Dua Hati

Dua Hati
Bab 54 : Little Bodyguard


__ADS_3

Usia kehamilanku sudah masuk empat bulan dan kini aku memeriksakan kehamilanku pada dokter kandungan. Dokter Tasya.


Waktu aku mengecek kehamilanku, aku serasa mau pergi piknik saja. Di dalam mobil ada delapan orang.


Di depan santri yang menyetir dan di sampingnya ada Gus Alvin. Di kursi tengah ada aku dan santri yang menjaga Aira. Di belakang Anin dan Akhtar dan juga santri yang menjaga Anin dan Akhtar.


Di mobil sangat ramai. Ramai dengan celotehan ketiga anakku.


Dari mereka bernyanyi, bersholawat, menghitung, menyebutkan nama hewan dan warna. Random sekali yaa anak-anakku.


Sesampainya di rumah sakitpun aku menyuruhku mereka untuk tetap di dalam mobil saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rempongnya aku jika mengurus tiga anak sekaligus di tambah aku sedang hamil.


Untung ada para santri yang membantuku. Sesekali aku berikan mereka hadiah. Berupa kerudung, baju, tas, pokoknya barang yang memang mereka butuhkan.


Di usia empat bulan kehamilan jenis kelamin bayi sudah diketahui. Aku dan Gus Alvin tidak spesifik ingin mempunyai anak laki-laki atau perempuan yang terpenting anaknya lahir lengkap, sehat dan selamat. Baik dari ibu dan bayinya.


Aku jadi teringat ketika aku hamil Akhtar. Dimana yang mengantarku ke dokter kandungan adalah Kak Naufal dan mbak Zahra.


Mereka sudah lebih dari saudara bagiku mereka sudah seperti orang tuaku bagiku.


Setelah di USG oleh dokter Tasya dan menunggu jawabannya tetap saja aku di buat deg degan karenanya. Setiap ibu pasti selalu bersemangat dan antusias tentang kehamilannya tentang bayi yang mereka kandung. Mau anak ke berapapun itu. Selalu ada rasa tertarik dan penasaran akan kandungannya.


Dokter Tasya senyum-senyum melihat kami berdua. Dia masih sempat bergurau dengan bilang. "Nungguin yaa." Katanya sumringah.


"Relax yaa jangan tegang gitu apalagi ibu Nadia tetap tenang ok tidak boleh tegang. Alhamdulliah anaknya berjenis kelamin laki-laki." Katanya jelas dan lugas.


"Alhamdulillah." Seru kami berdua kompak.


"Selamat yaa." Kata dokter Tasha menyalami tanganku.


Setelah menjalani pemeriksaan aku di antar keluar sampai ke pintu oleh dokter Tasya. Bertepatan dengan suami dokter Tasya yang bernama Arkan.


Aku menyapanya karena aku sudah mengenal mereka. Tanpa sadar aku bergumam.


"Suaminya dokter Tasya ganteng yaa keren lagi. Serasi sama dokter Tasya." Ucapku sambil mengelus perutku berharap anakku juga berparas tampan.


Gus Alvin tidak menyahut. Wajahnya ditekuk. Apa dia cemburu? "Tapi dia mata saya gantengan Gus Alvin loh, serius!" Ujarku dengan memberikan dua jariku.


Gus Alvin mendengus kesal. "Ih Gus kok marah sih?" Kataku yang menyentuh lengannya.


"Sudah, pulang yuk." Ujarnya yang mengabaikan ucapanku.


"Gus jangan marah dong." Bujukku.


"Siapa yang marah Nadia? suami dokter Tasya memang tampan, keren juga. Saya apa. Saya tiap harinya cuman pakai gamis, kalau nggak sarung. Udah gitu ajah." Katanya yang sedang merajuk.

__ADS_1


Aku malah tidak suka dengan ucapannya dia seperti sedang menyindirku.


Aku cemberut mendengar ucapannya. "Tapi saya cintanya cuma sama Gus." Rayuku lagi.


"Iya saya tahu." Katanya pelan dengan mengelus kepalaku.


Tapi aku merasa meskipun dia tersenyum. Dia ada rasa kesal padaku. Tapi dia tidak mengatakannya.


Kamipun pulang, berpegangan tangan sampai ke mobil. Kami memang berpegangan tangan tapi tidak saling berbicara.


Setelah pulang dari cek-up. Gus Alvin seperti menjauhiku. Dia langsung pergi ke santri untuk mengisi pengajian. Atau hanya perasaanku saja.


Memangnya ada yang salah yaa dari bicaraku ? Aku kan cuma bilang suami dokter Tasya itu tampan dan keren. Cocok sama dengan dokter Tasya?


Aku tidak membandingkan dia dengan suaminya dokter Tasya.


Dia saja kan yang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Padahal dia tidak tau saja. Dia lebih ber aura memakai gamis dan sarung. Apalagi ketika sedang mengajar kitab pada santrinya sambil menerjemahkannya, aduh suamiku itu kharismanya sudah tidak bisa di katakan lagi.


Dia memiliki aura yang membuat dia bersinar dan membuat orang disekitarnya terpesona padanya karena aura yang dia miliki.


Aku mengatakan Mas Arkan tampan yaa dia memang tampan. Tapi Aku tidak membandingkan suamiku dengan orang lain kenapa dia marah.


