Dua Hati

Dua Hati
Bab 40 : Keputusan


__ADS_3

Pandanganku fokus pada makanan dan barang yang ada di meja. Ini maksudnya apa?


"Ini dari Ummi." Tunjuknya pada mukena yang sepertinya baru.


"Ini dari Anisa." Katanya menunjukan kotak makanan yang berisi makanan kesukaanku.


"Ini dari Abi." Ucapnya dengan menunjuk sebuah buku tentang cerita Sayyidah Aisyah.


Gus Alvin tersenyum. "Yang ini dari Naura." Ucapnya bingung dengan memegang Lightstick dari boyband EXO kesukaanku.


"Ini Naura yang ngasih?" Tanyaku heran.


"Iya. Memangnya itu apa?" Tanya Gus Alvin heran.


Sudahlah aku tidak mood untuk menjelaskannya.


"Ini maksudnya apa?" Tunjukku pada semua benda serta makanan yang ada di atas meja saat ini.


"Ini ucapan selamat dan mereka ingin sekali kamu bisa segera kembali kepada kami."  Ucapnya menatapku dengan pandangan memohon.


Aku menghela napasku dan menunduk dalam. "Saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana. Saya tetap dengan pilihan saya. Saya ingin berpisah dengan Gus." Kataku yakin. Meskipun kami saling mencintai. Tapi kami tidak mungkin bisa bersatu.


Aku memikirkan mbak Anisa. Bagaimana perasaan dia jika dia tahu Gus Alvin mencintaiku dari dulu.


Bagaimana jika dia tahu bahwa aku adalah cinta pertamanya dia. Bagaimana jika dia tahu bahwa suami yang begitu ia cintai lebih mencintai istri keduanya.


Ini sudah keputusan yang terbaik untuk semuanya. Aku yang harus pergi.


Aku melihatnya dia sedang terdiam dan membeku. Dia menatapku dan tersenyum padaku. Tersenyum yang menyimpan luka di hatinya.


"Nadia." katanya dengan suara yang bergetar.


"Gus. Saya tahu, ini pasti berat buat Gus. Tapi ini lebih berat lagi buat saya dan buat mbak Anisa. Saya tidak bisa mempertahankan pernikahan ini lebih lama lagi. Saya tetap ingin berpisah. Tolong ceraikan saya." Kataku menatap matanya lekat.


"Gus, tidak boleh lebih mencintai saya. Gus harus lebih mencintai mbak Anisa. Dia perempuan yang baik, sabar, sholehah, istri yang pas buat Gus Alvin.  Saya tidak mau menjadi wanita yang secara tidak langsung menyakiti hatinya. Saya tidak mau mbak Anisa menangis diam-diam lagi. Saya perempuan Gus, saya mengerti perasaan mbak Anisa. Dia yang lebih berhak mendapatkan cinta yang begitu besar dari Gus Alvin. Bukan saya. Saya tersiksa dengan pernikahan ini." Tandasku mengakhiri kalimat panjangku dengan tetap tenang dan fokus.


Aku tidak boleh menangis sedikitpun. Kamu kuat Nadia. Kamu bisa.


Gus Alvin meremas lututnya. Wajahnya memerah. Dia menarik napasnya kuat dan membuangnya perlahan.


"Saya sudah bilang saya tidak ingin mendengar kalimat itu Nadia." Katanya yang mencoba menahan emosinya.


"Saya akan pulang, besok saya kembali lagi." Ucapnya berdiri dan pergi meninggalkanku.


Aku bernapas lega setelah kepergiannya. Rasa nyeri di dadaku begitu perih. Aku menepuk dadaku menahan rasa sakitku ini. Tidak boleh menangis Nadia.


Seiring berjalannya waktu, sakit ini akan hilang sendirinya. Sabar Nadia. Kamu kuat. Kamu bisa.


Mas Naufal datang dan menyentuh pundakku. Dia tersenyum padaku.


Setelah Gus Alvin menceraikanku aku akan pergi menjauh darinya.


🍁🍁🍁


"Saya akan datang kembali besok." Kalimat itu yang teringat di otakku. Tapi sampai dhuhur dia belum datang juga.


Bukannya aku sedang menunggu kedatangannya. Aku hanya ingin memperjelas semuanya. Kami sudah menyiapkan semuanya. Menyiapkan kepergian kami.


Bahkan Zahwa sudah di berhentikan mondok. Dia mondok ditempat mbak Zahra pernah mondok dulu.

__ADS_1


Urusan bisnis Mas Naufal dia bisa memantaunya dari jauh dia akan membuka cabang di tempat yang akan kami tempati nantinya. Kami ingin benar-benar pergi.


