Fake Face

Fake Face
Lagi dan Lagi


__ADS_3

Indira terduduk lemas di salah satu bilik toilet. Tangannya meremas kuat ujung roknya. Ingin sekali ia menjerit, menjerit sekuat-kuatnya seperti orang kesurupan.


Tapi itu semua tidak di lakukan Indira, sekarang ia hanya bisa menangis diam-diam.


"Eh, kalian udah denger gosip terpanas belum?" Sebuah suara di luar sana mengagetkan Indira.


"Gosip apa emangnya?" Tanya seseorang yang lain.


"Yang gue denger sih, katanya kak Silla nampar Indira anak kelas sebelah" Jawabnya.


"Kok bisa?"


"Entah, katanya sih kak Silla kesel aja gitu lihat muka Indira yang sok polos itu"


"Ya ampun, kasian banget Indira" Ujar gadis yang bersuara lembut, dari suaranya ia tampak sedikit prihatin.


"Wah, besok-besok gue gak bakalan terkejut lagi kalau denger hal-hal tentang Indira" Papar seorang gadis yang satu lagi.


"Hahahaha" Lalu mereka tertawa bersama-sama, tidak lama kemudian mereka pergi meninggalkan toilet.


Selang beberapa menit Indira memberanikan diri keluar dari bilik, setelah meyakinkan bahwa tidak ada orang di luar sana. Indira pun keluar. Menuju washtafel.


Indira membasuh kasar wajahnya, kemudian menatap cermin yang ada di depannya. Bisa Indira lihat, memar bekas tamparan itu masih terlihat jelas.


Perlahan air mata Indira kembali menetes.


'Apa salahku? " Batin Indira sambil mengelus pelan pipinya.


Setelah satu menit merapikan rambutnya yangs sdikit berantakan, Indira akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas.


"Hey" Sapa seseorang saat Indira baru saja keluar dari toilet.


Indira tampak terkejut saat seorang cowok tiba-tiba menghadang jalannya.


Indira menatap datar kearah cowok itu, cowok yang tak lain adalah si biang kerok dari semua kesialan yang menimpa kehidupan sekolah Indira. Andra.


"Lo nangis?" Tanya Andra saat melihat mata sembuh milik Indira. Kemudian tanpa permisi menarik tangan Indira agar ikut dengannya masuk kedalam lagi. Detik selanjutnya Andra langsung mengunci pintu.


Indira hanya diam, malas menjawab pertanyaan tidak penting dari Andra.


"Eh, Gue nanyak lo" Andra mencengkram kuat bahu Indira.


"Sakit" Indira meringis pelan.


"Makannya jawab!" Bentak Andra.


"Iya aku nangis" Jawab Indira sedikit menjerit.


"Bicaralah yang sopan pada senior mu!" Ujar Andra tak kalah kuat.


"Hiks, apa salahku?" Tanya Indira yang kini mulai menangis lagi.


"Kenapa kalian begitu jahat, terutama kakak?" Indira menjambak kuat rambutnya, dia sudah sangat frustasi dengan keadaannya.


"Hentikan!" Andra menarik tangan Indira. "Jangan menyakiti dirimu sendiri" Ujarnya lembut, mencoba menennagkan Indira.


"Ini kan yang kakak mau? lihat aku menderita" Teriak Indira, kemudian dengan cepat ia berjalan menuju pintu, tak kuat lagi rasanya ia berlalu-lama dengan cowok ini.

__ADS_1


"Dira" Andra tiba-tiba memeluk Indira dari belakang.


"Lepasin aku kak!" Indira mencoba memeberontak.


"Diam" Perintah Andra.


"Lepasin"


"Diam gak!" Bentak Andra lagi. "Atau gue bakalan cium lo" Lanjut nya sambil memutar tubuh Indira agar menghadap ke arahnya.


Sontak Indira langsung terdiam. Dia masih waras, dan dia tidak akan mau jika cowok ******** ini sampai menciumnya.


"Maafin gue" Andra mengelus pelan rambut Indira. Kemudian memeluknya lagi, namun lebih erat.


"......" Indira hanya diam. Ia sudah sangat lelah untuk melawan lagi.


°~°


Indira melangkah pelan saat memasuki rumahnya. Sejenak ia memandangi ruang tamu yang begitu luas, tampak mencari seseorang.


Setelah di rasa aman, Indira sedikit berlari menuju ke lantai atas.


"Ekhm" Sebuah suara mengejutkan Indira.


Indira menghentikan langkahnya saat baru menapaki anak tangga pertama. Kemudian menoleh takut-takut ke arah belakang.


"Eh mama" Ujar Indira sedikit gugup.


"Kamu kenapa sih ra? kayak takut gitu lihat mama" Mama menghampiri Indira.


"Hehehe, gak kok ma" Indira cengengesan gak jelas.


