
Mata Artha tak henti-hentinya melihat gerak gerik Aile. Ia masih takjub, kenapa bisa wajahnya begitu sama.
Kini mereka tengah duduk di bangku taman dekat rumah sakit. Begitu mama datang merawat Indira, Aile langsung izin hendak keliling rumah sakit mencari udara segar.
"Kenapa kau tidak satu sekolah dengan Indira" Tanya Artha memecahkan keheningan yang sempat terjadi.
"Aku udah lulus S-1" Jawab Aile sekenanya.
"Maksud kamu?" Artha menatap Aile, meminta penjelasan."Kamu udah lulus kuliah?" Artha mengulang pernyataan Aile.
"Kok terkejut gitu?" Aile balas menatap Artha.
"Kamu kan seumuran sama aku, sama Indira juga, kok bisa?"
Aile mengetuk pelan kepalanya dengan jari telunjuknya. "Otak" Jawabnya singkat.
"Wah, kau sangat pintar Aila" Ujar Artha antusias.
"Jangan memujiku, banyak di luar sana orang yang lebih pintar" Aile memandang orang yang berlalu lalang di sekitar taman.
Tiga menit berlalu, baik Artha maupun Aile tidak ada yang bersuara. Kini mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu" Ujar Artha pelan.
"Bicaralah!"
"Ini sudah lama terjadi, tapi aku tidak tau apa kah kau sudah tau atau belum"
__ADS_1
"Maksudnya? Bicaralah yang jelas" Aile kembali menatap lawan bicara yang duduk di sampingnya ini.
"Adikmu" Artha menggantung perkataannya.
"Indira maksud mu?" Tanya Aile dengan raut wajah yang susah di tebak.
"Ya, apakah dia sudah menceritakannya padamu?" Artha malah bertanya pada Aile.
"Langsung saja, aku tidak suka dengan orang bertele-bertele" Aile menatap dingin ke arah Artha.
"Ba-baiklah" Artha menarik napasnya perlahan. Sungguh rasanya sangat berbeda berbicara dengan Aile.
Aile tampak seperti orang yang sangat mudah emosian. Berbeda dengan Indira yang lemah lembut. Padahal mereka kembar, setidaknya ada gitu yang sifat yang mirip antara mereka berdua, pikir Artha.
"Indira menjadi bahan bullyan di sekolah" Ucap Artha dalam satu tarik napas. Artha tidak berani melihat Aile, rasanya ia akan mati kalau menatap mata Aile yang berwarna coklat. Ah, Artha tau sekarang. Indira mempunyai bola mata yang sangat hitam. Sedangkan Aile matanya berwarna coklat gelap.
"Indira di bully di sekolah, kurang jelas?" Artha menatap kesal Aile. Otak Aile ternyata tidak secerdas itu.
"Kok bisa?"
"Hah, semua bermula dari...." Artha pun kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Indira.
Sungguh pernyataan dari Artha membuat air mata Aile tidak dapat di bendung. Mengalir begitu deras di kedua pipi mulus Aile. Kakak mana yang tidak akan menangis saat mengetahui bahwa kehidupan sekolah adiknya tidak berjalan mulus. Bahkan Adiknya menjadi bahan Bullyan di Sekolahnya. Mendengarnya saja, Aile tidak sanggup. Apalagi melihatnya langsung.
"Kau benar-benar tidak tau?" Tanya Artha saat dilihatnya Aile menangis tersedu-sedu.
Aile hanya menggeleng pelan. Yang Artha lihat kini, berbeda dengan Aile yang tadi. Aile yang sekarang tampak sangat rapuh, mungkin sesedih itu rasanya mengetahui bahwa orang yang sama-sama satu rahim dengannya, harus menjalani kehidupan yang menyedihkan.
__ADS_1
Artha mencoba mengelus pelan pundak Aile, mencoba menenangkan. Biasanya Indira akan lebih tenang saat ia melakukan ini.
"Singkirkan tanganmu" Aile menepis kasar tangan Artha.
"Ah, maaf" Ujar Artha sambil menarik kembali tangannya. Ternyata Indira dan Aile jauh berbeda.
Kini Artha hanya diam melihat Aile yang masih sedikit menangis. Mungkin dengan diam dia tidak akan terkena masalah.
"Lihat saja akan kutampar wajah cewek itu sampai tidak berbentuk lagi" Aile geram pada Artha.
"Aku juga ingin sekali melakukan itu, tapi kau tau? Indira tidak pernah mengizinkanku" Papar Artha.
"Kau yang salah, bukan Indira. Teman macam apa kau, diam saja saat melihat temannya sendiri sedang di bully" Aile menatap Artha penuh ketidak sukaan.
Artha diam, Aila ada benarnya. Seharus nya ia tidak mengikuti permintaan bodoh Indira. Kenapa rupanya kalau dia juga ikut di bully. Artha laki-laki. Dia bisa dengan mudah melawan orang yang membullynya. Ternyata selama ini dia tidak pernah bersikap layaknya teman yang baik. Artha memejamkan matanya. Merutuki kesalahannya.
"Kalau gitu bantu aku" Aile tiba-tiba berdiri.
"Bantu apa?" Tanya Artah yag juga mengikuti langkah Aile yang sudah mulai masuk kembali ke bangunan rumah sakit.
Aile hanya tersenyum singkat pada Artha.
Lihat saja mereka, enak sekali mereka berbuat seperti itu pada adiknya.
Aile bukanlah gadis yang punya sifat baik-baik atau semacamanya. Ingat. Aile mempunya daya ingat yang cukup kuat. Dia tidak akan melupakan ini sampai ia mati nanti. Lihat saja apa yang akan Aile lakukan kepada orang-orang yang sudah menyakiti adiknya. Mungkin tidak akan terlalu buruk seperti yang mereka lakukan pada adiknya.
Tapi mereka akan terus ingat ini sampai merka tu nanti. Aile tersenyum sinis saat Membayangkan bagaimana pembalasannya nanti.
__ADS_1