Menjelang sorepun dia belum datang juga. Ketika jam menunjukan jam empat sore. Akhirnya mobil Gus Alvin datang. Tapi yang membawa mobilnya adalah Amir dan yang keluar dari mobil itu adalah Mbak Anisa dan shofi.


Kemana Gus Alvin?


Mas Naufal belum datang bekerja jadi yang menyambut kedatangan mereka adalah mbak Zahra.


Aku turun untuk menghampiri mereka. Shofi langsung menghampiriku dan memelukku dengan menangis.


"Maafkan saya mbak Nadia. Saya salah. Saya sudah menyakiti mbak dengan kata-kata saya. Mbak bukan seorang pelakor. Mbak wanita baik-baik. Saya benar-benar menyesal." Ucapnya tersedu-sedu.


Aku melihat pada mbak Zahra dan mbak Anisa yang tersenyum padaku.


Aku menepuk punggungnya pelan. "Yang berlalu biarlah berlalu. Saya sudah memaafkanmu Shofi. Ini hanya kesalahpahaman. Saya mengerti dan memahami kamu. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan. Hanya saja kalimat mu memang sedikit keterlaluan." Lirihku dan melepas pelukannya dan tersenyum padanya.


"Maafin saya ya mbak. Saya sudah mendapat hukuman dari kesalahan saya. Abi tidak meridhoi saya karena mbak Nadia belum memaafkan saya. Jadinya, saya tidak lulus sidang skripsi. Saya harus ikut ujian lagi." Katanya sedih.


"Benarkah?" Tanyaku kaget.


Shofi mengangguk malu.


"Ah, aku sudah memaafkanmu Shofi. Bagaimana ini? Kamu beneran bisa ikut ujian skripsi lagi kan?" Kataku benar-benar mengkhawatirkannya. Tidak lulus skripsi itu benar-benar sebuah ujian yang sangat menyakitkan bagi mahasiswa semester akhir.


Shofi malah tersenyum melihatku. "Kamu gimana sih? Gak lulus malah senyum-senyum?" Tanyaku heran.


Dia lalu memelukku erat bahkan dia mencium pipiku.


"Ternyata benar kata mbak Anisa. Mbak Nadia itu wanita malaikat." Pujinya berlebihan.


"Jangan berlebihan. Yang berhati malaikat itu mbak Anisa." Kataku menatap padanya yang hanya menontonku dengan Shofi.


"Mbak, saya mau bilang. Kalau Mas Alvin sedang sakit." Kata mbak Anisa.


"Parah?" Tanyaku spontan. Mbak Anisa tersenyum penuh arti ketika mendengar pertanyaan spontan dariku.


"Parah banget mbak. Sampai gak bangun dari tempat tidur." Jawab Shofi.


"Aku gak percaya kalau kamu yang bilang." Candaku. Shofi hanya cemberut mendengar ucapanku.


"Benar mbak, Mas Alvin sedang sakit. Saya memaksanya untuk tidak ke sini. Karena Mas Alvin demamnya tinggi." Jawab mbak Anisa.


Aku hanya mengangguk mendengar ucapan mbak Anisa. Aku tahu mbak Anisa sedang memerhatikanku. Dia kemudian menyentuh tanganku.


"Mbak, mbak tidak bisa kembali lagi ke Mas Alvin?" Tanyanya pelan.


"Tidak bisa." Jawabku cepat.


"Apa karena saya?" Tanyanya.


"Tidak." Tolakku tegas. "Mbak, saya tidak bisa mempertahankan pernikahan ini. Jika hanya ada tangis di dalamnya. Entah itu tangis mbak Anisa, tangis saya dan tangis Gus Alvin. Kita bertiga tersiksa dengan pernikahan ini. Jadi tolong biarkan saya yang pergi." Kataku menatapnya lekat.


"Mbak Nadia, waktu itu saya masih belum terbiasa dengan keadaan kita. Tapi lambat laun saya mengerti dan memahami. Bahwa sejatinya cinta itu tak harus memiliki cukup berada di sampingnya dan melihatnya dari dekat sudah bahagia." Katanya tersenyum padaku.


Aku memandanginya takjub. Tidak mengerti dengan isi pikirannya. "Hati mbak Anisa terbuat dari apa sih?" Tanyaku heran.


Lagi-lagi dia hanya tersenyum mendengar ucapanku.


"Kembalilah kepada kami mbak, hidup bertiga dengan kami. Saya janji saya tidak akan menangis diam-diam lagi. Kita akan saling terbuka tanpa menyimpan kesedihan lagi."

__ADS_1


"Tidak." Jawabku tegas.


