
Aile menyantap makanannya dengan lahap, tidak menghiraukan orang-orang yang tengah menatap nya heran. Tidak biasanya Aile makan selahap ini. Entahlah dia juga tidak tahu kenapa.
"Wah, aku salut sama kamu ra" Rista menatap Aile penuh semangat
"Iya aku juga gak nyangka" Tambah Anyuta yang tak kalah antusias.
"Ada apa emangnya?" Tanya Aile yang masih fokus dengan bakso yang ia makan.
"Itu loh pas kamu dorong kak Silla tadi" Jawab Fika lembut.
"Oh itu" Aile mengelap bibirnya dengan tisu saat sudah melahap habis makanannya.
"Entah, aku pun gak tau. Kesel aja gitu lihat muka kakak itu" Aile tampak tersenyum kecut. Sebenarnya tadi itu memang di sengaja sama Aile. Tapi gak mungkin kan dia bilang kalau dia ngelakuin itu karena tuh cewek sering nyakitin adik dia. Aile masih ingin buat perhitungan dengan orang-orang jahat itu, dia gak mau kalau sampai rahasianya terbongkar secepat ini.
"Tapi bagus ra, kami seneng lihat kamu udah gak takut lagi sama kak Silla" Fika menggengam lembut tangan Aile. Aile melihat tangan yang di pegang Fika, entah memang perasaannya saja atau memang betulan si Fika ini suka banget pegang-pegang tangan Aile. Tapi Aile tidak mencoba melepaskan tangan Fika, rasanya ada perasaan yang mengalir hangat saat Fika memegang tangannya.
"Emang biasanya aku gimana sama kakak ity?" Tanya Aile seolah-olah penasaran. Hanya ingin mendengar cerita versi teman-teman barunya ini.
"Emmmm" Anyuta tampak melirik Fika sebentar, ingin bertanya pendapat. "Besok-besok aja lah ra kami ceritain, kamu kan masih baru sembuh. Jadi harus gak boleh banyak pikiran dulu. Ujar Anyuta sambil menepuk-nepuk pelan pundak Aile.
"Udah siap belum makannya aku mau balik ni?" Tanya Artha yag barusan siap membayar makanan mereka.
"Yaudah yuk, aku juga udah kenyang" Aile bangkit dari duduk nya. Yang di ikuti Rista, Anyuta dan Fika.
"Makasih lo Tha traktirannya" Ujar Rista sambil tersenyum malu-malu. Audi melihat curiga Rista yang memang dari tadi curi-curi pandang dengan Artha.
"Iya makasih juga tha" Sahut yang lainnya.
"Iya inikan menyambut kepulangan Ai,eh" Artha sontak menutup mulutnya saat hendak menyembutkan nama Aile, Aile hanya mencubit pelan Artha. "Menyambut kepulangan Indira" Ucap Artha senang.
"Kapan-kapan traktir lagi ya tha" Ujar Anyuta sambil cengengesan. Dasar, sama yang gratis an aja semangat.
__ADS_1
"Ok-ok" Jawab Artha singkat.
"Eh kalian balik kelas aja dulu, aku sama Artha ada urusan sebentar" Aile menghentikan jalannya yang sudah hampir mendekati kelas mereka.
"Cie, mau berdua-dua an ni ye" Anyuta bersorak-bersorak.
"Hahaha" Aile hanya membalas dengan tawa garing sambil melirik sekilas melihat Rista yang ekspresi wajahnya sudah berubah masam.
"Yaudah kalau gitu kami luan ya, jangan sampai telat masuk kelas" Fika mendirng bahu Anyuta dan Rista agar segera masuk ke kelas.
"Emmm emang mau ngapain Ai?" Tanya Artha saat Anyuta dan teman-teman nya sudah masuk ke dalam kelas.
"Ck, jangan panggil aku Ai, panggil Indira" Aile menepuk kuat bahu Artha.
Artha mengaduh pelan, ternyata tenaga Aile sangat kuat. "Iya- iya maaf" Artha mengelus pelan pundaknya.
"Yaudah temenin aku lagi keliling-keliling sekolah!" Aile berjalan lebih dulu meninggalkan Artha.
