Fake Face

Fake Face
Kita Sama


__ADS_3

Seorang gadis muda berlari kencang melewati lorong-lorong rumah sakit. Pipinya mulai basah karena air mata yang terus-terusan mengalir.


Wajahnya begitu panik hingga tampak pucat. Saat ini tak ada lain yang ia pikirkan kecuali menemui orang yang sangat ia sayangi. Orang yang sedang di rawat di rumah sakit ini.


Kreekk.


Gadis itu langsung membuka salah satu pintu kamar VIP. Matanya menatap nanar kearah orang yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


"Aile" Panggil seorang wanita paruh baya saat gadis yang di panggil Aile itu masuk ke ruangan.


"Ma.." Aile tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tangannya langsung pecah saat wanita yang ia panggil mama itu memeluknya.


"Kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya Aile di tengah-tengah tangisannya.


"Sabar lah Ai, Dira tidak apa-apa" Mama membelai lembut puncak kepala Aile.


Aile kemudian melepaskan pelukannya, beranjak melihat Indira. Adik yang sangat ia sayangi.


"Hey, apakah ini caramu untuk membuatku menemuimu?" Tanya Aile pada Indira yang masih tak sadarkan diri.


Aile menatap miris keadaan Indira, banyak alat-alat bantuan yang terpasang di sekitar tubuhnya. Kepalanya juga di penuhi oleh lilitan perban, tangan kiri dan kaki kirinya juga ikut di perban, ada kemungkinan tulangnya patah?


Aile masih tidak terima dengan kecelakaan ini. Kenapa harus adiknya, kenapa tidak dirinya saja?


Tuhan tidak adil, pikirnya. Kenapa dari dulu hanya adiknya saja yang mengalami hal seperti ini?. Kenapa dirinya tidak. Ingin sekali ia sekarang menggantikan posisi adiknya yang sedang terbaring tak berdaya seperti ini.


"Bangun lah ra! aku sudah datang" Aile mengelus pelan tangan Indira yang sedang terpasang selang infus.


"Papa mana ma?" Tanya Aile saat tersadar papanya tidak ada di sini.


"Sebentar lagi papa pulang dari kantor Ai" Mama berjalan menghampiri Aile yang tengah duduk menatap Indira.


"Harusnya aku pulang lebih cepat semalam" Keluh Aile sambil merapikan rambutnya yang tengah menutupi pandangannya.


"Tidak apa Ai, kan ada mama disini" Mama menarik kursi dan ikut duduk di samping Aile.


"Huh, maafin Aile ma, gak selalu ada di samping mama dan Dira" Aile menatap sendu ke arah mama.


"Kan mama udah bilang gak apa-apa Ai" Mama mengecup pelan pipi Aile.


Aile memeluk mama lagi, kali ini lebih erat.


"Ekhm" Sebuah dehaman mengangetkan Aile dan mama.


"Papa?" Aile berlari menghampiri papa dan langsung memeluknya.


"Papa sangat merindukan mu Ai" Papa membalas pelukan Aile.


"Aku juga pa" Aile makin mengeratkan pelukannya.


"Kapan kau sampai?" Papa melepaskan pelukannya. Menatap Aile sambil tersenyum.


"Baru saja" Jawab Aile sekenanya. Sambil membalas senyum papanya.

__ADS_1


"Kau tidak lelah?" Tanya Papa.


"Dia membuat lelahku hilang pa" Aile melemparkan pandangannya ke arah Indira.


"Apa yang menabrak Dira sudah di tangkap yah?" Tanya Aile saat pertanyaan itu terlintas di pikirannya.


"Papa sudah mengurus semuanya, kau jangan pikirkan itu" Papa mengelus lembut rambut Aile.


"Ooo" Aile lalu kembali duduk melihat Indira.


"Kenapa kau tak katakan yang sebenarnya?" Bisik mama di telinga papa.


"Sudahlah kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mobil itu, Indira yang tiba-tiba menyebrang" Balas papa sambil berbisik juga pada mama.


°~°


Sekarang sudah siang, tidak banyak yang bisa Aile lakukan. Sesekali ia melihat Indira apakah ia sudah sadar. Atau mungkin terkadang ia hanya memainkan ponselnya.


Mama sudah pulang kerumah tadi malam, Aile yang menyuruhnya. Karna mama juga harus mengurus papa yang kelelahan saat pulang dari kantor.


"Membosankan" Rutuk Aile pelan.


Kreekkk.


Pintu kamar terbuka sedikit.


