Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Menikah Muda?


__ADS_3

Selama Devara di kota S, Ayra menginap di rumah Devara. Seperti biasa, semua itu karena paksaan Devara. Lagipula mereka tidur di kamar yang berbeda. Kak Arga juga ada di rumah itu, jadi Devara tak mungkin macam-macam padanya. Begitu pikir Ayra.


Lagipula keduanya juga ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama, karena sesuai jadwal Devara akan kembali ke London setelah dua hari. Selama itu, Devara selalu mengantar jemput Ayra ke kampus. Mereka juga selalu menyempatkan diri berjalan-jalan dan pergi ke beberapa tempat sekedar untuk mengisi waktu berdua.


Karena seringnya terlihat di kampus, Devara sukses menjadi idola baru di kampus Ayra. Saat menunggui Ayra kuliah, sering beberapa mahasiswi menghampiri Devara sekedar untuk mengajaknya berkenalan. Penampilan Devara yang sangat mencolok memang menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di kampus Ayra. Apalagi dengan mobil sport yang selalu dikendarainya, membuat Devara menjelma menjadi “pangeran berkuda putih” yang menjadi idaman setiap wanita.


Ditunjang wajah tampan dengan garis wajah yang sangat tegas, dan badannya yang sangat atletis. Membuat para gadis tergila-gila padanya. Apalagi ketika Devara memakai kacamata hitamnya, semakin menonjolkan kesan misterius pada dirinya.


Perkuliahan Ayra telah usai, ia pun membereskan peralatan tulisnya.


“Hari ini dijemput pangeran lagi, Ay?”tanya Chacha


“Pangeran? Pangeran yang mana?”tanya Ayra penasaran.


“Pangeran yang dua hari ini antar jemput kamu”jawab Chacha.


“Oh..pangeran itu maksudmu. Hehehehe..iya”ucap Ayra sambil terkekeh setelah tahu pangeran yang dimaksud Chacha adalah Devara.


“Pacarmu ganteng banget Ay..tajir lagi. Sumpah kamu beruntung banget. Kalo aku jadi kamu, aku pasti tak akan melepaskan dia”puji Chacha membuat Ayra tersenyum bangga.


“Oya, hati-hati, biasanya cowok ganteng tajir gitu banyak yang ngincer. Hati-hati aja lagi musim pelakor”pesan Chacha.


“Pelakor? Kalo sampe ada pelakor, aku hajar mereka berdua sampai babak belur”umpat Ayra dalam hati.


“Tenang aja. Kalo ada pelakor, tinggal aku kasih ini”ucap Ayra sambil menunjukkan bogem mentahnya.


“Udah ya..aku duluan. Dah ditungguin pangeran aku”goda Ayra


Chacha cemberut karena ditinggal begitu saja oleh sahabatnya. Ayra berlari kecil keluar dari ruang kuliah. Dari kejauhan, Aldo yang sejak tadi memperhatikan Ayra, berjalan mendekati Chacha.


“Ayra buru—buru banget pulangnya”ucap Aldo


Chacha yang tahu Aldo menaruh hati pada Ayra mencoba menjawab setenang mungkin.


“Iyalah, udah dijemput pacarnya” jawab Chacha


“Pacarnya?”Aldo kaget tak menyangka jawaban Chacha


“Rupanya lelaki itu pacar Ayra. Pantas saja Ayra langsung menolakku. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan lelaki itu”gumam Aldo dalam hati.


“Udah lah Al..ga usah ngarepin Ayra lagi. Dia udah sama pacarnya lagi. Mending kamu cari yang lain aja. Oke?”pesan Chacha kemudian menepuk bahu Aldo dan berjalan keluar ruang kuliah.


Hp Ayra berdering. Sebuah telpon masuk. Rupanya Devara yang menelpon.


“Ini aku udah keluar. Bentar lagi turun. Tunggu ya”ucap Ayra setengah berlari keluar gedung perkuliahan.


“Cepetan”ujar Devara tak sabaran.


