
Aku menyentuh keningku sendiri, sedikit demam dan aku merasa sedikit pusing. Dari kemarin semenjak pulang dari acara tunangan Fisya dan balik lagi ke rumahku. Aku begitu lesu, lemah dan letih. Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang berat. Nafsu makanku juga berkurang. Mau makan saja tidak bersemangat.
Aku berbaring dan menyelimuti tubuhku sendiri, besok aku harus bekerja untuk acara pernikahan sepupu Ibram. Semoga saja tubuhku Vit kembali.
Mataku kembali terbuka lagi, bangun dan duduk dengan tercenung.
Apa mungkin aku hamil?
Aku mengambil alat testpack yang aku beli waktu mengantar mbak Anisa cek up. Aku bergegas ke kamar mandi.
Menunggu beberapa menit untuk menunggu hasilnya positif atau negatif. Aku menggigit bibir bawahku cemas.
Mataku terbelalak kaget melihat dua garis merah yang aku lihat dengan jelas.
AkuĀ Speechless.
Aku keluar kamar mandi dan aku bingung aku harus berbuat apa sekarang?
Memberi tahu Gus Alvin? Aku melihat jam dinding yang menunjukan jam setengah sepuluh malam. Kata Gus Alvin malam ini dia pergi bertamu ke rumah pamannya.
Jadi biarlah aku kasih tahu nanti jika dia menginap disini sebagai kejutan.
Aku teringat ayahku dan keluar kamarku menuju ke kamar ayahku. Mengetok pintu kamar Ayahku.
"Ayah, ayah udah tidur belum?"
"Belum. Ada apa Nadia?" Ucap Ayahku yang sepertinya berjalan ke arah pintu dan akhirnya membuka pintu kamarnya untukku.
Aku tersenyum sumringah melihat ayahku. "Nadia ada hadiah buat Ayah. Ayah pasti seneng dengan hadiah yang Nadia kasih."
"Apa?"
Aku memberi tahu ayahku dengan berbisik. "Ayah, bakalan jadi kakek buat anaknya Nadia. Nadia hamil." Kataku berseru senang.
"Alhamdulillah." Ucap ayahku dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Aku memberikan testpackku pada ayah sebagai bukti kalau aku memang sedang hamil. "MasyaAllah." Ucap ayahku yang wajahnya berbinar sekali malam ini.
"Gus Alvin sudah tahu?" Tanya Ayahku.
"Belum. Ayah yang pertama." Kataku bangga. Ayah tersenyum haru. Dia lalu memelukku.
"Terima kasih sudah membahagiakan ayah." Ucap ayahku yang terdengar sedih tapi juga bahagia.
Aku memeluk ayahku yang tubunya malam ini begitu hangat ketika aku memeluknya.
Satu-satunya orang yang membuatku bertahan dan kuat dalam menjalani hidup rumah tanggaku.
Satu-satunya alasan aku bertahan dalam poligami.
"Kamu bahagia juga kan Nadia?" Katanya dengan melepas pelukannya dengan tetap menyentuh kedua bahuku.
"Tentu saja ayah. Nadia bahagia sekali karena Nadia sebentar lagi mau jadi ibu dan bisa ngasih cucu buat ayah." Kataku gembira.
Lagi-lagi senyuman ayahku kembali membuatku hangat. Ayah kemudian mencium keningku lama.
Dia begitu bahagianya malam ini.
__ADS_1
ššš
"Mbak, kok pucat sih? Mbak Nadia sakit?" Kata Fina di sampingku.
"Iya wajah mbak pucat." Kata Yesi clienku yang masih berbicara waktu aku merias wajahnya.
"Ah tidak apa-apa kok." Kataku dengan tetap bekerja.
Wajah Yesi sudah 70 persen aku rias. Aku bisa menahan rasa pusingku. Untung saja aku tidak merasa mual.
Ketika sudah sembilan puluh persen merias Yesi. Aku berikan pada Fina untuk meneruskannya. Aku pamit sebentar untuk pergi ke kamar mandi.
Aku memuntahkan isi perutku, tapi tidak ada sesuatu yang keluar dari dalam perutku. Aku hanya mual saja.
Aku pusing. Setelah merasa baikan aku keluar.
Ruangan yang di pakai untuk merias Yesi adalah ruangan yang digunakan adiknya untuk berkumpul dengan teman-temanya. Di bagian utara ada kamar mandi lalu di sampingnya Mushalla. Aku memakai kamar mandi di dekat mushalla.
Setelah keluar aku melihat Ibram yang sepertinya baru selesai sholat dhuha. Aku tidak menyangka dia juga melakukan hal sunnah lainnya.
"Nadia, wajahmu pucat? Kamu sakit?" Tanyanya khawatir.
"Ah tidak apa-apa." Kataku mencoba tersenyum. Aku kembali mual dan kembali masuk ke kamar mandi.
Aku tahu Ibram curiga dengan sikapku. Dia pasti tahu, kalau aku sedang hamil. Buktinya setelah aku keluar kamar mandi. Dia masih menungguku.
Dia kemudian tersenyum padaku. "Selamat, kamu akan menjadi seorang ibu Nadia." Katanya dengan tersenyum getir.
Ibram laki-laki yang begituĀ gentleĀ menurutku. Dia dengan berlapang dada mengucapkan selamat atas kehamilanku meskipun aku tahu dia sedang merasa sakit hati.
Aku tahu Ibram merasa, bahwa dia sudah benar-benar tidak punya harapan untuk bisa mendapatkanku.
"Tidak bisa Ibram, aku tidak nyaman." Tolakku.
