Dua Hati

Dua Hati
Bab 32 : Mulai Berpaling


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-quran yaitu surah Yaa-siin terdengar di rumahku. Aku mengaji surah Yaa-siin untuk yang ke tiga kalinya dengan sambil menangis.


Mas Naufal sedang mengurus semuanya. Dia tidak memanggil orang untuk memandikan ayah. Mas Naufal sudah biasa memandikan jenazah keluarga kami sendiri yang dia lakukan sejak kakek meninggal.


Sekarang sebagai bentuk terakhir baktinya kepada Ayah, Mas Naufal yang akan memandikan Ayah.


Nanti Mas Naufal juga yang jadi imam ketika mensholati jenazah Ayah.


Mbak Zahra dia menyambut tamu yang sedang melayat. Sekarang mereka berdualah orang tuaku.


Aku mendengar keluarga Gus Alvin datang beserta Abi mertuaku, ummi mertuaku, mbak Anisa dan kedua adik iparku. Bahkan Zahwa ikut rombongan mereka.


Abi mertuaku langsung duduk di pinggir kanan samping jenazah ayahku dan langsung memimpin tahlil dan surat Yaa-siin bersama. Gus Alvin yang duduk di dekat Abi mertuaku dia sedang menatapku dengan pandangan harunya. Aku tahu dia ingin sekali menenangkanku saat ini, ingin memelukku tapi ada yang lebih penting dari sekedar menenangkanku. Yaitu segera menguburkan Ayahku.


Ummi yang berada di sampingku memelukku. Aku kembali menangis. Ummi menenangkanku dan mengatakan bahwa Ayahku meninggal di hari yang istimewa dan dalam keadaan yang husnul khatimah.


InsyaAllah, Allah akan memberikan surga untuk ayahku. Aku mengamini do'a ummiku dengan deraian air mataku.


Setelah pembacaan tahlil ayahku siap dimandikan. Aku merasa tersanjung dengan Abi mertuaku. Beliau bahkan menitikan air matanya melihat sahabat karibnya pergi meninggalkan dia terlebih dahulu.


Beliau seorang Kiyai besar tapi dengan kerendahan hatinya dia ikut membopong ayahku untuk dimandikan.


Ada Mas Naufal dan Gus Alvin yang membantu. Tiga orang yang pintar ilmu agamanya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Suami yang menjadi idaman setiap wanita.


Tahap selanjutnya setelah dimandikan yaitu dikafani masih dengan tiga orang yang sama yang mengerjakannya. Ini sebagai rasa bakti mereka yang terakhir kalinya.


Abi mertuaku menyuruhku dan Mas Naufal untuk mencium ayahku yang terakhir kalinya. Mas Naufal mencium kening ayah dengan lama. Air mataku mengalir begitu saja melihatnya.


Tiba di giliranku. Aku memandangi wajah pucat ayahku. Menyentuh pipinya, lalu mencium kening dan kedua pipi ayahku. Ciuman yang sangat berbeda dengan ciuman tadi pagi. Ciuman dengan ayah yang masih hidup dan sekarang aku mencium jazat ayahku.

__ADS_1


Memang benar karena sejatinya umur manusia hanya Allah yang tahu.


Mas Naufal meminta Abi mertuaku yang menjadi imam sholat tapi Abiku menolak dengan alasan ayahku akan lebih senang dan bangga jika anaknya sendiri yang menjadi imamnya.


Aku mengantar ayahku sampai ke peristirahatan terakhirnya. Melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana tanah itu perlahan mulai menutupi lubang kuburan ayahku dan akhirnya menutup sempurna menjadi sebuah gundukan dan sebuah papan nama yang tertulis nama ayahku dan tanggal lahirnya beserta hari wafatnya.


Setidaknya aku memberikan kado terindah untuk ayahku di hari terakhirnya. Setidaknya dia tahu putri kesayangannya sedang hamil.


Gus Alvin menghampiriku berjongkok di sampingku dan merangkulku.


"Saya masih mau disini, kalian bisa pulang lebih awal." Kataku pada mereka. Mereka mengerti dan satu persatu mereka pergi.


Mas Naufal mencium keningku. "Jangan lama-lama." Katanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Gus, tolong jaga Nadia." Pinta Mas Naufal.


"Itu memang sudah tugas saya." Ucapnya menggemgam tanganku erat.


"Kita ngaji lagi yaa." Ucap Gus Alvin dan aku hanya bisa mengangguk dengan air mata yang tidak mau berhenti keluar.


