
Gue menatap rerumputan sambil memainkan ranting kecil di tangan. Pola bulat, kotak hingga tak beraturan coba gue lukis sembari memikirkan apa yang seharusnya gue katakan. Tampak wajah berharap terlihat dari paras Asti, sudah lima menit berlalu namun gue belum menjawab pertanyaannya.
“Gue enggak tahu mesti jawab apa, tapi kalau gue nerima lu, Gina gimana?” tanya gue mempertimbangkan.
“Emang apa hubungannya sama Gina?” tanya Asti yang penasaran.
“Ya, kaliankan sudah seperti keluarga sendiri menurut gue, kalian sudah dari SD malah berteman baik. Selama ini juga lu sama Gina, gue terima untuk menjadi teman. Gue enggak milih-milih dan mungkin kita sama-sama menikmati suasana pertemanan.
“Menurut lu, mungkin enggak Gina punya perasaan yang sama kaya lu?” tanya gue mengakhiri ucapan.
Ekspresi wajah Asti sekarang berubah tampak sedikit kecewa dengan apa yang gue katakan. Pandangannya sesekali menyisir setiap ruang dihadapannya, dan terhenti saat menatap Gina yang tengah berdiri dan menjadi peserta kuis.
“Kalau hubungan kita sembunyiin dari Gina, gimana, Ian?” tanya Asti dengan suara yang cukup lemas.
“Backstreet maksudnya? Haha, mana ada sih backstreet sama temen, kalau sama orang tua, sih, wajar menurut gue.”
“Kali aja kamu mau, Ian. Kan biar enggak mainstream hubungan kita.” Masih sempat-sempatnya Asti melontarkan candaan.
“Yaudah kalau gitu, gue mau nerima lu,” ucap gue dan Asti pun kegirangan, “Et, jangan senang dulu, tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” tanyanya dengan wajah yang datar.
“Yang pertama, lu harus bisa rahasiain hubungan kita dari Gina, gue enggak mau gara-gara gue, hubungan kalian jadi rusak. Yang kedua, selain lu harus tahan kalau gue lagi ngerjain kerjaan, lu juga harus tahan rasa cemburu lu kalau Gina main sama gue, ini bukan soal gue mau selingkuh atau sebagainya, tapi ini supaya Gina enggak curiga dengan hubungan kita,” ucap gue yang dijawab dengan anggukan sedikit lambat oleh Asti.
“Yaudah kalau itu syaratnya, gue bakal berusaha seperti itu.” Asti pun tersenyum dengan ekspresi yang sangat imut.
“Yaudah, kita jalanin, gue harap enggak ada yang tersakiti antara kalian berdua.”
Matahari semakin merendah membiaskan cahaya jingga yang terlukis di atas langit kota. Pemandangan indah dari alam yang selama ini gue lewatkan dan gue sia-siakan.
Malam akan datang beberapa waktu lagi, semua peserta pun tengah rehat karena acara liburan kantor akan terus berlanjut hingga tengah malam. Nasi yang dibungkus dengan kotak pun di dapat setiap peserta untuk santapan makan malam.
__ADS_1
Gue, Tio dan dua orang wanita masih tetap duduk di kursi yang tadi siang kami gunakan mengobrol. Mas Irfan lebih memilih beristirahat di dalam dan tidak ikut dengan obrolan kami kini.
Tidak ada yang berbeda yang gue rasakan walau gue bisa dibilang sudah mempunyai hubungan lebih dengan Asti, tapi apalah arti sebuah hubungan baru yang masih berumur 2 jam kurang ini.
Obrolan demi obrolan yang mengisi waktu kami di sini. Gina pun sesekali sombong dengan menunjukan hadiah yang dia dapatkan dari kuis yang dia ikuti tadi.
“Baguskan hp baru gue, masih bau pabrik,” ucap Gina sambil mengendus bau ponsel yang ditangannya.
“Ih, tahu gitu gue juga ikutan,” ucap Asti terlihat sebal.
Acara ini sponsornya cukup banyak, hadiah-hadiah dari kuis pun terbilang cukup menggiurkan. Mulai dari voucher belanja dengan saldo minimal Rp 500.000 hingga doorprize yang berupa satu unit motor baru. Tidak terlalu sulit bagi kantor gue ini untuk mendapatkan sponsor, karena biasanya klien tetap kami selalu memberi hibahan yang bisa dibilang cukup banyak.