"Yasudah aku saja yang bilang pada Yesi." Ucapnya tanpa berpikir panjang.
"Ibram." Cegahku.
"Kamu mau selama acara kamu kayak gitu terus? Mual-mual atau lebih parah kamu bisa pingsan."
Katanya yang terlihat marah.
Benar yang dikatakan Ibram. Yang ada aku hanya merepotkan orang lain nantinya.
"Baiklah." Kataku mengalah. "Biar aku saja yang bilang pada Yesi."
Ibram mengangguk senang dan berlalu pergi. Aku melihat Ibram yang berjalan keluar rumah. Lalu dia masih sempat menoleh ke belakang dan kembali tersenyum padaku.
Untuk pertama kalinya aku tidak masalah dengan perhatian yang Ibram berikan padaku. Dia laki-laki yang tulus dan baik tapi yang tidak aku pahami kenapa dia malah menyukaiku.
ššš
Aku meminta maaf pada Yesi jika kerjaku tidak memuaskannya dan jika merasa tidak puas dia boleh membayar lima puluh persen saja. Tapi Aku bersyukur Yesi puas dengan kerjaku dan Fina.
Acara selesai sebelum sholat Jumat. Yesi memintaku untuk makan siang disini. Akupun menyanggupinya meskipun aku harus makan dengan lima suap sendok makan saja.
Aku dan Fina pulang setelah sholat Jumat.
__ADS_1
Mengucapkan terima kasih pada keluarga Fina karena telah menggunakan jasaku semoga mereka puas dengan hasilnya.
Aku juga pamit pada Ibram. Dia baru pulang dari masjid. Aku tersenyum melihatnya yang datang dari masjid menggunakan sarungnya lengkap dengan kopiahnya. Dia terlihat tampan.
Seperti Gus Alvin.
Rencananya aku akan memberikan sebuahĀ surpriseĀ pada Gus alvin nanti malam. Karena nanti malam dia akan menginap di rumahku.
"Terima kasih Ibram." kataku padanya yang kini aku sudah berada di samping mobilku.
"Sama-sama. Fina, kamu saja yaa yang nyetir jangan Nadia." Fina mengangguk mengerti. Fina belum tahu kalau aku hamil dia tahunya aku sedang tidak enak badan.
Aku mengurungkan niatku membuka mobil. Ada sebuah panggilan masuk yang jarang sekali aku menerimanya dari beliau. Dari Pak RT.
Kenapa perasaanku tidak nyaman.
"AssalamualaikumĀ mbak Nadia." Katanya yang dari suaranya beliau begitu cemas.
"WaalaikumussalamĀ pak. Ada apa pak RT?" Kataku penasaran dan khawatir. Fina dan Ibram menatapku bingung juga.
"Innalillahi wainna ilaihi raajiuun, maaf, karena saya mau menyampaikan bahwa bapak Hasan, ayah mbak Nadia meninggal dunia." Kata pak RT yang membuatku membeku tiba-tiba.
Waktu seakan berhenti berjalan. Napasku tercekat.
Kakiku lemas seketika. Fina dengan sigap membantuku. Aku melihat Ibram yang ingin menolongku juga tapi dia masih bisa menahannya.
"Halo mbak Nadia?" Suara pak RT memanggil namaku dari panggilannya.
Fina mengambil alih handphoneku. "Halo Pak, saya Fina. Asistennya mbak Nadia." Kata Fina yang juga mengeraskan volume panggilannya.
Aku teramat syok dengan kabar ini. Benarkah ayahku meninggal?
"Iya mbak, pak Hasan meninggal dalam keadaan duduk di dalam masjid waktu beliau selesai sholat Jumat.
Sekarang jenazah sudah ada di kediamannya. Oh ini mbak, Mas Naufal sudah datang."
Suaranya kemudian berubah tidak jelas. Lalu berubah menjadi suara seseorang yang dengannya saja aku percaya.
"Nadia, ini Mas Naufal. Ayah memang sudah meninggal Nadia, cepat pulang yaa. Biar kita bisa lekas menguburkan zenajah ayah. Gak papa, masih ada Mas yang akan jagain kamu." Ucap Mas Naufal yang berucap dengan terisak. Dia masih mencoba menenangkanku dikala hatinya juga sedang terluka.
Tangisku luruh seketika.
Ayahku sudah meninggal?
Benarkah?
Aku menangis tergugu menepuk dadaku yang begitu sakit rasanya. Aku kehilangan sosok ayah dalam hidupku selamanya.
Sosok yang menguatkan untuk terus menjalani hidupku.
"Fina, kamu tenangin Nadia di belakang biar saya yang bawa mobilnya." Ucap Ibram mengambil kunci mobilku dan Fina membantuku masuk ke dalam mobil.
Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ibram saat ini.
Di dalam mobil aku masih saja menangis. Bagaimana bisa ayahku meninggal secepat itu.
"Fina, kamu lihat sendiri kan tadi pagi sebelum berangkat, aku masih salim sama ayah. Bahkan ayah masih memelukku dan mencium keningku. Ayah juga masih tersenyum melihat ku yang mau berangkat kerja.
__ADS_1
Bagaimana bisa ayah meninggal. Ayah gak sakit apa-apa Fina?" Kataku yang menangis sejadi-jadinya dan berbicara yang tidak-tidak. Mengguncang bahu Fina agar dia menjawab pertanyaanku.
Fina ikut menangis mendengar ucapanku. "Sabar ya mbak, mbak Nadia harus kuat yaa." Ucapnya dengan memeluk tubuhku yang bergetar dengan hebatnya.