“Hisshhh..cepet-cepet..aku udah lari gini juga. Masih minta lebih cepet. Ga sabaran banget”gerutu Ayra dalam hati.


Begitu menuruni tangga ke lantai satu, Ayra melihat Devara sudah duduk-duduk di pagar tempat parkir yang memang tidak terlalu tinggi sehingga biasa dipakai mahasiswa di kampus Ayra untuk duduk-duduk. Dengan terengah-engah, Ayra segera menghampiri Devara. Devara berdiri dari tempatnya dan menyambut Ayra dengan senyumannya yang sangat manis.


Devara menggenggam tangan Ayra dan mengajaknya menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan, beberapa pasang mata yang melihat kemesraan keduanya terlihat sangat iri. Terutama para jomblowers. Tetapi seakan tak memperdulikan sekitarnya, Devara semakin erat menggenggam tangan Ayra. Membuat Ayra tersipu malu saat beberapa kali berpapasan dengan teman atau kenalannya.


“Mau makan siang dimana?”tanya Devara saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


“Emm..aku mau makan sate kambing yang terkenal itu”ucap Ayra polos


“Hah..sate kambing?”tanya Devara dengan ekspresi kaget


“Memangnya kenapa?”tanya Ayra balik

__ADS_1


“Aku..tak suka sate kambing”jawab Devara


“Ohh..ya sudah terserah kamu aja kalo gitu”ucap Ayra.


Akhirnya mereka makan siang di restoran yang ada di hotel XX. Hotel bintang lima terbaik di kota S. Mereka menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan kota S dari atas rooftop hotel. Sambil menyantap hidangan makan siang, Ayra memberanikan diri menanyakan sesuatu pada Devara.


“Ehmm.. Dev, aku punya pertanyaan. Jawab yang jujur ya”pinta Ayra


“Tanya saja”jawab Devara tanpa menoleh pada Ayra.


“Semester satu kemarin, setelah Aldo mengantarku pulang ke kosan. Dia bilang ada mobil yang menabraknya. Apa mungkin itu kamu?”tanya Ayra pelan-pelan


Devara meletakkan sendok ditangannya. Antara marah, kesal dan cemburu. Karena Ayra menyebut nama lelaki itu lagi.


“Menurutmu?”tanya Devara balik


“Jadi benar itu kamu? Ya ampun Dev..apa kau sadar kau hampir mencelakai orang lain?”Ayra kaget mendengar jawaban Devara.


“Aku hanya menyenggol motor bututnya. Lagipula dia sedang parkir. Tak mungkin parah. Siapa suruh dia mendekati wanitaku..Dia harus terima balasannya karena sudah berani berurusan denganku”jawab Devara enteng.


“Tapi kau bisa membahayakan nyawa orang lain, Dev”Ayra geleng-geleng dengan kelakuan Devara.


“Jika aku tak memikirkan perasaanmu, waktu itu, sudah kuhancurkan dia dan keluarganya karena sudah berani-berani berurusan denganku. Tapi aku tak lakukan itu kan? Sudah kubilang, justru karena memikirkan perasaanmu makanya aku hanya membuat sedikit ringsek motor bututnya. Supaya dia tak berani lagi memboncengkan kamu"jelas Devara panjang lebar.


Ayra menghela nafas perlahan. Ayra tahu betul bahwa ucapan Devara benar adanya. Devara dengan mudah dapat menghancurkan seseorang. Seperti yang sudah dilakukan Devara terhadap Georgina dan Angel yang sudah berani merekayasa cerita hingga akhirnya membuat Ayra dan Devara harus berpisah cukup lama.


Devara dengan mudah membuat Ayah Gina dan Angel mendekam di penjara karena kasus penggelapan pajak perusahaan dan juga kasus suap proyek perusahaan Ayah Gina dengan perusahaan BUMN.


