
Asri pohon hijau mengelilingi gue dan Gina yang tengah duduk di sebuah bangku. Suasana taman kota sore ini begitu nikmat ditemani seorang bidadari untuk menghabiskan waktu gue. Sejuk yang gue rasakan, mengingatkan gue kenangan satu setengah tahun yang lalu.
“Ian, malah bengong, enggak mau dimakan rotinya?” ucap Gina memecahkan lamunan gue dan menunjuk roti yang gue pegang.
Gue hanya melempar senyum sambil mencoba memakan roti yang telah gue buka bungkusnya. Gue mengunyah roti lembut itu perlahan-lahan menikmati rasa yang tercipta di mulut gue.
“Lu tau enggak, Ian? Gue jarang main ke sini, bahkan gue sama Asti cuma hidup antara kosan sama tempat kerja aja,” ucapnya sambil menerawang di antara pepohonan.
“Emang lu sama si Asti kerja di mana?” tanya gue.
“Kalau gue kerja jadi SPG di mall deket sini, kalau si Asti kerja jadi crew store gitu di salah satu toko swalayan di mall yang sama kaya gue.”
Pantas saja postur dan potongan tubuh Gina menurut gue ideal, wajahnya pun bikin banyak laki-laki mungkin langsung suka padanya, termasuk Tio juga sepertinya. Sedangkan Asti, ya sebelas dua belas deh sama Gina. Kalau disuruh milih, gue pilih ....
“Hey, malah bengong lagi!” ucap Gina kembali mengagetkan gue.
“Hehe, iya maaf. Ngomong-ngomong lu enggak kerja hari ini?” tanya gue mencari topik yang tidak terlalu jauh.
“Harusnya lu tanyain itu pas tadi pagi, malah sekarang nanyanya.” Wajahnya kini sedikit cemberut.
“Terus kalau si Asti?” tanya gue sambil tertawa kecil.
“Dia kerja hari ini. Kalau dia liburnya sabtu minggu, enak udah pasti. Kalau gue liburnya ngacak, tapi seminggu kadang dua hari libur, kadang cuma sehari.”
“Pantas aja tadi pagi dia enggak ngetok-ngetok kamar gue.”
Gina pun tertawa sambil menutup mulutnya, dia pun berkata, “Nih, ya, gue kasih tau aja. Dia itu orangnya susah dibangunin, pasti gue yang bangun sebelum dia. Kalau udah kaya gitu gue suka kerjain dia, gue suka lama-lamain mandi gue.”
Tawanya terus memuncak, namun gue hanya tersenyum keanehan melihat wanita ini tertawa selepas itu. Beberapa saat dia tertawa hingga dia mencoba untuk menahan tawanya dan berusaha melanjutkan kembali omongannya.
“Kalau gue libur gini, dia tenang karena kamar mandi kosan pasti terbuka buat dia.”
“Pantes aja. Tapi gue jadi sial kalau lu kerja, tiap hari kamar gue yang diketok sama dia, ganggu tidur gue,” keluh gue yang dijawab kembali dengan tawa kecilnya.
“Btw, lu udah lama kerja di situ, di kantor yang tadi?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
Gue pun menceritakan bahwa gue baru satu setengah tahun kerja di situ. Gue menceritakan juga bagaimana gue kenal dengan Tio, kerjaan apa saja yang gue kerjakan dan kesan gue kerja di kantor itu secara mobile.
“Kalau gue kerja di kantor, gue gampang bosen. Kalau kerja di rumah, suasananya bikin gue bosen juga, akhirnya gue sewa kosan deh,” ucap gue menjelaskan saat gue ditanya kenapa memilih tinggal di kosan itu. “Sialnya gue malah ketemu cewek-cewek kaya kalian berdua.”
“Asti aja kali yang bikin sial, kalau gue biasa aja, kan?” ucapnya sambil menaik-turunkan halisnya.
__ADS_1
“Lu sama aja bikin sial,” ucap gue disambut pukulan pelan ke pundak gue.
