Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Resmi Pacaran


__ADS_3

Ayra dan Devara menoleh kearah bodyguard itu. Ayra segera melepaskan diri dari Devara. Dia memberi hormat pada bodyguard itu lalu segera berlari ke kelas dengan tersipu malu. Sementara Devara menggaruk-garuk kepalanya dengan keras walaupun tidak gatal. Dia sangat kesal. Sangat-sangat kesal. Selalu tertangkap basah setiap akan mencium Ayra.


Devara memukul dinding lift dengan tangan kanannya melampiaskan kemarahannya. Sementara bodyguard Devara hanya diam menyaksikan tuan mudanya yang sedang marah padanya. Devara segera keluar dari lift dengan wajah sangat marah. Kebetulan suasana kantin mulai sepi karena anak-anak mulai kembali ke kelas masing-masing.


Sampai di kelas, Ayra segera duduk di kursinya. Melihat Ayra yang berlari dan terengah-engah, Nadine jadi penasaran.


“Kamu kenapa Ay? Lari-lari seperti itu?”tanya Nadine


“Aa..aku takut..aku takut telat” jawab Ayra sambil terengah-engah.


Ayrapun mengatur nafasnya.


“Jantungku mau copot..kami ketangkap basah lagi. Setiap kali dia melakukan ‘itu’”gumam Ayra dalam hati


Ayra memegang dadanya. Setiap kali Devara akan menciumnya, jantung Ayra selalu berdetak sangat kencang. Dan setiap hampir terjadi, selalu saja ada orang yang memergoki mereka. Membuat Ayra malu sekali. Tertangkap basah seperti itu.


“Bagaimana dengan dia ya? Pasti dia sangat kesal sekarang” gumam Ayra sambil tersenyum membayangkan ekspresi kekecewaan Devara.


Terakhir di rumahnya saja, Ayra sampai kaget mendengar Devara berteriak di kamar mandi waktu itu. Pelajaran pun dimulai. Ayra mengikuti pelajaran dengan baik. Sementara Devara di kelasnya tampak ogah-ogahan.


Ketika istirahat jam kedua,


Begitu keluar dari kelas, Devara yang rupanya sudah menunggu Ayra keluar kelas, segera menghampirinya dan menggandeng tangannya. Ayra kaget, tiba-tiba digandeng oleh Devara. Apalagi banyak pasang mata yang melihat mereka. Ayra  mencoba melepaskan genggaman tangan Devara.


“Heii..lepasiiin..sakiitt”pinta Ayra


Tapi Devara tak bergeming.


“Genggaman tangannya sangat kuat” gumam Ayra dalam hati sambil menatap Devara.


Dibawanya Ayra ke kantin lantai tiga. Sampai di lift, barulah tangan Ayra dilepaskan.


“Apa-apaan sih kamu?” tanya Ayra kesal


“Mulai sekarang, aku akan menjemputmu ke kelas, supaya kamu makan di sini. Menemani aku. Jadi sebaiknya kau menurut”imbuh Devara


“Wajahnya serius sekali. Kenapa wajahnya malah kelihatan tampan jika serius seperti itu?”gumam Ayra dalam hati


“Kalau mau aku disini, ajak juga Nadine dan Daniel. Baru aku mau makan disini” tantang Ayra


“Itu saja syaratnya?”tanya Devara


“Iya”jawab Ayra tegas.


Karena memang hanya Nadine dan Daniel sahabatnya selama ini. Sebenarnya Devara malas berurusan dengan Daniel, tapi demi “pacarnya” akhirnya Devara menurut.


“Oke..aku akan ajak mereka kesini”balas Devara


Pintu lift terbuka. Keduanya keluar dari lift bersama-sama. Devara tampak menelpon seseorang.


“Naiklah ke lantai tiga. Ajak Daniel juga”perintah Devara di telpon.


Lalu telpon ditutup.


“Oke..sudah beres kan?”tanya Devara pada Ayra


Ayra segera masuk ruang makan mendahului Devara. Devara tersenyum senang, akhirnya “pacarnya” itu mau menurut. Ayra mengambil salad yang tampak mengundang selera. Sebenarnya Ayra masih kenyang setelah menyantap sepiring pasta tadi saat istirahat, makanya dia memilih menu makanan yang tidak terlalu berat untuk mengisi perutnya.


