
Keesokan harinya,
Di café XX, Ayra dan Daniel menunggu Devara di tempat biasa mereka berkumpul dulu. Café sangat sepi. Hanya ada mereka berdua dan beberapa pengunjung berpakaian hitam dan berperawakan besar-besar.
“Aku ke toilet sebentar”ucap Ayra pada Daniel
Daniel menganggukkan kepalanya. Daniel terus menatap jam dinding sambil menatap ke arah pintu masuk café, menunggu kedatangan Devara untuk menjernihkan semua kesalahpahaman selama ini.
Ayra yang baru saja keluar dari toilet, tak menyadari bahwa dibelakangnya kini berdiri dua orang lelaki berperawakan besar dengan pakaian berwarna hitam. Mereka berjalan mendekati Ayra dengan langkah mengendap-endap. Kemudian salah satu dari mereka, membekap mulut dan hidung Ayra dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
“Mmmppphhh”
Ayra yang kaget meronta terus namun karena efek obat bius yang diberikan di sapu tangan itu, membuat Ayra pingsan tak sadarkan diri. Dua orang itu segera membawa Ayra masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang café.
“Ayra lama sekali ke toiletnya?”gumam Daniel dalam hati setelah menyadari Ayra tak kunjung kembali dari toilet.
“Lebih baik aku susul saja Ayra”gumam Daniel lagi.
Daniel yang curiga Ayra tak segera kembali dari toilet berencana menyusul Ayra, namun tiba-tiba,
“Ddduuukkkk”
“Bruuughhh”
Seseorang memukul tengkuk Daniel dengan sangat keras hingga membuat Daniel pingsan tak sadarkan diri.
“Bagus..kerja kalian sangat bagus!”puji Gina pada anak buahnya sambil melihat Ayra dan Daniel yang tidak sadarkan diri di dalam mobil
“Kita pergi dari sini”perintah Gina kemudian mobilnya melaju meninggalkan café.
Ayra dan Daniel dibawa ke suatu tempat dalam keadaan pingsan oleh dua orang yang tidak dikenal tadi yang adalah anak buah Gina.
Sementara itu, Devara yang baru datang ke café, tak menemukan sosok Ayra.
“Kemana Ayra? Dia bilang ingin bicara denganku. Apa dia hanya ingin membohongiku?”gumam Devara dalam hati sambil mencari keberadaan Ayra.
Devara terus menyusuri tiap ruangan yang ada di café itu namun tak menemukan gadis pujaan hatinya. Devara yang kesal karena merasa sudah dibodohi Ayra meninggalkan café dangan penuh kemarahan.
Di sebuah kamar hotel,
Ayra dan Daniel yang masih pingsan, dilucuti semua pakaiannya oleh Gina dibantu oleh Felix dan Angel. Mereka melemparkan pakaian Ayra dan Daniel ke sembarang tempat. Menyisakan un**rware mereka saja. Membuat seolah-olah keduanya baru saja bercinta.
Gina dengan seringai liciknya mulai memfoto Ayra dan Daniel yang sedang tak berdaya, dengan posisi yang sangat meyakinkan.
“Perfect”gumam Gina penuh kemenangan.
“Setelah ini Kak Dev pasti akan menendang mereka dan membuat mereka menderita, hahahaaha”Angel tertawa dengan sangat bahagia melihat Ayra dan Daniel yang saat ini tertidur pulas di ranjang.
Gina segera mengirimkan foto mesra Ayra dan Daniel ke hp Devara menggunakan nomor lain supaya tak mudah dilacak.
Di kediaman keluarga Alexander,
Nadine yang sedang bersama Devara, menatap kak Arga yang saat ini wajahnya sangat serius.
“Apa maumu Nad?”tanya Devara
“Aku hanya ingin bicara, tentang Gina”ucap Nadine
“Kenapa? Apa kau juga akan membantu Ayra dan Daniel?”tanya Devara
__ADS_1
“Aku yakin kesalahpahaman ini pasti ada hubungannya dengan Gina. Apa kau tak merasa aneh, sejak kehadiran Gina, hubunganmu dengan Ayra berantakan? Begitu juga hubunganku dengan Daniel”ucap Nadine dengan sangat hati-hati takut menyinggung Devara.
Devara yang sedang sangat kesal, karena tadi sudah dibodohi Ayra, memilih tak mendengarkan perkataan Nadine.
