
Aku mengurangi jadwal kerjaku lebih dari separuh. Biasanya dalam sebulan aku bisa menerima pesanan untuk merias sampai tujuh orang kali ini aku hanya menerima tiga permintaan merias saja.
Aku ingin menjaga kehamilanku dengan baik yang katanya di kehamilan muda begitu rentan. Aku tidak mau terlalu kecapean apalagi aku sampai lelah pikiran.
Fina menanyakan hal itu kenapa aku mengurangi jadwal meriasku. Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau aku akan tetap menggajinya dan tidak akan menguranginya. Dia malah menepukku karena aku bilang seperti itu.
"Bukan masalah gaji loh mbak, mbak Nadia kenapa? Semenjak kepergian Om Hasan, mbak jadi suka murung, suka bengong sendirian. Mbak kalau kesambet gimana?" Katanya tanpa memfilter ucapannya.
"Naudzubillahi min dzalik." Kataku cepat-cepat menangkis ucapan Fina. Fina hanya cengengesan.
"Kamu saya tugasin jadi sopir saya kemanapun saya pergi. Selama 9 bulan, eh tidak 10 bulan." Kataku menggenapkan bulannya.
Fina sedang memproses kalimatku setelah paham dengan maksud kalimatku, wajahnya berubah histeris. Kalau di pikir-pikir aku dan Fina sama-sama lemotnya. Pantas saja kita sehati.
"Mbak Nadia hamil." Pekiknya senang. Aku mengangguk senang ikut tersenyum melihat ekspresi bahagianya Fina.
"MasyaAllah, Alhamdulillah. Aaaa... Fina ikut seneng. Selamat ya mbak Nadia. Fina bakalan punya ponakan nih." Katanya dengan memelukku gemas.
"Terima kasih." Kataku menyentil hidungnya. Dia sudah seperti adik untukku. Fina anak sulung dan dia mempunyai adik yang masih kecil yang baru masuk SMP. Makanya dia suka sekali bermanja-manja padaku. Aku seperti bukan boss nya. Tapi seperti kakaknya.
"Jadi sekarang mbak Nadia mau cek up kandungan?" Tebaknya dengan benar. Aku memberikan jari jempolku padanya. Dia langsung berdiri dan menarik tanganku untuk segera berangkat.
"Selama tidak ada Gus Alvin saya yang akan merawat mbak Nadia. Saya akan pastikan mbak Nadia gemuk dan sehat gak cungkring kayak gini. Biar nanti anaknya lahirnya sehat dan selamat juga." Ucapnya berjalan sambil berbicara.
"Aamiin." Jawabku.
"Gus Alvin sudah tahu kan mbak?" Tanyanya berhenti berjalan.
Aku menggeleng pelan. Fina bugkam. "Kalau mbak Zahra dan Mas Naufal tahu kan?" Tanyanya lagi.
Aku menggeleng lagi. Kali ini Fina tidak tinggal diam.
"Fina gak tahu kenapa mbak Nadia menyembunyikan kehamilan mbak. Tapi kalau mbak punya rencana yang tidak baik saya justru tidak akan setuju." Ucapnya tegas.
Kenapa semua orang bisa dengan mudahnya menebak jalan pikiranku atau apa yang akan aku lakukan.
Aku diam tidak menjawab perkataan Fina. "Aku akan bilang sama mereka siapa yang mau menyembunyikannya." Kilahku.
"Awas kalau bohong yaa. Jadi yang pertama tahu itu Fina?" Ucapnya merasa bangga.
"Bukan."
"Yah." Ucapnya kecewa.
"Yang pertama kali tahu kalau aku hamil adalah Ayah. Lalu yang kedua Ibram." Kataku lirih.
"Mas Ibram? kok bisa?" Katanya terkejut. Akupun menceritakan bahwa Ibram tidak sengaja tahu kalau aku sedang hamil waktu hari pernikahan sepupunya.
