Fake Face

Fake Face
Maaf


__ADS_3

Aile merasakan air matanya jatuh tanpa permisi terlebih dahulu. Dengan cepat Andin menghapusnya sebelum ada yang melihat. Saat ini hanya ada dirinya sendiri di ruangan ini. Ruangan yang menjadi tempat perawatan Indira. Sudah jalan empat minggu Indira belum menunjukkan tanda-tanda sadar dari koma nya.


Aile mengelus pelan tangan Indira. Dia sangat merindukannya, walaupun ia tidak pernah mengakataannya langsung pada Indira. Mereka tidak pernah mau mengungkapkan perasaannya mereka antara satu dengan yang lainnya.


"Aku merindukanmu ra" Aile mencium lembut tangan Indira.


"Eh anak mama udah dateng?" Seru mama yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya ma" Ujar Aile sambil tersenyum tipis.


"Kok gak panggil mama tadi?" Tanya mama.


"Gak apa" Jawab Aile datar. "Ma aku keluar cari angin dulu ya"


"Loh kamu kan baru datang, kok udah keluar lagi?" Protes mama.


"Mmmm" Aile bergumam pelan lalu keluar begitu saja dari ruangan itu, menghiraukan panggilan mamanya.


Entahlah dia juga sedang merasa tidak enakan hari ini. Tidak tahu juga kenapa. Aile tidak tahu mau kemana. Tapi, tanpa sadar kakinya sudah membawanya ke ruang operasi ibunya Andra.


Andra menolehkan kepalanya saat menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya. Sedikit terkejut dengan yag ia lihat. Indira, ngapain juga dia di sini? Mau menagih hutang nya?


"Lo mau?" Aile menyodorkan coklat pada Andra.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Andra, Aile melempar coklat itu ke pangkuan Andra.


"Maksud lo apa ngasih gue ini?" Andra memegang coklat pemberian All.


"Katanya, coklat bisa buat mood jadi baik" Jawab Aile tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kenapa lo kasih ke gue?" Tanya Andra basa-basi.


"Menurut lo?" Tanya Aile balik sambil memandang Andra jengkel.


"Oooo" Andra menundukkan kepalanya, melihat coklat yang Aile berikan padanya. "Lo gak naruh racun di sini kan?"

__ADS_1


Aile menatap coklat yang ia berikan tadi. "Kalau lo mau tau, makan aja!" Jawabnya, kemudian beralih memainkan hp nya.


"Makasih" Ujar Andra tulus.


"Untuk apa?"


"Atas bantuan lo, kalau lo gak bantu gue. Gue gak tau apa yang akan terjadi sama nyokap gue" Andra terus menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat malu pada Indira.


"Mmmm ok" Jawab Aile singkat.


"Beri gue waktu tuk bayar hutang gue" Papar Andra lalu memandang wajah datar Aile.


"Lo gak perlu bayar" Ujar Aile singkat, masih fokus memainkan hp nya.


"Tapi gue gak mau hutang budi sama lo" Andra sedikit kesal denga tingkah cuek nya Indira.


"Oh, kalau itu. Lo cuma harus minta maaf terus gak gangguan gue lagi" Aile tersenyum simpul menatap Andra.


"Lo?" Andra kehabisan kata-katanya, Indira merelakan uang puluhan juta hanya untuk kata maaf darinya?


"Ya?" Tanya Aile sambil menaikkan alisnya. Menunggu Andra melanjutkan kata-kata nya.


"Jangan minta maaf sama gue" Ujar Aile sambil menatap tajam Andra.


"Jadi?" Tanya Andra tak mengerti.


"Nanti gue kasih tau" Aile kembali fokus pada hp nya.


Andra tampak memperhatikan Aile, terlihat jelas bahwa Indira yang ia kenal dulu berbeda dengan yang sekarang. Entah kenapa, ia lebih menyukai sikap berani Indira yang sekarang dari pada yang dulu.