“Aku tak peduli apapun katamu. Sebaiknya kau pulang sekarang”pinta Devara yang kemudian meninggalkan Nadine sendiri di ruang tamu kediaman keluarga Alexander.
Nadine merasa sedih karena tak berhasil meyakinkan Devara. Kak Arga yang sejak tadi memegang hp Devara, terkejut melihat pesan yang baru saja masuk di hp tuan mudanya.
Di saat yang sama, Nadine juga mendapat kiriman foto yang sama dengan yang dikirimkan ke hp Devara.
“Hah?! Ini tidak mungkin?!”tanya Nadine dalam hati
Nadine yang melihat kekasihnya dan sahabatnya berdua di ranjang, syok setengah mati hingga menitikkan airmatanya. Kak Arga yang melihat Nadine menangis, menghampiri gadis muda itu.
“Kenapa nona menangis?”tanya Pak Arga
Nadine tak menjawab namun hanya menunjukkan kiriman foto di hp nya pada kak Arga dengan tangan gemetar.
“Ada yang janggal dalam masalah ini”gumam kak Arga dalm hati.
Kak Arga yang sejak awal tak percaya Ayra berselingkuh dengan Daniel merasa ada yang janggal dalam masalah ini. Kak Arga mencoba menenangkan Nadine lalu memberikan beberapa alternatif solusi bagi Nadine.
“Sebaiknya nona segera ke hotel itu dan menyelidiki semuanya. Saya akan berusaha membantu nona”pinta kak Arga
Sejak hubungannya berantakan dengan Ayra, Devara memang jarang memegang hp nya. Dan lebih sering menyerahkan pada kak Arga. Hanya jika sedang ingin saja, Devara memegang hp nya sendiri.
Nadine dengan langkah terburu-buru segera meluncur ke kamar hotel yang dikirimkan oleh orang tak dikenal tadi. Dalam hatinya masih berkecamuk segala perasaan, antara sedih dan marah. Semuanya bercampur menjadi satu. Nadine ingin segera menemui kekasihnya dan menuntut penjelasan dari semua yang dilihatnya tadi.
Nadine kini sudah berada di depan kamar hotel yang pintunya sedikit terbuka. Seolah sengaja dibiarkan terbuka. Nadine membuka gagang pintu dengan perasaan yang campur aduk. Nadine memasuki kamar hotel dan saat di ranjang, Nadine melihat semua pakaian Ayra dan Daniel yang berserakan membuat hatinya semakin sakit.
Begitu melihat Ayra dan Daniel yang masih terlelap, Nadine segera berjalan ke samping ranjang dan memukul Daniel.
Ayra yang mendengar teriakan Nadine juga mulai mengerjapkan matanya. Dan saat keduanya sudah sadar, Ayra sangat kaget melihat Daniel yang memeluk dirinya sementara keduanya dalam keadaan hanya mengenakan pakaian dalam.
Suara tangis Nadine memenuhi ruangan, menyaksikan kekasih yang dicintainya berselingkuh dengan sahabatnya. Nadine segera menarik selimut keduanya membuat Ayra dan Daniel kaget dan berusaha menarik balik selimut yang menutupi tubuh keduanya.
“Ada apa ini Nad? Kenapa kami bisa ada disini?”tanya Ayra bingung
“Kau tanya kenapa? Kalian baru saja bercinta dan kau tanya kenapa?”tanya Nadine balik dengan terisak.
“Nadine, ini semua salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya”ucap Daniel sambil berjalan mengambil pakaiannya yang berserakan.
Suasana benar-benar kacau. Ayra dengan susah payah, mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya di kamar mandi. Dengan perasaan yang sangat kacau.
“Kenapa jadi begini? Bagaimana aku bisa tidur dengan Daniel? Ujian macam apa lagi ini?”gumam Ayra dalam hati sambil terisak pilu.
Daniel berusaha menenangkan Nadine yang terus histeris, menangis dengan suara yang menyayat hati.
“Plakkk” sebuah tamparan dari Nadine mendarat di pipi Daniel. Daniel yang menerima tamparan Nadine tanpa berniat membela diri.
“Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku membencimu. Aku membencimu”ucap Nadine sambil terus memukul dada bidang Daniel.
“Nad..aku mohon..dengarkan aku dulu”pinta Daniel sambil menahan kepalan tangan Nadine.
