
Hari masih sangat pagi, bahkan matahari juga belum menampakkan dirinya. Walaupun begitu, sudah ada beberapa siswa sekolah ini yang sudah datang. Tentunya mereka ialah para murid tauladan.
Sama hal nya dengan Artha dan Indira. Mereka kini juga sudah duduk di bangku-bangku yang di sediakan di dekat lapangan badminton. Entah apa yang mereka lakukan. Masing-masing hanya diam.
"Hey, kenapa kau diam?" Indira melirik ke samping, melihat Artha.
Artha menelan ludahnya. "Ah maaf" Ujar Artha.
"Ck" Indira berdecak sebal.
"Kemarin kau sangat cerewet, tapi lihat lah sekarang!" Indira memandang Artha dari ujung rambut sampai kaki.
Artha tampak sedikit gelisah saat di pandang seperti itu oleh Indira. Oh, bukan. Lebih tepatnya Aile.
Inilah kesepakatan Artha dan Aile saat beberapa hari lalu di rumah sakit. Aile akan berpura-pura menjadi Indira. Ck, ini bukanlah keputusan yang baik. Mama dan papa Aile juga sudah melarang, tapi tidak ada yang bisa membantah Aile. Karena Aile sangat beesikukuh dengan pendiriannya. Dan lagi dia juga punya
"Kau yakin dengan cara ini Ai?" Tanya Artha, sebenarnya ia juga tidak yakin akan berhasil membalas para tokoh bully itu dengan cara seperti ini.
"Kau meragukan ku?" Aile menatapnya tajam. "Dan ingat! jagan panggil aku Aile lagi. Sekarang aku adalah Indira. Awas saja kalau kau sampai ke ceplosan panggil aku dengan nama Aile" Aile memberi peringatan dengan panjang lebar.
Artha melongo mendengarkan perkataan Aile, sungguh ini pertama kalinya semenjak ia kenal Aile. Aile berbicara sepanjang ini. Biasanya hanya beberapa kata saja.
"Tutup mulutmu !" Aile memukul pelan lengan Artha.
Lagi-lagi Artha menatap heran ke arah Aile.
Ale sadar akan tatapan heran dari Artha.
"Ck, maafkan aku kemarin itu" Aile berujar datar. "Aku belum terlalu mengenalmu, tapi sekarang kita teman. Jadi aku harus ramah juga padamu" Sambung Aile sambil tersenyum manis.
"Ah, ia" Artha tersipu malu saat Aile tersenyum padanya, sungguh Aile sangat manis. "Teman" Artha mengulurkan tangannya.
"He-eh" Aile mengangguk pelan, lalu menyambut senang tangan Artha.
Lalu mereka tertawa bersama-sama.
Tidak terasa, lingkungan sekolah juga sudah semakin ramai. Karna setengah jam lagi bell masuk akan berbunyi.
"Kau tak lapar?" Tanya Artha. Ia sudah sangat lapar. Artha sengaja pergi pagi-pagi karna harus menemani Aile melihat-lihat sekolahnya Indira. Jadi ia pun tidak sempat sarapan pagi.
"Kau lapar?" Aile bertanya balik.
"Iya" Jawab Artha canggung.
"Yaudah kita ke kantin!" Aile beranjak dari duduk nya, kemudian tersenyum hangat pada Artha.
__ADS_1
"Ok, aku yang traktir" Ujar Artha semangat.
Aile dan Artha pun berjalan pelan menuju kantin.
"Eh, tapi kamu harus hati-hati ya! Soalnya Indira.." Kata Artha pelan.
"Tenang saja" Jawab Aile antusias. Ia tidak pernah merasa semangat seperti ini.
"Ok, kalau ada butuh sesuatu bilang saja padaku!" Ujar Artha lagi.
"Siiip"
"Eh, kamu gak lanjut S-2?" Tanya Artha yang berjalan tepat di samping Aile.
"Gak di kasih papa" Jawab Aile.
"Kenapa?"
"Aku di suruh papa bantu-bantu di perusahaanya, jadi gak di kasih kemana-mana lagi" Kata Aile santai.
Sekarang mereka sudah sampai di kantin. Lumayan banyak orang juga. Biasanya yang pagi-pagi sudah ke kantin ialah orang yang gak sempat sarapan di rumah, kayak Artha tadi.
Beberapa siswa menatap heran ke arah Indira (alias Aile) yang penampilannya tampak jauh berbeda. Indira yang sekarang mereka lihat, lebih cantik dan rapi. Apalagi dari cara berjalan Indira yang terlihat anggun dan sedikit angkuh. Tidak seperti Indira, yang biasanya jalan selalu menundukkan kepalanya. Jelas ini membuat orang-orang yang lumayan mengenal Indira merasa sedikit heran.
