Fake Face

Fake Face
99


__ADS_3

Jira


Jira, saya pernah kasih kartu alamat nya kan? kemana? disitu ada sensorit nya buat masuk, itu saja kamu bawa bisa masuk kok" kata Choi shin a dengan lembut


"di tas yang satunya, aku lupa, baru ingat didepan, kupikir tidak ada kepentingan dan sudah sampai disini juga kan" jawab Jira dengan polosnya


"ahh iya iya tidak apa apa"


"tapi kenapa mereka memarahiku?" tanya Jira


"tidaaak, mereka tidak memarahimu, hanya butuh sensorit tadi, sudah gakpapa, kalian bisa pergi saja" kata Choi shin a


tertinggal Jira disana bersama dengan Choi shin a


"Jira kenapa gak bilang kesini?" tanya Choi shin a


"aku mengganggu kamu ya?" tanya Jira


"ahh tidak sama sekali kok, tidak"


"aku datang cuma mau bilang, kenapa kamu memmnemui appa dan mama ku?" tanya Jira


"aku hanya meminta restu mereka Jira, juga meminta buat bantuan mereka membantuku meyakinkan kamu"


"kamu tidak perlu melakukan itu pak"


"Jira, apa kamu benar benar menolakku?"


"aku bicara belum selesai, aku bilang tadi, kamu tidak perlu melakukan itu, menemui appa dan mama ku meminta bantuan mereka karna percuma, mereka tidak akan membantu, hanya mengatakan saja kepadaku dan keputusan balik kepadaku, dan sekarang keputusan aku.. emm.. aku mau" kata Jira


"mau?" tanya Choi shin a dengan tatapan ragu


"mau menerima kamu lah" jawab Jira


"serius Jira?" tanya Choi shin a dengan semangat


"iya mau, tapi" kata Jira


"tapi? apa?"


"tapi aku tidak mau pacaran, aku mau menikah dan merayakan langsung" kata Jira


"ah kamu serius?"


"serius lah, gimana?"


"deal, aku akan suruh Jeung sang siapkan semuanya"


"yaa, kamu semua yang mengatur gakpapa, aku minta satu saja untuk warna tema pernikahannya berwarna..." ucapan Jira terpotong


"cream" jawab Choi shin a

__ADS_1


"ahh kenapa tau?"


contoh warna nya :



"karna aku lihat dominan di apartemen kamu dan kedua orang tua mu adalah cream"


"iya, itu aku yang ambil konsep warna nya, yaudah aku minta itu saja"


"baiklah Jagiya" kata Choi shin a


"wooh" ucap Jira kaget mendengar Choi shin a memanggilnya sebutan Jagiya yang artinya sayang


"kenapa? salah ya?"


"tidak Jagiyaa" jawab Jira dengan imutnya


"beneran ini? aku seperti mimpi saja deh"


"beneran lah"


dan hari itu, Jira kembali keapartemen nya bersama Choi shin a, untuk membahas ini dengan ayah ibu Jira, jadi karna ayah ibu Choi shin a sudah tidak ada, jadi mereka hanya perlu membahasnya dengan ayah ibu Jira


semua dibahas dan mulai melakukan persiapan pernikahan, Choi shin a sibuk, tidak akan sempat menyiapkannya sendiri jadi menyuruh Jeung sang sebagai kepercayaan nya sementara Jira, Jira mempercayakan kepada Mung seong


karna sebelum ia berhenti dari pekerjaannya, ia masih butuh selama sebulan untuk Jira pergi menemui para staff di bighit terutama ceo


hari itu tiba, dimana hari libur Jira berakhir selama seminggu dan harus kembali bekerja


"yaa jagiya, kamu sudah bangun?"


"iyaa, kamu dimana?"


"ditempat kerja"


"aku kesana boleh ya"


"boleh, ahh tapi jagiya, kamu belum ada sensorit nya ya" kata Choi shin a


"iya, gimana?"