“Lepaskan aku! Aku tak sudi disentuh lelaki bejat sepertimu”umpat Nadine penuh emosi
“Bisa-bisanya kau melakukan ini padaku. Kau melakukannya dengan sahabatku. Kau sungguh tega Dan”isak Nadine membuat Daniel merasa bersalah pada kekasihnya itu.
“Brakkkkkk”
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar hotel dibuka dengan sangat kasar oleh seseorang. Membuat Daniel dan Nadine yang bertengkar sejak tadi menoleh ke arah pintu.
“Devara”gumam Daniel melihat sahabat kecilnya berjalan dengan penuh amarah menuju dirinya.
Devara yang sudah tak bisa mengendalikan emosinya segera melayangkan bogem mentahnya ke arah perut Daniel.
“Buuugghhh”
Devara memukul Daniel beberapa kali dengan sekuat tenaga. Membuat Nadine yang awalnya marah, menjadi kasihan pada Daniel yang sudah dipukuli Devara dengan membabi buta.
“Dev..hentikan!”pinta Nadine melihat Devara yang kesetanan memukuli Daniel bertubi-tubi.
Ayra yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar ada keributan di ruang tengah, segera berlari dan mendapati Devara yang memukuli Daniel berulang kali.
“Devaraaa, hentikan!”seru Ayra dengan suara keras membuat Devara menghentikan pukulannya di tubuh Daniel yang sudah tersungkur di lantai.
Devara segera berdiri lalu berjalan ke arah Ayra. Devara menatap kekasih hatinya dengan perasaan yang sangat hancur. Devara memegang wajah Ayra.
“Aku tak pernah menyangka kau akan mengkhianatiku sejauh ini. Kau sudah menyakitiku Ayra. Aku tak menyangka ternyata kau gadis murahan”umpat Devara
Ayra yang mendengar umpatan Devara yang sangat menusuk hati membuat matanya berkaca-kaca.
“Semua ini tak seperti yang kau bayangkan”ucap Ayra sedih
“Apalagi pembelaanmu?Sudah jelas kau tidur dengan Daniel. Kurang bukti apa lagi? DASAR PELACUR!!!”umpat Devara
Kata-kata Devara yang menyebutnya pelacur benar-benar menyakiti hati Ayra.
“Plakkkkk”
Ayra menampar pipi Devara dengan sangat keras hingga ujung bibir Devara berdarah.
“Kau benar-benar keterlaluan! Dengarkan aku baik-baik Devara Alexander! Aku.. AMAYRA GRIZELLE FREDELLA bukanlah pelacur seperti yang kau tuduhkan. Kali ini kau benar-benar sudah menyakitiku Dev..Aku tak akan memaafkanmu sampai kapanpun juga. Hubungan kita berakhir sampai di sini”ucap Ayra dengan berlinangan airmata berjalan keluar dari kamar hotel. Hatinya sangat terluka dengan ucapan Devara.
Nadine yang tak tega melihat Daniel terluka mencoba memapah Daniel keluar dari kamar hotel. Dan sebelum pergi, Daniel menatap Devara dengan tajam.
“Kau sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Kali ini kau akan benar-benar kehilangan Ayra”ucap Daniel lalu dipapah Nadine keluar dari kamar hotel.
“Aaagggggghhhhhh”
Devara berteriak sekuat tenaga dan memukulkan tanganya yang terkepal ke arah tembok hingga berdarah, mengeluarkan beban berat dalam hatinya. Mata Devara sampai memerah campuran perasaan marah, kecewa dan sedih yang dirasakannya. Devara juga sangat terluka dengan pengkhianatan Ayra. Kak Arga yang sejak tadi berdiri di dekat pintu hanya bisa menatap tuan mudanya yang sedang patah hati.
Sementara itu, di tempat lain,
Gina, Felix dan Angel berpesta merayakan kemenangan mereka karena berhasil menyingkirkan Ayra dari kehidupan Devara.
“Bersulang!!!”
Ketiganya mengangkat gelas berisi wine dan meminumnya. Diiringi musik yang menghentak keras, ketiganya berpesta dengan bahagia.
“Kau memang rubah betina”sindir Felix pada Gina
“Terimakasih untuk pujiannya”sahut Gina bangga dengan “pujian” Felix
“Kakak benar-benar jahat. Aku bangga pada kakak”ucap Angel pada sang kakak
“Jangan sebut namaku Georgina jika aku tak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan”
Ketiganya melanjutkan pesta liar mereka sampai larut malam.
__ADS_1