"Saya yang sudah hadir dalam rumah tangga kalian.


Saya yang membuat hati mbak Anisa sakit. Saya yang membuat mbak Anisa harus merelakan suami tercinta mbak untuk menikah lagi. Semua salah saya. Saya sudah menyakiti hati mbak Anisa dari awal sampai saat ini. Saya akan berhenti menyakiti hati mbak Anisa.


Jadi saya yang akan pergi. Tolong jangan bujuk saya lagi. Keputusan saya sudah bulat."


Shofi yang hanya menjadi pendengar saja dari tadi hanya menghela napasnya berat. "Mbak, kita kesini buat bujuk mbak sekali lagi dan ternyata tidak berhasil.


Mas Alvin ingin sekali datang kesini tapi karena dia sakit dia tidak bisa. Mbak Nadia diminta ke rumah. Ada yang ingin dikatakan langsung pada mbak Nadia. Jika mbak Nadia mau ke rumah, Mas Alvin akan mengabulkan permintaan mbak Nadia." Kata Shofi panjang lebar.


Mengabulkan permintaan ku? Dia akan menceraikanku?


Benarkah? Ah, kenapa rasanya sakit sekali? Tapi ini resiko yang sudah kupilih dan aku tidak akan menyesalinya.


"Baik. Tapi tunggu Mas Naufal pulang dulu."


❤❤❤


Aku menghirup napasku pelan dan menghembuskannya perlahan, menenangkan detak jantungku. Aku memegang kenop pintu kamarku ketika sedang menginap di rumah Gus Alvin.


Kenapa Gus Alvin tidur di kamarku kenapa dia tidak tidur di kamarnya mbak Anisa.


Jangan goyah Nadia kamu sudah membuat keputusan.


Aku membuka pintu perlahan dan melihat wajah pucat Gus Alvin. Dia sedang duduk bersandar pada penyangga kasur. Dia tersenyum padaku.


Kenapa dia masih tersenyum padaku jika aku meminta hal sangat dibencinya.


Dia menepuk kasur di sampingnya. Menyuruhku untuk duduk di sana. Akupun duduk di sampingnya.


Dia lalu memberikan sebuah kotak padaku. Aku membukanya dan ternyata sebuah kalung.


"Saya belum pernah memberikanmu perhiasan. Hanya ada cincin pernikahan. Bahkan kamu dulu meminta mahar hanya dengan hafalan surah Al-mulk. Anggap saja itu kenang-kenangan dari saya." Katanya lirih.


Hatiku terenyuh mendengarnya. Dia masih sempat memberikan kalung padaku. Hanya sebagai kenang-kenangan.


Jangan menangis Nadia, ku mohon tahan air matamu.


"Boleh saya minta dua hal sebelum saya mengabulkan permintaanmu." Katanya menatapku.


Aku hanya menganggukan kepalaku. Tidak bisa berkata apa lagi. Jika aku mengatakan satu kata saja. Tangisku akan pecah.


"Pertama, bolehkah saya memberi nama untuk anak saya." Izinnya.


Aku kembali mengangguk. Tapi sayangnya aku tidak bisa menahan laju air mataku. Aku menangis dalam diam. Gus Alvin masih sempat menghapus air mataku. Tangannya begitu panas di pipiku.


"Jika dia laki-laki tolong beri nama dia Akhtar Alvin Abdullah. Akhtar artinya bintang. Saya harap dia bisa menjadi bintang di hati kamu nantinya. Jika dia perempuan tolong beri nama dia Ainayya Mahira Abdullah. Ainayya artinya yang bermata indah. Saya harap mata anak saya jika perempuan dia memiliki mata yang indah sama seperti ummanya."


Aku menutup wajahku yang menangis dengan kedua telapak tanganku. Kenapa rasanya sakit sekali ya Allah. 


"Yang kedua. Saya ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Boleh?" Tanyanya dengan suara serak dan lirihnya.


Aku mengangguk dengan tubuh yang bergetar. Isakan tangisku tidak bisa ku bendung lagi. Gus Alvin mendekat padaku. Tangan panasnya menyentuh tanganku. Suhu badannya yang panas begitu terasa padaku ketika dia memelukku dengan sempurna dan erat. Cukup lama dia memelukku.


Aku tahu dia sedang menangis dan akupun juga begitu. Kami berpelukan dengan sama-sama menangis. Setelah memelukku dia menatapku lekat. Lalu dia akhirnya mengatakan kalimat yang aku inginkan tapi kalimat yang dia benci.


"Saya mentalak mu Nadia, kamu bukan istri saya lagi."

__ADS_1


__ADS_2