Fake Face

Fake Face
Pembuat Masalah


__ADS_3

Sedari tadi Artha tak berhenti memperhatikan Aile yang terus tersenyum, ya walaupun hanya terlihat samar-samar.


"Kayaknya kamu senang banget Ai"" Papar Artha pelan.


"Kelihatan banget ya?" Tanya Aile dengan wajah berbinar-binar.


Artha mengangguk dan ikutan tersenyum. "Iya, emang ada apa?"


"Semalam kata dokter Dira udah lewat dari masa-masa kritis" Jawab Aile lalu tersenyum lagi. Terlihat dari wajah Aile, bahwa dia sangat senang.


"Yang bener Ai?" Artha tampak tak percya, kalau memang benar, dia ikut senang. Dan Artha juga tidak sabar menunggu Indira bangun dari koma nya.


"Iya, bener" Ujar Aila lagi. "Kalau gak percaya datang lagi aja ke rumah sakit"


"Betul juga tuh, aku kan udah lama gak kesana" Artha terlihat begitu semangat.


"Hahahahha" Aila hanya terkekeh pelan melihat tingkah Arti yang selalu menarik di matanya.


Tidak bisa di pungkiri bahwa Aile memang tertarik dengan Artha, rasanya mood nya akan menjadi lebih baik saat dekat dengannya. Entahlah, Aile tidak tahu kenapa ia merasa seperti itu.


"Eh kamu mau pesan apa?" Tanya Artha saat mereka sudah sampai di kantin. Hari ini kantin tidak terlihat begitu ramai. Hanya ada beberapa orang saja. Yang lainnnya mungkin lagi lihatin pertandingan basket antara kelas XII dan kelas XI. Tadi Anyuta dan teman-temannya juga sempat mengajak Aile. Tapi Aile tolak dengan halus karena ia ingin menemani Artha yang sudah kelaparan tingkat dewa. Sebenarnya sih Aile juga sedikit tertarik melihat pertandingan basket. Tapi ia urungkan, karena tidak ada manfaat untuknya.


"Kok bengong? Di tanyain juga" Ujar Artha, sekarang ia sudah lebih berani dan terbuka dengan Aile.


"Aku ikut yangg kamu pesan aja deh" Jawab Sil sembari tersenyum simpul.


Setelah mendengar itu, Artha langsung pergi memesan makanan.


Aile mengedarkan pandangannya ke sekiling kantin. Aile menghembus pelan nafasnya, jujur ia tidak terlalu suka keramaian, mungkin itu salah satu alasan kenapa ia tidak mau diajak meliht pertandingan basket di lapangan. Dia akan lebih senang menyendiri di perpustakaan sambil membaca buku. Terdengar membosankan, tapi memang begitulah Aile.


Aile berfikir sejenak tentang keputusannya yang berpura-pura menjadi Indira, hanya untuk membalas kan dendam. Tapi, entah kenapa, lama-kelamaan Aile merasa jauh dari misi awalnya berada di sekolah ini. Aile yakin, kalau Indira sampai tahu dia berbuat seperti ini, Indira pasti akan menjauhinya bahkan lebih dari itu. Sebelum ini saja mereka juga sudah jarang berinteraksi, memikirkan ini membuat Aile merasa pusing. Dia juga tidak mau melakukan ini. Akan lebih menyenangkan bila ia merawat dan memandangi wajah Indira setiap hari.


Saat ini Aile mulai bimbang, haruskah ia melanjutkan rencana awalnya atau berhenti sampai sini saja. Tapi bagaimana kalau misalnya nanti Indira sadar dan kembali sekolah, terus di bully lagi. Tidak Aile tidak suka itu.


'Apa yang harus aku lakukan' Aila menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Byurr.


Aile mendongak saat seseorang dengan sengaja menyiramnya dengan air.

__ADS_1


Aila meraba rambut dan beberapa bagian bajunya yang basah karena tumpahan air itu.


"Hah rasain" Ujar seorang cewek yang menyiramnya tadi. Siapa lagi cewek kurang ajar itu kalau bukan Silla.


Aile menatap tajam Silla. Apa-apaan ini, dia tidak mencari gara-gara dengan Silla, kenpa tiba-tiba dia seenaknya menyiramnya seperti ini. "Maksud lo apa nyiram gue?" Aile berdiri sambil menggebrak meja pelan.


"Wah dia udah berani ngelawan lo Sil" Ujar cewek yang berdiri di samping Silla, yang Aile yakini sekomplotan dengan Silla.


"Iya, dia udah kebanyakan gaya sekarang" Silla balik menatap Aile tajam.


Aile masih diam, menunggu Silla bicara lagi, apa masalahnya.