"Gak kenapa-kenapa kok ma" Indira tersenyum simpul.


"Trus kok bisa kayak gini?" Tanya mama lagi.


"Emmm" Indira tampak sedikit berpikir. "Tadi tuh aku main bola basket, trus gak sengaja teman aku ngelempar bola ke wajah aku ma" Jawab Indira yang tentunya sedang berbohong.


Mama memicingkan matanya, antara percaya dan tidak terhadap anaknya ini.


"Emm, kalau gitu aku mandi dulu ya ma" Indira langsung melangkah cepat menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Indira langsung merbahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Indra kemudian menatap langit-langit kamarnya.


'Kesalahan apa yang aku buat di kehidupan sebelumnya, sampai-sampai aku begitu sial' Batin Indira.


Indira mengingat-ingat lagi kehidupan di awal-awal masuk SMA dulu.


Tidak banyak yang Indira ingat, karna Indira tipikal orang yang mudah lupa akan sesuatu.


Yang ia ingat dulu saat kelas satu SMA kehidupannya begitu damai. Tidak ada yang membullynya dan dia juga punya teman yang lumayan banyak.


Namun saat di semester awal kelas dua ini, Indira mendapat musibah saat ia tidak sengaja menabrak seorang senior. Senior yang sangat terkenal dengan sikap buruknya itu.


Indira sudah minta maaf berkali-kali, namun pembullyan lah yang ia dapat.

__ADS_1


Dan mulai dari situlah teman-temannya menghindar. Sebenarnya mereka ingin membantu Indira, tapi merka juga takut kalau seandainya nanti mereka ikut terkena bully.


"Andra" Bisik Indira pelan. Perlahan mata Indira mulai memanas lagi, dan tidak lama buliran air mata pun turun.


Drrrtt, drrrtt.


Getaran yang di iringi nada nyaring iru membuat Indira langsung melihat hpnya. Dan melihat sebuah nama Artha tertera di panggilan masuk.


"Hey ada apa?" Tanya Indira pada seseorang di sebrang sana.


"Kau baik-baik saja? " Tanya Artha.


"Memang nya aku kenapa tha?" Tanya Indira seolah-olah ia tidak tahu ke arah mana pembicaraan Artha.


"Kau pikir aku tidak tau? lihat saja saat nanti kalau aku sudah pulang dari Bali" Ujar Artha sedikit kesal.


"Aku gak apa- apa ko tha, kamu gak perlu khawatir" Indira tersenyum, walaupun ia tau Artha tidak bisa melihat senyumnya.


"Hah, yasudah" Artha terdengar menghela napas kasar.


"Mmm, udah dulu ya"


"Ok, Jaga diri baik-baik ya!" Pesan Artha kemudian memutuskan sambungan telpon.


Indira sejenak melupakan lelahnya. Senang rasanya saat masih ada orang yang perduli dengan dirinya. Artha, cowok itu sangat balik pada Indira.


Entah sejak kapan Indira dan Artha jadi dekat.


Tapi Indira dan Artha tidak bisa berdektan saat di sekolah, Indira yang meminta Artha agar menjauhi nya saat di sekolah. Indira sngat takut jika Artha juga akan menjadi bahan bullyan seperti dirinya.


Awalnya Artha menolak, kenapa rupanya kalau dia juga menjadi bahan bullyan. Tapi, I dira memohon sampai menangis.buat Artha akhirnya mau tak mau meng iyakan permintaan Indira. Sungguh Indira tidak ingin melihat cowok yang ia sukai ikut di bully juga.


Ya, Indira memang diam-diam menyukai Artha.


Indira kembali menatap langit-langit kamarnya. Ingin sekali ia pergi dari kehidupan ini, namun ia masih sadar, akan ada orang yang sangat sedih saat ia pergi nanti.


Perlahan Indira menggerakkan jemarinya untuk membuka aplikasi poto di hpnya.


Kemudian mulai mensecrol kebawah poto-poto itu. Mencari wajah orang yang sangat ia rindukan.


Jari Indira berhenti bergerak saat terlihat sebuah poto seorang gadis yang tampak seumuran dengannya.


Indira menatap sendu poto itu.


"Hey, aku berbohong saat aku mengatakan kalau aku tidak merindukanmu" Indira mulai menangis lagi. Cengeng, iya. Indira mengakui kalau dirinya memang sangat cengeng.


"Kapan kau datang?" Indira makin mengeraskan tangisannya.


Mungkin hanya menangis yag bisa ia lakukan sekarang ini. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi.


Tok, tok.


"Dira, kamu belum makan kan nak?" Terdengar seruan mama di luar kamar Indira.


"Iya ma bentar lagi" Sahut Indira.


"Yaudah mama mau ke supermarket bentar ya" Ujar mam lagi.

__ADS_1


"Iya"


__ADS_2