
Pelayan-pelayan mulai menyiapkan sarapan. Beberapa menu masakan tersedia di meja makan.
“Silahkan makan tuan muda, nona Ayra” ujar Madam O lalu beliau meninggalkan mereka berdua untuk makan.
Ayra clingukan. Dia salah tingkah. Pertama karena dress terbukanya. Kedua karena di ruang sebesar itu hanya ada mereka berdua.
“Kamu kenapa?”tanya Devara sambil menyantap makanannya tanpa melihat Ayra.
“Keluargamu dimana? Dari kemarin aku tak melihat satupun keluargamu?” tanya Ayra
“Papa dan mommy ku di luar negeri. Kakakku sudah menikah, sekarang dia di London”jawab Devara datar
“Ooo..”jawab Ayra mengerti
“Apa kau tak merasa kesepian? Kalau aku jadi kamu, aku pasti sangat kesepian” balas Ayra.
“Tidak! Aku sudah biasa sendiri”jawab Devara datar
Ayra menghentikan sejenak acara makannya dan menatap ke arah Devara
“Rupanya orang kaya tidak selalu bahagia”gumam Ayra dalam hati
“Kenapa? Apa kau kasihan padaku? Aku tak butuh dikasihani” tanya Devara sambil menoleh ke arah Ayra.
Ayra yang kaget dilihat oleh Devara, segera menyantap makanannya.
“Tidak! Siapa bilang aku kasihan” balas Ayra mengelak
“Baguslah! Aku tak suka dikasihani. Apalagi oleh kamu” ujar Devara
“Cepat selesaikan makanmu. Setelah ini aku antar kamu ke rumah Nadine baru kemudian aku antar pulang”ujar Devara sambil mengelap mulutnya. Rupanya dia sudah selesai makan.
“Aku bisa pulang sendiri. Tak perlu kau antar” balas Ayra
“Aku kan sudah pernah bilang. Aku tak suka kamu membonceng lelaki lain. Sudah jangan membantahku.. Menurut saja”seru Devara
“Aishh..kenapa dia selalu marah-marah sih? Membuat ***** makanku hilang” gerutu Ayra dalam hati.
Diapun segera mengakhiri acara makannya.
“Kenapa sudah selesai? Selesaikan dulu makanmu”ujar Devara melihat Ayra yang sudah berhenti makan.
“Tak perlu. Aku sudah kenyang. Seseorang baru saja membuat ***** makanku hilang” protes Ayra
“Habiskan dulu makanmu. Kalau tidak, aku akan menyuapimu”goda Devara
“Kenapa kau selalu saja memerintah orang seenak maumu, hah? Kau tak punya hak memerintahku. Aku bebas melakukan apapun yang aku mau” ujar Ayra jengkel.
“Tentu saja aku berhak. KAU ITU PACARKU” seru Devara
Ayra makin jengkel.
“Sejak kapan aku setuju jadi pacarmu? Aku tak pernah bilang aku setuju” ujar Ayra jengkel.
Ditengah pertengkaran mereka, Arga pun masuk.
“Maaf tuan muda, mobil Anda sudah siap” ucap Arga sambil menyerahkan kunci mobil pada Devara
Mereka berdua menoleh bersamaan.
“Sudah, tak usah bertengkar. Ayo aku antar pulang” ujar Devara sambil beranjak dari kursinya.
Ayra akhirnya menahan amarahnya dan mengikuti Devara di belakang.
Sampai di pintu depan, Madam O berdiri untuk mengantar kepulangan Ayra. Ayra berpamitan pada Madam O.
“Madam terimakasih untuk semuanya” ucap Ayra sopan sambil mencium punggung tangan Madam O.
Madam O kaget tapi kemudian Ia tersenyum senang. Selama ini anggota keluarga Devara tidak pernah mencium tangannya seperti yang dilakukan Ayra. Karena itu Ia sangat senang dengan kehadiran Ayra. Madam O memeluk Ayra. Ayra pun membalas pelukannya. Devara hanya tersenyum melihat dua orang penting dalam hidupnya, setelah neneknya, saling berpelukan. Mereka pun melepas pelukan.