"Mata lo mau gue colok" Bentak Silla, karena dari tadi Aile terus menatapnya.


"Colok aja kalau bisa" Tantang Aile.


"Lo ya" Silla melayangkan tamparannya ke wajah Aile.


"Apa?" Tanya Aile, menangkap tangan Silla lalu menngenggamnya kuat.


"Sss sakit" Rintih Silla.


"Lepasin gak tangan Silla!" Teriak cewek yang di sampingnya itu gelagapan. Bagaimana tidak, telapak tangan Silla juga sudah tampak memucat. Dan lagi Silla juga sudah terisak.


"Ra" Artha menarik paksa tangan Aile. Artha baru saja datang sambil membawa makanan, tapi sudah di suguhka dengan pemandangan tidak enak ini.


Aile melepaskan genggamannya, untung Artha datang. Kalau tidak mungkin Aile akan melakukan hal lainnya.


"Kamu gak apa-apa kan?" Artha tampak khawatir begitu menyadari rambut dan baju Aile sudah basah.


"Lihat gara-gara kelakuan teman monster lo Itu" Temannya Silla menunjuk ke arah pergelangan tangan Silla yang sudah berwana merah kebiruan.


Artha melihat jelas tangan Silla yang memar. Tapi, Aile tidak mungkin melukai Silla kalau Silla tidak cari masalah duluan.


"Suruh siapa temen lo itu nyiram gue" Celutuk Aila sambil menatap tajam temanya Silla.


Silla kini hanya terisak, Silla tidak menyangka Indira akan sekuat itu menggenggam tangannya. Setau Silla, Indira yang dulu tidak sekuat ini. Dan juga tidak akan berani meliriknya bahkan melawannya. Tapi lihatlah kelakuan Indira yang sekarang. Silla menatap nanar pergelangan tangannya,. 'Lihat aja nanti lo ra' Batin Silla.


Artha kembali menatap Aile. "Yaudah, kita ganti baju aja. Lihat tuh baju kamu udah basah" Ujar Artha lembut.

__ADS_1


Segurat senyum terbit dari bibir mungil Aile. "Mmmm" Entah kenapa hanya itu yang keluar dari mulut Aile.


"Yaudah yuk tinggalin aja mereka" Artha menarik tangan Aile, lalu pergi menjauh dari Silla dan temannya.


"Dasar ya tu cewek" Cibir Aile.


"Tapi kamu keren Ai, bisa buat tangannya biru gitu" Artha mmeberikan dua jempol pada Aile.


Aile tersenyum simpul, Artha selalu bisa membuat suasana hatinya menjadi tenang dan senang. Walaupun hanya dengan kelakuan anehnya. "Ya ya ya, aku tau itu" Ujar Aila datar.


"Ya ampun gue lupa" Artha menepuk pelan keningnya. Kemudian menghentikan langkahnya.


Aile ikutan berhenti di samping Artha, menatap heran Artha. "Apa?"


"Makanan kita" Jawab Artha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah nanti beli lagi"


"Tapi kan sayang" Artha mengelus pelan perutnya, dia sudah sangat lapar tadi. Tapi rasa laparnya tiba-tiba pergi saat melihat Aile berantem dengan Silla tadi.


"Gara-gara aku kan kamu gak jadi makan" Ujar Aila pelan, kalau saja dia tadi melihat ke datangan Silla, pasti dia akan menghindari siraman air itu.


Artha menangkap perubahan wajah Aile yang berubah masam. Selanjutnya Artha tersenyum hangat pada Aile. "Gak apa, aku temenin kamu dulu. Dari pada nanti kamu masuk angin"


"Makasih" Aile berjalan lebih dulu dari Artha.


°~°


Dengan langkah lebar Silla berjalan ke arah ruang kepala sekolah. Sambil terus memegangi pergelangan tangannya.


Sesampainya di depan ruang Kepsek Silla langsung masuk begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan mulai menangis kuat. "Papa" Panggil Silla.


Seseorang yang Silla panggil papa itu langsung mendekati anaknya, kenapa anaknya bisa menangis seperti ini. "Kenapa sayang?" Tanya pak Kepsek yang merupakan papanya Silla.


"Lihat nih tangan aku!" Silla menunjukkan tangannya yang sudah memar.


"Ya ampun Silla, kok bisa kayak gini" Tanya papa Silla yang mulai khawatir.


"Papa" Bukannya menjawab pertanyaan papanya, Silla malah memeluk papanya sambil terus menangis.

__ADS_1


'Lihat aja Ra, gue bakal buat lo di keluar kan dari sekolah dengan cara tidak hormat' Batin Silla.


__ADS_2