Fake Face

Fake Face
Curiga


__ADS_3

Seperti biasanya, sepulang sekolah Artha selalu mengantar Aile. Sebenarnya Aile sudah sering menolak ajakan Artha, dia juga merasa gak enak kalau setiap hari harus di antar dan di jemput Artha. Tapi Artha memaksanya, dia bilang ini sebagai permintaan maafnya yag tidak bisa menjaga Indira dengan benar.


Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Aile dan Artha masuk berbarengan, sambil membahas topik-topik ringan. Kini Aile dan Artha berdiri di depan lift, menunggu lift itu terbuka. Tanpa sengaja ujung mata Artha menangkap sosok orang yang ia kenal.


Artha menepuk pelan pundak Aile, membuat Aile melihat ke arahnya. "Apa?" Tanya Aile datar.


Artha menunjuk dengan telujuknya. Aile mengikuti arah yang di tunjuk Artha, dan ia melihat Andra juga sedang melihat ke arahnya dan Artha.


"Oh dia?" Tanya Aile memastikan kalau yang di maksud Artha memang lah Andra.


"Iya kak Andra" Angguk Artha. "Ngapain ya dia kemari? Atau jangan-jangan dia ikutin kita kali ya?" Artha mulai bertanya-tanya.


Aile masih memperhatikan Andra yang sudah mengalihkan pandangannya dari Aile. Aile tersenyum tipis saat mendengar perkataan Artha. Kini ia sudah fokus lagi dengan Artha. "Tanya aja sana kalau kamu penasaran" Saran Aile pelan.


"Gilak apa gue nanyak ke dia, gak ah kurang kerjaan banget" Celutuk Artha cepat, mengerucutkan bibirnya membuat wajahnya semakin tambah imut.


"Lah kamu kan penasaran, yaudah tanya sana!" Aila mendorong pelan pundak Artha sambil terkikik pelan.


"Gak ah gak mau" Tolak Artha lalu mencubit pelan lengan Aile. Kemudian Aile dan Artha tertawa bersama-sama.


Dari tempat yang tidak begitu jauh dari Aile dan Artha, Andra dapat melihat dengan jelas apa yang di lakukan Aile dan Artha. Andra tersenyum kecut saat menyadari bahwa Indira(Aile) bisa tertawa begitu ceria dan bahagia kalau dengan Artha. Jika dengannya, maka Indira akan berubah seperti orang yang menyedihkan. Tapi itu dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi, sekarang lihat! Indira bahkan tak pernah menunjukkan wajah sendunya itu lagi di hadapan Andra. Indira yang sekarang jauh berbeda dengan yag dulu, jangankan untuk menyakitinya seperti dulu lagi, mendekatinya saja Andra tidak bisa.


Andra terus memperhatikan Indira dan Artha, sampai mereka masuk ke dalam lift. Sebenarnya Andra penasaran dengan Indira, kenapa juga ia ke rumah sakit. Mungkin yang semalam itu akan ia anggap sebagai kebetulan. Tapi kalau sekarang, dia mulai menaruh curiga dengan Indira. Tapi dengan segera ia tepis rasa curiga itu. Mungkin saja kan Indira datang ke rumah sakit untuk chek up, mungkin saja. Sebesar apapun rasa penasarannya, Andra tidak bisa memaksa Inidra untuk memberi tahunya. Karena Indira sudah meminta nya semalam agar tidk mengganggunya lagi. Kalau saja bukan karena ibunya, ia pasti akan menarik Indria dan menuntut jawaban padanya.


Kembali pada Aile dan Artha. Kini mereka sudah berada di ruangan tempat Indira di rawat.


"Tapi, dia terlihat sama saja seperti sebelumnya Ai kenapa ya?" Celutuk Artha saat tidak melihat perubahan pada Indira.


Aila menjitak keras kepala Artha. "Pikir aja sendiri" Ujar Aile malas.


"Tapi kan" Artha tidak melanjutkan kata-katanya dan lebih memilih ikut-ikutan Aila duduk di samping AIndira yang masih koma.

__ADS_1


"Kira-kira kapan ya Dira sadar" Tanya Artha pelan.


