
Di ruang tamu kediaman Arya Subrata, semua orang duduk di kursi sofa. Tatapan mata mereka memancarkan suasana hati masing-masing.
“Kakek sudah dengar kan? Aku cuma masuk angin kek”ucap Ayra
Kakek melengos karena tebakannya ternyata salah. Ayra sama sekali tidak hamil. Muntah-muntah itu karena Ayra masuk angin saja.
“Kakek harus minta maaf pada Devara”pinta Ayra sambil menoleh pada kakeknya
“Jangan begitu sayang”cegah Bunda
“Kakek sudah salah menuduh Devara, bahkan memukulinya dengan sapu. Sudah sepatutnya kakek minta maaf”ucap Ayra dengan menggebu-gebu.
Kakek menatap tajam pada Devara dengan tatapan membunuhnya. Sebenarnya pantang bagi kakek meminta maaf, namun kakek sendiri selalu mengajarkan keluarganya untuk berani berbuat juga berani bertanggungjawab. Kali ini kakek terpaksa meminta maaf pada Devara atas tuduhan tak berdasar yang sudah dituduhkan pada Devara.
“Kakek tak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan kakek”ucap Devara dengan seringai tipis di bibirnya.
Devara berjalan menghampiri kakek lalu memeluk tubuh kakek Arya. Membuat kakek pasrah saja dipeluk Devara. Ayra menatap keduanya dengan tatapan haru. Betapa Devara dengan besar hati mau memaafkan kakeknya yang sudah menuduhnya macam-macam. Jika saja yang bicara bukan kakek Arya, pasti Devara sudah menuntut balas atas “penghinaan”yang baru saja dialaminya. Namun Ayra bersyukur lelakinya mau memaafkan kakeknya.
“Sudah lepaskan!”pinta kakek sambil mendorong pelan tubuh besar Devara.
Dengan raut wajah yang sulit dipahami, kakek pun akhirnya mengucapkan kata “maaf”.
“Maaf karena sudah menuduh kalian. Aku hanya terlalu mengkhawatirkan cucuku”ucap kakek sambil menatap Ayra dengan tatapan sendu.
“Iya kek. Aku maafkan!”ucap Devara.
Mendengar sang kakek mengkhawatirkannya membuat Ayra sangat terharu dan mendekati lelaki tua itu.
“Kakek”ucap Ayra sambil memeluk sang kakek
Keduanya berpelukan selama beberapa saat. Kemudian Ayra melepaskan dekapannya dan menggenggam tangan kakek sambil tersenyum. Keduanya tersenyum. Ayah, Bunda dan Devara juga ikut tersenyum melihat pemandangan indah itu.
Akhirnya kakek mempersilahkan semuanya makan bersama di kediamannya. Bi Tum dan beberapa pelayan mengeluarkan beberapa hidangan untuk tamu-tamu kakek. Mereka makan bersama di ruang makan dalam keadaan yang sangat hangat. Ayah dan Bunda menceritakan perkembangan persiapan pernikahan Ayra. Ayra dan Devara juga menceritakan persiapan foto pre wedding mereka.
“Kapan kalian kembali ke kota S?”tanya kakek pada Ayra
“Rencana besok kek”
“Kalo begitu, aku ikut dengan kalian”ucap kakek dengan tiba-tiba mengagetkan semuanya
“Kakek”seru Ayra kaget
__ADS_1
Ayah dan Bunda langsung menghentikan suapannya dan menatap ke arah kakek dengan tatapan penuh keterkejutan.
“Uhuk..uhuk”
Devara tersedak saking kagetnya mendengar permintaan kakek. Membuat Ayra yang juga kaget mendengar permintaan kakek spontan menoleh pada Devara.
“Minumlah ini..pelan-pelan Dev”pinta Ayra sambil menyodorkan segelas air putih pada Devara.
“Gleg..gleg”
Devara meminum air putih yang disodorkan Ayra untuk mengurangi efek tersedaknya barusan.
“Apa lagi mau kakek tua ini?”gumam Devara dalam hati.
“Untuk apa kakek ikut dengan kami?”tanya Ayra penasaran.
“Aku ingin mengawasi kalian selama persiapan pernikahan kalian. Ayahmu masih bertugas tentu dia tak bisa mengawasi kalian. Karena itu, biarlah aku yang mengawasi kalian”ujar kakek
“Tapi untuk apa kek?”tanya Ayra bingung
“Seperti yang kalian dengar tadi, kalian berdua masih muda. Aku takut kalian khilaf dan melakukan sesuatu yang sebenarnya belum boleh kalian lakukan sebelum disahkan dalam ikatan pernikahan. Bagiku kehormatan Ayra adalah segalanya karena itu, aku akan ikut kalian, untuk mengawasi kalian selama di kota S. Setidaknya sampai aku benar-benar yakin bahwa kalian berdua takkan mengecewakanku dan selama kalian berdua bisa meyakinkanku”jelas kakek panjang lebar.
