik,,,


Terima kasih untuk yang telah membaca,,,


__ADS_2