
Nadia Mahira Hasan
Aku membuka kedua mataku ketika kudengar suara orang yang sedang mengaji yang biasa di putar sebelum adzan shubuh.
Aku teramat kaget dan syok ketika orang pertama yang aku lihat adalah seorang pria. Aku mendorong tubuh pria tersebut. Aku bangun dari tidurku dan duduk menatapnya bingung.
Sejak kapan Gus Alvin ada disini?
Gus Alvin menggeliyat menatap padaku dengan muka bantalnya. Aku masih syok. Mungkin jiwaku belum kembali dengan sempurna, aku mengucek kedua mataku masih ada Gus Alvin di depan mataku. Aku menepuk pipiku pelan dan tetap saja masih ada Gus Alvin. Bahkan dia tersenyum melihatku.
Seketika aku merasa creepy.
Aku mencubit Gus Alvin dan dia mengaduh kesakitan. Oh ini nyata ternyata.
"Seharusnya kamu cubit tubuh kamu sendiri Nadia, kenapa saya yang dicubit?" Protesnya.
"Gak mau. Sakit." Elakku yang tidak mau kalah.
Gus Alvin tertawa mendengar jawabanku. "Iya gak papa, biar saya saja yang sakit. Kamu gak boleh sakit sedikitpun." Ucapnya dengan bangun dari tidurnya duduk di depanku menatapku dengan tersenyum.
Merapikan rambutku yang pasti berantakan karena aku baru bangun tidur.
Sekarang suamiku ini bisa berkata gombal juga.
"Kok Gus bisa ada disini?" Tanyaku heran.
"Karena kamu tidak bisa dihubungi jadinya saya khawatir." Dia berbicara tanpa menatapku dia lebih fokus untuk merapikan rambutku agar terlihat rapi.
"Mbak Anisa?" Tanyaku penasaran.
"Saya sudah izin dan dibolehkan sama Anisa."
Hatiku merasa sedih mendengarnya. Mbak Anisa tidak mungkin kan mengatakan tidak kepada Gus Alvin. "Gus gak boleh kesini kalau bukan waktunya. Saya tidak nyaman sama mbak Anisa."
Aku tidak mau mbak Anisa berpikiran buruk tentangku.
Nanti dia pikir ini hanya alasanku saja agar Gus Alvin lebih memerhatikanku.
"Kalau begitu jangan buat saya khawatir dan panik seperti kemarin. Jadi selama saya ada di rumah saya bisa tenang. Handphone kamu harus tetap aktif. Begitu juga dengan Anisa saya juga sudah bilang padanya.
Selama saya bersama kamu. Handphone dia juga harus tetap aktif." Ucapnya dengan mencubit hidungku.
Aku tersenyum senang, Gus Alvin ternyata dia mengkhawatirkanku. Dia sampai menyusulku ke rumah untuk mengecek bahwa aku baik-baik saja. Meskipun dia juga mengatakan kalimat yang sama pada mbak Anisa.
Aku bisa mengerti dan memahami dia melakukan itu karena dia ingin tingkat perhatian Gus Alvin padaku dan mbak Anisa sama.
"Oh iya, apa Minggu ini kamu ada kerjaan? Tanya Gus Alvin.
"Enggak. Saya free sampai hari Selasa. Rabu ada kerjaan lagi." Kataku dengan mengikat rambutku. Bersiap ke kamar mandi untuk mengambil wudhu'.
"Kalau gitu, ikut saya yaa ke rumah. Selasa, ada acara Haul kakek saya." Ucap Gus Alvin yang membantuku menutup mulutku karena aku lupa menutup mulutku yang sedang menguap.
__ADS_1
Aku hanya bisa cengengesan ketika Gus Alvin dengan santainya menutup mulutku padahal aku baru bangun tidur dan tentunya belum sikat gigi.
Aku berpikir sejenak tentang ajakan Gus Alvin. "Pasti banyak orang yaa Gus?" Tanyaku bimbang.
Aku hanya teringat kembali tentang acara ngunduh mantu dulu. Dimana banyak pasang mata yang memerhatikanku dan aku menjadi buah bibir di acara itu.
Gus Alvin menyentuh tanganku dan mengelusnya. "Saya sudah bilang kalau ada yang menghina kamu, meremehkanmu saya yang akan pasang badan buat kamu Nadia. Saya tidak mungkin membiarkan istri saya tersakiti."
Aku hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapannya. Aku lalu melepas tangannya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Mau kemana?" Tanya Gus Alvin.
Heran kenapa Gus Alvin masih bertanya aku mau kemana. "Saya mau ke kamar mandi Gus. Saya mau sholat udah adzan shubuh tuh."
Gus Alvin malah tersenyum malu. Dia lalu berdiri dan berjalan menghampiriku. Aku dengan cepat masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
"Nadia, saya mau ambil wudhu' juga." Ucapnya dengan mengetok pintu kamar mandi.
"Ya antri lah Gus, atau sana Gus sholat ke masjid sama ayah. Terus wudhu'nya di masjid juga." Teriakku dari dalam kamar mandi. Gus Alvin hanya terkekeh mendengar ucapanku.
Kenapa Gus Alvin sekarang menakutkan dan tambah possesive. Membuatku ngeri saja.
Tapi di lain sisi aku suka Gus Alvin yang seperti ini dari pada yang waktu awal nikah, seperti kanebo kering saja.
🍁🍁🍁
Aku tahu jika Gus Alvin denganku dia tidak punya kerjaan. Kerjaan dia hanya membaca buku yang dia bawa dari rumahnya. Karena aku sekarang free aku putuskan meminta Gus Alvin mengantarku ke toko buku.
