
"Ian pergi lagi, ya, Mah," ucap gue pamit untuk kembali ke kosan.
"Enggak mau nunggu bapakmu dulu? Masih sore juga masih jam enam," ucap ibu gue mencegah.
"Langsung aja deh, Mah. Nanti Ian juga pulang lagi."
"Yaudah kalau gitu hati-hati." Ibu gue pun bangkit dari duduknya.
Gue pun berjalan ke depan rumah bersama Asti yang gue genggam tangannya. Ibu gue membukakan pintu, lalu gue pun menyalaminya.
Gue dan Asti berjalan menuju motor matik yang terparkir sedari tadi di tempatnya.
"Mau langsung balik?" tanya Asti.
"Iya, langsung aja, males macet nih malam minggu," ucap gue sambil menggunakan helm.
Asti membukakan pintu pagar dan gue mengeluarkan motor ini. Ibu gue melambaikan tangannya dari pintu rumah.
Motor yang gue kendarai gue pacu pelan di jalanan komplek. Sampai saat motor ini akan keluar dari komplek rumah ini.
"Ian! Eh, itu si Gina, bukan?" ucap Asti sambil menunjuk ke arah motor yang baru saja melewati kami.
"Ah, masa, sih? Bukannya kalian berdua enggak pernah main jauh-jauh dari kosan?" tanya gue memastikan.
"Ikutin aja dulu, yuk!" ucap Asti yang membuat gue mengikuti motor yang sudah cukup jauh itu.
Jalan motor itu seperti mengingatkan gue jalan ke salah satu rumah yang sudah tidak asing bagi gue.
"Kira-kira mau kemana si Gina?" tanya Asti dari belakang.
"Mau ke rumah cowok," jawab gue.
"Ah, sok tau aja kamu, Ian," ucapnya yang membuat gue sedikit kesal.
Gue pun menjaga jarak sambil tetap mengikuti orang diduga Gina itu. Sampai beberapa menit, motor itu berhenti di salah satu rumah yang gue hafal siapa yang menempatinya.
"Udah gue duga," ucap gue sambil melihat motor itu berhenti tepat di depan rumah.
"Hah, duga apaan?" tanya Asti.
Gue pun memarkirkan sejenak motor Asti dan mengintip dari balik tembok belokan jalanan komplek.
"Itu rumahnya Tio," ucap gue.
__ADS_1
"Hah, Tio! Btw, Tio siapa, ya?" tanyanya membuat gue serasa ambruk.
"Itu Tio yang kemaren jemput kita ke acara kantor."
"Hah! Jangan2 mereka jadian."
"Udah diem dulu, jangan teriak-teriak gitu," ucap gue sambil menaruh telunjuk di depan mulut.
Tak lama, keluar seorang dari dalam. Seperti dugaan gue, Tio yang keluar dan menyambut Gina. Gina pun diajak masuk oleh tuan rumah dan gue tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya.
"Kita samperin aja, yuk!" ucap Asti.
"Enggak, biarin aja dulu," ucap gue menahannya.
"Tapi aku penasaran mereka mau ngapain," ucap Asti ngotot.
"Aku juga penasaran kali, masa iya Tio bisa nikung gini," ucap gue dan langsung membuat wajah Asti berubah 180 derajat.
"Maksud kamu?" kembali cubitan ke perut gue, dia layangkan.
Gue pun berhasil menghindar dari cubitan itu. "Enggak kena, wek!"
"Udah ah, pulang, yuk," ucapnya.
"Jangan-jangan Tio pake pelet," celetuk Asti yang tengah memeluk gue dari belakang.
"Udah enggak usah mikir yang aneh-aneh dulu, makin dipikirin malah makin penasaran." Sejenak gue mengerem motor lalu berbelok.
"Iya juga sih, yaudah deh mau Gina jadian sama si Tio juga kan aku udah punya kamu," ucap Asti semakin erat pelukannya.
Pikiran-pikiran aneh pun bermunculan di dalam benak gue, mulai dari Gina tengah butuh bantuan atau mereka memang sudah jadian dan menyembunyikan hubungan mereka seperti gue dan Asti. Semakin gue berusaha melupakannya malah semakin penasaran.