"Lo banyak berubah ya" Ujar Andra sambil memandang Aile intens.


Aile hanya diam, bukan berubah. Memang dia bukan lah Indira. Indira yang baik dan lemah lembut itu, sekarang tengah koma. Belum sadar kan diri. Hah, ketika wajah Aile tampak sedih.


Andra merasa ada yang mengganjal di hatinya, saat melihat perubahan wajah Indira. Entah lah belakangan ini ia selalu merasa seperti itu jika berdekatan, atau bahkan sedang memikirkan Indira.

__ADS_1


"Maaf ya gue-" Andra menghentikan perkataannya ketika Aile memandangnya dengan tajam.


"Udah gue bilang kan simpen dulu maaf lo untuk nanti" Bentak Aile kesal. Andra ini sebenarnya mendengerkan ia bicara tadi gak sih. Kok nyebelin banget.


"Lo yang sekarang lebih emosian" Kata Andra sambil tersenyum pada Indira. Sungguh, tiba-tiba dia menyukai momen berbicara berdua saja dengan Indira.


"Jadi lo mau gue pendiam kayak dulu, biar lebih enak lo bully? " Tanya Aile sedikit ngegas.


"Buka gitu ra" Sergah Andra, bukan itu juga maksudnya.


"Jangan panggil-panggil nama gue dengan mulut busuk lo itu" Cibir Aile memandang Andra sinis.


Andra terdiam mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Indira. Apa tadi ia tak salah dengar saat Indira mengatakan kalau ia pernah membully nya. Apakah ini artinya ingatan Indira sudah kembali?


"Ingatan lo udah kembali ra, jadi nya lo inget-inget waktu gue bully lo dulu" Andra menutup wajahnya. Hah, entah apa yang merasukinya dulu, sampai-sampai harus membully Indira. Tapi entah kenapa seperti ada dorongan yang begitu besar sampai-sampai ia ingin sekali melihat Indira terus-terusan tersakiti dan menangis.


"Gue enggak lupa semuanya" Jawab Aile asal. Ia sudah ingin pergi dari sini, tapi tidak kunjung ia lakukan. Tubuhnya seakan-akan menahannya agar lebih lama bersama dengan Andra. Aile membenci saat-saat seperti ini.


Aile memaksakan dirinya pergi saat mama mengirimkan nya pesan. Menanyakan, kenapa lama sekali di luar.


"Ra!" Panggil Andra ketika Aile sudah beranjak meninggalkannya.


Aile menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang. Seakan menunggu apa yang hendak di katakan Andra.


"Sekali lagi terima kasih" Ujar Andra.


Aile tersenyum tipis, tanpa membalas perkataan Andra dia pun pergi.


"Terima kasih banyak ra" Bisik Andra pelan. Kemudian menatap pintu rumah operasi yang baru saja terbuka.


Wajah dokter Han tampak berbinar, dan menganggukkan kepalanya. Menandakan kalau operasi ibunya Andra berjalan lancar.


Andra menghampiri dokter Han dan memeluknya. Ia seperti melihat sosok saudara laki-laki pada diri dokter Han yang sudah banyak membantunya. Kalau tidak ada dokter yang yang dengan murah hati tidak meminta bayaran pada Andra, mungkin ia sudah kehilangan penyemangat hidupnya.


Dan operasi kali ini juga tidak akan terjadi kalau Indira tidak membantunya.Bahkan Indira mau membantu dirinya yang sudah membuat masa-masa SMA nya menjadi buruk.

__ADS_1


Andra berjanji, tidak akan mengulangi ke salahannya lagi pada Indira yang sekarang. Walaupun Indira yang sekarang tampak lebih kuat dan angkuh. Karena dengan perantaran Indira lah ibunya bisa di selamatkan.


"Terima kasih tuhan" Bisik Andra yang masih memeluk dokter Han.


__ADS_2