Dua Hati

Dua Hati
Bab 37 : Baik dan Buruk


__ADS_3

Muhammad Alvin Abdullah


Aku memijat keningku karena aku mulai pusing. Aku berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan sholat shubuh.


"Sekarang kita cari ning Nadia, kemana Gus?" Tanya Amir. Aku tidak mampu berbicara. Aku menjawab pertanyaan Amir dengan sebuah gelengan.


Amir menatapku dengan pandangan ibanya.


"Bagaimana kalau kita ke makamnya ayahnya Ning Nadia Gus, siapa tahu Ning ada di sana?" Ucap Amir.


Aku yang mendengar ucapan Amir berdiri dengan antusias. Aku tersenyum puas dan menepuk pundak Amir. Berterima kasih, karena dia sudah mau menemaniku. Amirpun juga tersenyum melihatku yang akhirnya berbinar juga.


Aku bergegas menuju ke makam Ayah. Siapa tahu Nadia sedang berziarah di sana. Namun akhirnya aku hanya mendapatkan sebuah kekecewaan saja. Tidak ada sosok Nadia di samping kuburan Ayah.


Aku teringat wajah Nadia yang menangis. Apakah sekarang dia sedang menangis juga. Jika memang seperti itu, aku ingin sekali menenangkannya, memeluknya, mengelus punggungnya dengan halus lalu aku perbolehkan dia mencubitku, memukulku atau menamparku. Tidak apa. Asal aku bisa bertemu dengannya.


Di atas kuburan Ayah, ada bunga yang sepertinya baru saja diletakan. Apa ini Nadia? Apakah aku datang terlambat? Apakah Nadia baru saja datang ke sini.


Aku melihat seorang kakek yang sedang mengaji di samping sebuah kuburan. Dari papan nama kuburannya aku bisa menebak dia sedang mengaji untuk istrinya.


"Assalamualaikum kek." Salamku padanya.


Dia berhenti mengaji, menjawab salamku dan tersenyum padaku. "Ada apa cucu?" Katanya ramah.


"Maaf mengaggu, apa kakek sudah lama berada disini?" Tanyaku dengan duduk di samping beliau. Sedangkan Amir dia tetap berdiri.


"Iya kenapa?" Ucapnya dengan membuka kacamatanya.


"Apa kakek melihat seorang perempuan yang datang berziarah ke makam itu?" Tunjukku pada kuburan Ayah.


"Iya. Dua orang wanita, tidak lama mereka pulang. Lalu kamu datang." Ucapnya yang sepertinya daya ingat kakek tersebut masih bagus.


Setidaknya aku merasa lega dengan ucapan kakek. Aku seperti mempunyai harapan bahwa Nadia masih berada di dekatku dia tidak jauh dariku.


Aku menunjukan foto Nadia yang berfoto berdua denganku, dimana dia merangkul tanganku begitu manjanya dan tersenyum manis pada kamera. Dimana hari itu dia selalu tersenyum melihatku. Senyuman yang selalu memabukan hatiku.


"Iya ini dia perempuan itu. Dia menangis waktu mengaji di kuburan itu?" Ucap kakek tersebut yang bernama kakek Umar.


Aku tersenyum miris mendengarnya. Nadia, apa dia sedang mengadu pada ayahnya.


Apakah dia menceritakan bahwa aku adalah laki-laki yang begitu jahat. Apakah Nadia sedang protes pada ayahnya karena sudah menikahkannya dengan seorang pria yang bisanya hanya memberikan rasa sakit saja tapi bukan rasa cinta, kasih dan sayang yang dia dapatkan dari suaminya.


"Apa dia istrimu?" Tebak kakek Umar. Akupun tersenyum menjawab pertanyaannya.


Dia tersenyum memaklumi. "Apa dia sedang marah dan menjauhimu?" Tanyanya lagi. Kali ini aku mengangguk dengan malu dan menahan air mataku.


Kakek Umar menyentuh bahuku . "Aku tidak akan bertanya apa masalah kalian, tapi wanita seperti itu.


Mudah marah tapi mudah memaafkan. Meskipun dia akan teringat kesalahan yang pernah kita lakukan, tapi mereka akan tetap memafkan kita. Apa Namamu Alvin?" Tanya kakek Umar dengan suara rentanya.