Gus Alvin ternyata ingin membeli buku juga jadi kami berpisah mencari buku dimana buku yang kami cari tidak berada di tempat yang sama.
Kami bertemu kembali dengan aku yang membawa lima novel dan Gus Alvin membawa tiga buku yang semuanya begitu tebal. Tentunya buku yang berhubungan dengan agama.
Satu judul buku yang Gus Alvin beli sepertinya tentang kisah cinta Rasulullah dengan para istrinya. Istri Nabi yang paling aku sukai adalah Sayyidah Aisyah. Setiap aku membaca kisah cinta Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah selalu membuatku tersenyum.
Aku melihat pada novel yang hendak aku beli.
Untungnya novel yang aku beli tiga di antaranya adalah novel islami. Jadi tidak terlalu sungkan pada Gus Alvin.
Setelah Gus Alvin selesai membayar dia membawa barang belanjaan kami di tangan kanannya dan tangan kirinya dia menggemgam tanganku.
Kami berjalan seperti layaknya pasangan suami istri lainnya. Jujur ini pertama kalinya bagiku berjalan berdua saja dengan Gus Alvin. Cara dia menggemgam tanganku membuatku bahagia. Lalu aku mengaitkan tanganku pada lengannya agar kami bisa lebih berdekatan.
Gus Alvin melihatku dengan tersenyum manis. Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku mencium pipi Gus Alvin saking gemasnya pada suamiku sendiri.
"Nadia, ini di tempat umum." Tegur suamiku dengan mata yang melotot tapi dengan nada gemasnya. Senyumannya masih melekat di bibirnya. Aku hanya tertawa senang karena dia menegurku.
"Apa kita harus pulang sekarang?" Tanyanya usil dengan memiringkan kepalanya.
Aaa... Kenapa Gus Alvin bisa manis seperti ini. "Gus saya sesak napas." Kataku menepuk pelan dadaku.
"Kenapa?" Ucapnya panik dan ikutan menyentuh dadaku.
__ADS_1
"Saya sesak napas karena Gus bertingkah manis tadi." Kataku dengan malu-malu. Gus Alvin tertawa dan menggelengkan kepalanya melihatku yang sedang merayunya.
"Nadia, Nadia." Ucapnya dengan mengelus pipiku.
Aku lalu menekan tangannya dipipiku. "Pipi saya juga panas dan merah kan Gus." Kataku dengan manjanya.
"Gara-gara saya juga?" Tanyanya geli.
Aku mengangguk dan semakin menekan tangan Gus Alvin yang berada di atas pipiku.
Gus Alvin lalu merendahkan tubuhnya padaku dan berbisik padaku. "Jangan bertingkah imut di depan saya Nadia waktunya tidak tepat nanti saja di rumah yaa." Bisiknya dan mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di pipiku.
Seharusnya aku tidak mengatakan kalimat yang bisa memancing sisi lain dari Gus Alvin.
Dia lalu menarik kembali tanganku. Dia pasti tidak tahu bagaimana wajahku saat ini. Aku yakin pipiku sekarang sangat merah. Benar-benar merah. Aku menunduk malu. Menutupi wajahku karena pengunjung lain sepertinya melihat kami. Lebih tepatnya melihat padaku dan tersenyum melihatku.
Aaa.... Gus Alvin menyebalkan.
"Jadi kan yang mau pulang?" Tanyanya dengan senyuman usilnya. Aku menggeleng dan mengatakan kalau aku lapar dan ingin makan.
Kami makan di sebuah restoran yang sedang ramai pengunjung mungkin karena mau jam makan siang.
Jadi pengunjungnya banyak. Gus Alvin masih sibuk dengan handphone yang dia pegang dari tadi.
Sepertinya membalas pesan dari mbak Anisa.
"Oh yaa buku yang tentang kisah Rasulullah dengan para istrinya itu buat kamu Nadia." Ucapnya setelah membalas pesan dari mbak Anisa dan berkata dengan sambil mengunyah.
"Buat saya?"
"Iya. Kamu suka baca novel kan? Jadi saya kasih cerita tentang Rasulullah dengan para istrinya. Sekalian biar bisa tahu sejarah tentang islam juga." Ucapnya dengan mengetuk dahiku. Aku hanya meringis mendengar ucapannya.
"Gus, beli kan buku yang biografi tentang Sayyidah Aisyah yaa?" Pintaku.
Dia menatapku dengan pandangan yang tidak mengenakan. "Kenapa tidak bilang dari tadi Nadia." Kesalnya.
"He... baru ingat." Kataku dengan polosnya.
"Yasudah nanti baik lagi." Putusnya singkat.
Senyumanku merekah. "Makasih suamiku sayang. Suamiku Tampan. Lebih tampan dari pada Shahru Khan." Kataku dengan centilnya.
Gus Alvin menahan tawanya agar tidak meledak.
Menutupi separuh wajahnya dengan tangannya. Siapa suruh punya istri modelan seperti aku. Pusing kan jadinya.
Gus Alvin masih tersenyum dengan wajah yang kini sudah memerah. Lagi-lagi suamiku begitu lucu dan menggemaskan. "Ciee Gus salting, pipinya merah juga." Godaku senang.
Gus Alvin berdehem kecil demi bisa menghilangkan rasa salah tingkahnya. Di kemudian menatapku lekat dan mencubit pipi kananku.
"Makan Nadia, jangan cie cie."
__ADS_1