Suasana sepi kini datang menyelimuti, gue menghabiskan roti yang sedari tadi gue pegang, sedangkan Gina asyik memakan keripik kentang kemasan yang kami beli di mini market dekat sini. Suasana jalan yang mengelilingi taman kota ini semakin padat, sesekali terdengar suara klakson yang membisingkan dan memecah keheningan. Hebatnya, asap-asap dari kendaraan itu tidak bisa menembus barisan-barisan pohon yang ada di sini.
“Btw, lu gimana bisa satu kosan sama si Asti?” tanya gue sedikit penasaran.
“Gue sama dia itu udah temenan dari SD. Gue sama dia satu kelas di SD, terus satu SMP tapi beda kelas, eh, pas SMA-nya satu kelas lagi. Tapi gue sama dia enggak kuliah. Suatu hari dia ngajak gue datang ke kota ini untuk cari kerja, dan udah dua tahun gue sama dia tinggal di kamar itu.”
“Oh, pantes aja si Asti sampai kenal semua penghuni kamar di kosan itu,” ucap gue sedikit bercanda.
“Gue bilang juga apa, gue sama dia cuma hidup antara tempat kerja dan kosan, makanya dia bisa sampai hafal semua penghuni kosan.”
Gue mengangguk tanda paham. “Eh, tadi lu kenapa cemberut, sih, waktu gue keluar dari ruangan?”
“Oh, itu tadi temen lu maksa amat minta nomor telepon gue, masa.” Kesal di wajahnya kembali terlihat.
“Terus lu kasih?”
“Gue kasih nomornya si Asti,” tawa pun membuyarkan kesalnya. “Dia emang jomlo, ya, sampai maksa gitu?”
Gue tertawa pelan, “Dia emang enggak pernah pacaran, makanya enggak tahu gimana cara dapetin cewek.”
“Maunya?” jawab gue singkat.
“Eh. Pulang, yuk, takut hujan.” Gina terlihat salah tingkah. Dia lalu membereskan sampah kemasan dan dimasukannya pada kresek. Dia bangkit dan pergi menuju tong sampah yang tidak terlalu jauh dari bangku ini.
Tak lama, tangannya melambai pada gue tanda untuk segera mengikutinya pergi dari sini. Kami pun akhirnya pulang ke kosan karena suasana sore di hari kamis ini, seperti membuat gue mengantuk.
Hujan gerimis di malam Jum’at ini serasa menghapus kenangan sebulan kemarin. Dingin kota semakin terasa di kamar gue ini. Malam ini gue tidak makan nasi goreng buatan Asti, karena sebelum pulang tadi, gue menyempatkan diri membeli makanan di salah satu restoran ala Jepang. Tiga kotak paket nasi gue beli untuk kedua wanita itu dan gue sendiri tentunya.
Gue tengah menonton sebuah film aksi yang gue tonton dari situs film online berlangganan. “Bip!” suara jam tangan gue menunjukan pukul 19:30 saat ini. Di tengah keseriusan gue menonton, tiba-tiba masuk dua wanita yang sudah gue duga bakal datang ke kamar gue ini.
Mereka masuk dengan santainya, pintu ditutup kembali oleh Gina yang berjalan di belakang Asti, dan mereka pun duduk di samping kiri-kanan gue. Gue berusaha tetap fokus menatap ke layar laptop gue dan tidak mengacuhkan mereka berdua. Sial, enggak pake permisi enggak pake salam maen jongkrok aja di sini, kesal gue dalam hati.
Mereka berdua membawa kotak makanan yang tadi gue beli. Aroma karage dan masakan daging sapi ala Jepang itu, mengusik hidung gue. Mereka pun menaburkan saus mayones pada wortel dan mengaduknya. Mata gue pun seperti tidak fokus pada film yang tengah gue tonton, karena sesekali mata gue mengintip apa yang sedang dilakukan kedua wanita ini.
Mereka kemudian memegang sumpit dan membelahnya menjadi dua. Lalu, dengan kompaknya mereka menyodorkan kotak makanan dan sumpit itu ke arah gue, sambil mengatakan, “Ian, suapin, gue enggak bisa pakai sumpit.”