"biarin deh, datang saja, aku akan beritahu semua karyawan ku soal siapa kamu"


"okeh jagiya"


Jira bersiap untuk berangkat ke kantor Choi shin a, ayah nya menyapanya


"Jira, pergi kerja?"


"iya besok pa, ini mau pamitan dulu sama Choi"

__ADS_1


"oh, yaudah nak hati hati ya, kamu mau pulang jam berapa? appa berangkat kerja siang, ke apartemen mama saja ya" kata Sung gun


"oh yaudah pa"


sejak memutuskan menerima lamaran dan mempersiapkan pernikahannya dengan Chon shin a, Jira tidak mau ditinggal sendirian, ia selalu menyuruh ayah ibunya menginap, atau bahkan ia yang menginap ke apartemen mereka


Jira juga tidak mau jauh sedikit saja dari Mung seong, ia akan terus didekat Mung seong sebagai penjagaan juga


tapi karna Mung seong juga sibuk mengurus membantu jeung sang menyiapkan pernikahan Jira dengan Choi shin a jadinya tidak bisa terus Jira mengintilinya


jadi Jira hanya perlu kesana sini, ke Tarasha, ke Sung gun, jika Mung seong sibuk


Jira pun pergi, selama perjalanan, ia berjalan dengan santai, entah sejak ia menerima lamaran itu, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri dengan mobil mewah, menenteng tas mahal dan baju baju mahal tanpa malu lagi


sementara Choi shin a turun tangan untuk memberi tahu semua kepada seluruh staff nya tanpa terkecuali tentang hubungannya dengan Jira


Choi shin a menemui dulu Jeung sang, menjelaskan semua nya tentang permintaannya tentang urusan Jira


lalu setrlah nya baru ia menjelaskan bahkan memberikan foto Jira untuk lebih detail kepada seluruh staff disana tanpa terkecuali


"nah jadi saya katakan, dia bernama Jira, kalau masuk sini tanpa sensorit, suruh masuk, tapi kalian telfon saya, saya yang akan memberikan kode sensorit nya" kata Choi shin a


"siaap pak" jawab semua


"dan satu lagi, selama dia dikantor ini, dengan saya atau tanpa saya, turuti semua apa yang dia minta, tanpa menolak sedikit pun, setiap menyuruh apapun kepada siapapun, kalian bisa melapor saya, saya kasih bayaran sendiri setiap memberikan apapun diminta calon istri saya" kata Choi shin a


"baik pak"


"untuk lainnya, bisa kalian tanyakan Jeung sang, saya sudah jelaskan semuanya" kata Choi shin a


sampailah Jira


"saya Jira, masih ingat?" tanya Jira


"ingat nona, silahkan masuk"


"ini saya kali ini bawa kartu nama dan alamat dari pak Choi" kata Jira


"siap nona, saya periksa dulu"


setelahnya baru Jira boleh masuk dengan tenang dan semua staff disana menyapa nya dengan ramah, hingga sampai diruangan kerja utama milik Choi shin a


"jagiya" sapa Jira masuk tanpa mengetuk pintunya


"jagiya, sini duduklah, ada apa?"


dengan bebas memang hanya Jira yang bisa melakukan itu, keluar masuk dengan santai tanpa mengetuk atau memberikan salam dulu kepada Choi shin a padahal seluruh staff disana bahkan jabatan tertinggi seperti Jeung sang saja harus mengetuk lalu masuk menyapa dengan sopan mengucapkan salam (selamat pagi, siang, sore atau malam)


Jira berpamitan kepada Choi shin a untuk pergi bekerja, karna Choi shin a tau jika Jira datang memang untuk pamitan dan pamitan itu juga butuh waktu


"ya sudah hati hati, kamu bawa mobil saja datang ke kantor mu. jangan jalan atau nebeng teman kamu" kata Choi shin a

__ADS_1


"yaa, aku boleh minta uang? untuk bensin, tadi aku jalan bensinku habis"


"boleh, ini bawa saja" kata Choi shin a


__ADS_2