Ayra segera duduk di sofa tanpa menghiraukan Devara. Devara tersenyum melihat Ayra yang jengkel dengan sikapnya. Ayra duduk sambil membaca buku catatannya.


Devara segera duduk disamping Ayra lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Ayra. Ayra kaget dengan kelakuan Devara.


“Heii..kamu ngapain? Cepat bangun”pinta Ayra


“Diamlah sebentar. Aku capek” ucap Devara sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Ayra lalu membiarkan Devara tidur di pangkuannya.


“Kamu baca apa?” tanya Devara melihat buku di atas kepalanya.


“Aku nanti ada ulangan. Makanya diamlah. Aku mau belajar”jawab Ayra


Devara bangun dari pangkuan Ayra, lalu duduk mendekat sambil menatap catatan Ayra. Tulisan tangan Ayra sangatlah bagus dan rapi. Ayra risih kepala Devara sangat dekat dengannya.


“Kamu lihat apa?”tanya Ayra


Devara lalu menoleh ke arahnya. Wajah mereka kali ini benar-benar sangat dekat. Mereka bertatapan selama beberapa saat.


“Hah..lagiii? Kenapa wajahnya selalu sedekat ini?” gerutu Ayra dalam hati


“Jadi kami diundang ke sini untuk melihat kemesraan kalian? Mending kami di kantin bawah saja lah” ujar Nadine mengagetkan mereka berdua.


Ayra dan Devara menoleh bersamaan. Ayra segera mendorong tubuh Devara agar menjauh.


“Kamu ngomong apa sih Nad?” kilah Ayra


“Ambil saja makan disana!” tunjuk Devara ke arah meja makan.


“Apa mungkin aku memang tidak diijinkan untuk mencium Ayra? Kenapa selalu saja ada yang mengganggu setiap kali aku akan mencium dia?”tanya Devara dalam hati sambil menatap Ayra.


“Kalian ada ulangan kan?” tanya Daniel sambil duduk di sofa dekat Ayra.


“Iya..ulangan Kimia”jawab Ayra sambil menyantap makanannya.


Mereka berempat pun ngobrol dengan santai.


“Semoga berhasil” ucap Devara memberi semangat “pacarnya” sambil mengelus kepala Ayra.


Ayra risih dielus kepalanya oleh Devara berusaha menghindar.


“Ada. Tapi aku sudah belajar” jawab Daniel


Ayra lalu menoleh ke arah Devara yang duduk di sampingnya.


“Kamu kenapa melihatku seperti itu?” tanya Devara


“Kamu ga belajar?”tanya Ayra


“Ga” jawab Devara enteng


“Kenapa ga belajar? Jangan bilang karena kamu pemilik sekolah jadi nilaimu bagus juga karena itu?” sindir Ayra


“Jangan asal bicara kamu!”ujar Devara sengit sambil menyentil dahi Ayra pelan.


“Aduh” Ayra mengaduh.


Ayra mengelus dahinya perlahan dengan wajah cemberut.


“Kamu ga tau ya Ay? Pacarmu itu genius. Walaupun tidak pernah belajar, tapi kalau urusan tes, dia juaranya”jelas Nadine


“Benarkah?”tanya Ayra tak percaya lalu melirik ke arah Devara lagi.


“Bagaimana mungkin dengan wajah dan penampilannya yang sempurna itu, dia juga punya otak yang encer? Ini sungguh tidak adil”gumam Ayra dalam hati


“Kau meragukan kecerdasanku?” tanya Devara


“Tidak!” jawab Ayra tegas


Dia hanya tak percaya, pacarnya itu memiliki kepandaian di atas rata-rata.


“Pelajari saja materi ini…ini...”ujar Devara sambil menunjuk beberapa materi di  catatan Ayra.

__ADS_1


Ayra yang mendengarkan tampak tertegun menatap Devara.


“Aku yakin itu nanti materi yang akan keluar di ulangan”tebak Devara


“Huhh..memangnya kamu peramal. Bisa meramal masa depan”ejek Ayra


“Oya, Nanti pulang sekolah, aku antar” ujar Devara tanpa melihat Ayra


Ayra mendengus kesal. Lagi-lagi Devara berbuat seeenaknya terhadap dirinya.


