
Aile menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, sudah beberapa hari ia tidak tidur di kamarnya. Sedikit rindu juga. "Hah nyaman nya" Gumam Aile sambil mengelus spreinya yang lembut.
Lama dalam ke adaan telentang seperti itu membuat Aile kembali memikirkan tentang rencana awalnya. Menggantikan adiknya di sekolah.
Entah kenapa ia jadi kurang berselera lagi, dulu memang benar ia sangat berambisi untuk membalaskan dendamnya pada orang yang sudah berbuat jahat pada adik tersayangnya. Tapi sekarang, setelah ia mbantu Andra membayar pengobatan ibunya. Ia jadi semakin bimbang.
Kenapa tidak, Andra yang sekarang sudah berbeda dengan yang ia tahu dari Artha. Mungkin Andra merasa segan atau apa, karena ia telah membantu pengobatan ibunya. Itu hanya prasangka Aile saja.
Andra yang sekarang juga sudah jarang menganggu nya lagi, itu pun karena Aile sendiri yang minta.
"Hah" Aile memijit pelan pelispis nya. Kemana otak encernya saat ini? Masak urusan begini saja sudah membuatnya pusing.
Aile mengambil HP nya saat mendengar suara panggilan masuk.
Aile melihat layar HP nya, terdapat lah nama Artha di sana.
"Halo" Ujar Aile saat panggilan sudah tersambung.
"Ai, kamu lagi dimana?" Tanya Artha dari sebrang sana.
"Di rumah" Jawab Aile singkat.
"Ooo" Artha hanya ber-o pelan.
"Emang kenapa?" Tanya Aile.
"Gak ada" Artha terdengar cenegengesan di telpon.
"Trus? Kurang kerjaan banget" Cibir Aile yang haya di tanggapi denga tawa oleh Artha.
"Oke, besok aku jemput kamu ya" Ujar Artha.
"Serah, ditolak juga kamu bakalan maksa" Celutuk Aile.
"Hahahaha" Artha hanya tertawa.
"Udah ya, ngantuk" Aile langsung memutuskan panggilan, tanpa mendengar kelanjutan dari Artha.
Tut tut tut.
"Hoam" Aile menguap kecil.
"Semoga kamu cepat sembuh Ra" Setelah itu Aile langsung terbang ke dunia mimpi.
°~°
"Rajin banget bi?" Puji Aile yang baru saja sampai di meja makan.
"Hehehe, ini kan udah pekerjaan saya non" Kata bibi sambil tersenyum malu. Jarang-jarang Aile akan memuji orang, jadi hari ini ia merasa sangat beruntung. "Mau makan apa non?" Tanya bibi di samping Aile.
"Nasi goreng aja bi" Jawab Aile singkat.
Bibi langsung menyedok nasi goreng ke piring Aile, lalu meletakkannya rapat di hadapan Aile.
"Makasih" Aile tersenyum manis.
"Gak perlu sungkan non" Bibi merasa tak enak.
Aile mulai menyantap sarapannya, sedangkan bibi hanya berdiri di samping Aile, menyediakan apa-paa saja yang di butuhkan Aile.
"Papa mana bi?" Tanya Aile saat menunggu dari tadi, ternyata papanya tidak muncul-muncul.
"Tuan sudah sarapan duluan non, karena hari ini ada rapat penting" Bibi menjelaskan.
"Ooo" Aile mengelap mulutnya dengan tisu, ia sudah selesai makan.
"Kalau gitu saya pergi dulu bi" Aile tersenyum tipis lalu beranjak menuju pintu utama.
"Hati-hati non" Bibi mengekor di belakang Aile mengantar sampai pintu utama.
Begitu Aile keluar dari rumah ia langsung menatap sesosok Artha yang sedang duduk di atas motornya.
__ADS_1
Saat melihat Aile, Artha langsung menyapa Aile dengan senyuman manisnya.
Setelah itu, seperti biasa mereka akan menuju ke sekolah, ia jadi mau kemana lagi. Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di parkiran sekolah. Aile langsung turun dan memberikan helmnya pada Artha.
Mereka kini berjalan santai saat melewati koridor sekolah.