Aku mengangguk dengan mengusap air mataku. "Aku dengar tadi waktu dia berbicara dia selalu menyebut namamu. Saya yakin dia mencintaimu, tapi sekarang dia sedang kecewa padamu. Percayalah setelah amarahnya reda dia akan kembali padamu." Ucap kakek Umar mengelus bahuku.


Aku mengamini ucapan kakek Umar. Berterima kasih atas semua ucapan yang sedikit menenangkanku. Aku kembali pada makam ayah. Mengaji sebentar dan meminta maaf jika aku menyakiti putri kesayangannya.


Aku berdiri, dan Amir menatapku. Dia pasti terkejut melihatku menangis. Dia pasti menganggapku laki-laki yang cengeng. Aku tidak peduli jika wibawaku turun di hadapan Amir. Aku hanya ingin bertemu dengan Nadia sekarang. Hanya itu.

__ADS_1


"Maafkan saya Amir. Kamu pasti lelah. Besok pagi kita kesini lagi. Atau nanti sore. Kita pulang dulu, istirahat biar saya yang menyetir mobilnya. Saya kasihan dengamu."


"Tidak Gus, saya baik-baik saja. Mari cari Ning Nadia lagi." Kata Amir yang lebih semangat dari pada aku.


"Terima kasih sudah membantu saya." Ucapku tulus.


"Bagaimana kalau kita cari di rumahnya Fina, siapa tahu Ning Nadia ada di rumahnya Fina." Aku mengerti ucapan Amir. Siapa tahu Nadia dan Fina berbohong.


Siapa tahu sebenarnya mereka sedang berada di rumah Fina.


Karena aku tidak tahu rumahnya Fina aku terlebih dahulu bertanya pada mbak Zahra dan ternyata dia menjawab panggilanku dan memberitahu dimana rumah Fina.


Kekecewaan kudapatkan lagi ketika aku sudah sampai di rumah Fina, kata adiknya yang hendak pergi sekolah mengatakan bahwa Fina tidak pulang, dia tahu dari ibunya kalau kakaknya sedang liburan dengan Nadia.


Aku memegang kepalaku yang sepertinya akan mau pecah saja. Berulang kali aku mengucapkan istighfar agar aku bisa menenangkan diriku lagi. Membaca sholawat agar dimudahkan untuk bisa menemukan Nadia.


Aku harus tenang, tidak boleh gegebah dan panik. Aku melihat pada handphone yang aku pegang saat ini. Aku memutar handphoneku. Melihat pada kamera handphoneku.


Kamera.....


Fotografer....


Ibram.


Ya benar Ibram. Aku teringat pada pria fotograger itu mungkin dia tahu, Nadia berada dimana? Atau mungkin Ibram memang bersama Nadia.


Aku mencari tahu tentang Ibram dengan tangan gematar. Takut kalau dia memang sedang bersama Nadia. Bagaimana jika Nadia pergi meninggalkanku dan pergi bersama Ibram.


Ah, membayangkan itu membuatku akan gila saja.


Aku langsung menghubungi Ibram. Panggilan pertama dia tidak menjawabnya. Begitu juga dengan panggilan kedua tidak di jawabnya. Aku semakin panik bagaimana jika apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi.


Aku mencoba meneleponnya lagi dan aku sangat bersyukur dia akhirnya mengangkat teleponku dan memintaku untuk bertemu dengannya di bandara.


Pikiran buruk kini bersarang di kepalaku. Untuk apa Ibram mengajakku bertemu dengannya di bandara, apa disana juga ada Nadia? Apa Ibram akan pergi bersama Nadia?


Ah... ini membuatku benar-benar gila.


Kali ini aku sendiri yang menyetir mobilnya dengan perasaan panik dan cemas. Dengan kecepagata tinggi.


Aku takut Nadia meninggalkanku.


Betapa leganya aku setelah tiba di bandara dan bertemu dengan Ibram. Dia melambaikan tangannya padaku dan ternyata dia hanya sendirian.


Aku melihat penampilan Ibram. Dia memang laki-laki yang keren menurutku. Laki-laki yang meskipun hanya memakai kaos putih bahkan terlalu longgar untuknya serta di padukan dengan celana jeans dan masker hitam yang belum dia buka. Dia sudah terlihat keren seperti model saja.


Tidak heran jika kedua istriku, terpesona ketika melihat Ibram.


"Maaf, saya harus ke Surabaya. Jadi saya meminta  untuk bertemu disini." Ucap Ibram membuka maskernya.


"Saya mau bertanya tentang Nadia." Tanyaku langsung.