“Oya..apa kau akan datang di acara pertunangan Nadine dan Daniel?”tanya Ayra


“Entahlah”jawab Devara


“Mereka akan bertunangan sebulan lagi. Apa kau takkan datang? Mereka sahabat kita”ucap Ayra


“Hissshh..mana ada seperti itu. Datang ke pertunangan sahabat asal aku mau menikah dengan dia”gerutu Ayra dalam hati.


“Apa kau sudah membuat keputusan? Besok aku sudah harus kembali ke London. Tolong jangan lama-lama Ay..aku butuh jawabanmu segera”pinta Devara


Ayra hanya terdiam. Dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Menikah muda? Itu samasekali tak ada dalam kamus hidupnya. Walaupun Ayah dan Bunda juga menikah muda, tetapi mereka menikah saat keduanya berusia 22-23 tahun. Sementara Ayra baru berusia 20 tahun. Devara juga baru berusia 21 tahun. Menikah saat kuliah? Benarkah ini jalan hidup yang harus dilalui Ayra? Ayra benar-benar bingung mesti berbuat apa.


“Tolong jangan memaksaku Dev..menikah bukan perkara gampang. Aku masih kuliah. Kamu juga masih kuliah. Kita mesti pikirkan baik-baik masalah ini”pinta Ayra


“Kau masih bisa kuliah setelah menikah nanti. Kalau itu yang mambuatmu bimbang. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu lagi, Ay..aku ingin kita bersama”ujar Devara sambil menggenggam tangan Ayra erat.


“Tolong beri aku waktu” ucap Ayra.


“Berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan? Seminggu? Dua minggu?”tanya Devara


“Sebulan..beri aku waktu sebulan”ucap Ayra mantap.


“Baiklah..aku beri kau waktu sebulan. Sebelum pesta pertunangan Nadine dan Daniel kau harus memberiku jawaban”tegas Devara


Ayra mengangguk pelan.


“Baiklah..kita lupakan sebentar masalah pernikahan ini. Aku hanya ingin menikmati saat-saat ini bersamamu”ucap Devara lembut.


Devara sangatlah pengertian. Dia bisa membaca pikiran Ayra yang sedang bimbang memikirkan masalah ajakan nikah Devara yang mendadak itu. Selesai makan siang, Devara mengajak Ayra jalan-jalan ke S Square, salah satu mall terbesar di kota S. Mereka berjalan-jalan sambil bergandengan tangan dengan mesra. Mereka berdua benar-benar menikmati kebersamaan mereka setelah hampir setahun berpisah.


*


*

__ADS_1


*


*


Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan, Devara kembali ke London. Ayra mengantar kepergian Devara ke bandara. Devara sengaja mengambil jalur darat, dengan mengendarai mobil supaya bisa menikmati kebersamaan dengan Ayra.


Kali ini, Devara dan Ayra duduk di kursi tengah sementara Kak Arga dan seorang sopir di depan. Ayra menyandarkan kepalanya di dada Devara sementara Devara melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Ayra. Tangan kanan Devara terus menggenggam tangan Ayra.


“Benarkah kau tak mau tinggal dirumahku?”tanya Devara memastikan lagi


Ayra mengangguk pelan.


“Lebih baik aku di kosan saja. Disana ada Chacha dan teman-teman. Aku tak kan kesepian”jawab Ayra


“Aku ingin sekali membawamu bersamaku. Jadi aku bisa tenang”ucap Devara


Ayra mendongakkan kepalanya menatap Devara kemudian tersenyum. Devara pun mengecup kening Ayra yang berada tepat di bawah kepalanya.


“Aku akan baik-baik saja. Tenanglah”ucap Ayra mencoba menenangkan Devara


“Oya, tak usah kau kirim mata-mata lagi. Aku tak suka”seru Ayra


Devara seolah tak mendengar permintaan Ayra. Mana mungkin dia biarkan Ayra sendiri tanpa pengawasan. Walaupun berjauhan namun Devara tetap ingin Ayra selalu aman dan terlindungi.


