Dua Hati

Dua Hati
Bab 36 : Kamu Ada Dimana?


__ADS_3

Muhammad Alvin Abdullah


Jam setengah dua belas malam aku pulang dari menjenguk guru Abi yang sedang berada di rumah sakit. Lampu rumahku masih menyala begitu juga dengan rumah Abiku.


Aneh, apa kedua adikku dan kedua istriku lupa mematikan lampunya. Tapi kenapa bisa berbarengan seperti itu.


"Assalamualaikum." Salamku ketika masuk rumahku.


Ada tiga orang yang menjawab salamku. Ketika tiba di ruang tamu. Aku lihat Anisa yang baru selesai menangis dengan Aira yang sepertinya juga baru selesai menangis. Matanya terpejam tapi masih ada sisa segukannya. Naura juga menangis dan langsung melihatku.


Hanya Shofi yang tidak menangis.


"Alvin." Ucap Ummi dan Abiku yang tiba-tiba datang ke rumahku.


Naura menghampiriku dan menangis. "Mas, Mbak Nadia pergi." Katanya terisak.


"Cepat susul mbak Nadia, Mas. Naura udah telepon mbak Nadia tapi tidak aktif. Naura juga udah telepon mbak Fina juga tidak aktif. Kalau mbak Nadia kenapa-kenapa di jalan gimana?" Katanya dengan mengguncang tanganku.


Aku yang tidak mengerti dengan situasi bingung ini membuatku menjadi panik. "Pergi? Pergi kemana?" Kataku yang berjalan ke arah kamar Nadia dan melihat kamarnya yang berantakan. Bahkan pintu lemarinya dibiarkan terbuka.


Nafasku tercekat. Rasa takut menghampiriku. Aku melihat pada Anisa dan bersimpuh di depannya memegang tangannya yang sedang menggendong Aira.


"Anisa ada apa? Tolong ceritakan pada saya." Pintaku.


Anisa menatapku dan dia hanya menangis saja.


"Ini salah mbak Shofi." Ucap Naura menatap tajam pada Shofi.


"Mbak Nadia pergi karena mendengar ucapan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang Ning dan terlebih kepada seorang perempuan kepada sesama perempuan." Jawab Naura nyalang.


Aku menatap pada Shofi dia menundukan wajahnya ketika tatapan kami beradu. "Shofi apa yang ucapkan pada Nadia?"


"Mbak Shofi bilang...." jawab Naura.


"Naura... " cegahku. "Mas ingin dengar langsung dari shofi."


"Shofi apa yang kamu katakan pada Nadia?" Kataku yang mencoba untuk tetap sabar dan tenang. Seharian ini aku sudah begitu lelah ditambah aku harus bepergian dan ketika tiba di rumah aku melihat situasi seperti ini.


"Shofi bilang seperti itu karena memang kenyataannya seperti itu." Ucap Shofi yang sepertinya tidak mau di salahkan.


"Shofi apa yang kamu katakan pada Nadia?" Tanya Abi dan ummi bersama.


"Biar Naura saja yang cerita dari awal apa yang sudah terjadi dan Naura tidak akan melebihkan atau mengurangi apa yang sudah diucapkan mbak Shofi." Kata Naura sengit.


Aku mengepalkan tanganku kesal dan marah ketika Naura menceritakan apa yang sudah terjadi di kediaman rumah ini.


"Apa benar seperti itu Shofi?" tanya ummi yang marah dengan sikap Shofi.


"Ya." Jawab Shofi singkat.


"Ummi kecewa sama kamu Shofi, bagaimana bisa kamu bilang seperti itu? Nadia bukan pelakor dia wanita baik-baik." Ucap Ummi meninggikan suaranya.


"Shofi bilang seperti itu karena kasihan sama mbak Anisa. Mas Alvin gak tahu kan kalau mbak Anisa hampir tiap malam nangis. Ketika Mas Alvin menginap di rumah mbak Nadia." Ucap Shofi lantang bahkan dia dengan berani berdiri di depanku dan menunjuk pada Anisa.

__ADS_1


"Memangnya bagaimana dengan mbak Nadia, dia juga sakit hati mbak. Mbak Nadia dia berani menanggung malu untuk jadi istri kedua di saat dia menjadi wanita karir yang sukses dan diperebutkan banyak pria. Hanya demi mengabulkan permintaan alm ayahnya." Bentak Naura yang juga berdiri di depanku sambil menghadap Shofi.