“Sering-seringlah berkunjung nona Ayra”ucap Madam O sambil tersenyum.
Ia sangat senang dengan kehadiran Ayra di rumah itu. Membuat Devara mampu menunjukkan sisi lembutnya selama ini.
“Engg..saya tidak berani berjanji. Tapi saya akan usahakan” jawab Ayra lembut
“Aku akan sering-sering membawanya kesini”ujar Devara sambil menatap Ayra lembut.
Ayra spontan menoleh ke arah Devara. Madam O kemudian menyerahkan sebuah tas besar.
“Ini seragam nona”ujar Madam O
“Terimakasih. Saya pamit dulu. Mari Madam” Ayra pamit
__ADS_1
Ayra dan Devara berjalan menuju mobil Mercedes-AMG GT 53 4MATIC warna putih yang ada di depan rumah. Devara membukakan pintu untuk Ayra dan melindungi kepalanya agar tak terbentur. Sikap Devara benar-benar gentleman. Devara lalu berjalan menuju pintu kemudi sopir. Dia membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Ayra membisu dalam mobil.
Tiba-tiba Devara mendekat ke arah Ayra. Jantung Ayra bergetar hebat. Rupanya Devara membantu memakaikan Ayra sabuk pengaman. Ayra jadi salah tingkah. Ayra memilih diam tak bergerak sedikitpun saat Devara membantunya memasangkan sabuk pengaman. Devara hanya tersenyum lalu memakai sabuk pengamannya sendiri. Devara pun menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Mobil pun bergerak meninggalkan rumah mewah Devara.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Beberapa kali Ayra mencuri pandang ke arah Devara. Devara yang fokus mengemudi tak terlalu memperhatikan.
“Kenapa dia bisa punya wajah setampan itu? Badannya juga sangat bagus. Sayangnya sikap menyebalkannya itu sudah akut” gumam Ayra dalam hati
“Kenapa kau diam?”tanya Devara tiba-tiba
“Memang mau bicara apa? Aku malas berdebat” ujar Ayra
“Oya, aku ingat. Kau kan janji akan memberikanku video CCTV itu. Kapan kau akan memberikannya padaku?” tanya Ayra begitu ingat janji Devara
“Memang aku pernah janji seperti itu? Kenapa aku tak ingat?” goda Devara
“Hyyaaaa..kau kan sudah janji. Apa kau akan mengingkari janjimu sendiri?”tanya Ayra
“Kenapa kau menginginkan video itu? Apa kau ingin mengingat ciuman kita?”goda Devara
“Jangan ngaco kamu.. Aku tak mau video itu jatuh ke tangan orang lain, lalu mencemarkan nama baik keluargaku” jelas Ayra
“Jangan khawatir. Jika ada yang berani melakukannya, dia akan berhadapan langsung denganku” balas Devara tegas.
Jawaban Devara membuat jantung Ayra bergetar sekali lagi dengan sikap Devara yang selalu ingin melindunginya. Devara kemudian menelpon seseorang. Ayra sedikit penasaran siapa yang ditelpon Devara.
“Sebentar lagi aku sampai. Kau keluarlah sekarang”perintah Devara di telpon
“Aiishhh..kenapa dia selalu memerintah orang? Aku benar-benar risih mendengarnya” gerutu Ayra dalam hati.
*
*
*
*
Sampai di rumah Nadine, Nadine sudah menunggu mereka di depan rumah.
Ayra dan Devara keluar mobil bersama.
“Wah Ay, kamu cantik sekali hari ini! Tumben kamu pakai dress. Biasanya pakai celana jeans”ujar Nadine begitu melihat Ayra yang tampak anggun memakai dress milik kakak Devara
“Ini bukan bajuku. Aku dipinjami” ucap Ayra
Ayra segera merangkul tangan sahabatnya itu.