“Jadi kakek masih tidak percaya pada kami?”lanjut Ayra menahan emosinya
“Sama aja”gumam Devara dalam hati
“Terserah kalian mau atau tidak, pokoknya besok aku ikut bersama kalian. Titik”ucap kakek dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Karena malas berdebat dengan kakek akhirnya Devara dan Ayra menyanggupi permintaan kakek untuk ikut ke kota S dan tinggal di kediaman Devara.
“Baiklah..kalo itu mau kakek, silahkan ikut kami”balas Devara dengan berat hati.
“Dev”
Ayra menatap sang kekasih dengan tatapan yang sulit dipahami. Dalam hati Ayra berkecamuk segala perasaan. Ada perasaan kecewa dan sedih karena kakek masih juga menyangsikan keduanya. Namun ada perasaan bahagia dan terharu mendengar pujaan hatinya dengan berbesar hati menerima permintaan kakeknya.
Devara pun tersenyum pada Ayra.
“Kita lihat saja! Apalagi yang akan dilakukan kakek kali ini”gumam Devara dalam hati sambil menatap kakek
“Aku akan mengawasimu bocah nakal”gerutu kakek dalam hati sambil menatap Devara
__ADS_1
*
*
*
*
Keesokan harinya,
Devara, Ayra, dan kakek berangkat pagi-pagi sekali ke kota S. Setelah berpamitan pada Ayah dan Bunda mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kota tempat Ayra menuntut ilmu.
“Yang sabar ya Dev..kakek memang orang yang keras dan tegas, tapi sebenarnya beliau juga baik..kamu yang mesti banyak bersabar”pesan Bunda saat Devara berpamitan padanya
“Baik Bunda”balas Devara.
Sepanjang perjalanan, Devara yang menyetir mobil, dengan Ayra duduk di sampingnya. Sementara kakek duduk di kursi tengah. Suasana dalam mobil terasa agak canggung, karena kehadiran kakek. Sesekali Devara melirik ke arah spion untuk melihat kakek, ternyata kakek juga melihat ke arahnya. Jadilah keduanya saling menatap melalui kaca spion.
“Sialan! Dia seperti orang yang mau mengulitiku saja”gerutu Devara dalam hati saat beradu pandang dengan kakek.
Akhirnya Ayra yang berinisiatif mencairkan suasana. Ayra yang mengajak ngobrol kakek dan Devara. Walaupun pada akhirnya mereka berdua malah berdebat hanya karena masalah sepele.
“Besok saat foto prewedding, kalian tidak boleh bermesraan”perintah kakek
“Apa kek?”tanya Ayra dan Devara hampir bersamaan.
“Kenapa kami tidak boleh bermesraan?”tanya Devara saat mendengar kakek melarang keduanya.
“Kalian itu belum resmi menikah. Mana boleh bermesraan”keluh kakek
“Tapi kek..”
Ayra belum menyelesaikan ucapannya kakek sudah menyela.
“Kau itu cucu seorang jenderal. Maka kau harus menjunjung tinggi harkat dan martabatmu sebagai seorang keluarga tentara. Aku tak kan ijinkan jika kalian berfoto dengan mengumbar kemesraan layaknya pasangan suami istri”urai kakek
“Aaarrrggghhh..kakek ini benar-benar menguji kesabaranku”gerutu Devara dalam hati sambil mencengkeram setir mobil dengan kuat.
Setelah menanggapi kemauan kakek ikut ke kota S, kini kakek kembali berulah dengan melarang pasangan sejoli itu untuk berfoto mesra dalam foto pre wedding mereka nanti. Kesabaran Devara kali ini benar-benar diuji ketika berhadapan dengan jenderal purnawirawan itu.
Ayra hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kemauan sang kakek.
__ADS_1
“Semoga Devara bisa bersabar menghadapi kelakuan kakek”doa Ayra dalam hati
Suasana semakin mencekam di dalam mobil, setelah mendengar permintaan kakek. Devara memilih diam begitu juga dengan Ayra. Perjalanan menuju kota S terasa sangat panjang dan lama karena ketiganya saling diam dengan pikiran masing-masing.