"Meskipun poligami di bolehkan. Tapi aku tidak mau dipoligami. Kalau aku ada di posisinya mbak Nadia aku akan menolak permintaan ayahnya karena secara tidak langsung aku akan menjadi seorang pelakor."


"Shofi!" Bentakku. Bukan hanya aku yang membentak Shofi tapi juga Abi dan Ummiku.


Abi dan ummi menghampiri Shofi bahkan Shofi ditarik oleh ummi untuk berhadapan dengannya. Shofi terdiam dan merasa ketakutan. Tentu dia kaget karena sedari dia kecil dia tidak pernah dibentak. Apalagi Abi yang sampai ikut membentak. Kalau Abi ikut marah, itu berarti kesalahan Shofi sudah fatal.


"Abi tidak pernah mengajarimu kata-kata seperti itu.


Abi kecewa sama kamu. Sekarang kamu masuk ke rumah dan tidak boleh ke luar rumah sampai Abi, ummi dan Mas Alvin memaafkanmu. Terlebih pada Nadia.


Jika Nadia tidak memaafkanmu maka Abi juga tidak akan memaafkanmu bahkan Abi tidak akan meridhoimu."


Shofi berjengit kaget mendengar perkataan Abi. Air matanya jatuh seketika.


"Abi harap kamu bisa memikirkan kesalahanmu. Cepat pulang dan masuk ke kamarmu." Bentak Abi pada Shofi sekali lagi. Shofipun pergi dengan menangis.


Aira tidurnya terusik dia kembali menangis. Aku menghampirinya dan mengambil Aira dan menenangkannya agar dia berhenti menangis.


"Abi, umma tadi pergi sambil nangis." Ucap Aira. Aku mencium Aira. Mencium pipinya yang basah oleh air matanya.


Ummi mengambil alih Aira. "Kalian berdua bicaralah."


Ucap ummi membawa Aira menjauh dari kami.


Aku membawa Anisa ke kamarku. Membiarkan dia duduk di sampingku dengan tertunduk dan masih menangis. Aku memeluknya menenangkannya.


"Maafkan saya Anisa. Ini salah saya." Kataku dengan hati yang begitu perih.


"Saya lemah...." Kataku menangis. Aku takut kelak aku akan disiksa atas ketidakadilanku ini pada kedua istriku.


"Tidak Mas. Mas Alvin sudah sangat adil bagi Anisa.


Dan demi Allah. Saya tidak pernah berpikiran mbak Nadia seperti itu. Saya tidak menganggap mbak Nadia sebagai madu saya. Saya sudah anggap mbak Nadia sebagai saudara saya. Dia perempuan yang baik. Mas jangan pernah lepaskan mbak Nadia." Ucapnya dengan air mata yang kini sudah membasahi jubahku di bagian dadaku.


Dia melepas pelukanku. Dia menatapku dengan menangis.


"Ini ujian buat keluarga kita Mas, dan kita harus melaluinya. Kita pasti bisa bersama lagi bertiga. Jangan pernah menuruti permintaan mbak Nadia untuk bercerai. Janji ya Mas?" Katanya dengan menggemgam tanganku erat.


"Maafkan saya Anisa jika saya menyakitimu." Kataku menangis di depannya dan menyentuh pipinya.


Dia menyentuh tanganku. "Mas, ini pasti dialami setiap keluarga yang berpoligami. Di pernikahan yang tanpa poligami pasti banyak kerikilnya. Apalagi kita Mas yang menjalani pernikahan poligami. Tapi saya yakin, Mas Alvin, mbak Nadia dan saya. Kita pasti bisa melaluinya bersama. Mas cepat susul mbak Nadia yaa... Bawa kembali mbak Nadia." Pintanya memelas.


Aku mencium kening Anisa lama. Aku bersumpah. Dia adalah istri yang begitu sholehah. Istri yang menerimaku apa adanya dan mencintaiku begitu tulus.


Malam itu, aku menyusul Nadia jam satu malam. Di dampingi Amir. Aku mencoba menelepon Nadia tapi nomernya tidak aktif. Mengirim pesan Wattsup padanya tapi centang satu. Begitu juga pada Fina.


Ketika aku sampai di rumah Nadia. Mas Naufal sudah menungguku. Wajahnya tidak ramah seperti biasanya.


Aku salim padanya dan dia masih menerima salimku.


