Dua Hati

Dua Hati
Bab 39 : Tentang Makna


__ADS_3

Nadia Mahira Hasan


Aku terbangun dengan sebuah tangan yang melingkar di perutku. Aku menyentuh tangan ini. Tangan seseorang yang sangat aku rindukan. Tangan seseorang yang sekaligus aku benci.


Ada peraasan gelinyar aneh di tubuhku. Apa karena efek aku hamil tubuhku terasa ringan ketika dia memelukku dari belakang.


Bagaimana aku harus menghadapinya sekarang? Aku tahu, dia kesini karena diberitahu oleh Fina. Terkadang anak itu tidak pernah mendengarkanku.


"Sudah bangun?" Tanyanya di belakang leherku dan semakin mengeratkan pelukannya.


Suara itu? Suara yang aku rindukan. Suara yang ingin aku dengar. Suara bass nya yang mampu membuat hatiku bergetar. Suara yang selalu mengatakan hal-hal yang singkat. Suara yang ketika menjawab perkataanku dengan seperlunya saja.


Tak terasa air mataku jatuh seketika. Tanpa terisak.


Kenapa aku merindukan dirinya setengah mati?


"Saya merindukanmu Nadia. Sangat." Ucapnya mencium bahuku.


Lagi-lagi tubuhku merespon sentuhannya dengan perasaan yang seperti ada aliran listrik di tubuhku. Aku mengelus perutku.


"Iya nak, ini Abimu sudah datang. Kamu kangen kan sama Abimu." Batinku yang akhirnya membuatku menangis terisak.


"Saya merindukanmu Nadia, tolong jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan saya. Maaf kan saya, jika saya menjadi suami yang bisanya hanya menyakitimu." Ucapnya pelan dengan mencium pipiku.


Dia lalu membalikan tubuhku agar dia bisa melihat wajahku. Dia menyentuh daguku dan mengangkatnya sedikit.


Wajah sayunya jelas terlihat di mataku saat ini. Kenapa sekarang dia kurusan?


"Saya mencintaimu Nadia, saya merindukanmu dan saya tidak mau jauh darimu. Saya tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya." Ucapnya menangis di depanku dengan menghapus air mataku.


"Saya benci Gus." Aku tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku. Padahal aku sangat merindukannya saat ini. Tapi rasa benci, gengsi dan egois mengalahkan rasa cinta dan rinduku saat ini.


Dia tersenyum dengan lembutnya. "Dan saya mencintaimu." Ucapnya sendu.


"Saya benci Gus." Kataku terisak dengan menaikan nada suaraku yang membuat hatiku semakin sakit saja rasanya.


"Dan saya akan membalas rasa bencimu dengan cinta yang saya punya, Nadia." Ucapnya dengan suara yang begitu lembut.


Aku menangis kembali. Kenapa aku mudah luluh padanya. Kenapa dengan hanya ucapan seperti itu aku sudah begitu lemah. Kenapa aku mencintai dia sampai seperti ini. Kenapa aku mencintai seorang pria yang membagikan hatinya tidak hanya padaku seorang.


Kenapa aku menjadi egois seperti ini? Aku ingin memilikinya seutuhnya. Tapi itu tidak mungkin.


"Tolong. Cerai....." dia menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Dia tidak mau mendengar kalimat itu.


"Saya sudah bilang Nadia, jangan ucapkan kata itu.


Saya membencinya. Saya bisa gila jika kamu meminta seperti itu pada saya." Katanya yang akhirnya dia menangis dengan tergugu.

__ADS_1


Dia beringsut dan dia memelukku dengan meletakan kepalanya di curuk leherku. Menangis dengan sejadi-jadinya bahkan tangisannya lebih parah dariku.


Dia menangis sambil bersembunyi di balik tubuhku. Dia memelukku dengan sangat eratnya. Kenapa sekarang dia seperti anak kecil. Tingkahnya sama seperti dia menangis untuk pertama kalinya di depanku ketika dia mengatakan perasaannya padaku yang sudah lama di pendam.


Tangisannya begitu lama dan menyanyat hatiku. Dia semakin beringsut dan kini wajahnya tepat berada di depan perutku.


Dia menyentuh perutku dan mengelusnya lembut.


Tubuhku meresponnya dengan sangat kuat.


Kamu senang yaa nak Abimu mengelusmu. Isakku yang aku tahan sekuat mungkin.


"Assalamualaikum, ini Abi. Maaf yaa. Abi baru bisa menyapamu. Soalnya Abi sedang membujuk Ummamu agar kembali pada Abi. Abi minta tolong, tolong bujuk Ummamu yaa agar dia bisa kembali sama Abi lagi. Dan terima kasih sudah ada untuk Abi dan Umma. Abi dan Umma sudah sangat sayang sama kamu." Ucapnya dengan mencium perutku yang masih rata.


"Jangan rewel yaa sama Umma. Kasihan Umma. Umma lagi sakit. Dia sakit karena Abi. Tolong maafkan Abi jika Abi juga menyakitimu." Isaknya dan mencium kembali perutku.


Aku menutup mulutku agar tangisku semakin tidak pecah.