Aile memperhatikan beberapa siswa yang sedang menatapnya. Aile tak ambil pusing, karena semenjak ia menyamar sebagai Indira ia sudah sering di tatap seperti itu. Tapi kali ini Aile merasa sedikit berbeda.
"Ternyata bener ya gosipnya, dia udah berubah" Bisik seorang cewek pada teman-temannya saat Aile dan Artha berjalan melewati mereka. Tentu saja bisikan itu masih dapat di dengar Aile.
"Iya" Jawab yang lainnya antusias.
Artha menyenggol Aile, seperti nya ia juga mendengarnya. Aile tak menghiraukan Artha dan terus berjalan santai sampai ke kelasnya.
Baru saja dia masuk teman-teman kelasnya yang sudah datang duluan langsung menghampiri nya.
"Wah Ra lo keren deh" Teriak salah satu dari teman kelasnya.
"Iya, gue salut sama lo" Puji yang lainnya menatap Aile takjub.
Aile melirik Artha, mereka masih di ambang pintu padahal.
"Ada apa emangnya?" Artha malah yang bertanya.
Salah satu dari mereka menunjukkan video perdebatan Aile dan Silla semalam. Vidio itu di mulai dengan Silla yang mendatangi Aile dan tiba-tiba menyiramnya.
Tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan karena vidio ini di ambil dari jarak yang tidak terlalu dekat. Yang jelas setelah itu, saat Silla hendak menampar Aile, Aila langsung menahan tangan Silla dan menggenggam nya erat.
"Oooo jadi maksudnya?" Tanya Artha lagi saat vidio sudah habis di putar.
"Lola amat sih lo Tha" Cibir Anyuta yang berdiri di samping Artha.
"Lo keren banget Ra, berani ngelawan kak Silla" Fika menjelaskan dan terus menatap Aile dengan takjub.
Aile tersenyum simpul, jadi semalam ada yang diam-diam merekam perdebatannya dengan Silla. Tapi siapa? Entah lah Aile tidak terlalu memusingkan itu.
"Gak kok, itu cuma kebetulan doang" Ujar Aile sambil tersenyum ramah, tak mungkin kan ia bilang kalau ia memang sengaja menggenggam kuat tangan Silla. Karena yang teman-teman kelasnya tau Indira itu cewek lemah lembut.
"Tapi tetap aja keren" Tambah yang lain.
Aile lalu berjalan ke arah bangkunya, yang langsung di ikuti Anyuta dan Fika.
"Gimana sih cerita nya semalam kok bisa jadi gitu?" Tanya Anyuta, padahal Aile baru saja duduk.
"Aku juga gak terlalu ingat" Jawab Aile berbohong.
"Eh?" Anyuta memebelalakkan matanya.
"Masak baru semalam udah lupa Ra?" Tuntun Fika.
"Aku juga gak tau" Aile mengedikkan bahunya.
"Yah gak seru ah" Anyuta memanyunkan bibirnya.
"Ni bibir udah kayak bebek aja" Fika mencubit bibir manyun Anyuta.
Aile hanya tersenyum melihat dua orang di depanya ini. Dua orang?
"Eh, kalian kok cuman berdua?" Tanya Aile saat tak melihat Rista, biasanya kan mereka sering bertiga.
"Oh kamu nyariin Rista ya?" Fika menanyakan kembali maksud dari Aile bertanya seperti itu.
"Iya" Jawab Aile.
"Oh, dia katanya ada urusan mendadak tadi. Jadi gak masuk pelajaran pertama" Anyuta menjelaskan.
"Ooo" Aile mengangguk pelan.
"Ra?" Panggil Anyuta saat melihat Aile sudah fokus dengan buku yang ia baru saja ia keluarkan dari tas sekolahnya.
Aile mendongakkan kepalanya, lalu menatap Anyuta. "Ya?" Sahut Aile.
__ADS_1
"Ingatan lo udah balik semua?" Tanya Anyuta lagi.
Aile menutup buku yang baru saja ia baca. "Emang kenapa?" Tanya Aile balik, menatap tajam mata Anyuta.
Anyuta tampak gugup saat di lihat seperti itu oleh Aile. "Ya, aku cuman pingin tau aja" Jawab Anyuta kaku.
