
Sudah bisa ditebak hari-hari berikutnya. Asti sekarang berpindah mengetuk kamar gue untuk menggunakan kamar mandi gue yang spesial. Gara-gara gue kenalan sama dua cewek itu, akhirnya gue mesti merasakan penderitaan ini.
Walau begitu, setiap malam dia selalu mengirim gue nasi goreng yang dia buat di dapur kosan. Sambil gue menikmati sepiring nasi goreng, dia berceloteh tentang kosan ini dan seluk beluk setiap penghuni kosan di tiap kamar.
“Lu kalau mau buat kopi, tinggal buat di dapur, udah ada kopinya, tehnya, pokoknya lengkap deh,” ucapnya semangat menjelaskan.
Asti melanjutkan semua yang ada di dapur itu fasilitas gratis dari pemilik kos, setiap bulan ada jatah untuk setiap kamar dan semuanya harus terbagi rata. Kalau habis? Katanya harus beli sendiri dan menunggu hingga jatah bulan selanjutnya dikirim oleh pemilik kos. Tentunya setelah semua biaya sewa penghuni kos dibayar.
“Eh, btw, tadi pagi kok depan kamar gue rame orang yang lewat, ya, ke ujung sana,” ucap gue sambil menunjuk ke arah ujung kosan ini.
“Oh, itu mereka mau naik ke atas, di atas ada tempat jemuran sama kalau bosen di kamar, kita juga bisa nongkrong di sana,” jelasnya.
Berbeda dengan Asti, Gina lebih sedikit pemalu. Dia hanya sebentar ke kamar gue dan terkadang kembali ke kamarnya saat Asti berbicara seperti kereta cepat. Mungkin dia bosan mendengar celotehan cewek yang satu ini, atau mungkin juga dia ada acara video call dengan pacarnya. Ah, apa urusan gue.
Akhirnya gue tidak bisa menolak kehadiran mereka sebagai teman kos gue. Tentunya karena gue selalu dikirim nasi goreng dua hari ini. Jadi gue tidak perlu repot-repot untuk mencari makan malam keluar yang dingin dan membuat malas.
Hari Kamis ini hari terakhir di bulan November. Mau tidak mau gue harus ke kantor untuk mengambil bonus kerjaan gue, totalnya lumayan, sih, untuk jajan dan beli kebutuhan satu bulan. Tapi ada yang aneh di hari ini.
Gue terbangun jam enam pagi dan tidak ada suara ketukan dari wanita yang selalu mengganggu gue tidur. Mungkin hari ini mereka libur atau juga karena dia terlalu sering dan menjadi malu untuk setiap pagi datang ke kamar gue. Tetapi rasa-rasanya, cewek seperti itu tidak kenal dengan rasa malu. Entahlah.
Gue pun bangun dan menuju dapur untuk menyeduh sesaset kopi. Seperti hari-hari kemarin, motor-motor penghuni kosan satu dua sudah ada yang pergi berangkat menuju tempat kerjanya, dan ada pula yang masih terparkir dingin di depan kamar masing-masing.
Kepulan asap dari panasnya air yang gue tuang membawa aroma dari kopi yang gue seduh. Tidak biasanya gue menyeduh kopi saset dengan aroma sekuat ini. Gue pun kembali ke kamar dan menyetel musik yang ada di laptop sambil menikmati pagi.
Kerjaan gue sudah selesai kemarin malam, dan hari ini gue sengaja untuk tidak mengambil dahulu pekerjaan karena akan pergi ke kantor yang jaraknya cukup jauh bila ditempuh oleh angkutan umum.
Sejam berlalu terlarut dalam lamunan, kopi tersisa setengah di gelas yang sudah mendingin. Gue pun bangkit untuk bersiap menuju kantor. Betapa gantengnya gue saat bercemin merapikan kemeja yang gue pakai. Sepertinya bukan hanya gue yang narsis di depan cermin seperti ini.
Setelah memakai sepatu dan menggendong tas ransel, gue pun bergegas keluar dari kamar. Semua lampu gue matikan dan jendela gue kunci. Gue pun berjalan santai menuju pintu gerbang, tetapi saat gue melewati kamar dua wanita itu, seseorang memanggil gue.
“Ian!” teriaknya dari kamar yang terbuka.
Gue pun menoleh dan melihat Gina yang tengah bermalas-malasan dengan wajah dan pakaian yang lusuh. Ingin rasanya gue setrika yang gue lihat itu.