Dia mempersilakanku masuk. Di dalam sudah ada mbak Zahra. Aku melihat pada lantai dua di mana kamar Nadia berada. Tapi yang membuatku bingung. Aku tidak melihat mobil Nadia terparkir di depan garasi.

__ADS_1


"Nadia tidak ada disini." Ucap Mas Naufal dingin.


"Mas, saya mohon saya ingin bertemu dengan Nadia." Pintaku memohon.


"Saya sudah bilang. Nadia tidak ada disini." Bentak Mas Naufal. Mbak Zahra mengelus bahu Mas Naufal mencoba untuk menenangkannya.


"Silakan cek ke kamarnya apa Nadia ada di kamarnya." Kata Mas Naufal dengan merentangkan tangan kanannya memberikan izin padaku.


Akupun bergegas menaiki tangga membuka pintu kamar Nadia yang masih rapi seperti tidak berpenghuni. Aku memeriksa ke kamar mandi juga tidak ada.


"Nadia....Nadia..." panggilku seperti orang gila yang berteriak di malam hari.


"Ini saya, tolong keluar Nadia saya ingin bicara." Kataku berbicara sendiri dan mencoba untuk tidak menangis.


Tidak ada sahutan. Benarkah Nadia tidak ada di rumah ini?


Aku kembali turun ke lantai bawah dimana ada Mas Maufal, mbak Zahra dan Amir yang berdiri semua. Tidak ada yang duduk.


"Tidak ada kan? Jadi silakan anda pulang." Usir Mas Naufal marah. Dia begitu marah. Dia sampai menggunakan kata anda padaku.


"Mas... saya mohon tolong katakan dimana Nadia." Pintaku mengiba.


Mas Naufal membuka handponenya dan memberikannya padaku. Menampilkan layar yang berisi chat Nadia dan Mas Naufal.


Mas, Nadia mau menenangkan diri dulu yaa. Jadi Nadia tidak mau pulang ke rumah untuk sementara waktu, entah sampai kapan. Nadia takut Gus Alvin mencari Nadia. Untuk saat ini, Nadia tidak mau bertemu dengan Gus Alvin. Mas jangan khawatir. Nadia sama Fina. Fina bakalan jagain Nadia. Nadia sayang sekali sama Mas. Terima kasih sudah menjadi pengganti ayah untuk Nadia.


Setelah aku membaca pesan Nadia yang membuat hatiku teriris. Tidak kuasa aku menahan tangisku lagi.


Rasa takutku akhirnya terjadi juga.


Nadia, dia tidak mau bertemu denganku.


Mas Naufal langsung menarik kerah bajuku dan bahkan sedikit menekan leherku. Amir yang melihatnya ingin melerai tapi aku mencegahnya.


"Jadi, saya yang seharusnya bertanya dimana Nadia? Dimana adik saya? Saya menyuruhmu untuk menjaganya bukan menyakitinya. Apa kamu mengusir Nadia?" Tanya Mas Naufal dengan mata yang memerah. Dia berteriak di depanku. Mendorongku sampai membentur tembok.


Mbak Zahra sekuat tenaga menarik tubuh Mas Naufal agar menjauh dariku tapi tentu saja Mas Naufal sekarang sedang emosi tinggi dia tidak bisa di tenangkan. Dia sudah membenciku.


"Saya tidak pernah mengusir Nadia." Bantahku keras.


Mas Naufal melepas cengkramannya dan menyuruhku untuk bercerita lebih jelas. Dia bisa sedikit tenang dan duduk di sofa bersedia mendengar ceritaku.


Setelah dia mendengar ceritaku. Dia terdiam sebentar lalu dia menatapku dengan tajam. Mengatakan kalimat yang akan membuatku menjadi orang gila nantinya.


"Ceraikan Nadia." Putus Mas Naufal mutlak.


Dia berdiri hendak pergi meninggalkanku. Hanya mbak Zahra yang tetap duduk menemaniku. Menatapku dengan iba.


Aku teramat syok mendengarnya. Hatiku perih. Sangat perih. Hal yang aku takutkan terjadi. Aku tidak mau kehilangan Nadia. Aku begitu mencintainya.


Aku berdiri dan berbicara pada Mas Naufal yang berdiri membelakangiku. "Maafkan saya. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menceraikan Nadia." Putusku egois dan pamit pada mbak Zahra.


Aku mengusap wajahku dengan gusar. Menatap pada langit malam tanpa bintang.

__ADS_1


Nadia, kamu ada dimana?


Kemana saya harus mencarimu?


__ADS_2