Aku harus bagaimana ini.


Dia kemudian bangun dan duduk menghadapku. Mengelus rambutku dan mencium keningku. "Saya akan kembali lagi besok. Jangan pergi dan menjauh lagi sama saya Nadia."


Aku ingin menyentuh tangannya tapi lagi-lagi aku kalah dengan rasa benci dan gengsiku. Dia turun dari kasurku akupun bangun dari berbaringku.


Dia berjalan mundur dengan terus menatapku dengan tersenyum.


Kalimat yang ingin sekali aku katakan padanya. Tapi lidahku kelu untuk mengatakannya. Hatiku malu untuk mengatakannya.


Akhirnya aku kembali menangis ketika dia sudah menghilang dari pandanganku.


Dia sudah pergi.


❤❤❤


Semenjak kepulangan dia aku kembali menangis dengan sejadi-jadinya. Bertepatan dengan itu Fina juga datang bersama Mas Naufal dan mbak Zahra.


Mas Naufal langsung memelukku dengan air mata yang berjatuhan dipipinya. Menenangkanku dan mengatakan bahwa dia setuju jika aku bercerai dengan dia.


Mas Naufal berkata, jangan khawatirkan anakku karena Mas Naufal akan memberikan kasih sayang pada anakku nantinya. Anakku tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ayah.


Mas Naufal mengajakku untuk pulang ke rumah dan berjanji tidak akan membuat dia datang menemuiku lagi. Tapi bukan itu maksudnya.


"Nadia mencintainya Mas, sangat. Nadia merindukannya, Tapi Nadia juga ingin pisah dengannya. Nadia harus bagaimana Mas? Nadia bingung. Nadia pasti sudah gila yaa Mas." Kataku menangis pada Mas Naufal. Mas Naufal tidak berkata apapun dia hanya membawaku dalam pelukannya dan akhirnya membawaku kembali pulang ke rumah.


🍁🍁🍁


Matahari sudah menampakan sinarnya yang hangat. Sudah 15 menit aku berdiri di balkon kamarku untuk berjemur. Aku kembali masuk ke kamarku ketika aku melihat mobil Gus Alvin masuk ke dalam rumahku.

__ADS_1


Aku duduk di pinggir kasur dengan tercenung.


Haruskah aku temui dia? Lalu aku teringat akan sesuatu yang aku simpan. Membuka laci nakasku dan kertas itu masih ada.


Aku mengambil kertas putih itu yang di dalamnya terdapat tulisan arab yang di tulis oleh dia.


Sebuah kalimat bahasa arab yang pernah dia ucapkan padaku karena aku tidak mengerti aku memintanya untuk menuliskannya. Aku penasaran dengan apa yang di tulis Gus Alvin. Apa arti dari tulisan arab ini.


Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku menyuruhnya masuk dan ternyata itu Mas Naufal.


Dia berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Ada Gus Alvin di bawah. Apa kamu ingin menemuinya?" Mas Naufal menatapku dengan mengelus rambutku.


"Menurutmu Mas?" Tanyaku balik.


"Terserah kamu. Kalau kamu ingin menemuinya dan meminta Mas untuk menemanimu Mas selalu siap. Atau kamu mau ditemani Zahra?"


Aku menatap Mas Naufal bingung. Lalu tatapannya beralih pada kertas yang aku pegang. "Apa itu?" Tanyanya sambil mengambil kertas itu dan mulai membacanya.


Setelah membacanya Mas Naufal menatapku. "Apa ini Gus Alvin yang menulis?" Tanyanya.


Aku mengangguk. "Apa artinya?" Tanyaku penasaran.


Mas Naufal mulai mengartikan makna dari tulisan Gus Alvin.


Andai kamu tahu betapa aku mencintaimu. Kamu pasti akan terkejut. Andai kamu tahu semua yang ada padamu terutama kedua matamu, senyummu, tawamu itu melemahkanku.


Melemahkan hatiku.


Kamu sudah membuatku jatuh-sejatuhnya padamu. Kamu sudah bertahta di hatiku sejak dulu. Sejak aku berumur 12 tahun hingga aku kini berumur 32 tahun.


20 tahun Nadia, selama itu kamu sudah terpatri di hati saya.


Kamu yang pertama mengajariku cinta, kamu yang pertama mengajariku arti bertahan dan kamu juga yang pertama mengajariku untuk ikhlas melepaskanmu. Tapi kini kamu berdiri di depanku. Menjadi istriku, sebuah mimpi yang aku pikir tidak akan menjadi nyata tapi Allah mengabulkan mimpiku.


Dan aku bersyukur bisa memilikimu.


Terima kasih sudah menjadi istriku dan aku tidak akan melepaskanmu atau mengikhlaskanmu untuk yang kedua kalinya.


Mas Naufal berhenti membaca tentang makna yang tertulis di kertas putih itu.


Aku menatap Mas Naufal dengan linangan air mata yang perlahan jatuh di pipiku.


Sebegitu cintakah dia padaku?


"Apapun keputusan kamu, Mas akan selalu ada untuk kamu." Ucap Mas Naufal menghapus air mataku lembut.

__ADS_1


__ADS_2