“Mau kemana?” tanya saat gue menoleh.
“Mau jalan-jalan, aja.” Akhirnya gue mesti berhenti sejenak.
“Pake motor gue aja tuh, lagi nganggur,” tawarnya.
“Emang enggak apa-apa?”
“Ada syaratnya, sih?” sudah gue duga pasti ada yang dia mau, palingan juga gue suruh isi bensinnya.
“Apa syaratnya? Bensin?” tanya gue langsung.
“Syaratnya ajak gue jalan-jalan juga.” Senyum di bibirnya merekah manja.
Gue berpikir sejenak untuk memilih jalan kaki dengan santai atau menggunakan motor dengan membonceng Gina. Akhirnya gue memilih menggunakan motor karena awan hitam pembohong itu sudah ada dilangit kota ini.
__ADS_1
“Yaudah, ayo.”
“Gue mandi dulu, ya,” ucapnya sambil bergegas menuju kamar mandi kosan.
“Cepetan, udah mendung entar hujan,” seru gue agar dia tidak berlama-lama di kamar mandi.
Gue pun menunggu dengan duduk di motor yang terparkir di depan kamar itu. Sebuah motor matik yang didominasi warna hitam dengan strip merah. Hingga lima belas menit gue menunggu, dia pun sudah selesai dengan persiapannya. Menggunakan setelan celana jeans, kaus dan sweater tipis. Dia pun berhenti di depan gue tanda sudah siap.
“Enggak pake make up?” tanya gue basa-basi.
“Bedakan doang,” jawabnya singkat.
Dia pun menyodorkan kunci motor dan sebuah helm. Gue dengan senang hati menerimanya dan rasa-rasanya ingin menggas saja motor ini tanpa wanita itu. Dia pun duduk di jok belakang saat gue menyalakan motor ini.
“Ian, simpen tasnya di depan situ aja.” Dia menunjuk ke arah bawah dekat kaki gue.
“Enggak mau, entar lu meluk gue dari belakang, geli tau,” ucap gue menolak.
“Idih, siapa juga yang mau, lu kali yang mainin gas sama rem entar di jalan.”
Gue pun menyimpan tas gue di antara pijakan kaki motor ini demi menghormati dia yang duduk di jok belakang.
“Awas lu kalau meluk, gue turunin,” ucap gue sambil menggas motor dengan perlahan hingga keluar dari kosan.
“Idih kagak. Mau kemana sekarang?” tanyanya penasaran.
“SPBU,” jawab gue singkat karena kesal saat melihat indikator bensin yang menunjuk huruf ‘E’ dan gue harap motor ini tidak berhenti di tengah jalan.
Selama perjalanan, Gina seperti menikmati suasana kota di jok belakang. Gue rasa dia ingin memeluk gue dari belakang, atau itu hanya perasaan gue saja yang sedari tadi merasa duduknya Gina kian maju mendekati gue.
Akhirnya gue sampai di kantor gue di salah satu jalan di pusat kota ini. Gedung kantor berwarna putih ini memiliki empat lantai, dan meja kerja gue ada di lantai tiga jika setiap hari gue datang ke sini. Sudah sebulan tetapi gue rasa tidak ada perubahan dengan kantor ini.
Gue pun memarkirkan motor matik ini di dekat pos satpam karena tempat inilah yang paling teduh dibandingkan dengan area parkir di belakang.
“Mau ikut ke dalam?” tanya gue pada Gina sambil melepaskan helm.
“Emang boleh?” tanyanya singkat.
“Kenapa enggak boleh? Kalau mau ikut ayo, kalau enggak jagain motor di sini.”
Dia akhirnya memilih ikut dengan gue ke dalam kantor ini. Gue berjalan di depannya yang terlihat sedikit ragu untuk masuk ke kantor ini.
Suasana sepi terasa saat gue masuk ke dalam gedung ini. Di tempat resepsionis ada dua orang wanita yang tengah mengobrol, di kursi dan meja tamu pun tak seorang pun duduk di sana. Gue melepar senyum pada resepsionis itu dan melewatinya begitu saja untuk pergi ke lantai dua.
Waktu-waktu siang seperti ini memang kantor ini terkesan sepi, karena tempat tersibuk di kantor ini ada di lantai tiga dan empat. Suara langkah sepatu, cetakan mesin yang tengah mencetak, dan suara obrolan karyawan bahkan terdengar hingga lantai dua.
