
"Dulu saya sempat tinggal Jakarta juga, kita kayaknya pernah jadi tetangga sebentar. Sekitar dua tahun? Cuman kita jarang ketemu aja, kamu dan saya sama-sama masih kecil. Tapi saya ingat Bunda kamu."
Suara air yang mendidih terdengar dalam ruangan ber-AC ini. Pohon di sekitar bangunan empat lantai bergogang karena angin yang berhembus.
"Saya juga sebentar lagi ulang tahun. Saya lebih tua tiga tahun dari kamu," Vin tersenyum sebelum menoleh dan mengambil alat pendidih air untuk dibawa ke meja tempat keduanya duduk,"panggil saya Mas ya?"
Jihan menggeleng keras kepala, mengacau suasana hangat yang hampir tercipta, "Kamu boleh panggil aku Ji, tapi aku enggak mau panggil kamu pake Mas," ujarnya sambil menuang air panas dalam cap mie dan mendorong salah satu ke sisi Vin, "tunggu tiga menit."
Vin hanya tersenyum simpul, menerima mienya dan menemani Jihan memandang langit setelahnya sampai puas, sampai malam. Selama itu, mereka membahas tentang bisnis, tentang investasi dan harga saham sambil menghabiskan mie kuah. Keduanya membawa obrolan santai, Vin banyak tertawa saat Jihan bertanya tentang kantor dan embel-embelnya.
Tidak ada percakapan manis malam ini. Tidak ada apapun selain saling menatap masih seperti orang asing yang membagi ilmu bisnis manajemen bersama. Namun, setidaknya mereka hampir saling mengetahui cita-cita masing-masing. Tentang Jihan yang bulat tekatnya menjadi dosen dan Vin yang ingin mengeksplorasi Indonesia lebih dalam jika ada waktu.
***
Sudah hari terakhir tahun 2020 saat Javis dan teman-temannya berhasil membuka tempat pameran di kuarter terakhir tahun ini. Jihan menemani sang kekasih selama ini, menghabiskan waktu di bengkel seninya sambil mengerjakan makalah-makalah kuliah dan mengurangi intensi keliling Jogja hanya untuk menghabiskan uang di pedagang kaki lima.
Jihan juga lebih banyak bertemu Vin, mengajaknya memberi makan kucing jalan saat mendapatkan tugas dari club, ikut Vin mengunjungi lokasi konstruksi dan tanah seluas tiga ratus meter yang sudah dipondasi di daerah Sleman. Kemudian hari ini, Jihan membawa Vin mendatangi pameran Javis sebab sudah berjanji akan datang lusa lalu.
**
Vin melunturkan senyumnya, melepas Jihan menjauh saat menghambur pada pelukan Javis di depan pameran sementara dirinya memasukkan kunci mobil pada saku jas. Langkahnya mengikuti dua orang di depannya, melirik ke kanan kiri di mana lukisan dijajar sangat indah dipadukan dengan karya seni 3D yang memanjakan mata lainnya.
Seni, Vin jadi ingat dia suka sekali fotografi dulu, oh atau sampai sekarang. Namun, Vin jarang menyentuh kamera lagi selain yang ada di ponselnya. Pria ini semakin masuk ke dalam, semakin menemukan Jihan yang sangat bersinar. Mengobrol bersama teman-teman kampusnya juga kenalan-kenalan Javis.
Vin duduk di bangku dekat seni utama yang diletakkan megah di tengah ruangan. Matanya menatap lurus ke depan sambil menunggu Jihan kembali pada sisinya, kembali duduk di sampingnya dan berbicara santai berdua.
Sedangkan si gadis itu tersenyum sangat riang, mengikuti langkah Javis dan menyapa para tamu yang datang sudah biasa. Obsidian Jihan tidak berbohong saat sesekali menatap Vin yang hanya duduk tidak melakukan apapun selain berpura-pura tertarik pada seni di tengah ruangan.
Jihan berhenti. Kali ini benar-benar menghadap Vin yang jauh di sana, melihat tak ada ponsel di tangan pria itu, tidak ada apapun selain jemari yang hanya saling menggenggam seolah menghargai pameran yang sebenarnya tidak menarik untuk Vin.
Jihan jadi mengingat tadi pagi saat dia mengunjungi rumah Vin, pria itu masih tidur di kamarnya. Kata Mama, Vin baru pulang dari kantor pukul tiga dan melewatkan makan malam karena pekerjaan. Vin juga hampir melewatkan sarapannya saat melihat Jihan sudah duduk di ruang tamu memainkan ponselnya kebosanan. Dia merasa tidak enak melupakan janji ikut ke pameran Javis hari ini dan membuat Jihan menunggu lama.
"Ji, aku ke sana sebentar ya?" ujar Javis membuyarkan lamunan Jihan kemudian meninggalkannya di salah satu seni monokrom setelah menepuk pundaknya pelan. Jihan mangangguk mengiyakan, sekarang kakinya berjalan ke arah Vin dan benar-benar duduk di sampingnya lagi setelah satu jam berpisah.
Vin menoleh, matanya menari ke sana-sini mencari sosok lainnya. Jihan melihat ada kantung mata hitam lumayan besar menggangung di sana, tetapi Vin tetap mengutarakan kalimat, "Mana Javis? Kamu tidak dengan dia?"
__ADS_1
"Kamu sendiri cuma duduk aja di sini?"
"Oh, iya nanti keliling kok. Cuma lagi capek, eh, ramai aja, nunggu sepi," Vin tersenyum menatap Jihan, melihat ekspresi gadis di sampingnya yang menatap Vin datar tanpa senyum, "eh? Kamu tidak suka ya saya cuman duduk? Iya, saya keliling sekarang deh."
"Vin?"
