Dua Hati

Dua Hati
Bab 51 : Sayang


__ADS_3

Biasanya setiap pagi aku hanya menyiapkan sarapan untuk Akhtar saja. Tapi untuk empat bulan terakhir ini, aku harus menyiapkan sarapan untuk empat orang, lima denganku. Untungnya setiap pesantren ada santri yang mengabdi kepada Kiyai dan ibu Nyai.


Seperti halnya Amir dan Alma sopir Gus Alvin dan santri yang merawat Aira. Tapi sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Jadi mereka sudah berhenti dan kudengar dari Gus Alvin mereka sudah dikarunia anak.


Santri ini sering di sebut khadimah. Santri yang ikut menangani dan melayani keperluan sehari-hari keluarga dhalem (kediaman Kyiai dan Nyai)


Ada dua santri yang membantuku memasak. Santri yang memang mondok di pesantren An-Nuur dan satunya santri yang mondok di pesantren Al-Hikam santri ini yang merawat Anin di sana. Karena Anin sudah tinggal dengan kami jadi santri tersebut juga ikut dengan kami.


Dari jam tiga dini hari kegiatan pesantren sudah di mulai. Yang di mulai dengan sholat Tahajjud.


Lalu sholat shubuh berjamaah dan setelahnya pengajian shubuh untuk santri putra sampai jam enam yang di isi oleh Abi dan Gus Alvin.


Sedangkan santri putri setelah shubuh biasanya ngaji ke para pengasuh. Ummi bagian santri senior dimulai dari kelas tiga Tsanawiyah dan kelas tiga Aliyah.


Kenapa ummi menghususkan mengambil kelas akhir karena biasanya mereka akan berhenti mondok.


Mereka sudah selesai dengan sekolahnya jadi ada yang melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri atau di Perguruan Tinggi Swasta. Meskipun pesantren An-Nur mempunyai kampus sendiri. Pesantren tidak mengharuskan santrinya untuk berkuliah di pesantren


.


Sedangkan Shofi untuk kelas dua Aliyah dan kelas dua Tsanawiyah. Naura belum mendapat amanah seperti saudarinya. Seperi kata Shofi Naura memang sedikit di manja oleh ummi. Aku memakluminya karena Naura anak bungsu.


Karena aku sudah menjadi istri dari Gus Alvin jadi aku juga mendapat peran yang sama dengan ummi dan Shofi. Aku bagian santri yang berada di tingkat pertama.


Jika tidak mengaji ke pengasuh biasanya ada santri yang mengaji ke pengurus. Intinya semuanya sudah dibagi sama rata.


Untuk pekerjaanku Gus Alvin tetap membolehkanku bekerja. Hanya dia minta untuk di kurangi saja. Karena aku juga punya kewajiban di pesantren ini.


Aku harus pintar membagi waktuku. Menjadi umma dari tiga orang anak, menjadi seorang MUA serta menjadi ibu Nyai.


Perasaan ku masih sama ketika aku menikah dengan Gus Alvin. Sama dengan pernikahanku yang pertamaku dengan Gus Alvin. Dimana sampai saat ini aku masih kurang nyaman di panggil Ning.


Ning Nadia, Ning Nadia dan Ning Nadia. Kata itu yang sering aku dengar sekarang.

__ADS_1


Masih mending aku di panggil Ning ada juga yang memanggilku Nyai. Ibu Nyai Nadia.


Yang memanggilku seperti itu yaitu para orang tua santri ketika mereka sowan padaku. Sowan sekaligus ingin menggunakan jasa make up ku. Jadi sekarang rata-rata clienku kebanyakan dari keluarga para santri pondok. Tapi ada juga yang dari luar pesantren An-Nuur.


Terlebih Gus Alvin lebih senang aku mengambil clien dari keluarga santri karena biasanya santri yang sudah berhenti mondok akan kembali ke pondok untuk menginap selama seminggu sebelum hari H. Karena keluarga dhalem akan mengantar atau mengiringi sang pengantin ke rumahnya. Jadi aku bisa merias di rumah.


Lalu perubahan apa lagi yang terjadi selama empat bulan aku menikah kembali dengan Gus Alvin.


Alhamduliah Allah segera memberikan kepercayaan kepada kami. Aku sedang hamil sepuluh minggu saat ini.