Artha mengejar langkah Aile. Selama perjalanan Artha hanya menjawab kalau Aile bertanya, selebihnya dia haya diam. Artha selalu merasa segan saat berdekatan atau berbicara dengan Aile, tapi mau tak mau mereka memang harus saling berdekatan kan? kalau tidak bagaimna dengan misi merka untuk membuat perhitungan dengan Andra dan Silla.
"Heheheh" Artha cuman cengengesan gak jelas. Untung aja ganteng Artha ganteng, jadi mau muka nya di gimanain juga tetap ganteng. Wkwkwk.
"Lo suka kemari gak?" Aile melihat-lihat buku yang tengah berjajar rapi di rak buku.
"Jarang sih, karena aku kurang suka baca" Jawab Artha sambil terus mengikuti langkah Aile.
"Mulai sekarang kamu harus sering-sering ke perpus" Aila menatap Artha sambil tersenyum manis.
"Kenapa gitu?" Artha sedikit bingung dengan perkataan Aile.
"Karna, aku suka ke perpus" Aile tertawa pelan saat melihat wajah Artha yang berubah jadi kesal.
__ADS_1
"Yaudah besok-besok aku tunggu kamu di depan aja males masuk kedalam gak bisa ribut" Artha berbisik pelan di telinga Aile, membuat Aile merinding seketika mendengar suara Artha yang terdengar sangat lembut di telinganya.
"Sana jauh-jauh!" Aile mendorong Artha agar menjauh darinya, tiba-tiba saja wajah Aile menjadi merah padam menahan malu.
"Kenapa sih?" Artha hanya cekikikan gak jelas, dia tau Aile pasti terpesona dengan suara lembutnya. Jarang-jarang lo Artha bersikap seperti itu, bahkan dengan Indira saja dia tidak pernah.
"Suara kamu itu, buat orang merinding" Aile menatap tajam Artha,sambil mengelus lembut tengkuknya.
Entah kenapa Artha merasa tatapan Aile tidak setajam saat pertama kali ia bertemu dengan nya, sekarang rasanya tatapan Aile lebih bersahabat dari yang sebelumnya.
"Hahahaha" Artha hanya tertawa saat Aile memukulnya dengan buku yang barusan ia ambil.
"Udah ah!" Aile pergi meninggalkan Artha. Untuk melihat-lihat buku yang hendak ia cari.
"Eh tunggu!" Artha mengejar Aile.
"Wah gak di sangka ya ternyata kalian pacaran" Sebuah suara mengejutkan Aile dan Artha yang tengah sibuk memilih buku yang sedang di cari Aile.
Aile dan Artha menatap cowok yang berdiri di belakang mereka. Aile sedikit terkejut melihat ke hadiran Andra, tapi dengan cepat ia menutupi rasa terkejutnya.
"Kami gak pacaran kok, cuman lagi cari buku" Ujar Aile santai tanpa melihat Andra yang tengah menatap nya. Setelah pertemuan tadi pagi di kantin. Artha langsung memberi tau kalau dialah Andra. Si biang kerok.
"Huh, buktinya kalian berdua an terus tuh" Andra sedikit kesal pada Aile yang dengan enteng nya menjawab perkataannya.
"Suka-suka kami dong" Aile menatap Andra dengan tatapan tak sukanya.
"Lo?" Andra menunjuk Aile dengan telunjuknya.
Aile memukul kuat tangan Andra yang menunjuknya tadi, membuat Andra menggeram marah pada nya. "Jangan tunjuk-tunjuk gue pakek tangan lo ini!" Aile menatap tajam Andra.
"Udah berani ya lo" Andra balas menatap Aile dengan tajam.
__ADS_1
"Ck, yuk Tha balik. Bentar lagi bel masuk" Aile menarik Artha yang sedari tadi hanya bengong lihatin perdebatan Aile dan Andra.
Andra hanya menatap kesal ke pergian Indira, tidak tau entah kemana hilangnya keberanian Andra untuk memarahinya, atau memojokkannya. Andra merasa tiba-tiba saja keberanian nya hilang saat ia berhadapan langsung di depan Indira yang sekarang.