
Ada yang berbeda dari pernikahanku kali ini meskipun dengan orang yang sama serta tamu undangan yang sama.
Perbedaannya yaitu, sekarang aku mencintainya.
Sangat. Aku bahagia dengan pernikahan keduaku ini.
Fotografer ku tak lain dan tak bukan adalah Ibram.
Setiap dia mengambil foto kami dia selalu berdecak kesal. Aku tahu karena aku dengan tanpa sungkannya melakukan sentuhan dengan suamiku seperti memeluk, mencium dan bertingkah manja.
"Baru kali ini aku dapat pengantin wanita yang centilnya gak ketulungan." Sindirnya tapi dia terus memotret secara profesional.
Aku mengabaikan ucapan protesnya dan terus berfoto dengan Gus Alvin serta kedua anak kami. Aira dan Akhtar. Sebenarnya kami sudah mengundang kedua orang tua mbak Anisa tapi mereka sedang bepergian ke Sukorejo serta membawa Anin.
"Aira mau foto berdua dengan Umma." Pinta Aira.
Aira pertama kali bertemu denganku dia langsung mengenaliku. Aku kira dia akan lupa-lupa ingat padaku. Maklum umur dia sekitaran empat atau tiga tahunan ketika aku meninggalkannya. Sekarang dia sudah berumur tujuh tahun.
Pertemuan yang sangat penuh emosional layaknya pertemuan Akhtar dengan Gus Alvin.
"Tentu saja sayang." Kataku yang memangku dia di atas pahaku.
"Akhtar sama Abi." Ucap si bungsu yang tidak mau kalah. Jadi Gus Alvin menggendong Akhtar. Aku dan Aira duduk bersebelahan. Seperti bukan foto pernikahan tapi sebuah foto keluarga.
Lain kali aku akan foto formasi lengkap bersama Anin nantinya. Di studio foto milik Ibram.
"Naura mau foto juga sama Zahwa." Ucap dua gadis remaja yang mau menginjak dewasa.
"Dia siapa?" Tunjuk Ibram pada Naura.
"Adikku. Kenapa?" Jawab Gus Alvin sinis.
"Tidak apa. Aku hanya bertanya karena belum pernah lihat." Jawab Ibram tak kalah cuek.
Aku mendesah lelah. Bisakah mereka akur sebentar saja. Apalagi sekarang hari ini adalah hari pernikahanku. Di hari bahagiaku.
"Gus, senyum." Ucapku dengan menarik kedua sudut bibirnya.
"Tahu, orang Mas Ibram cuma tanya. Siapa tahu, Naura jadi foto modelnya." Kata Naura cengengesan.
"Kamu mau?" Tanya Ibram yang menimbrung pembicaraan kami.
"Hah beneran? Naura mau dong." Pekik Naura senang.
"Nggak. Kuliah yang bener. Sama Abi pasti gak bakalan di bolehin." kata Gus Alvin tegas.
Raut wajah Naura seketika cemberut. "Yasudahlah Naura jadi Blogger hijabers saja." Kata Naura.
"Apa kamu suka traveling juga?" Tanya Ibram lagi.
__ADS_1
"Berhenti bertanya pada adikku." Kata Gus Alvin yang kembali sewot.
"Aisshhh aku tidak akan menganggu adikmu dia sepertinya suka dengan dunia pemotretan jadi aku mau mengajarinya." Jelas Ibram.
"Adikku bisa belajar kepada yang lain." Sambar Gus Alvin.
"Ini kapan fotonya?" Teriak Zahwa kesal yang dari tadi hanya menjadi pendengar saja. Sadar dia berteriak di depan Gus nya dia langsung malu dan bersembunyi di belakangku.
"Tahu. Bikin kesal saja. Ayo Zahwa kita duduk saja.
Biar mereka debat sendiri." Ucapku dengan menarik Zahwa pindah dari dekor dinding pernikahan kami.
"Mbak Ikut." Ucap Naura yang mengikuti langkahku.
Tinggallah dua pria yang yang sudah dewasa itu tapi tingkahnya seperti anak kecil yang tidak akur. Dari kejauhan aku melihat mereka lalu saling pandang. Ibram tersenyum sinis.
Dan Gus Alvin hanya melirik dan bergabung dengan keluargaku yang lain.
❤❤❤
Aku menyisir rambutku di depan cermin. Pintu kamarku terbuka. Aku melihat wajah suamiku daei cermin dan dia juga sedang tersenyum di cermin.
Dia menghampiriku dam memelukku dari belakang. Kami saling melihat dari cermin.
"Kamu selalu cantik Nadia." Pujinya halus.
Aku hanya tersipu malu mendengarnya. Dulu malam pertamaku dengan dia tidak ada kekakuan saja. Tapi kini hanya dengan sebuah pelukan hangat.
Gus Alvin hendak membuka pintu tapi pintu kamar kami ternyata sudah terbuka. Menampilkan Aira dan Akhtar.