“Jangan meminta yang tak mungkin”jawab Devara santai


“Tapi Dev…”rengek Ayra


“Aku tak mungkin membiarkanmu sendiri tanpa pengawasan. Bisa gila aku disana jika kau sampai lepas dari pengawasan anak buahku. Tenanglah! Mereka tak kan mengganggu aktivitas dan kuliahmu”ucap Devara


Ayra mendengus kesal. Walaupun selama ini, anak buah Devara tidak ketahuan oleh Ayra tetapi mengetahui setiap gerak geriknya diawasi membuat Ayra merasa tak bebas. Apalagi Ayra jago beladiri. Dia merasa bisa menjaga dirinya sendiri.


“Apa kau ingat kejadian kau mengejar pencopet di terminal waktu itu?”tanya Devara


“Ingat”jawab Ayra


“Aku pecat semua anak buahku karena mereka kehilangan pengawasannya darimu karena kau mengejar pencopet itu. Makanya jangan melakukan hal-hal yang membuatku kuatir dan marah”ucap Devara


“Apa salah anak buahmu? Kan aku yang berinisiatif mengejar pencopet itu?”protes Ayra tak terima orang lain harus menderita karena dirinya.


“Makanya sekarang setiap melakukan sesuatu, pikirkan dulu keselamatanmu, baru memikirkan keselamatan orang lain. Untung saja, anak buahku datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin pisau yang disembunyikan pencopet itu sudah melukaimu”ujar Devara panjang lebar


“Benarkah pencopet itu membawa pisau? Dia kan masih anak di bawah umur?”tanya Ayra


Devara menjentikkan jarinya di kening Ayra.


“Aduhh” Ayra mengerang kesakitan


“Jika kamu sepolos dan selugu ini, kenapa kamu sok berani melawan pencopet itu?”


Ayra mengusap keningnya yang sakit dengan wajah cemberut.


Akhirnya sampailah keduanya di bandara kota Y. Sebelum naik pesawat, Devara dan Ayra menyempatkan berfoto bersama. Keduanya tampak sangat bahagia. Senyum terus terpancar dari wajah keduanya.


Ayra juga tanpa sungkan melingkarkan tangannya di leher Devara, mendekapnya dari belakang. Mereka berfoto beberapa pose. Mereka sengaja berfoto berdua, karena sebentar lagi mereka harus menjalani LDR Indonesia – London. Setidaknya untuk satu bulan kedepan. Karena Ayra sudah berjanji untuk memberikan jawaban atas “lamaran dadakan” Devara dua hari yang lalu.


Akhirnya Devara terbang kembali ke London naik pesawat jet pribadinya. Meskipun enggan meninggalkan Ayra, namun Devara memang harus kembali ke London, untuk melanjutkan kuliah dan pekerjaan kantornya yang terpaksa harus di re-schedule selama Devara pulang ke Indonesia menemui Ayra.


Ayra kembali ke kosan diantar sopir Devara. Di dalam mobil, pandangannya menerawang jauh ke luar jendela mobil. Ayra sudah merindukan Devara. Meskipun selalu bertengkar, namun Ayra sangat mencintai Devara. Kehadiran lelaki itu selama tiga hari ini benar-benar membuat Ayra sangat bahagia.


Di balik sikap Devara yang semaunya dan protektif cenderung posesif, Ayra bisa melihat betapa Devara sangat mencintainya. Bahkan Devara selalu menjaganya meskipun mereka berjauhan. Keberadaan bodyguard Devara disekitar Ayra, tanpa sepengetahuan Ayra, menunjukkan lelaki itu tak pernah melupakan Ayra. Devara selalu ingin melindunginya dan menjaganya.

__ADS_1


Ayra menatap layar hp nya. Dilihatnya lagi foto-foto kebersamaannya selama tiga hari ini bersama Devara. Ada perasaan bahagia bercampur sedih yang menyeruak dalam hati Ayra. Bahagia karena akhirnya mereka bersama lagi setelah berpisah hampir satu tahun lamanya. Sedih karena Ayra sudah merindukan kehadiran Devara disisinya.


“Apakah aku terima saja lamaran Devara?”gumam Ayra dalam hati


__ADS_2