Kehamilan keduaku ini tidak se sulit dan tidak se ribet yang pertama aku hamil. Apa karena sekarang aku di temani Gus Alvin dan ke tiga anakku yang selalu menemaniku dan membuatku ceria.


Apalagi Gus Alvin dia semakin manis dan semakin perhatian padaku.


Dia memanggilku dengan sebutan istriku sayang di depan santrinya. Yang malu tentu saja aku bukan dia.


Apa tidak bisa kata sayangnya ketika berdua saja.


Aku yang melihat sampai meringis membayangkan rasanya yang sudah membuatku ngilu. Sedangkan dia, dia seperti nikmat sekali memakannya.


Dia yang tidak suka pedas kini sering meminta masakan pedas tidak lupa untuk dibuatkan sambal.


Sebenarnya aku merasa senang sih yang ngidam adalah suamiku bukan aku.


Dia juga sering mengajakku jalan-jalan sore di area sekolah pesantren. Melihat para santri yang sedang melakukan kegiatan extrakurikuler. Jika hari ini melihat kegiatan santri putra di sore hari lalu besok sorenya kami akan melihat kegiatan santri putri.


Tak lupa dia selalu menggemgam tanganku setiap menyusuri area bangunan sekolah. Membuat para santri yang melihat kami yang sedang lewat akan berhenti sejenak untuk memberikan rasa hormatnya pada kami sambil melirik pada tangan kami yang tidak lepas. Lalu bisik-bisik mulai terdengar ketika kami meninggalkan mereka.


Kalau dari santri putra aku tidak mendengar apapun tapi dari santri putri aku mendengarnya. Mendengar dari Naura atau dari santri pengurus yang dekat denganku. Kalau aku dan Gus Alvin menjadi contoh bagi mereka nanti ketika mereka bersuami.


Mereka menyebut kami pasangan yang serasi dan menjadi couple kesukaan mereka.


Jalan-jalan sore kami terhenti karena ada pengurus santri putri yang melapor tentang acara nanti malam.

__ADS_1


Yaitu kegiatan bahasa. Meskipun aku tidak bisa mengajar kitab, entah kitab Fiqih, Akhlak, Nahwu atau Hadist setidaknya aku bisa mengajar di pelajaran bidang umum.


Aku memang seorang MUA tapi aku adalah seorang sarjana lulusan Sastra Inggris dan dulu waktu SMA aku berada di kelas MIPA. Sangat jauh bukan? Waktu SMA dan kuliah jurusan apa kerjanya malah jadi apa. 


Itu semua karena keluargaku membiarkanku melakukan apapun yang aku mau dan apapun yang kusuka selama itu berdampak baik untukku. Mereka akan mengikuti kemauanku.


Setelah melaporkan kegiatan nanti maelm kedua santri tersebut undur diri. Akukembali melihat pada suamiku dan dia datang dengan menbawa setangkai bunga mawar yang di tanam oleh santri putri.


Dia memberikan bunga Mawar merah padaku.


Mencium baunya yang harum lalu kemudian memberikannya padaku. Tersenyum dengan manisnya.


"Untuk saya?"


Sebuah pertanyaan yang tidak perlu di jawab. Sudah jelas dia memberikan bunga untukmu Nadia.


"Untukmu seoang bidadri yang mau menjadi istri saya." Ucapnya gombal.


Aku tersenyum malu dan mencubit perutnya gemas.


"Gus gombal banget sih." Seruku  bahagia.


"Aduh Nadiaa sakit." Rintihnya dengan memegang perutnya.


"Suruh siapa gombal, suruh siapa gombal." Kataku yang kini berubah menggelitik perutnya.


Gus Alvin tertawa dan mencoba menghindar dariku dan aku mengerjarnya. "Sayang malu di lihat santri." Ujarnya yang kini memegang kedua tanganku.


Dia lalu mengecup keningku lama. "Sudah yaa sayang ayo pulang sudah mau maghrib. Kasian anak kita kalau kamu lari-lari." Dia tersenyum dengan mengelus perutku.


Gus Alvin itu jarang sekali memanggilku sayang. Dia kebiasan menyebut namaku. Jadi ketika dia memanggil sayang. Aku malu sendiri jadinya. Seketika aku menjadi kucing yang imut dan penurut.


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2