Gue langsung menuju ruangan administrasi untuk mengurus data-data pekerjaan gue satu bulan ke belakang. Dan saat gue sampai, gue melihat Tio, teman gue yang seminggu kemarin mengantar gue ke tempat kos dengan mobilnya.
Dia bekerja di kantor ini juga dan memegang divisi HRD. Gue mengenalnya saat gue mendapatkan undangan wawancara di sini. Kedekatan kami bermula saat dia mengetahui bahwa tempat gue dan dia tinggal tidak terlalu jauh, mungkin karena itu pula gue diterima dengan mudahnya di sini. Berkatnya tentu saja.
__ADS_1
“Siang, Bro, lagi ngapain sendirian?” tanya gue padanya yang tengah memainkan ponselnya.
Dia seperti terkaget melihat gue membawa sesosok wanita yang mungkin dipikirannya, gue dan wanita ini sudah berpacaran. Senyum meledek pun merekah dan terlihat jelas.
“Cewek baru? Gila lu baru juga ditinggal seminggu udah dapet aja.” Kami pun bersalaman dan tentunya gue mengenalkan wanita itu padanya.
“Ini temen gue, belum jadi pacar,” ucap gue membuat pipi Gina menjadi merah merona.
“Emang lu tau Gina belum punya pacar?” tanya Tio pada gue.
“Lu tanya aja sendiri, gue mau ke administrasi dulu,” ucap gue sambil menyuruh Gina duduk di kursi depan ruangan administrasi. “Enggak apa-apakan, Gin, ditinggal sebentar sama cowok kaya begini?” tanya gue pada Gina.
“Enggak apa-apa, kok, gue bisa jaga diri.” Gue pun tertawa mendengar candaannya.
“Yaudah gue tinggal sebentar,” ucap gue sambil berjalan menuju ruangan.
“Yang, lama aje, Ian.” Tio terlihat tampak senang.
Gue pun tidak terlalu memikirkannya dan berlalu masuk ke ruangan administrasi. Sebenarnya gue bisa memakan waktu lama di sini, paling cepat pun sejam karena gue harus memverifikasi data-data pekerjaan yang gue selesaikan selama sebulan.
Sebenarnya gue sudah memberikan masukan ke atasan gue untuk mengganti sistem konvensional seperti ini dengan sistem digital yang lebih praktis. Tapi sayangnya, atasan gue orang yang terlanjur sibuk sehingga dia tidak mementingkan hal seperti ini.
Dari pukul 11:30 hingga pukul 12:30 kini, semua proses verifikasi gue telah selesai. Cukup melelahkan juga demi mendapatkan uang bonus bulanan ini. Gue pun keluar dengan wajah yang senang karena atm gue pasti sudah semakin gemuk hari ini.
Gue melihat Gina tengah duduk sendiri sambil memainkan ponselnya. Wajahnya terlihat sedang bosan menunggu, atau karena ada sesuatu dengan si Tio sehingga wajahnya seperti itu. Gue pun duduk sejenak di sampingnya.
“Kok mukanya cemberut gitu?” tanya gue basa basi.
“Enggak, kok, cuma bosen aja nungguin elu.”
“Si Tio kemana?”
“Tadi ke atas katanya, dia kerja di sini juga?”
“Iya. Udah lama ke atasnya?”
“Setengah jam yang lalu,” ucapnya sambil melihat jam tangan.
“Yaudah, yuk, kita jalan-jalan lagi,” ajak gue sambil menariknya bangkit.
“Mau kemana?”
“Kemana aja, yang penting bensin motor yang gue isi penuh tadi, bisa habis hari ini juga,” ucap gue bercanda.
Gina pun bangkit dan memukul gemas gue akibat kata-kata gue barusan. Kami berjalan keluar dari kantor ini dan langsung menuju motor matik hitam yang sudah lama menunggu. Gue jarang bertemu atasan atau bahkan teman-teman yang lain di sini. Rasa-rasanya niat gue ke kantor ini hanya untuk ambil bonus saja. Karyawan teladan banget, ya, gue.
“Mau kemana sekarang?” tanya gue sejenak sambil menggunakan helm.
“Kemana aja terserah, gue ikut aja kan gue yang dibonceng.”
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, gue memacu motor ini menuju tempat yang gue ingin menikmatinya sejenak hari ini. Tempat yang tidak terlalu jauh dari kantorku dan mungkin bisa melepas bosan suasana di kosan.