"Emmm" Gimana Aile. "Rasa aku sih belum balik semua" Lanjut Aile.
"Lo sering chek up ke dokter kan Ra?" Kini gantian Fika yang bertanya.
'Ck, kepo banget sih kalian' Cibir Aile dalam hati.
"Iya, aku sering chek up kok. Jadi kalian gak perlu khawatir" Jawab Aile sambil tersenyum meyakinkan.
"Syukurlah kalau gitu" Fika balas tersenyum pada Aile.
°~°
Aile menatap malas orang yang ada di depannya sekarang. Siapa lagi kalau bukan Andra dan Silla.
Saat ini Aile sedang sendiri di perpustakaan karena Artha sekarang sedang makan di kantin.
Aile memilih membaca bukunya lagi, tak mau berdebat dengan dua orang ini.
"Eh lo" Silla menggebrak meja yang di tempati Aile.
Aila masih diam, tak mengubris teriakan Silla.
"Sil, ini di perpus jangan teriak" Peringkat Andra. Dia juga sedari tadi tak henti-henti melihat Aile.
"Udah tau lagi di perpus, eh malah cari ribut" Sindir Aile tersenyum sinis.
Karena kesal, Silla menarik paksa buku yang di baca Aile. Membuat Aile mau tak mau melihat Silla dan Andra.
"Apa?" Aile malah bertanya pada Andra.
"Lo kok kasar banget sih ra?" Ujar Andra lau menarik tangan Silla. "Lihat! Gara-gara perbuatan lo" Andra menunjukkan pergelangan tangan Silla yang berwarna ke unguan itu.
"Oh" Aile memutar matanya jengah. "Kirain ada apaan" Tambahnya lagi.
"Andra lihat kan!" Rengek Silla sambil menghentakkan kaki nya.
"Ck" Aile berdecak kecil. "Wah, suka ya ngadu-ngadu gitu" Menatap rendah Silla. "Manja" Aile terke pelan setelah mengatakan kata "Manja"
"Lo ada masalah apa sih sama Silla" Andra merasa Aile memang sengaja memancing emosinya.
"Ya seharusnya lo yang tanya sama cewek ini! Ada masalah apa sama gue" Aile bangun sambil menggebrak meja.
Tentu saja sikap nya itu langsung mengundang perhatian orang-orag yang ada di perpus. Tapi saat melihat Andra dan Sila, mereka kembali pura-pura sibuk dengan urusan mereka. Mereka tidak ingin terlibat dalam hal apapun pada Andra ataupun Silla.
"Lo nantangin gue?" Silla menatap tajam Aile.
"Gue gak mau cari gara-gara ya" Aile berujar tenang. Sebisa mungkin ia harus menahan emosinya, apalagi sekarang Artha tidak ada di dekatnya.
"Minta maaf lo sama Silla biar masalah nya kelar!" Perintah Andra.
Aile menautkan alisnya. What? Minta maaf. Dia paling tidak suka dengan kata-kata minta maaf, walaupun dia salah. Apalagi ini, dia kan tidak salah sama sekali.
Aile hanya diam. 'Ni anak emang cari gara-gara sama gue' Batin Aile memandang Andra.
"Cepetan minta maaf!" Bentak Silla.
"Ogah" Aile langsung beranjak pergi meninggalkan mereka.
Belum sempat Aile pergi Silla sudah menarik rambutnya. Refleks Aile berhenti dan membalikkan badannya menghadap Silla. Dengan emosi membuncah Aile menampar kuat pipi Silla.
Silla langsung tersungkur di lantai, memegang pipinya yang terasa sangat sakit itu.
"Dira" Teriak Andra saat melihat Aile mau menampar Silla lagi.
"Apa?" Bentak Aile marah. Membuat Andra tak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Kalian berdua dengar ya! Gue ingatin sekali lagi. Jangan ganggu hidup gue!" Teriak Aile, kesabarannya sudah habis. "Kalau gak, kalian bakal lihat sendiri nanti balasan gue" Aile menatap tajam Silla yang sudah menangis lalu pergi meninggalkan mereka.
"Papa" Teriak Silla.