Dua Hati

Dua Hati
Bab 50 : Surat Anisa


__ADS_3

Aku merasa gugup ketika aku menginjakan kakiku di pesantren ini. Selama ada mbak Anisa aku tidak pernah berkunjung ke rumahnya di pesantren Al-Hikam.


Ini pertama kalinya aku kesini ketika dia sudah tidak ada di dunia ini. Aku kesini untuk bertemu dengan putrinya yang hanya selisih beberapa bulan dengan Akhtar.


Mbak Anisa melahirkan di rumah orang tuanya dan di makamkan di lingkungan pesantrennya juga.


Bersebelahan dengan kakeknya mbak Anisa. Aku baru selesai berziarah tadi.


Aku membawa serta Aira dan Akhtar yang sekarang sedang bersama dengan Abinya, Gus Alvin di teras depan bersama Aba dari mbak Anisa. K. Hafidz.


Sedangkan aku menunggu kedatangan umminya mbak Anisa Nyai Fatima yang sedang memandikan putri bungsu mbak Anisa yang bernama Anin.


Selama beberapa menit menunggu, beliau keluar dengan Anin yang sudah harum dengan minyak bayi.


Dia memakai kerudung. Wajahnya mengingatkanku pada mbak Anisa. Kalau Aira lebih ke Gus Alvin.


Beliau memberikan senyumannya padaku akupun membalasnya dan mencium tangannya.


Aku mengelus kepala Anin lembut. "Assalamualaikum Anin." Sapaku.


"Waalaikumussalam. Bibi siapa?" Tanyanya sopan.


"Ini Umma Nadia, mbah Nyai kan sudah sering cerita sama Anin. Ayo salim dulu." Ucapnya. Aku menggigit bibirku mendengar ucapannya benarkah beliau sering menceritakanku pada Anin.


Anin tersenyum padaku dan mencium tanganku.


"Umma Nadia yang akan merawat Anin?"


Tanyanya polos. Aku menutup mulutku tidak bisa berkata apalagi.


Aku kesini memang karena beliau memanggilku ingin bertemu denganku dan ingin menyampaikan sesuatu.


Nyai Fatima mengangguk pelan. "Terus kalau Ummi Anisa yang melahirkan Anin yang sekarang sudah ada di surga. Umma Nadia sudah selesai kan urusannya jadi sudah pulang?" Tanyanya padaku.


Aku tidak bisa menahan tangisku. Bagaiamana Nyai Fatima mendidik Anin dengan sangat baik. Aku mengangguk dengan sesegukan. "Boleh umma peluk Anin?" Tanyaku dengan merentangkan tanganku.


Anin berdiri yang sejak dari tadi dia duduk di pangkuan Nyai Fatima. Aku mencium Anin dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafin Umma yaa, umma lama urusannya. Jadi baru bisa ketemu sama Anin." Kataku tersedu-sedu.


"Iya gak papa." Ucapnya polos. Aku semakin menangis dengan memeluknya serta mencium pipinya.


Nyai Fatima ikut mengelus kepalaku dan memelukku.


Kami berdua menangis dengan saling berpelukan.


Sedangkan Anin menatap kami berdua dengan kebingungan.


Setelah puas menangis Nyai Fatima meminta Anin untuk bertemu dengan Abinya. Nyai Fatima ingin mengatakan sesuatu berdua denganku. Dia lalu memberikan sebuah surat untukku.


"Bacalah nak, ini surat Anisa untukmu." Katanya dengan suara rentanya namun penuh dengan kharisma seorang Nyai yang di hormati orang-orang.


Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar membuka secara perlahan lipatan kertas itu.


Assalamualaikum mbak Nadia, jika surat ini sudah ada di mbak Nadia itu berarti mbak Nadia sudah kembali lagi kepada Mas Alvin. Alhamdulillah


Saya selalu berdoa di setiap selesai sholat saya.


Entah di dunia atau di akhirat kelak. Saya yakin mbak Nadia akan kembali lagi kepada Mas Alvin. Karena kalian sudah ditakdirkan untuk bersama meskipun harus melalui proses yang berliku dan panjang.


Mbak, saya mencintai Mas Alvin dari saking saya mencintainya saya merelakan dia menikah lagi dengan perempuan yang dia sangat cintai yaitu mbak Nadia.


Saya yang seharusnya tidak hadir di antara kalian.


Mbak Nadia adalah Ratu di hati Mas Alvin. Saya tidak sakit hati ataupun kecewa pada Mas Alvin tapi saya semakin kagum padanya.  Terbukti dia suami yang bisa berlaku adil kepada saya dan mbak Nadia.