"Oh iya, Sayang, kamu jangan bilang kita liat Gina ke rumah Tio, ya, apalagi sampai nanyain 'ngapain di rumah Tio'," ucap gue mengingatkan.
"Aku coba tahan, Ian."
Gue pun kembali fokus mengendarai motor ini dan Asti nyaman memeluk gue.
Hujan rintik-rintik di malam minggu membawa dingin ke dalam kamar. Gue dan Asti tengah asyik menonton film romansa dari laptop gue. Sedari tadi, kepalanya dia sandarkan pada pundak gue, dan terkadang dia menangis melihat adegan-adegan film.
Suara raungan motor matik pun terdengar masuk ke dalam kosan, sinar lampunya terang menyorot yang terlihat dari kamar gue. Asti pun dengan segera menjauh dari gue, tentu saja agar tidak ada rasa curiga jika yang datang itu Gina.
Suara dialog dari laptop gue pun kembali menggema setelah motor yang masuk tadi dimatikan. Gue masih fokus pada film yang gue tonton sedangkan Asti seperti penasaran siapa yang datang.
__ADS_1
“Paling juga Gina,” ucap gue melihat Asti yang celingak-celingukan.
Tidak lama, Gina pun muncul dengan celana jeans yang basah dan baju kemejanya dibalut jas hujan. Dia membawa bungkusan kresek dengan logo khas yang sepertinya gue kenal. Dengan senyum, Gina melihat gue dan Asti yang duduk berdua di kamar.
“Tumben baru pulang jam setengah sepuluh, mau jam sepuluh malah nih,” ucap gue basa-basi.
“Iya, barusan gue lembur dulu.” Gina pun menyodorkan bungkusan yang dibawanya, “Nih, buat ngemil kalian.”
“Apaan nih?” ucap Asti sambil menerima bungkusan itu.
“Makan aja, enak kok. Sini gue minta satu, laper.” Gina pun mengambil satu.
“Ngomong-ngomong, ini makanan beli di mana, Gin?” tanya gue penasaran.
“Itu, deket-deket tempat kerja, kok,” jawabnya.
“Oh, kirain yang jual ini cuma satu di daerah kota timur,” ucap gue dan langsung melahap makanan itu.
“Eh, masa? Em, enggak, kok, bener deket tempat kerja.” Gina pun terlihat salah tingkah. “Gue ganti baju dulu, ya.”
Gina langsung pergi ke kamarnya seperti menyimpan sebuah kebohongan. Gue dan Asti hanya saling bertatap mata sambil mengunyah makanan ini.
“Katanya lembur, jangan-jangan...,” ucap gue.
“Heh, enggak, kok. Dia wanita baik-baik, enggak mungkin sampai ke hal itu.” Asti membantah dugaan gue.
“Iya, sih, aku juga yakin si Tio mana berani sampai ngelakuin hal itu.” Gue memasukan sisa potongan makanan di tangan gue ke mulut.
“Tapi kalau setan udah menggoda ma bisa-bisa aja kali, Ian,” ucap Asti membuat gue bingung.
“Btw, minggu depan kamu mau ikut ke nikahan temen?” tanya gue mengalihkan topik.
“Hari Sabtu, ya? Aku kayanya masuk kalau minggu depan.” Asti tampak kecewa.
“Oh, yaudah kalau gitu.”
“Kamu sama si Gina aja, enggak apa-apa, kok,” ucap Asti memberikan angin segar.
“Paling aku pinjem motornya aja.”
“Yakin?” Asti pun menggoda gue.
“Iya, yakin, paling Gina nanti ngikutin di jok belakang,” ucap gue bercanda dan segera pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
__ADS_1
Belum tentu juga Gina libur hari Sabtu minggu depan, sehingga gue tidak terlalu berharap untuk pergi dengannya. Tetapi yang menjadi pertanyaan di benak gue adalah ada urusan apa Gina ke rumah Tio. Mungkin waktu yang akan menjawab, atau mungkin juga gue tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka. Entahlah.