
Anisa Aziza
Hari jumat adalah hari liburnya para santri dari kegiatan pondok ataupun sekolah. Hari untuk bersantai dari rutinitas pondok.
Aku menjemput Aira yang baru bermain dengan para santri. Di kamar tamu atau di kamar yang biasa di tempati mbak Nadia terdengar suara seseorang.
Seperti suara Mas Alvin.
Terlebih dahulu aku meletakan Aira di kamarnya. Aku kembali ke kamar mbak Nadia untuk memastikan pemilik suara tersebut.
Aku mengintip di balik pintu dan ternyata memang suara Mas Alvin yang terlihat sedang gusar. Berjalan mondar-mandir dengan handphone yang melekat di telinganya.
"Kenapa tidak di angkat?" Ucapnya yang menatap pada layar handphonenya dan tertera nama mbak Nadia disana.
Aku menghela napasku kecewa. Mas Alvin sampai seperti itu hanya gara-gara mbak Nadia tidak mengangkat telepon darinya. Apakah dia akan sama khawatirnya jika aku tidak mengangkat telepon darinya.
Aku mundur secara perlahan dengan hati yang kutekan supaya perihnya tidak semakin membesar. Aku kembali pada Aira.
Setibanya di kamar Aira, Aira meminta untuk dibuatkan susu. Aku berbalik dan terkejut Mas Alvin sudah berada di belakangku.
"Ada apa Anisa?" Tanyanya yang merasa tidak terjadi apa-apa dengan pikirannya. Dia pintar sekali menyembunyikan rasa khawatirnya dariku.
"Tidak apa-apa Mas, Aira cuman minta dibuatkan susu,"
"Yasudah, biar saya saja," ujarnya.
Aku tersenyum sedih. "Nanti Mas malah ngasih susunya saya ke Aira," sindirku halus.
Dia sekarang tidak fokus. Pikirannya hanya ada mbak Nadia dan mbak Nadia. Raganya memang ada di sini tapi hati dan pikirannya ada pada mbak Nadia.
"Saya bisa bedakan mana susu anak-anak dan susu untuk ibu hamil Anisa," katanya yang menyentil hidungku.
Aku menarik sudut bibirku, mencoba untuk tersenyum padanya meskipun nyatanya hatiku sedang teriris.
"Ummi," panggil Aira yang mampu membuyarkan lamunanku.
Senyumanku langsung merekah ketika bertatap dengan putriku. Aku menghampirinya dan menidurkan Aira dengan membaca Sholawat Nariyah sebagai pengantar tidur siangnya.
Tak perlu lama Airapun tidur dan saat itu juga Mas Alvin datang dengan botol susu Aira. Mas Alvin kecewa karena Aira sudah tidur dan belum sempat meminum susu yang dibuat oleh Abinya.
__ADS_1
"Sudah tidur Mas Airanya, Mas kurang cepet," Apa dia masih melamun waktu membuat susunya Aira.
Mas Alvin berseru sedih. Meletakan botol susu tersebut di atas nakas. Dia lalu mengecup kening Aira dan menatapku lama. Kami saling bertatap-tapan tanpa ada kata yang terucap.
Apa sekarang dia berpikir kalau aku adalah mbak Nadia dan bukan Anisa?
"Kenapa Mas lihatin saya? Saya jelek yaa?" Candaku.
Dia mendengus geli mendengar perkataanku. Mas Alvin mengelus kepalaku lalu satu kecupan di kening dia berikan padaku. "Kamu selalu cantik, Anisa," pujinya halus.
Aku kira dia akan salah menyebutkan namaku.
Syukurnya dia masih sadar dan ingat kalau aku bukan mbak Nadia.
"Kamu gak mau pindah? Aira sudah tidur?" Katanya yang ikut duduk di samping Aira. Kakinya dia selonjorkan.
"Tidak Mas, Anisa mau nemenin Aira dulu disini.
Syukur-syukur Anisa bisa terlelap juga."
"Kalau begitu Mas tidur di sini juga? Nemenin kamu dan Aira," katanya yang mulai berbaring di samping Aira. Tangannya dia letakan di atas perut Aira. Dia menggerakan tangannya memintaku untuk menyentuh tangannya.
Aku tahu Mas, kamu sedang gundah. Karena istrimu yang disana tidak bisa kamu hubungi.
