Fake Face

Fake Face
Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

Brukk.


"Jalan lihat-lihat dong!" Bentak seorang cewek.


Membuat semua orang yang ada di koridor melihat ke arah suara itu.


Indira mendongak melihat orang yang menabraknya tadi.


"Kak Silla luan kan yang nabrak aku" Ujar Indira pelan.


"What? Enak aja lo ngomong" Silla mendorong keras bahu Indira. Membuat Indira yang tidak ada pertahankan diri pun terjatuh.


Indira melihat sekeliling mereka, sudah mulai ramai orang berkumpul melihatnya.Tapi yang membuat miris, tidak ada satu pun dari mereka mau membantu Indira.


"Ada apa ni ribut-ribut?" Tanya seorang cowok yang baru saja datang.


"Andra"Ujar Silla manja. "Dia tiba-tiba nabrak aku" Adunya.


Indira kemudian bangkit dan berdiri ke posisi nya lagi.


"Eh, lo gak punya mata ya?" Tanya Andra pelan pada Indira.


Indira hanya diam.


"Is jawab gitu! Lo gak bisu kan?" Silla menjambak kuat rambut panjang Indira.


"Ss, sakit kak" Rintih Indira pelan.


"Tega banget ya kak Silla"


"Kok kejam gitu ya?"


"Kasian banget ya Indira"


Bisik-bisikan pelan pun mulai terdengar di sekitar mereka.


Andra menatap wajah I dira yang sudah mulai memucat.


"Tsk, ikut gue!" Andra menarik tangan Indira.


"Tapi ndra, gue kan" Cegah Silla.


"Lo tenang aja Sil, dia biar gue yang urus" Andra mengelus lembut rambut Silla.


"Oke deh kalau gitu" Jawab Silla sambil tersenyum senang, karna mendapat perlakuan manis dari Andra.


°~°

__ADS_1


"Lepasin tangan aku kak!" Indira mencoba menarik tangannya, agar terlepas dari genggaman Andra.


"Bisa diam gak sih?" Andra kemudian melepaskan genggamannya dengan kasar.


Disini mereka sekarang, di gedung tua belakang sekolah. Tempat yang sangat sepi, karna tidak ada yang mau kemari. Selain gudang ini merupakan bangunan tua, tempat ini letaknya juga lumayan jauh dari gedung sekolah.


"I-iya" Cicit Indra sambil mengangguk pelan.


Andra menatap datar ke arah Indira. "Sebetulnya lo ada masalah apa sih sama Silla?" Tanya Andra malas.


"Loh, kok kakak nyalahin aku?" Indira menanya balik. "Kak Silla luan yang cari gara-gara" Lanjut Indira lagi.


"Ck, Dira" Ujar Andra lembut. "Seharusnya lo itu kalau bisa jangan berurusan sama Silla, lo tau kan bokapnya kepsek di sekolah kita" Andra kemudian menatap lembut mata Indira.


"Ya" Jawab Indira acuh, siapa yang tidak tahu kalau ayahnya kak Silla itu kepsek, gak perlu di kasih tau lagi. Karna itu lah tidak ada siswa yang berani lapor kalu Silla membuat suatu keburukan, termasuk membully Indira.


"Kakak kenapa kayak gini sih?" Indira menatap Andra curiga.


"Maksud lo?"


"Di depan orang-orang kakak ikut bully aku, tapi saat gak ada orang kakak sok baik gini sama aku" Indira mengisi kasar air matanya yang sudah jatuh.


"Dira" Andra menangkup pipi Indira. "Lihat gue!"


Indira menatap sendu mata Andra yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa kak?" Tanya Indira.


"Karna" Andra menggantung kata-katanya.


"Karna gue benci sama lo" Ujar Andra pelan.


"Trus perlakuan baik kakak selama ini?" Indira mencoba mencari kebenaran di mata Andra.


"Ya, gue cuma kasian aja lihat lo" Andra tersenyum sinis.


Andra kemudian meninggalkan Indira yang masih terdiam.


"Maksud kakak apa sig?" Tanya Indira lembut pada dirinya sendiri.


°~°


"Sebenarnya kenapa sih sama kak Andra?, masak cuman masalah aku nabrak dia aja sampai di bawa-bawa sampai sekarang" Indira mengomel-ngomel sendiri saatvpulang sekolah.


Untung saja letak sekolah dan halte bus tidak terlalu jauh, jadi Indira hanya butuh waktu beberapa menit aja agar sampai ke halte.


Biasanya halte ramai karna ini waktunya pulang sekolah. Tapi hari ini tampaknya halte sedang sepi.

__ADS_1


'Baguslah' Pikir Indira.


Karna saat halte ramai banyak siswa-siswa yang melihatnya dengan pandangan merendahkan. Siapa yang tidak kenal Indira, si malang yang menjadi bahan bullyan Andra dkk. Jujur tidak akan ada yang suka di landasan rendah seperti itu.


Rasanya semenjak di bully oleh Andra dan Silla, Indira rasanya seolah-olah tidak punya harga diri lagi.


Kembali ke awal. Tidak butuh waktu lama Indira menunggu, akhirnya bus datang.


Indira kemudian mencari tempat duduk paling belakang. Jaga-jaga kalau ada siswa dari sekolahnya yang ikut masuk juga.


Indira menatap lamat hp yang ia pegang. Menunggu seseorang membalas pesannya.


drrt, drttt.


hpnya bergetar tanda ada panggilan yang masuk.


"...."


"Apa? Kok gak bilang dari tadi?" Indira tampak terkejut dengan penjelasan orang yang sedang berbicara padanya di sebrang sana.


"...."


"Ok" Indira kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar bus.


"Pak pinggir!" Titah Indira pada supir bus. Bus pun kemudian menepi.


Indira dengan langkah tergesa-gesa turun dari bus dan mencari keberadaan orang yang menelponnya tadi.


Indira berdiri tertegun di pinggir jalan. Menatap senang kepada orang yang ada di sebrang jalan sana. Yang tak lain adalah Artha.


'Dia semakin ganteng setelah beberapa hari tidak berjumpa' Indira membatin.


Andra melambai dari ujung sana. "Diam disitu! Aku akan kesana" Teriak Artha yang terdengar samar-samar di telinga Indira.


Indira tidak mengubris perkataan Artha, I dora malah berlari tidak sabaran meneyebrangi jalan yang lagi ramai-ramainya. Dia sudah sangat rindu dengan cowok itu. Hingga saat sebuah mobil melaju kencang mengarah ke arah Indira.


Tubuh Indira tiba-tiba seperti membeku, tidak bisa bergerak.


'Ayolah kaki bergerak! ' Rutuk Indira saat mobil itu sudah semakin dekat dengannya.


Braakkk.


Kecelakaan pun tidak bisa di elakkan lagi.


Yang Indira lihat terakhir adalah Artha yang berlari kencang menghpirinya. Artha tampak begitu panik saat melihat tubuh Indira yang sudah terluka lemah dengan darah yang mengalir dimana-mana.


Setelah itu Indira menutup matanya perlahan. Kesadaran nya tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


__ADS_2