“Kalian jangan coba-coba bawa dia pulang bersama kalian” ancam Devara kepada Nadine dan Daniel


“Iya..iya..Dia kan pacarmu sekarang” jawab Nadine


Ayra melirik Nadine sambil mengernyitkan dahinya. Mereka pun menghabiskan makanan mereka sambil ngobrol santai. Akhirnya sudah waktunya kembali ke kelas. Devara mengantar Ayra sampai di kelas.


“Semangat ya” ucap Devara pada pacarnya itu sambil tersenyum dan mengelus kepala Ayra.


Ayra risih dielus kepalanya oleh Devara. Dia segera menyingkirkan tangan Devara di kepalanya. Ayra cemberut. Wajahnya tampak menggemaskan. Devara tak bisa menahan dirinya untuk mencubit hidung Ayra.


“Sampai jumpa nanti ya”ujar Devara sambil mencubit hidung Ayra


“Iiihhh..”Ayra mencoba melepaskan cubitan Devara di hidungnya.


Setelah Devara pergi, Ayra memegangi hidungnya yang merah karena dicubit Devara sambil berjalan menuju bangkunya.


“Dia semakin menjadi-jadi.. Menyebalkan”ujar Ayra kesal.


Nadine yang melihat Ayra kesal hanya tersenyum saja. Dia tahu benar, walaupun Ayra kesal, tapi dia juga menyimpan perasaan pada Devara. Buktinya dia tak menghajar Devara walaupun sudah berani menyentuhnya.


Ulangan kimia pun dimulai. Ayra kaget. Matanya terbelalak tak percaya. Semua materi yang ditunjukkan Devara semua keluar. Ayra sampai mengedipkan matanya berkali-kali. Masih tak percaya dengan yang dilihatnya.


“Anak itu benar-benar hebat. Dia itu jenius apa indigo sih?” gumam Ayra dalam hati.


Dia bisa mengerjakan semua soal dengan sangat baik. Karena yang dipelajarinya semua keluar. Ayra tersenyum bangga. Entah bangga pada dirinya sendiri atau pada pacarnya yang jenius itu.


"Tttteeeetttttt...Ttttteeeeeettttt....Tttteeeeetttt


Bel pulang berbunyi.


Semua anak menyerahkan hasil pekerjaannya pada Bu Indri, guru Kimia. Setelah berdoa, bu Indri segera keluar kelas diikuti semua siswa. Ayra dan Nadine hendak pulang. Rupanya Devara sudah menunggui di depan kelas Ayra.


“Ayo pulang” ucap Devara sambil meraih tangan Ayra


“Aku bisa jalan sendiri”ujar Ayra minta tangannya dilepaskan tapi Devara menggenggam tangannya erat.


“Aku pulang dulu ya Nad” pamit Ayra


“Iya”ucap Nadine


Devara dan Ayra pun pulang bersama. Nadine yang melihat dua sejoli itu hanya bisa tersenyum.Devara menggandeng tangan Ayra. Sampai di pintu keluar lorong menuju tempat parkir, Devara melepaskan genggamannya.


“Tunggu disini. Aku ambil mobilku dulu. Jangan kemana-mana”perintah Devara


“Iya..iya..hisshh”keluh Ayra


Pacarnya itu benar-benar posesif. Anehnya Ayra menurut saja diperintah Devara seperti itu.


Dan begitulah akhirnya, Ayra dan Devara resmi pacaran. Walaupun Devara yang secara sepihak menyatakan Ayra pacarnya, namun Ayra juga tak membantahnya. Jadilah mereka sekarang resmi pacaran.


Setiap hari Devara menjemput dan mengantar Ayra pulang. Saat istirahat mereka selalu makan di ruang makan lantai tiga milik Devara bersama dengan Nadine dan Daniel.


Ayra dan Devara masih sering berdebat dan bertengkar. Tetapi lama kelamaan mereka mulai menerima perbedaan sifat mereka. Ayra pun perlahan mulai menerima kehadiran Devara dalam hidupnya, walaupun dia tak menunjukkan sepenuhnya perasaannya karena Ayra memang belum yakin 100% dengan perasaannya sendiri.  Dan Devara pun menyadarinya. Namun dia tak mau terlalu memaksa pacarnya itu.


Bagi Devara, yang terpenting adalah Ayra bisa melihat keseriusan dan perhatiannya serta bisa melihat ketulusan dari perasaannya kepada Ayra.

__ADS_1


__ADS_2