Sampai malampun tiba Gus Alvin masih mengajar lagi untuk kelas diniyah. Aku tidur di kamar Anin dan Aira. Akhtar belum kupindahkan karena aku juga berniat tidur disini dan tidak akan tidur di kamarku jika Gus Alvin masih marah, kesal dan tidak mau berbicara padaku.


Lalu dia merebahkan tubuhnya dan memelukku dari belakang.


"Kenapa belum pindah hmm?" Ucapnya sambil mencium bahuku.


"Habisnya Gus cuekin saya. Yasudah saya tidur sama anak-anak saja." Aduku kesal.


Gus Alvin mendengus geli dan duduk. Dia kemudian mencium pipiku. "Ayo bangun duduk. Kita bicara di kamar nanti anak-anak bangun." Ajaknya.


"Gak mau. Saya mau disini. Memangnya saya salah. Saya kan gak ngebandingin Gus dengan suami orang. Gus di mata saya sudah keren. Saya suka Gus yang sering memakai gamis dan sarung. Kenapa Gus tadi nyindir saya." Kataku yang terbawa perasaan. Satu tetes jatuh dipipiku.


"Hei kok nangis. Siapa yang nyindir kamu Nadia. Astaghfirullah." Ujarnya dengan tertawa dan menyeka air mataku.


"Maaf sudah bilang suami orang tampan. Maaf sudah membuat Gus cemburu." Kataku terisak.


Gus Alvin malah semakin tertawa melihatku menangis. Dia mengacak rambutku dan memelukku dengan sayang. "Sayang banget saya sama kamu Nadia.


Apalagi kalau gemas gini. Ingin menciummu sampai saya puas. Tapi sadar kamu sedang hamil." Kekehnya.


"Jadi Gus gak marah atau kesal sama saya." Tanyaku memastikan.


"Tidak." Jawabnya tegas dan lugas.

__ADS_1


Mendengar jawabanya aku kembali menangis. Ini yang dinamakan overthingking. Aku sudah memikirkan hal buruk padahal kenyataannya tidak seperti itu.


"Cup cup, istri saya sedang nangis nih." Hiburnya dengan kembali memelukku.


"Tuh kan anak kita bangun, kamu gak mau pindah." Kata Gus Alvin yang membuatku menoleh ke belakangku. Ternyata yang bangun Akhtar.


"Umma." Rengeknya yang melihatku menangis. Dia bangun dan duduk dengan sedih. Mengkerutkan alisnya pada Abinya.


"Abi bikin umma nangis?" Katanya yang mencoba untuk berdiri dan memeluk leherku.


Sweet sekali anakku.


Aku malah semakin nangis karena tingkah Akhtar yang ingin melindungiku. Akhtar menyeka air mataku. "Abi nakal." Kata Akhtar marah pada Abinya.


Aku menangis sambil tertawa mendengar perkataan Akhtar. Sedangkan Gus Alvin malah kaget mendengar ucapan kesal dari anaknya.


"Akhtar, umma nangis sendiri bukan karena Abi. Jadi Abi mau menghibur Umma." Kata Gus Alvin yang menjelaskan dengan panik.


Aku semakin senang melihat Gus Alvin yang gelagapan seperti itu. "Tanya sama umma kalau Akhtar tidak percaya."


Akhtar lalu melihat padaku. Dengan gemas aku cium pipinya yang chubby itu. "Iyaa sayang, tadi umma mimpi buruk terus Abi datang ngehibur umma." Kataku yang menurutku, kalimatku tidak terlalu salah. Yang maknanya sama saja. Aku berpikiran buruk tentang Gus Alvin lalu Gus Alvin datang memberi penjelasan dan menghiburku.


"Paling Umma gak baca doa yang mau tidur." Tuduh Akhtar.


"Iya Akhtar umma tidak baca doa, jadinya mimpi buruk." Kata Gus alvin yang sekarang pindah posisi. Aku yang disalahkan.


Gus Alvin tersenyum senang karena Akhtar menyalahkanku.


"Baca doa umma jangan lupa." Pesan Akhtar lagi. Kini senyuman Gus Alvin semakin lebar.


"Iya umma akan baca doa kalau mau tidur. Sekarang Akhtar tidur lagi yaa Nak. Kiss umma dulu." Pintaku dengan memberikan pipiku. Satu kecupan manis Akhtar dia berikan di pipi kananku.


"Satunya." Pintaku lagi dengan memberikan pipi kiriku. Akhtar pun memberikan kecupan lagi di pipi kiriku.


"Anak pintar." Pujiku dengan menciumi pipinya kembali.


"Abi juga dong, di sayang." Rengek Gus Alvin pada Akhtar. Akhtar berjalan sempoyongan karena dia berjalan di atas kasur.


Dua kecupan dari Akhtar berhasil di dapatkan Gus Alvin di kedua pipinya.


Aku mencoba menidurkan Akhtar kembali dengan menepuk pelan pahanya dan melantunkan sholawat.


Sebelumnya aku berbisik pada Gus Alvin. "Makanya Gus, Gus gak boleh nakal sama saya. Sekarang saya punya pelindung. Punya bodyguard." Kekehku. Gus Alvin pun ikut tertawa mendengar ucapanku.


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2