
Muhammad Alvin Abdullah
"Pergilah." Kataku padanya yang tertunduk menangis. Dia bukan istriku lagi. Dia wanita yang tidak boleh berada di kamarku lagi. Aku sudah tidak halal lagi untuknya.
Kepalaku semakin pusing dengan tubuhku yang semakin melemah dan panas.
Aku bisa menahan diriku untuk tetap sadar agar tidak kehilangan kesadaran diri. Aku ingin melihatnya pergi untuk terkahir kalinya.
Dia berdiri dengan perlahan. Tidak berkata apalagi.
Terus menunduk tidak melihat padaku lagi. Dia berbalik berjalan ke arah pintu yang sedikit terbuka.
Melihat punggungnya yang berjalan dengan bungkuk.
Aku sudah menyiapkan semuanya padanya. Meskipun aku sudah bercerai dengannya dan dia tidak mau bertemu denganku lagi, aku akan hargai itu. Tapi aku akan tetap memberikan nafkahku kepada calon anakku.
Aku sudah menstranfer uang padanya sebagai biaya pendidikan anakku ketika dia sudah besar nanti. Serta sebuah akte tanah seluas satu hektar atas nama anakku. Jika itu masih kurang. Nadia bisa meminta padaku. Tapi aku tidak yakin akan hal itu.
Dia ingin melupakanku sepenuhnya. Dia tidak akan menghubungiku meskipun dengan alasan anakku kelak.
Dia ingin mengubur semuanya tentangku.
Bahkan aku berharap dia menoleh kebelakang untuk melihatku sekali lagi. Tapi nyatanya dia terus berjalan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Hingga akhirnya pintu itu tertutup. Seiring dengan kesadaranku yang hilang juga.
Aku tersadar ketika adzan maghrib berkumandang. Air mataku mengalir begitu saja. Kembali meringkuk menangisi dia yang telah pergi. Menangisi dia yang bukan siapa-siapaku lagi. Merindukan dia yang sudah bukan siapa-siapaku lagi.
Rasa yang paling berat bukan merindu tapi rasa kehilangan. Orang yang ditinggal pergi jauh lebih menyakitkan dari pada orang yang meninggalkan. Kehilangan yang menyebabkan kesepian. Kesepian yang membawa kenangan yang hanya menghadirkan rindu.
Allah berdosakah aku ini, jika aku masih mencintai dia.
Mencintai dia yang bukan istriku lagi.
Aku harus bagaimana ini agar aku bisa melupakan dia.
Rasanya aku akan gila jika terus seperti ini.
Allah, tegarkanlah hatiku ini. Hilangkan rasa ini untuk dia. Rasa yang tidak pantas lagi untuk dia. Sampai kapan aku harus menyukai dia jika dia tidak mau hidup bersama denganku?
Nadia Mahira Hasan, wanita yang kucintai dari aku kecil hingga di usiaku saat ini. Aku hanya bisa bersamanya dalam hitungan bulan. Tapi aku sudah mencintainya dalam hitungan tahun.
Aku menangis tergugu dalam diam. Aku tahu aku adalah orang yang memberikan luka yang perih dalam hatinya. Ini memang salahku. Tak seharusnya aku menikahi dia, jika pada akhirnya aku hanya menorehkan luka padanya.
Aku tidak bisa melepaskan salah satunya. Aku ingin mereka berdua ada di sampingku, mendampingiku. Aku sama-sama membutuhkan mereka berdua.
__ADS_1
Aku memiliki Dua Hati, untuk Anisa dan untuk Nadia.
Aku mungkin memang laki-laki teregois di dunia. Aku mencintai dua istriku. Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Lebih baik aku saja yang pergi jika salah satu dari mereka pergi meninggalkanku.
Baru tadi sore aku bertemu dengannya dan kini aku sudah sangat merindukannya.
Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku selanjutnya, tanpa Nadia. Jika aku juga harus menjaga hatiku demi Anisa.
Pintu kamar terbuka seseorang masuk ke dalam kamarku. Dia menyentuh lenganku. Aku menoleh dan ada bidadari lain di hidupku yang harus aku jaga juga. Cukup Nadia yang pergi dari hidupku. Jangan Anisa lagi.
Anisa menangis dan kemudian dia memelukku. "Maafin Anisa Mas, ini salah Anisa. Jika saja dulu Anisa menolak untuk dijodohkan dengan Mas. Mas bisa menikah dengan mbak Nadia." Katanya yang menangis sesegukan.
Aku bangun dari tidurku duduk di hadapannya.
Menyentuh pipinya dan mengusap air matanya.