Gue dengan malas hanya melihat mereka sebentar dan melanjutkan menatap layar laptop, lalu berucap, “Di dapur ada sendok, pakai aja.”
“Ih, kok gitu, gue kan pengen tau rasanya disuapin sama cowok,” ucap Asti yang disambut tawa Gina.
__ADS_1
“Lu enggak pernah pacaran, sih, jadi enggak tahu rasanya disuapin,” balas Gina.
“Eh, lu juga emang pernah pacaran? Tiap hari sama gue, juga,” timpal Asti membalas.
Perang dunia ketiga ini ternyata menghacurkan konsentrasi gue menonton film, suara sahut menyahut kedua wanita yang tidak mau kalah siapa yang lebih baik membuat berisik kamar gue. Gue pun menghentikan sejenak film yang gue tonton itu dan mulai melerai kedua wanita ini.
“Udah-udah, dua-duanya jomlo enggak usah sombong, suit aja, yang menang gue suapin,” ucap gue dan mereka terdiam saling berpandangan.
“Yaudah, kalau yang kalah?” tanya Gina.
“Makan sendiri aja, sambil liat yang makannya disuapin,” jawab Asti cepat.
Kembali ocehan-ocehan kedua wanita ini terdengar berisik. Gue kembali stres dibuatnya. “Mau kagak? Sebelum gue berubah pikiran nih.”
Mereka kemudian menyimpan kotak makanan yang mereka pegang sedari tadi. Kompetisi suit yang memanas ini serasa gue ingin membuka jendela agar udara panas bisa keluar dan digantikan udara dingin.
Mereka pun melakukan suit di hadapan gue. Benar-benar kemistri dua cewek yang ada di depan gue sangat kuat, hingga suit yang kesepuluh kalinya, mereka seri karena mengeluarkan suit yang sama. Kalau kaya gini enggak akan selesai-selesai, pikir gue dalam hati.
“Udah-udah, sini gue suapin dua-duanya,” ucap gue agar lebih adil.
Mereka pun setuju dan memberikan kotak makanan masing-masing pada gue. Tentu gue memilih untuk menyuapi Asti terlebih dahulu. “Kan Asti awal namanya huruf A, jadi Asti dulu, ya,” ucap gue sebagai alasan.
Gue mencoba mengambil potongan karage dengan sumpit, alangkah sulitnya gue menggunakan sumpit ini. Karage itu jatuh dan jatuh lagi saat gue mencoba mengambilnya. Dua wanita itu melihat gue keheranan.
“Ian, lu bisa pake sumpit, kan?” tanya Asti yang sedikit kesal menunggu gue.
“Kagak bisa,” ucap gue seperti tanpa dosa dan terus mencoba mengabil karage itu.
“Terus lu tadi makan enggak pake sumpit?” giliran Gina bertanya.
“Enggak, gue pake tangan.”
Mereka pun kaget dan kesal karena ternyata gue tidak bisa diharapkan dalam hal ini. Gue hanya bisa tertawa melihat kebodohan mereka, sudah tahu gue enggak bisa pakai sumpit, malah nyuruh gue buat nyuapin mereka masing-masing.
Asti pun mengambil kotak makanannya yang tengah gue pegang, tak lupa juga sumpit yang berada di tangan kanan gue pun diambilnya.
“Yuk, Gin, kita makan pake sendok aja,” ucap Asti bangkit sambil berjalan keluar.
“Kesel deh. Dasar cowok aneh lu, Ian, makan makanan Jepang pake tangan, makan di warteg aja sono murah,” ucap Gina menyusul Asti keluar dari kamar gue.
Lah, emangnya makan pake kaki, gumam gue dalam hati. Gue hanya bisa tertawa melihat mereka kesal seperti itu. Salah mereka sendiri yang sudah mengganggu waktu menonton film gue saat ini. Gue pun mengunci pintu agar mereka tidak kembali masuk ke kamar ini. Film pun gue putar dan melanjutkan kembali menontonnya dengan santai.
__ADS_1