Aile menghela kasar napasnya, entah lah dia juga tidak tahu kapan Dira sadar. Dokter bahkan juga tidak dapat memprediksikan kapan. Saat mendengar Indira sudah melewati masa kritis saja membuat Aile senang bukan main. Dia sudah sangat rindu dengan Dira. 'Cepat lah sadar Ra!' Batin Aile. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi dengan sekuat tenaga ia menahanya. Ia tidak ingin terlihat di depan Dira, walaupun Dira kini tidak bisa melihatnya. Apa lagi sedari tadi mamanya terus memperhatikan dengan Artha.


"Tha, kamu kok bisa dekat dengan Dira?" Tanya Aile menatap Artha.


"Emmmm aku juga gak inget kenapa" Jawab Artha sambil cengengesan gak jelas.


"Ck" Decak Aile.


"Artha kamu gak kena marah apa karena sering kemari kamu jadi terlambat pulang ke rumah" Tanya mama yang duduk di sofa.


Artha menoleh, melihat mama tante Ana yang tengah menatapnya. "Enggak tante, Artha juga udah bilang sama mama" Jawab Artha jujur.


Mama Aile hanya tersenyum manis saat mendengar jawaban Artha. Anaknya sungguh beruntung mendapatkan teman seperti Artha, tidak hanya di anugerahi wajah yang tampan, tapi juga hati yang baik.


Mama Aile dapat melihat itu dari sorot mata Artha yang merasa sangat bersalah pada Indira. Padahal ini bukanlah kesalahannya ini sudah takdir dari Tuhan. Jadi tidak perlu ada yang di salahkan.


"Tante Artha permisi keluar sebentar ya" Ujar Artha saat hp nya berdering.


Aile hanya diam memperhatikan Artha yag sudah hilang di balik pintu.


"Ai" Panggil mama mengalihkan pandangan Aile pada Artha.


Aile melihat ke arah mama. "Iya ma?" Sahut Aile.


"Sini sebentar mama mau ngomong" Mama menepuk sofa di sebelahnya.


"Mmm" Gumam Aile mendekati mamanya, dan duduk di samping mamanya.


"Kata papa semalam kamu pakai uang banyak banget ya?" Ujar mama sambil terus memperhatikan Aile.

__ADS_1


Aile mengangguk paham. "Buat bantu teman ma" Jawab Aile.


"Tapi kenapa sampai begitu banyak?" Tanya mama lagi.


"Mama sebenarnya sudah tau kan? Jadi kenapa tanya lagi?" Celutuk Aile, menatap mamanya dengan datar.


Mama hanya tersenyum saat mendengar jawaban anaknya yang agak cetus itu. Ini sudah biasa menurutnya, mungkin saat ini suasana hati Aile sedang tidak enak.


Tapi sebenarnya tidak, mood Aile sedang bagus-bagus saja hari ini. Tapi entah kenapa tiba-tiba yang keluar dari mulutnya malah kata-kata yang seperti itu. Aile juga terkadang heran sendiri dengan dirinya.


"Mama marah?" Tanya Aile masih datar.


"Mama gak marah kok" Mengelus pelan rambut Aile. "Kan kamu gunainnya untuk kebaikan" Lalu mama tersenyum manis.


Aile hanya tersenyum simpul melihat mamanya yang begitu pengertian dengannya dan Dira. Mamanya yang selalu sabar dengan sikapnya yang kadang suka seenaknya sendiri ini. Aile sangat bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat baik. Seperti mamanya.


Artha kembali setelah beberapa saat menerima telpon. Tersenyum manis saat mama Aile menatapnya. "Tante, Artha pulang dulu ya. Ada urusan mendadak" Ujar Artha menghamipri Aile dan tante Ana.


"Oh iya tha hati-hati ya" Mama menepuk pelan pundak Artha.


Setelah salim Artha pun kembali ke rumahnya.


"Menurut kamu Artha itu gimana orangnya" Tanya mama ingin tahu pandangan Aile tentang Artha.


"Mmmm, baik ma asyik juga orangnya" Jawab Aile seadanya.


"Terus?" Tanya mama lagi, tak biasanya Aile mau memuji orang yang belum lama ia kenal.


"Yaudah itu aja" Jawab Aile lagi.


"Itu aja?" Mama bertanya balik, meyakinkan Aile.

__ADS_1


"Terus apa lagi"? Aila malah bertanya balik pada mama.


"Ya, gak ada" Jawab mama canggung.


__ADS_2