Dua Hati

Dua Hati
cerita


__ADS_3

Lima menit berikutnya sosok Vin keluar dari mobilnya yang diparkir di halaman depan rumah Jihan, pria itu berjalan masuk ke rumah dan dalam dua menit berikutnya sudah membuka kamar Jihan dengan izin dari kak Agus sambil membawa plastik putih, piring-sendok, dan segelas air putih.


Vin tersenyum, meletakkan barangnya di meja kamar Jihan sangat santai padahal ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki masuk ke dalam kamar minimalis dan rapi itu, "Jadi makan malam?"


"Lama. Aku udah enggak laper."


"Maaf, tadi lewat Malioboro jadi agak macet," ucap Vin


Jihan mencium bau nasi goreng yang melewati hidungnya, jadi dalam sekejap Jihan akhirnya membuka makanan itu dan duduk santai saja di lantai seperti sedang makan di pedagang kaki lima. Vin beradaptasi, ikut duduk di ubin dan menatap Jihan, "Makan kalau lapar, enggak usah jual mahal. Kamu sudah laku sama saya."


"Dikira aku barang apa bisa dibeli," tukas Jihan


"Besok kalau nikah sama saya, kan juga akhirnya dibeli," ucap Vin sambil tersenyum manis


"Berisik!"


Vin terkekeh, walaupun lebih sering bertengkar setiap bertemu Jihan, Vin tetap jatuh pada pesona gadis itu. Tetap menyadari bahwa Jihan sukar dijauhi sebanyak apapun dia berusaha. Vin sudah terlanjur jatuh dan dia akan jatuh lebih dalam seiring waktu.


"Tadi kamu jalan sama Javis ya?"


"Itu udah tau."


"Seru?"


"Bukan cuma seru. Nyaman juga, aman, tenang, nyenengin," Jihan menjelaskan bagaimana tubuhnya bereaksi akan Javis Permana, "sesuatu yang enggak bisa aku dapetin di orang lain, termasuk kamu."


Vin menangguk mengerti sekaligus setuju, sebab dalam dadanya, ada juga rasa yang sama yang hanya berlaku jika dirinya dekat dengan Jihan selama ini.


"Btw kamu, masih pake setelan?" ucap Jihan


"Oh, iya. Tadi di kantor cuman ada baju ganti ini," Vin justru mengangkat kaosnya, melihatnya turun apakah pantas dipakai untuk makan malam dengan Jihan yang nyatanya hanya dilakukan di dalam kamar gadis itu, bukan di restoran milik Vincent tadi.


"Kamu enggak pulang, ganti baju dulu gitu."

__ADS_1


"Enggak sempat, Jihan."


Jihan lantas menyendok nasi gorengnya, makan dengan tenang seolah tidak ada lagi pertanyaan yang muncul. Vin juga diam, memilih menyandar pada dinding dan ubin yang dingin hanya dialaskan kain dari calananya sendiri. Vin diam, melipat tangan di perut memerhatikan Jihan sampai matanya sedikit menyipit kelelehan. Dia tidak mengucapkan kata apapun untuk mengintrupsi Jihan saat makan. Jadi yang terdengar dalam ruangan ini hanya tersisa dentum antara piring dan sendok dan juga angin dari AC.


Sepuluh menit berikutnya, Jihan selesai makan. Dia menumpuk dengan rapi makanannya dan melihat ke arah Vin yang perlahan menarik senyumnya simpul, "Udah? Sini saya bawa turun sekalian mau pergi. Sudah malam."


"Pergi? Enggak pulang?" ucap Jihan


"Oh, ini sebenernya mau ke kantor dulu sebentar ambil barang-barang yang kayaknya ketinggalan soalnya tadi keburu-buru banget ke restorannya," Vin menjelaskan, mendekat pada Jihan dan mulai mengambil alih piring kotor dan gelas yang tidak lagi berisi air.


"Kamu mau lembur?"


"Tadinya mau ngajak kamu ke kantor juga habis dari restoran. Mau ngenalin kamu ke wilayah kerja saya sekaligus nemenin nyetak surat perjanjian, tapi kayaknya belum dibolehin sama Yang Diatas," Vin kembali menjelaskan, "enggak seru ya jalan sama saya? Kaku gitu?"


"Iya," jawab Jihan jujur, beranjak dari ubin mengambil piring dari tangan Vin, "Aku anter sampai depan."