__ADS_1
Dia tidak sengaja melihatku yang sedang mual dan menebak dengan benar kalau aku sedang hamil.
"Mbak, Fina cuman mau bilang. Gus Alvin lebih berhak tahu dari pada saya dan Mas Ibram. Meskipun Mas Ibram tidak sengaja tahunya. Mbak harus kasih tahu Gus Alvin secepatnya. Dia pasti kecewa sama mbak, kalau tahu belakangan apalagi Mas Ibram yang lebih tahu tentang kehamilan mbak Nadia dari pada Gus Alvin."
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia nampak begitu dewasa saat ini. "Sepertinya kamu sudah cocok menikah." Ledekku pada Fina.
"Ih, kenapa bahas itu. Sekarang yang penting itu bukan saya tapi mbak." Tunjuknya padaku.
"Iya saya ngerti Fina, saya nunggu waktu yang tepat saja."
Nyatanya aku memang tidak mau memberi tahu Gus Alvin. Kalau aku memberi tahu dia tentang kehamilanku ini. Dia tidak akan mau mengabulkan permintaanku.
Termasuk keluargaku, Mas Naufal dan mbak Zahra. Mereka pasti akan marah besar jika aku meminta cerai kepada Gus Alvin.
❤❤❤
Syukurlah kandunganku berusia tiga minggu dan baik-baik saja. Setelah cek up kami mencari tempat makan. Fina bertanya ingin makan apa dan aku menjawab ingin makan roti atau kue saja dan pilihanku jatuh pada toko kue dan roti yang bernama Aqilla's Cake. Toko kue ini milik saudara iparnya dokter Tasya. Yaitu adik dari suami dokter Tasya, Mas Arkan.
Selama Fina menyetir aku men-searching hal apa saja yang harus di persiapkan untuk bercerai. Aku sudah memantapkan hatiku untuk bercerai dengan Gus Alvin.
Aku sampai tidak sadar kalau sudah sampai pada toko kue tersebut.
"Ayo mbak turun." Ucap Fina.
Aku membuka pintu mobil sambil menatap layar handphoneku. Hingga aku tidak sengaja menabrak tubuh seseorang dan membuat handphoneku terjatuh. Untungnya pria itu dengan tangkas langsung menangkap handphoneku.
Dia masih menatap layar handphoneku yang masih menampilkan artikel tentang sebuah perceraian dan orang itu adalah Ibram.
Aku mengambil handphoneku secara paksa.
"Mas Ibram." Sapa Fina. Ibram hanya menarik sudut bibirnya dan kembali menatapku.
"Mas Ibram, mau beli roti atau kue?" Sapa Fina lagi.
"Roti. Anrez yang minta." Ucapnya singkat.
"Kalau begitu yasudah ayo masuk." Kata Fina. Aku berjalan terlebih dahulu dan langsung mencari tempat duduk. Fina langsung memesan roti yang biasa aku makan. Masih ada tiga orang yang mengantri di depan Fina.
Sedangkan Ibram bukannya ikut mengantri seperti Fina dia malah duduk di depanku. Menatapku penuh selidik.
"Jangan membuat keputusan yang hanya akan membuatmu menyesalinya Nadia." Ucapnya tanpa basa-basi.
"Jangan mencampuri urusan saya." Kataku balik menatapnya tajam.
"Biar kutebak, suamimu pasti belum tahu, kalau kamu sedang hamil. Kalau dia tahu kamu hamil dia tidak akan menceraikanmu. Sekalipun kamu tidak hamil dia juga tidak akan pernah menceraikanmu."
Dia selain merangkap menjadi fotografer dia juga seorang peramal, cenayang atau apapun itu.
__ADS_1
"Berhenti bersikap tahu tentang kehidupan saya." Kataku sinis.