Betapa beruntungnya aku mempunyai suami seperti dia. Suami yang bisa menjadi imam yang tidak di dunia saja tapi di akhiratnya kelak.


Aku melihat pada jarinya. Dia tidak memakai cincin sama sekali. Baik dari cincin pernikahnanya dengan mbak Anisa atau dengan cincin pernikahannya denganku. Gus Alvin memutuskan untuk tidak memakai kedua-duanya.


Aku tahu dia memang suami yang bisa berlaku adil.


Tapi, rasa egois di hati kecilku pasti ada. Rasa untuk menjadi satu-satunya pasti ada. Tapi, aku tidak mungkin menyakiti wanita sebaik dan selembut mbak Anisa. Dia sudah mengalah demi aku, haruskah aku yamg mengalah untuk nya saat ini. Bahkan untuk selamanya.


Ketika aku sudah tidak punya alasan untuk mempertahankan pernikahan ini.


Secinta apapun aku pada Gus Alvin. Tetap saja aku tidak mungkin memilikinya seutuhnya. Dia tidak bisa membalas rasa cintaku dengan kadar yang sama. Dia hanya memberiku hatinya dengan separuh. Separuh satunya untuk mbak Anisa.

__ADS_1


Dia memiliki Dua Hati tidak Satu Hati.


Aku melihat pada papan nama kuburan ayahku. Ayah, maaf jika suatu saat nanti ayah sedih melihat Nadia yang membuat keputusan yang di benci oleh Allah tapi Allah juga  memperbolehkannya.


"Kamu tahu Nadia, saya sakit hati melihatmu menangis seperti ini. Tanggung jawab saya untuk membahagiakanmu bertambah besar. Saya ingin kamu bahagia. Saya ingin melihatmu tetap tersenyum dan ceria lagi nantinya meskipun sudah tidak ada ayah lagi.


Saya akan berusaha membuatmu bahagia." Kata Gus Alvin menggemgan kedua tanganku. Dia menatapku tepat pada kedua mataku. Lalu memelukku.


"Saya ingin memelukmu dari tadi, ingin menenangkanmu dari tadi tapi menyegerakan orang yang sudah meninggal untuk segera dikuburkan itu lebih baik." Ucapnya dengan mengelus punggungku halus.


"Kamu jangan berpikir tidak ada yang menjagamu lagi Nadia. Ada saya yang akan menjagamu. Ayah sudah menitipkan kamu pada saya. Dan saya akan memegang janji saya." Ucapnya dengan pelukan eratnya. Aku memeluknya dengan isakan tangisku yang tidak bisa aku hentikan.


Gus Alvin melepas pelukannya melihat pada wajahku dengan seksama. Menghapus air mataku. "Saya sakit hati melihatmu menangis seperti ini. Saya merasakan sakit yang tidak terkira disini." Ucapnya yang membawa tanganku pada dadanya.


Dia lalu mencium kedua tanganku. Menatapku yang masih sesegukan. Dia tersenyum hangat padaku. "Kita pulang yaa." Ujarnya lembut.


Ketika aku berjalan pulang aku melihat seorang pria yang sempat aku lupakan. Seorang pria yang masih dengan pakaian yang sama dari sholat Jum'atnya tadi.


Dia Ibram.


Dia mengawasiku dari jauh, dia menjagaku dari jauh dan dia mencintaiku dari jauh juga. Dia tersenyum padaku. Sedikit menundukan kepalanya seolah-olah dia pamit karena sudah selesai ikut menjagaku disini.


Jauh di dasar hatiku, aku tersentuh dengan cara Ibram mencintaiku. Dia benar-benar menjaga batasannya.


Dia memang tidak seperti Gus Alvin. Tapi ada sesuatu yang membuatnya melebihi Gus Alvin.


Ibram memberikan seluruh hatinya padaku. Itu yang membuat dia berbeda dengan Gus Alvin.


"Nadia, ayo pulang." Ucap Gus Alvin dengan menarik tanganku dan digemgamnya sampai kami tiba di mobil kami. Dia juga membukakan pintu untukku.


Kenapa setiap Gus Alvin bersikap manis padaku, aku selalu berpikir bahwa dia juga melakukan hal yang sama pada mbak Anisa.

__ADS_1


Hal yang membuat hatiku teriris.


Aku ingin seorang pria yang hanya aku seorang yang di perlakukan spesial seperti ini.


__ADS_2