Keduanya keluar dari kamar Jihan, sengaja meninggalkan pintu terbuka untuk mengusir bau nasi goreng dan turun ke lantai dasar. Jihan berjalan ke arah dapur, meletakkan cucian di tempatnya dan kembali menghampiri Vin yang menunggunya di ambang pintu utama.


"Saya pergi dulu. Kamu tidur yang nyenyak ya." Jihan menganggguk sambil mengantar kepergian Vin keluar menuju gerbang pagar rumah Jihan.


***


Kenapa kamu masih mau datang, Vin?


Kenapa masih mau menunggu aku makan sampai tengah malam?


Kenapa gak istirahat saja kalau kamu cape?


***


Status baru FB privat Vin


Kamu cerita apapun saya akan dengerin, Ji.

__ADS_1


Makan yang banyak juga, saya suka lihat kamu makan.Lucu.


*****


Sudah mau tahun baru saat Jihan berkunjung ke rumah Javis dan sang Ayah duduk di kursi teras sambil membawa tablet—membaca artikel berita. Jihan meletakkan helm kuningnya di dekat teras, menyapa Ayah dengan ramah sebelum masuk ke dalam rumah kekasihnya itu. Dia bertemu Risa di ruang makan, sedang menyeduh mie instan ayam bawang dan membaca buku tes masuk PTN sangat tebal.


"Mas Javis ada di belakang, Kak."


"Iya, semangat belajar Risa! Kalau mau tanya-tanya tentang ekonomi gitu hubungin Kak Jihan aja ya?" Jihan mengusak rambut panjang Risa seolah anak itu masih SD.


"Mau tanya kalau gitu," Risa menghentikan langkah Jihan, memandang serius membiarkan mie nya agak mengembang ditinggal satu-dua menit, "Mas Javis sama Kak Jihan serius enggak sih pacarannya?"


"Eh?" Jihan terkejut, menggaruk belakang kepalanya, "serius donk."


"Enggak mau nikah gitu?"


"Belum saatnya, Risa," Ayah yang menyahut dari luar, sudah menutup tablet dan menurunkan kaca mata dari Indra pengelihatannya, "sudah kamu enggak usah ngurusin urusan mereka. Belajar aja biar pinter kayak Kak Jihan."


Jihan tersenyum malu pada Ayah Javis, terkekeh kemudian undur diri menuju ke halaman belakang rumah yang sekarang rumputnya sudah tinggi-tinggi seperti tidak dirawat sebaik dulu. Obsidiannya langsung menemukan Javis, bersenandung dengan tangan mencampur warna di atas kuas dengan santai.


"Melukis lagi?" Jihan mendaratkan bokongnya di kursi kayu kosong yang agak jauh, kursi itu sudah ditumpahi cat warna ini itu hingga membuatnya berwarna lebih menarik di mata Jihan.


"Udah dateng? Kok enggak bilang? Mobil kamu diparkir di mana? Kayaknya tadi lapangan yang biasanya, dipakai buat acara rumahnya Pak RW gitu," Javis menoleh, tetapi tangannya masih membuat bulatan-bulatan di atas palet.


"Naik ojek."


"Kok kamu jadi suka naik ojek sih?"


"Setelah dipikir-pikir, naik ojek tuh juga ngasih rezeki untuk orang lain. Nyaman juga kok," balas Jihan kemudian membawa kursinya mendekat dan melihat kanvas yang sudah hampir jadi itu, "bagus banget sih."


Javis tersenyum malu, "Iya, mau pameran lagi. Aku buat banyak banget, doa'in ada yang beli ya?"


"Iya, pasti laku."

__ADS_1


"Nanti uangnya aku kumpulin yang banyak. Terus dateng ke rumah kamu, bilang ke Bunda kamu, 'Permisi, Tan. Anaknya mau saya lamar. Saya janji saya kasih bahagia sampai tua, saya penuhi kebutuhannya, saya sayangi sampai mati. Setiap pagi dan malamnya, sehat maupun sakit'. Gitu."


Jihan memukul lengan Javis kecil sebelum tertawa melampiaskan merah pada pipinya yang mendadak sangat ngilu terlalu banyak tersenyum, "Iya, Bunda tunggu ya, Nak Javis," balas Jihan menirukan cara Bunda bicara ikut menggoda Javis.


__ADS_2