“Kamu bicara apa sih? Udah ah, ayo naik”ucap Ayra mengalihkan pembicaraan
Ayra pun mengajak Nadine naik mobil. Nadine duduk di kursi tengah mobil sport itu .Ketika Ayra juga mau naik menyusul Nadine, Devara tiba-tiba menarik lengannya.
“Kau pikir aku sopirmu. Duduk di depan”perintah Devara
Devara menarik lengan Ayra supaya duduk di depan di kursi sebelah sopir. Di sampingnya. Ayra yang ditarik Devara, mencoba berontak tapi cengkraman Devara dilengannya terlalu kuat.
“Lepaskan, aku bisa jalan sendiri”protes Ayra
Dasar Devara keras kepala. Tak dihiraukannya permintaan Ayra. Sekali lagi dia membukakan pintu untuk Ayra lalu melindungi kepala Ayra supaya tak terbentur. Nadine yang melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa tersenyum saja. Setelah Devara masuk mobil, sekali lagi dia mendekat ke arah Ayra. Ayra yang menyadari kesalahannya pun mendorong tubuh Devara.
“Jangan mendekat. Aku bisa memakainya sendiri”ucap Ayra lalu dia memakai sabuk pengamannya sendiri.
Devara hanya tersenyum melihat tingkah Ayra yang salah tingkah karena dirinya. Mobil pun bergerak menuju rumah Ayra.
“Bagaimana lukamu Ay? Apa sudah sembuh?” tanya Nadine
“Ehmm..sudah. Aku tidak apa-apa. Hanya luka lecet saja” jawab Ayra
“Kemarin aku kaget setengah mati melihat perbuatan Angel. Kamu baik-baik saja kan Ay? Aku takut sekali kalau kamu sampai trauma” ucap Nadine khawatir
“Apa kamu trauma?” tanya Devara kuatir
“Aku baik-baik saja. Awalnya memang aku syok berat. Tapi sekarang aku baik—baik saja” jawab Ayra
“Oya Ay, kemarin orangtuamu menelpon, tapi aku yang mengangkat. Hp mu kemarin tidak kamu bawa”ucap Nadine
Ayra baru ingat, dia meninggalkan hp dan tasnya di kelas saat pergi ke gudang. Dia hanya membawa smartphone Devara saja.
“Ya ampun, aku sampai lupa. Hp ku kan ada di tas” ucap Ayra
“Tenang saja, ini sudah aku bawakan” tutur Nadine sambil menunjukkan tas Ayra yang kemarin ditinggalkannya di sekolah.
“Terimakasih Nad”ucap Ayra sambil tersenyum
__ADS_1
“Iya, sama-sama”balas Nadine
“Kamu..sudah ngucapin terimakasih juga belum sama Devara?”goda Nadine
“Buat apa? Ini kan juga gara-gara dia” ujar Ayra dengan wajah kesal
“Hyyaaaa..kalau bukan karena aku yang menyelamatkanmu, kamu pasti sudah habis sekarang”seru Devara tak terima
“Iya..iya..aku tahu. Terimakasih. Puas?”ucap Ayra dengan cemberut
Devara hanya tersenyum. Nadine yang melihat pertengkaran dua sejoli itu sampai tertawa geli.
“Apanya yang lucu Nad?” tanya Ayra setelah mendengar Nadine tertawa.
“Kalian itu cocok banget yah” ucap Nadine sambil tersenyum
Ayra langsung tidak terima mendengar ucapan Nadine barusan.
“Apanya yang cocok? Jangan ngaco ah Nad.. Cowok pemarah, bossy dan nyebelin kayak gini masak dibilang cocok sama aku” sahut Ayra sambil menunjuk Devara
“Nadine ini apa-apaan sih? Cocok? Cocok dari hongkong! Dulu Kak Arga bilang aku cocok sama dia, sekarang Nadine. Sebenarnya mereka semua lihat dari mananya coba, bisa-bisanya bilang aku cocok sama bocah tengil ini” gerutu Ayra dalam hati.