Setelah saya mengenal mbak Nadia, saya jadi tahu kenapa Mas Alvin begitu mencintai mbak. Karena mbak perempuan yang sangat baik. Baik sekali.


Saya tahu, mbak selalu menjaga perasaan saya dan saya berterima kasih akan hal itu.


Saya semakin yakin kalau mbak Nadia adalah wanita yang begitu baik ketika saya bermimpi tentang mbak Nadia. Saya bermimpi mbak Nadia mengajari Aira mengaji. Mbak Nadia begitu telaten mengajari Aira mengaji.


Saat itu juga, saya merasa saya tidak akan bisa hidup lama dengan Mas Alvin ataupun dengan kedua anak saya. Jadi saya mohon dan meminta kepada Mbak Nadia. Tolong jaga, didik dan rawat kedua anak saya nanti seperti halnya mbak merawat anak kandung mbak sendiri.


Tolong sayangi kedua anak saya. Meskipun saya tahu mbak Nadia akan melakukan itu meskipun tanpa saya pinta.

__ADS_1


Dan ketika besar nanti tolong nikahkan mereka kepada seseorang yang mereka cintai tanpa menjodohkannya. Biarlah mereka menikah dengan pilihannya sendiri. Yang pastinya sudah mendapat restu dari mbak Nadia dan Mas Alvin.


Saya beri nama dia Anindia Alvina Azizah. Panggil saja Anin.


Salam hangat, Anisa.


Aku memeluk surat itu di dadaku. Menangis dengan rintihan yang sampai membuatku sesegukan.


Ya Allah, tolong tempatkan Mbak Anisa di surga Firdaus-Mu.


Air mataku tak hentinya berhenti menangis. Nyai Fatima kembali menangis ikut merasakan kepedihan ditinggal putri kesayangannya. Bahkan dia juga sangat di sayangi oleh Allah sehingga dia segera dipanggil-Nya.


"Bagaimana nak, apa kamu mau menerima wasiat Anisa?" Tanyanya dengan mengelus punggungku.


"Saya mau ummi. Mau sekali. Saya akan merawat Aira dan Anin seperti putri kandung saya sendiri. Tapi apa Anin mau tinggal dengan saya. Saya baru hari ini bertemu dengannya." Kataku yang terbata-bata.


Nyai Fatima berdiri dan memanggil Anin. Kali ini Kiyai Hafidz suami dan kedua anakku Aira dan Akhtar masuk ke dalam juga.


Anin kembali duduk di pangkuan Nyai Fatima. "Anin, Anin mau tidak tinggal sama umma, Abi, kakak Aira dan adik Akhtar?" Kataku yang terus menangis. Takut dia tidak mau tinggal bersamaku. Meskipun ini sebuah wasiat tapi kalau Anin tidak mau tinggal denganku aku tidak akan memaksanya. Mungkin dia mau tinggal dengan Nyai Fatima.


Anin melihat pada Gus Alvin, Aira dan padaku. "Mau. Soalnya Anin bisa tinggal sama Abi dan kakak Aira dan juga umma sama adik baru." Katanya tersenyum pdaku.


Aku tak kuasa untuk mengambil Anin di pangkuan Nyai Fatima  memeluknya dan menciumnya bertubi-tubi.


Saya janji mbak Anisa, saya akan melaksanakan wasiat mbak Anisa dengan sepenuh hati saya. Batinku.


"Tapi Anin kalau kangen sama embah Nyai atau sama embah Kiyai boleh tidur disini kan?" Tanyanya polos.


"Boleh sayang. Boleh sekali. Kapanpun Anin mau tinggal sama embah Nyai umma sama Abi akan beri izin." Kataku yang menyeka air mataku.


Nyai Fatima kemudian kembali ke kamarnya mungkin mengambil pakaian Anin. Lalu di susul oleh Kiyai Hafidz yang sejak dari tadi juga ikut meneteskan air mata.


Gus Alvin menghampiriku, memelukku dan mencium keningku. "Terima kasih Nadia sudah kembali kepada saya, kepada Aira dan kepada Anin. Dan terima kasih kamu sudah menghadirkan Akhtar di tengah-tengah kita dan semoga ada anggota tambahan lagi untuk keluarga kita." Ucapnya dengan tersenyum penuh arti.


Aku mencubit pinggangnya. Bisa-bisanya di situasi seperti ini dia masih mengatakan seperti itu.


"Banyak anak, banyak rejeki Nadia." Tambahnya.

__ADS_1


__ADS_2