"Semuanya sudah terjadi Anisa. Ini mungkin jalan takdir kita seperti ini. Ini sudah takdir dari Allah. Kita harus ikhlas. Sekarang, mari kita menjalani rumah tangga kita berdua lagi yaa... jangan tinggalkan Mas. Mas tidak mau kehilangan kamu juga." Kataku yang kembali menangis dengan menggemgam tangannya erat.
Anisa membawaku dalam pelukannya. "Tidak Mas. Anisa akan selalu ada di samping Mas. Hanya maut yang akan memisahkan kita." Katanya dengan mengelus punggungku.
Aku melepas pelukannya menangkup kedua pipinya mencium seluruh wajahnya. Memegang perutnya yang sudah berusia enam bulan. Aku berikan kecupan di perut Anisa dia lalu mengelus rambutku lembut.
Aku tidak boleh seperti ini, aku harus bersikap adil pada Anisa. Aku harus bangkit kembali demi Anisa. Wanita yang begitu baik, sabar, cantik nan Sholehah.
"Lima menit lagi Anisa. Setelah itu saya akan sholat Maghrib." Ujarku padanya.
❤❤❤
Setelah sholat isya' aku masih berdiam diri di kamar. Bedanya tadi aku berada di kamar Nadia sekarang aku berada di kamarnya Anisa. Aku sudah merasa baikan.
Aku akan memulai aktifitas kembali besok seperti semula dengan mengisi pengajian shubuh bersama santri Aliyah. Dan Anisa sedang mengajar sekolah diniyah malam ini.
Anisa sudah membersihkan dan merapikan kamar Nadia. Sekarang kamar itu di gunakan jika ada tamu saja.
Aku beranjak berdiri bermaksud mengambil selimutku yang tertinggal di dalam kamar Nadia. Tidak ada barang Nadia lagi di kamar tersebut. Nadia membawa semuanya agar tidak tertinggal satu barangpun.
Aku mengambil selimut itu yang berada di atas kasur.
Ketika berbalik mataku menangkap sesuatu di dalam laci nakas yang sedikit terbuka. Aku membuka laci nakas tersebut dan ternyata sebuah figura kecil yang berisi fotoku dan Nadia ketika dia sudah sah menjadi istriku.
Di hari pernikahan kami. Foto pertama kami.
Tidak ada senyum di antara kami berdua. Tapi aku sudah jatuh hati padanya dari dulu. Sedari aku masih remaja.
__ADS_1
Menikahi gadis pujaan hati siapa yang tidak bahagia?
Senang dan takut menjadi satu saat itu karena tanggung jawabku semakin berat. Menjadi imam dari dua wanita yang memiliki hati yang tidak perlu di ragukan lagi. Dua Hati dari dua orang wanita yang memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda tapi satu kesamaan mereka yaitu anak yang berbakti kepada orang tuanya.
Mereka mau menikah denganku karena rasa bakti mereka kepada kedua orang tua mereka.
Ya Allah beruntungnya aku memiliki dua perempuan yang cantik dan sholehah.
Jujur aku takut tidak bisa memikul amanah dan tanggung jawab dari seorang suami dari dua istri. Dan ternyata memang benar aku tidak bisa memikulnya terlalu lama. Pada akhirnya aku menceraikan Nadia.
Butuh waktu tahunan untuk aku bisa bersama dengannya. Dan hanya butuh beberapa bulan untuk aku berpisah lagi dengannya.
Terlalu sebentar aku berjodoh dengannya. Jodoh yang hanya singgah sebentar tanpa niat untuk menetap lama.
Sekarang aku menyesalinya kenapa aku tidak pernah berfoto dengan Nadia. Dia yang selalu mengajakku untuk berfoto terlebih dahulu dan bodohnya aku, kenapa aku tidak minta dia untuk mengirimkan foto kami kepada handphoneku.
Ah, bodohnya kamu Alvin.
Mataku kembali mengeluarkan air mata tanpa ku sadari.
Kenapa aku begitu mencintainya ya Allah? Kenapa aku harus mencintai dia begitu lama? bahkan ketika aku sudah berpisah dengannya kenapa aku masih mencintai dia?
Apa yang harus ku lakukan?
Tolong, sudahkanlah rasa ini padanya. Ada hati lain yang harus ku jaga.
Hati Anisa.
Hati istriku yang sangat mencintaiku.
Seorang istri yang sangat sholehah. Sehingga aku merasa tidak pantas mendapatkannya.
Kenapa aku tidak bisa membalas rasa cinta Anisa dengan kadar yang sama seperti kadar cinta yang dia berikan padaku.
Kenapa hatiku lebih condong kepada Nadia Ya Allah? Kepada wanita yang sudah pergi meninggalkanku?
Kenapa Tuhan?
Apa yang salah dengan hatiku?
Aku jatuh terduduk dengan menundukan kepalaku di pinggir kasur.
Kembali menangisi dia yang telah pergi dari kehidupanku.
__ADS_1