Vin sudah berdiri, tangannya meremat jasnya sebelum memijat kening sebentar dan menatap Jihan lagi, "Saya mulai dari sana 'kan?" telunjuknya mengarah ke pintu masuk.
"Vin, kalo Ka-"
"Enggak. Sayang banget bagus-bagus seninya tapi ke sini cuman buat duduk. Javis di mana? Mau ngobrol juga sebenernya."
Jihan menepuk bangku tadi untuk Vin yang terlihat kelelahan hari ini, "Enggak perlu. Duduk aja. Kamu lagi enggak sehat ya? Sorry Aku maksa tadi. Harusnya naik ojek aja."
"Astaga, enggak Ji. Saya enggak apa-apa kok," Vin tertawa kecil, "kamu duduk di sini aja. Kalau ada apa-apa chat saya ya?" ucap Vin
Vin menjauh, berjalan percaya diri dengan punggung tegap ke arah pintu masuk. Jihan memaku di tempatnya, obsidiannya mengikuti Vin yang sekarang sedang melihat-lihat karya seni yang dipamerkan.
Lima menit berikutnya Jihan hampir beralih dari kursi jika Javis tidak tiba-tiba datang kembali menyapanya, duduk di sebelah Jihan sambil memberikan sebotol air putih pada kekasihnya,
"Iya," Jihan menerima botol dan menyimpannya di sisi bangku, dia juga sadar biasanya pameran Javis dan teman-temannya tidak akan seramai ini, "bagus donk."
"Jadi percaya diri mau ketemu Bunda."
"Kamu bilang ya kalau mau ke rumah. Jangan tiba-tiba datang," Jihan menepuk lengan Javis pelan sebelum kembali menatap Vin yang sekarang justru mengobrol santai dengan salah satu orang berpakian formal kenalan profesinya.
Javis mengikuti arah pandangan Jihan, hazelnya lantas menemukan Vin di sudut ruangan, "Oh iya lupa nyapa tunangan kamu."
Javis beranjak, mengajak Jihan berdiri dan menemui Vin. Setiap langkah yang diambil Javis, ada rasa khawatir yang menerpa Jihan. Seperti memikirkan bagaimana dua insan itu akan bertemu di ruangan yang sama, saat yang sama, dengan Jihan yang memihak ke salah satunya.
"Kalau ada tunangan kamu di sini, jangan terlalu dekat sama aku, Ji," kalimat Javis menyapu telinganya, sangat tepat disertai senyum kelinci kekasihnya, "aku enggak enak sama dia."
Menit berikutnya ketiganya sudah berhadapan di salah satu sudut ruangan yang ada meja setinggi siku dengan vas tanaman indah di atasnya. Vin yang pertama kali menyapa, menawarkan tangan untuk menjabat Javis ramah, "Halo, Javis."
"Iya. Mas Vin ya? Aku bener enggak manggilnya?"
__ADS_1
Vin tertawa kecil, "Bener kok. Asal jangan manggil Pak aja, haha."
"Oh? Iya," Javis menaikkan rambutnya canggung, dilihatnya surai Vin begitu rapi dan teratur. Pun raganya terlihat dewasa dan besar dibalik setelan semi-formal yang dia kenakan.
Jihan ada di tengah, menatap keduanya bergantian, tetapi lebih banyak pada Vin karena mendadak bibir pria itu pucat.
"Bagus pamerannya," puji Vin formal, memasukkan tangan ke saku dan tersenyum mengalihkan pandang ke Jihan sebentar sebelum kembali pada Javis, "kamu semua yang buat lukisannya?"
"Sebagian aku, ini pameran tim sih, ada empat orang "
Vin mangut-mangut mengerti, menatap dua orang lainnya bergantian, "Kalian kalau masih mau ngapain gitu, dilanjut aja ya. Saya mau lanjutin lihat-lihat juga."
Javis menatap sedikit tak percaya atas perkataan Vin, dia kira Vin akan merebut Jihan darinya, membawanya pergi setelah selesai berbasa-basi menyapa tadi untuk dibawa menghabiskan akhir tahun di rumah keluarga besar seperti biasanya. Seperti akhir tahun yang lalu-lalu di mana Jihan juga tidak pernah menghabiskannya bersama Javis atau teman-temannya.
"Kalau sudah hubungin saya ya, Ji," Vin beralih setelah melempar senyum untuk menuju ke karya seni berikutnya.
Javis membenarkan dalam hati, Vin baik, sebaik itu ditambah sikapnya sangat hangat dan lembut. Vin sempurna, dari dalam maupun luarnya, dari segi apapun. Dia pria yang sangat berbeda dari Javis.
"Pak Vin Afiano, selamat ulang tahun ya pokoknya. Saya ucapin lagi ini karena terlambat sehari," ucap salah satu orang di pameran yang tadi sempat mengobrol dengan Vin, "duluan ya, Pak."
Vin mengangguk dari tempatnya ramah dan Jihan menonton semuanya. Dia menatap Javis untuk ikut berpamitan dan segera menghampiri Vin. Jihan mungkin sedang gila sekarang ini.
"Ayo pulang, Vin."
"Hei? Lho? Enggak jadi?" Vin menahan tangan Jihan yang meraihnya untuk diseret keluar tempat pameran.
"Enggak jadi!" ucap Jihan
"Ji, kamu kenapa? Serius saya belum paham, sebentar Ji. Sebentar."
"Pulang!" tegas Jihan
"Ji? Udah pamitan sama Javis?" Vin akhirnya menurut, membiarkan dirinya diseret Jihan keluar, "jawab Ji."
"Aku cuma mau kamu pulang, Vin. Please," mata Jihan menatap Vin serius. Kilatan itu membungkam Vin seutuhnya hingga kakinya benar sampai di tempat parkir.
__ADS_1