"Nadia, saya memang mencintaimu. Tapi saya tidak ingin memilikimu karena saya tahu dan sadar kamu milik suamimu, Gus Alvin seorang. Ketika saya melihat suamimu waktu di pemakaman ayahmu. Saya tahu, dia sangat mencintaimu. Mungkin rasa cintanya lebih besar dari saya. Bahkan saya bisa menilai dia lebih mencintaimu dari pada istri pertamanya." Dia mengatakannya dengan mencondongkan tubuhnya padaku.
"Cara dia menatapmu dan cara dia menatap istri pertamanya jelas berbeda. Saya pastikan itu, karena saya seorang laki-laki. Jadi, saya bisa tahu." Jelasnya dengan tingkat perkataan yang sangat menyakinkan.
Aku menatapnya dan Ibram balas menatapku. "Saya akan memberitahunya sendiri jadi saya harap kamu bisa menjaga sikap kamu di hari pernikahan Fisya lusa nanti."
Ibram menarik sudut bibirnya. Tersenyum padaku dan mengangguk mengerti.
"Kalau begitu sampai jumpa lusa nanti. Pikirkan lagi ucapan saya. Apa kamu tidak kasihan dengan calon anakmu. Dia akan terlahir dengan orang tuanya yang sudah bercerai. Miris bukan." Ucapnya yang bangun dari duduknya dan berjalan ke tempat Fina yang ternyata sudah selesai memesan rotinya.
Aku menghembuskan napasku kasar, tetap saja meskipun Gus Alvin lebih mencintaiku dari pada mbak Anisa, aku akan tetap minta cerai.
Masalah anakku, aku bisa membesarkannya sendiri.
❤❤❤
Pernikahan Fisya diadakan begitu megah dan di hadiri para ulama dan para masyayih yang mendoakan kelanggengan dari pernikahan mereka. Mendoakan akan keberkahan pernikahan mereka.
Sejak tadi aku memerhatikan Ibram. Takut-takut dia berbicara pada Gus Alvin dan mengatakan semuanya.
Laki-laki itu selalu membuatku cemas dan khawatir sendiri. Dia laki-laki yang tidak terduga, spontanitas dan apa adanya.
Selesai acara aku langsung menempel pada Gus Alvin agar dia tidak mendekat pada Ibram.
Ibram laki-laki yang berbahaya.
Aku juga merangkul lengannya posesif. Aku tahu Gus Alvin sedang bingung dengan sikapku tapi sepertinya dia malah senang dengan sikapku yang seperti ini.
Mbak Anisa dia sedang berbicara dengan ummi. Jadi aku yang mengekori Gus Alvin kemanapun.
Saudara-saudara yang lain sampai meledekku karena aku yang selalu menempel pada Gus Alvin.
Atau mungkin, ini bukan karena aku ingin menjaga Gus Alvin dari Ibram. Tapi karena ini kemauan dari calon anakku. Yang ingin menempel pada Abinya.
Apa ini bisa di sebut ngidam?
Setiap ibu hamil cara ngidamnya berbeda-beda dan aneh-aneh. Aku pernah mendengar kalau ada ibu hamil yang tidak suka dengan bau suaminya. Sehingga suaminya harus menjaga jarak dari istrinya.
Benar-benar aneh bukan?
Tapi berbeda dengan diriku. Semenjak Gus Alvin menciumku sebelum dia pulang. Aku ingin sekali dia menyentuhku lagi. Entah itu hanya dengan berpegangan tangan saja aku sudah senang sekali.
Aku tidak ngidam makanan ataupun minuman yang aku inginkan Gus Alvin berada di dekatku dan kulit kami bersentuhan. Itu sudah membuatku merasa puas dan bahagia.
Kenapa aku ngidamnya aneh sekali?
__ADS_1
Apa ini sebagai petunjuk kalau aku tidak boleh bercerai dengan Gus Alvin?
Entahlah aku tidak tahu. Semakin aku memikirkannya semakin membuatku pusing. Aku akan tetap pada keputusanku kalau aku akan berpisah dengan suamiku ini yang sedang tersenyum menatapku dan mencubit pipiku.