"Huh, apa-apaan pandangan mereka itu?" Ujar Aile sedikit berbisik di samping Artha.
"Oooooo"
"Ya sudah, kau mau makan apa?" Tanya Artha.
"Belikan saja aku roti, biar cepat" Aile kemudian memilih tempat duduk yang sedang kosong.
Selagi Artha memesan makanan, Aile sibuk memainkan hpnya, melihat berita terkini yang lewat di beranda media sosial nya.
Tidak berapa lama, Artha pun datang membawa sepiring nasi uduk dan beberapa bungkus roti.
"Aku gak tau kamu suka rasa apa, jadi ku ambil beberapa" Artha menyodorkan lima bungkus roti ke pada Aile.
"Oh, aku suka semua jenis rasa" Aile membuka sebungkus roti rasa bluebery.
"Ok, saatnya makan" Ujar Artha semangat.
Aile menatap Artha sambil tersenyum, sungguh adiknya sangat beruntung mendapat teman seperti Artha. Selain baik Artha juga cukup enak di ajak bicara, dan jangan lupakan juga wajah tampan Artha.
"Apa yang kau lihat?" Seketika wajah Artha merah menahan malu saat Aile malah tertawa melihatnya makan.
__ADS_1
"Kamu lucu" Ujar Aile sambil melahap rotinya.
"Kau..." Artha tak melanjutkan kata-katanya, karna tiba-tiba seorang cowok duduk di sampingnya.
"Hay" Ujar cowok itu, yang tak lain ialah Andra. "Boleh gabung kan?" Tanyanya.
Sontak Aile menatap Artha meminta penjelasan. Artha balas menatap Aile sambil menggerakkan bibirnya menunjuk ke arah Andra. Aila menaikkan sebelah alisnya. Apa maksud Artha? dia sungguh tidak mengerti.
"Hey kalian mengabaikan ku" Andra menatap Aile dan Artha secara bergantian.
"Oh, hay" Sapa Aile datar.
"Sepertinya hari ini mood lo sangat baik ya?" Tanya Andra sambil menatap Indira (alias Aile) intens.
Aile melihat Andra sekilas, kemudian memakan lagi rotinya.
"Kamu siapa?" Tanya Aile gamblang.
Artha menepuk kuat jidatnya, merutuki kebodohannya. Sungguh ia lupa memberitahukan ke Aile kalau cowok di sampingnya ini ialah Andra.
"Maksud lo?" Andra balik bertanya,
"Abaikan!" Jawab Aile acuh.
Andra merasa emosinya naik saat Indira malah menghiraukannya dan mengacuhkan keberadaanya.
Andra terus memperhatikan gerak gerik Aile yang sedang melahap potongan roti terakhirnya, setelah itu tampak Aile mengeluarkan tisu dari kantong roknya, lalu mengelap lembut sisa-sisa selai bluebery yang tertinggal di tangannya.
"Lo cari gara-gara sam gue ya?" Andra memukul kuat meja yang ada di depannya.
"Astagfirullah" Ujar Artha sedikit kaget. Untung saja dia sudah siap makan.
"Apa sih?" Teriak Aile yang ikutan memukul meja, kemudian menatap tajam ke arah Andra.
Andra balas menatap Aile tajam. "Udah berani ya lo sekarang?"
"Ck" Aile berdecak kesal. "Kamu siapa sih? heboh banget jadi orang" Aile melipat kedua tangannya di dadanya.
Ardhan menatap heran pada Indira, tidak mungkin Indira tiba-tiba tidak mengenalnya dan melupakannya.
"Maaf kak!" Akhirnya Artha ikut bicara. "Indira mengalami sedikit masalah pada ingatannya, setelah kecelakaan kemarin" Artha memberi penjelasan yang paling masuk akal, agar Aile tidak ke tahuan kalau dia sedang berpura-pura menjadi Indira.
Andra menatap Aile tak percaya.
"Ya, berhenti menatap ku, dasar aneh" Aile melenggang pergi meninggalkan Andra dan Artha.
__ADS_1
"Eh, tunggu!" Artha ikut mengejar Aile yang meninggalkannya.
Andra hanya menatap kepergian Aile san Artha, sampai mereka hilang dari pandangannya. "Gue bakalan buat lo ingat kembali ra" Bisik Andra sambil tersenyum sinis.