"Aira mau tidur sama umma juga." Kata si sulung.
"Akhtar juga." Kata si bungsu yang sering meniru ucapan kakaknya sambil melompat kecil.
Tentu saja aku tertawa karena malam pertama kami lagi-lagi gagal. Gagal karena ulah kedua anak kami.
Gus Alvin meringis sedih dan melirik padaku. Aku hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahuku santai.
"Besok, mau jemput adik Anin kan Abi?" Tanya Aira yang sudah berada dalam gendongan Abinya dan membawanya ke kasur.
Akhtar dia berjalan sendiri ke kasur dan ingin naik sendiri ke kasur. Dia dengan mudahnya naik ke atas kasur tanpa bantuanku dan melompat-lompat riang.
Aku duduk di samping Gus Alvin. "Iya besok kita jemput adik Anin." Jawab Gus Alvin yang menutup mulut Aira yang sedang menguap.
"Terus adik Anin tinggal disini kan sama kita?" Tanya Aira lagi.
"Tentu saja sayang. Kita berlima akan tinggal bersama." Kataku mengelus rambut Aira sayang.
Sebenarnya aku gugup besok aku akan bertemu dengan putri bungsu mbak Anisa, Anin untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Aku risau, bagaimana jika dia tidak menyukaiku. Bagaimana jika dia tidak menganggapku sebagai seorang ibu.
Akhtar yang sudah selesai dengan dunianya kini duduk di atas pahaku. Umur Anin hanya selisih enam bulan dengan Akhtar. Apa dia akan bisa menerima Akhtar sebagai adiknya.
"Umma belum pernah ketemu sama Anin kan?" Tanya Aira.
Aku menggeleng tersenyum menjawab pertanyaan Aira.
"Anin itu pemalu umma tapi dia baik. Kalau Aira ke sana Aira sering di kasih mainan." Kata Aira yang sudah menjatuhkan kepalanya pada pundak Abinya.
Aku tersenyum sendu mendengar ucapan Aira. Tentu saja Anin baik karena dia lahir dari seorang wanita yang sangat baik. Seorang wanita penghuni surga.
"Adik? Ayo tidur." Ucap Aira pada Akhtar.
"Ayo." Kata si bungsu yang selalu menurut apa kata kakaknya.
Aira dan Akhtar kemudian berbaring di atas kasur kami berdampingan. Aira mencoba menidurkan Akhtar dengan menepuk pelan paha Akhtar sambil membaca sholawat.
"Apa Gus yang mengajari Aira seperti itu?" Tanyaku padanya yang kini dia sudah menempel padaku kembali dengan memeluk pinggangku.
"Iya saya kalau menidurkan Aira seperti itu. Menepuk pelan pahanya dan membacakan dia dzikiran atau sholawatan." Katanya yang tersenyum bangga pada putri sulungnya yang bisa meniru apa yang di ajarkan Abinya.
Aku juga tersenyum bangga padanya. Lalu aku berikan dia satu kecupan manis di pipinya.
Dia menyentuh pipinya sendiri dan menatapku lekat. Kemudian dia berbisik padaku dengan menggesekan hidungnya pada pipiku. "Nanti kalau anak-anak sudah tidur kita pindah kamar." Katanya yang membuat tubuhku merasakan geli ke seluruh badan.
"Nakal yaa." Cubitku gemas. Dia hanya terkekeh mendapat cubitanku. Suara sholawatan Aira tidak terdengar lagi karena yang tidur terlebih dahulu adalah Aira sedangkan Akhtar masih terjaga.
"Kakak bobo." Kata Akhtar menunjuk Aira. Kami berduapun mendesah pasrah.
Akhtar memang dia tidurnya lewat dari jam sembilan tapi sepertinya dia akan segera tidur karena dia mulai menguap.
"Sini sekarang umma yang baca sholawat untuk Akhtar."
Aku membacakan sholawat yang sering aku bacakan untuk Akhtar yang akhirnya dia mulai mengikutiku meskipun tak seluruhnya setidaknya dia tahu.
Lima menit kemudian Akhtar akhirnya tidur. Nafasnya berhembus dengan pelan dan teratur.
Selama aku mencoba menidurkan Akhtar, Gus Alvin yang berbaring di samping Aira juga mendengar sholawatanku. Dan tanpa ku sadari kalau Gus Alvin juga terlalap dalam tidur. Dia tidur dengan tenang di samping Aira.
Terlihat sekali kalau dia kecapean. Tapi masih minta jatah. Dasar laki-laki.
Satu persatu aku pandangi wajah mereka. Wajah tidur mereka yang membuatku tersenyum bahagia.
Bersyukur bisa memiliki mereka dalam hidupku.
Besok malam disini akan ada Anin yang akan ikut tidur berdempet-dempetan seperti mereka saat ini.
Atau mungkin akan ada tambahan anggota baru lagi di keluargaku nantinya di tahun yang akan datang.
__ADS_1
Semoga saja.