“Hyaa..kenapa kamu malah menjelek-jelekkan aku sih? Gini-gini banyak lho yang ngantri jadi pacarku. Aku kurang apa coba? Aku tampan, Tinggi, Bodyku oke, tajir. Apalagi yang kurang?”jelas Devara sambil membanggakan diri
Ayra yang mendengar kenarsisan Devara mulai memonyongkan mulutnya.
“Mulai deh..narsis banget sih anak ini”gerutu Ayra dalam hati
“Satu yang kurang.. KURANG AJAR!” jawab Ayra tegas.
Ccckkittttt..
Devara langsung menepikan mobilnya dan menghentikan secara mendadak. Membuat Ayra terdorong kedepan. Nadine di deret kedua sampai hampir menabrak kursi sopir. Ayra yang tidak mengira Devara akan menghentikan mobil secara mendadak jadi kaget.
“Hyaaa..bisa bawa mobil ga sih?” protes Ayra
Devara langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra. Ayra jadi salah tingkah karenanya.
“Aa..apaa?” tanya Ayra ketika Devara hanya mendekat tanpa berkata apa-apa.
Mata mereka berpandangan. Kali ini Devara menatap Ayra dengan tatapan yang sangat hangat. Ayra benar-benar dibuat salah tingkah. Jantungnya pun bergetar.
“Aku kurang ajar? Benarkah?” tanya Devara dengan tatapan menggoda sambil menyentuh bibirnya bagian bawah.
Ayra yang melihat Devara seperti itu dibuat panik. Takut jika Devara akan menciumnya lagi di depan Nadine
“Sebenarnya dia mau ngapain sih? Pakai pegang-pegang bibirnya segala”gumam Ayra dalam hati.
“Hei..bisa tidak kita lanjutkan perjalanan? Aku mual tau melihat kemesraan kalian” protes Nadine
“Hahaha..kamu bicara apa sih Nad?” tanya Ayra dengan tawa yang dibuat-buat. Dia lalu mendorong tubuh Devara supaya menjauh darinya.
Devara hanya tersenyum melihat Ayra yang salah tingkah. Devara pun mengemudikan mobilnya kembali.
“Oya Ay, Dev, sejak kapan kalian dekat? Setauku kalian kan musuhan?”tanya Nadine penasaran
“Sejak kami ciu..”belum selesai Devara menjawab pertanyaan Nadine, Ayra segera menyumbat mulut Devara
“Apa kau sudah gila? Kau mau menceritakannya pada Nadine?”bisik Ayra pada Devara.
Devara segera melepas tangan Ayra di mulutnya.
“Kenapa? Apa kau malu?”goda Devara.
“Sudah menyetir saja” pinta Ayra
“Kenapa? Ada apa dengan kalian ini? Rahasia ya? Jangan-jangan kalian sudah pacaran?”tebak Nadine
“Ahh..ti..”Ayra menggerak-gerakkan tangannya
“Iya..kami sudah pacaran”jawab Devara tegas
Ayra segera memukul lengan Devara dengan keras
“Aduh” Devara mengelus-elus lengannya yang dipukul Ayra sambil menengok ke arah Ayra dengan tersenyum senang
“Aiishh” gerutu Ayra.
Dia pun menoleh ke arah berlawanan dengan wajah cemberut. Anehnya dia tak membantahnya.
“Wahh..selamat ya”ucap Nadine memberi selamat.
“Terimakasih Nad”balas Devara.
__ADS_1
Sesekali dia menoleh ke arah Ayra yang terus saja diam. Ayra kesal.
“Dia selalu saja seenaknya sendiri. Kenapa dia tak pernah memperhatikan perasaan orang lain. Nyebelin”gerutu Ayra dalam hati