"Mama" Panggil Aile tanpa melihat ke arah pintu.


"Hay" Sapa seseorang yang tadi membuka pintu.


"Siapa kau?" Tanya Aile yang kini sudah berdiri di hadapan cowok itu.


"Kau"Cowok itu menatap Aila dari atas sampai bawah.


Aile yang merasa risih di lihat seperti itu langsung menampar pelan pipi cowok itu.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Aile sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kau Aile?" Tanya cowok itu sambil mengelus pelan pipinya yang di tampar Aile.


"Tau dari mana kau?" Aile menatap tajam cowok itu.


"Ah, Indira" Cowok itu langsung berjalan menuju ke arah Indira.


Namun langkahnya terhenti karna tangannya di tarik Aile.


"Mau apa kau?" Tanya Aile dingin.


"Melihat Indira" Jawab cowok itu sedikit gugup, cowok itu tak lain adalah Artha.


"Kau temannya Dira?" Tanya Aile yang kini lebih bersahabat.


"Ya, bisa di bilang lebih dari teman" Jawab Artha sambil tersenyum manis pada Aile.

__ADS_1


"Maksudnya?" Aile menatap dingin Artha.


"Ah, bukan apa-apa" Artha memalingkan wajahnya dan melihat kembali ke arah Indira yang masih diam tidak bergerak. Hanya bernapas.


Aile hanya diam, melihat gerak-gerik Artha. Tidak ada yang mencurigakan, hanya saja Artha tampak sedih melihat Indira. Itu semua terlihat jelas dari mata Artha yang memandang sendu Indira.


"Siapa namamu?" Tanya Aile, hanya sekedar ingin tau saja.


"Oh iya kita belum berkenalan" Artha mengulurkan tangannya.


Aile menyambut hangat tangan Artha.


"Artha"


"Panggil saja aku Aile" Ujar Aile sambil tersenyum tipis.


"Kau sangat mirip dengan Indira" Ujar Artha takjub saat melihat Aile tersenyum.


"Tentu saja, kami kembar" Jawab Aile sambil mengelus lembut pipi Indira.


"Ya, Indira sering cerita tentangmu. Tapi aku tidak menyangka kalau akan semirip ini" Tutur Artha.


"Iya? Indira sering menceritakan tentang diriku?" Tanya Aile dengan sangat antusias.


Aile sangat antusias jika itu menyangkut tentang dirinya dan Indira.


"Iya benar" Jawab Artha yang juga sangat antusias.


"Ku pikir dia melupakanku" Ujar Aile pelan.


"Maksudmu?" Tanyak Artha tak mengerti.


"Tidak, bukan apa-apa" Aile tersenyum simpul.


"Tapi Aile, kau memang sangat mirip dengan Indira" Artha melihat kearah Aile dan Indira secara bergantia. Mencari perbedaan, tapi tidak ada yang berbeda dari wajah mereka. "Bagaimana cara membedakan kalian berdua?" Artha semakin bingung saja.


"Lama-kelamaan kau juga akan tau perbedaan nya" Jawab Aile seperlunya.


"Tapi.."


"Ah, kau banyak bicara" Aile memotong ucapan Artha.


"Maaf" Artha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Artha menyadari, banyak sekali perbedaan antara Indira dan Aile. Dari sikapnya saja sudah terlihat jelas, dan juga dari pandangan mata Indira dan Aile. Sangat berbeda, pandangan Aile terlihat lebih raja dan menusuk. Hanya itulah, perbedaan antara Indira dan Aile menurut Artha.


Beberapa menit kemudian hanya diam, tidak ada yang berbicara. Artha yang enggan berbicara, dan Aile yang memang malas banyak bicara di sat-saat seperti ini.


"Tapi nama panggilan kalian kenapa berbeda sekali?" Tanya Artha lagi yang masih penasaran dengan Aile yang tidak banyak bicara ini.


"Ck" Aile berdecak sebal. Kemudian menarik napasnya perlahan. "Namaku Indiara Aila, mirip kan dengan Indira. Hanya saja aku lebih suka di panggil Aile daripada Indira, itu sangat panjang" Jawab Aile panjang lebar.


Entah kenapa moodnya langsung baik saat menceritakan tentang dirinya dan Indira, walaupun itu hanya masalah nama. Tapi Aila sangat senang.

__ADS_1


"Wah sekarang kau terlihat lebih bersemangat dari pada tadi" Artha semakin antusias melihat wajah Aile yang berubah menjadi lebih ramah.


"Hmmm" Aile hanya tersenyum tipis.


__ADS_2