❤❤❤
"Mas kenapa?" Tanyaku sepulang dari dia mengajar kelas diniyah.
"Tidak apa-apa Anisa," bohongnya.
"Kata Amir Mas seperti orang linglung. Tidak fokus waktu mengajar kelas sore dan kelas malam. Mas juga memaknai kitabnya putus-putus. Pokoknya gak konsen gitu," ujarku yang pura-pura tidak tahu dia kenapa.
Aku ingin dia jujur dan mengatakan secara langsung padaku bahwa dia sedang menghawatirkan istrinya yang lain.
"Mas Sakit?" Tanyaku menyentuh pundaknya. Dia menoleh padaku tersenyum yang entah kenapa senyuman itu hanya memberikan sepercik luka di hatiku.
Itu senyuman palsu yang diberikan Mas Alvin padaku untuk pertama kalinya.
Dia mengambil tanganku lalu menciumnya. "Saya sehat Anisa, terima kasih sudah menghawatirkan saya," ujarnya lembut.
__ADS_1
"Saya hanya sedang kepikiran Nadia, dari tadi siang dia tidak bisa di telepon. Teralhir ditelepon dia sedang menangis. Jadi saya kepikiran. Maaf yaa Anisa," katanya yang kini menetapku penuh penyesalan.
Dia meminta maaf padaku karena dia malah memikirkam mbak Nadia ketika sedang bersamaku.
"Kenapa minta maaf Mas, mbak Nadia kan istri Mas juga. Jadi wajar kalau Mas khawatir sama mbak Nadia."
Perkatan dan isi hati memang tidak pernah sama. Lalu aku harus bagaimana? Melarangnya mengkhawatirkan istrinya yang jauh disana?
"Mas mau nyusul mbak Nadia ke rumahnya?" Suatu usul yang begitu lancarnya keluar dari mulutku.
Dia menatapku dengan perasaan lega. "Jadi Mas takut yang mau izin ke saya. Ya ampun Mas. Mas kira saya akan marah-marah dan melarang Mas?" Tanyaku yang benar-benar tertawa.
"Tidak. Saya tidak pernah berpikiran seperti itu, kamu wanita baik saya tidak akan percaya jika kamu akan seperti itu pada saya. Saya hanya takut membuatmu sedih jika saya pergi pada Nadia karena bukan waktunya saya kesana."
"Kalau ada keperluan mendesak saya pasti izinin lah Mas, mbak Nadia pasti bakalan gitu juga," kataku menghiburnya.
Kini wajahnya berseri lagi tidak murung dan gelisah seperti tadi siang setelah mendengar ucapanku.
Tepat jam sembilan malam aku mengizinkan Mas Alvin menginap di rumah mbak Nadia.
Aku tahu, ini sebenarnya berat untuk mbak Nadia.
Siapa yang dengan lapang dada mau menjadi istri kedua? Tidak ada. Terlebih mbak Nadia masih perawan dan belum menikah sama sekali. Dia masih muda, dia sukses dan tentunya ada banyak pria yang menyukainya.
Tapi dia ikhlas menerimanya.
Aku bersyukur telah memilih mbak Nadia sebagai maduku. Dia wanita yang baik. Dia selalu menjaga perasaanku. Dia wanita yang membuat Mas Alvin tertawa dan tersenyum sendiri. Membuat suasana rumah ini menjadi lebih hangat, ceria dan berwarna.
Aku cemburu dan itu wajar serta manusiawi.
Tapi, aku tidak akan termakan api cemburu hingga akhirnya berubah menjadi dengki. Yang nantinya hanya akan merugikan diriku sendiri dan orang lain.
Mas Alvin sudah siap pulang ke rumah mbak Nadia.
Setelah Amir mengeluarkan mobil dari garasi. Aku salim padanya. Dia lalu mencium keningku lama.
Mas Alvin merendahkan tubuhnya agar bisa mencium perutku. "Baik-baik yaa sama ummi." Ucapnya lembut mengelus perutku.
Orang-orang berpikir bahwa aku adalah Ratu Mas Alvin, secara simbolis iya. Tapi secara kedudukan hati, yang menjadi Ratu di hati Mas Alvin adalah Mbak Nadia. Bukan aku.
__ADS_1