Dia tidak terkejut dan hanya sedikit menganggukan kepalanya. "Apa kamu tahu dimana Nadia berada?"


Dia lalu mengkerutkan alisnya. "Saya tidak tahu.  Ucapnya singkat.

__ADS_1


"Jangan berbohong."


Ibram tersenyum dengan menarik sudut bibir kanannya. "Apa anda sedang mencurigai saya membawa istri anda kabur?"


Aku diam tidak menjawab peryanyaannya.


Ibram tertawa yang terkesan dibuat-buat. "Saya tidak segila itu, sampai membawa seorang perempuan yang masih berstatus istri orang. Saya tidak tahu dimana Nadia berada dan saya bisa bersumpah." Ucapnya yang terdengar menyakinkan sekali.


Aku menatapnya dan dia menatapku balik. "Saya hanya tahu dua hal tentang Nadia. Dan saya yakin anda belum mengetahui tentang ini. Bisa dibilang ini kabar baik dan kabar buruk untuk anda?"


Aku masih menatapnya membiarkan dia melanjutkan perkataannya. "Yang pertama, You are going to be a daddy. Congratulation." Ucapnya tersenyum padaku.


Aku akan menjadi ayah? Aku memang sudah menjadi seorang ayah dari Aira dan anakku yang tiga bulan lagi akan lahir.


"Ups sorry, anda memang sudah menjadi seorang ayah dari istri pertama anda. Maksud saya, anda akan menjadi seorang ayah dari anak yang sedang dikandung Nadia. Nadia sedang hamil." Ucapnya santai.


Sebuah kalimat yang mampu membuat jantungku berdegup kencang. Nadia hamil... benarkah?


"But, honestly... kabar buruknya, Nadia ingin bercerai dari anda."


"Dari mana kamu tahu semua ini?" Selidikku. Sekarang yang menjadi fokusku adalah Nadia yang sedang hamil. Aku tidak peduli dengan perceraian karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Nadia.


"Karena faktor ketidak sengajaan. Saya tahu Nadia hamil karena hari dimana ayahnya meninggal lebih tepatnya ketika Nadia sedang berada di pernikahan sepupu saya, saya melihatnya sedang muntah atau mual-mual. Jadi saya simpulkan Nadia hamil dan Nadia sendiri membenarkannya. Yang kedua saya tidak sengaja menjatuhkan handphonenya dan melihat layar handphonenya yang berisi tentang artikel perceraian.


" Jadi..." Ucap Ibram yang menjeda kalimatnya.


Dia berjalan mendekatiku dengan satu langkah pasti.


"Jadi... buang pikiran buruk anda pada saya dan Nadia. Nadia dia benar-benar wanita yang istimewa. Saya sudah pernah menawarkan dia kebahagiaan yang tentunya anda tidak mungkin bisa memberikannya. Tapi dia menolak. Dia tetap memilih anda. Jaga dia baik-baik. Karena saya yakin jika anda kehilangan dia. Anda akan menyesal nantinya." Ucapnya tersenyum padaku.


Dia lalu memakai kaca mata hitamnya sedikit tersenyum padaku dan pamit pergi meniggalkanku.


Kalimat Ibram yang mengatakan Nadia hamil berdenging di telingaku.


Aku tidak mau Nadia menjalani masa kehamilannya tanpa ada aku disisinya. Aku ingin menemaninya.


Bagaimana dengan ngidamnya? Apa Fina bisa menuruti kemauannya.


Apa waktu Nadia yang bersikap begitu manja dan posesivenya padaku itu karena pengaruh dia sedang hamil.


Allah....


Aku luruh duduk di atas lantai. Menangis dengan memegang dadaku yang rasanya sakit sekali. Tidak peduli jika orang-orang melihatku. "Gus, sabar Gus."


Hanya itu kalimat yang diucapkan Amir.


Bodoh kamu Alvin! Bodoh.


Bagaimana bisa kamu tidak menyadarinya. Kenapa kamu tidak peka? Jika Nadia, istrimu sedang hamil anakmu.


Bagaimana jika dia tidur sendirian meringkuk di atas kasur menangis dengan mengelus perutnya. Mengelus perutnya dengan hati yang sakit.


Membayangkannya saja hatiku semakin teriris.


"Amir... tolong temukan Nadia. Saya bisa gila kalau saya tidak menemukan dia." Kataku memohon pada Amir.

__ADS_1


__ADS_2