“Baru juga hp, nanti malem gue yang bakal dapetin doorprize-nya, motor baru,” ucap gue sambil menggerakan tangan seperti tengah menarik gas motor.
“Enggak yakin gue, lu bisa dapet motor, Ian,” bantah Tio yang duduk di hadapan gue.
“Awas aja lu, kalau gue bisa dapet motor,” ancam gue.
“Emang mau ngapain kalau lu dapet motor?” tanya Tio yang menunjukan ekspresi tidak takut.
“Sialan lu, mentang-mentang gue belum pernah ngerasain dipeluk cewek,” ucap Tio ketus.
Kami pun tertawa dengan candaan-candaan di meja ini. Suasana yang sudah sangat cair ini memang yang selalu gue idam-idamkan jika berkumpul.
“Ngomong-ngomong, yang dapat doorprize dipilihnya gimana sih?” tanya Gina yang sepertinya tertarik juga.
“Nanti dikocok kok,” jawab gue singkat.
“Hah?! Apanya yang dikocok?” ucap Asti dengan suara cukup keras. Beberapa orang yang berada disekitar kami pun melihat ke arah Asti dengan tatapan kaget. Tampak wajah Asti pun memerah dan menahan malu akibat ucapannya.
Gue pun tertawa melihat Asti yang mulai salah tingkah, “Makanya kalau mau ngomong jorok jangan keras-keras, Rasain lu,” ucap gue disambut tawa yang semakin menjadi.
__ADS_1
“Ih, ngeselin!” seru Asti yang disusul sebuah cubitan yang maha dahsyat sakitnya menyerang perut gue.
Tawa gue pun berubah menjadi erangan kesakitan. Dengan kedua tangan gue memegang bagian yang Asti cubit dan menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Gina pun dengan perhatiannya mencoba mengelus-ngelus bagian yang dicubit dengan lembut.
“Kejam amat, sih, lu,” ucap gue pada Asti.
Lama kelamaan, Asti pun seperti iba melihat gue menahan kesakitan namun dengan raut muka yang cemburu. Gue pun meminta Gina untuk berhenti mengelus perut gue yang mungkin membuat Asti cemburu.
“Makasih, Gin, udah kok udah enggak sakit.” Gue pun mengelus sendiri bagian yang kini merah merona.
Asti berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi menuju dalam vila dengan wajah yang cukup menyeramkan. Gue enggak berani mengejarnya dan menyuruh Gina untuk menenangkan Asti.
“Gin, lu kejar gih, takut kenapa-kenapa si Asti,” ucap gue menyuruh.
Tio pun tampaknya terkejut dan ekspresinya seperti melihat sesuatu yang menyeramkan. Entahlah apakah ngambek Asti yang membuat Tio terhenyak atau memang dia melihat hal yang aneh-aneh di sini.
“Tio, mau ikut gue ke kamar enggak? Gue mau rebahan sakit banget ini perut,” ucap gue sambil berdiri. Dia pun mengangguk dan kami beranjak dari meja itu.
“Gila, gue baru lihat cewek yang semarah itu,” ucap Tio keheranan.
“Ah, palingan ntar biasa lagi, salah dia sendirikan, bukan salah gue.”
“Kayanya salah lu juga, walau gue enggak pernah pacaran, tapi gue tau tingkat kemarahan cewek,” ucapnya bijak.
“Emang lu tau darimana?” tanya gue.
“Tau dari artikel yang gue baca,” polosnya menjawab.
“Sialan lu, gue kira dari pengalaman pribadi ditolak sekian banyak cewek,” ucap gue dan berusaha tertawa kecil.
“Sorry, ya, gue enggak pernah ditolak cewek,” ucapnya sombong.
__ADS_1
“Iyalah, nembak aja kagak,” jawab gue dengan spontan dan tawa kami berdua pun pecah..
Obrolan ini membawa gue sampai ke depan pintu kamar, gue pun dengan segera merebahkan badan yang sudah lemas ini di salah satu kasur. Gue pun berencana untuk meminta maaf padanya saat malam nanti, saat dirinya sudah tidak terlalu emosi seperti tadi.