
Ayah pulang larut malam, kemudian menjelang subuh sudah berangkat kerja lagi karena ada apel pagi. Akhirnya Ayra harus berangkat sekolah sendiri.
Setelah berpamitan pada bundanya, Ayra keluar rumah. Setelah menutup pintu gerbang, Ayra bermaksud menggunakan jasa ojek online.
Tiba-tiba dua lelaki berbadan tegap berjas hitam dan berkacamata hitam menghampiri Ayra.
“Nona Ayra?”tanya salah seorang dari mereka
“Iya, saya Ayra. Bapak-bapak ini siapa?”tanya Ayra pada dua lelaki itu.
“Tolong nona ikut dengan kami”kata salah seorang dari mereka.
“Siapa mereka? Kenapa aku harus ikut mereka? Jangan-jangan mereka penjahat yang mau menculik gadis remaja sepertiku” batin Ayra takut
Lalu muncul laki-laki muda menghampiri mereka. Penampilannya sangat rapi dan tampak sangat berwibawa.
“Maaf nona Ayra, bisa nona ikut kami sebentar? Ada yang ingin bertemu dengan nona. Tenang saja, kami tak memiliki maksud jahat pada nona. Mari ikut kami sebentar” kata lelaki itu ramah
“Kelihatannya orang ini bukan orang jahat. Apa aku harus ikut mereka?”tanya Ayra dalam hati.
“Mari nona” kata lelaki muda itu mempersilahkan Ayra.
“Ba..Baiklah” jawab Ayra menurut.
Ayra pun mengikuti lelaki muda tadi ke sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di dekat rumah Ayra. Dibelakang Ayra berjalan dua lelaki berpakaian serba hitam tadi.
Ternyata ada lima mobil yang berderet, terparkir di dekat rumah Ayra. Ayra diarahkan menuju mobil paling bagus. Mobil yang berada di tengah.
Dideretan mobil itu sudah berdiri beberapa lelaki berkacamata hitam berpakaian setelan jas hitam, mirip yang berjalan di belakang Ayra.
Ayra celingukan melihat sekelilingnya.
Seseorang membukakan pintu mobil. Lelaki muda tadi mempersilahkan Ayra masuk.
“Silahkan nona masuk”ucap lelaki muda tadi.
Ayra mengangguk.
Ayra pun melangkahkan kakinya masuk ke mobil. Di dalam mobil sudah duduk seseorang yang sedang membaca koran. Ayra pun duduk disebelah orang itu.
“Permisi? Apa Anda yang ingin bertemu dengan saya?”tanya Ayra
Orang itu diam saja.
Ayra bingung.
“Kenapa dia diam saja?”batin Ayra
Setelah lelaki tadi masuk mobil dan duduk disebelah sopir, barulah orang misterius di sebelah Ayra bicara.
“Kita berangkat sekarang tuan muda?”tanya lelaki muda tadi
“Iya..kita berangkat sekarang”jawab lelaki misterius itu dengan tetap menutup wajahnya dengan koran.
Mobilpun melaju entah kemana.
“Suaranya sepertinya aku kenal”batin Ayra
“Maaf..Anda siapa ya? Apa tujuan Anda memanggil saya untuk ikut naik mobil ini?”tanya Ayra lagi dengan nada tak senang.
Lelaki misterius itu kemudian menutup korannya. Seorang lelaki berpakaian rapi memakai setelan jas hitam dan berkacamata hitam-lah yang duduk disamping Ayra.
Ayra masih belum mengenali lelaki itu, karena lelaki itu memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan sehingga Ayra tak dapat melihat wajah lelaki itu.
“Siapa sih lelaki ini?”tanya Ayra dalam hati.
__ADS_1
Kemudian lelaki itu menghadapkan wajahnya ke arah Ayra sambil melepaskan kacamata hitamnya.
“Kamuuuuu?” teriak Ayra.
Betapa terkejutnya Ayra, ternyata lelaki yang duduk disampingnya itu adalah Devara.
Ayra menatap Devara dengan mata terbelalak dan jarinya refleks menunjuk kearah Devara.
“Ke-keenapa kamu ada disini? Apa-apaan ini?”tanya Ayra tak percaya.
“Kenapa lelaki brengsek ini mau bertemu denganku? Jangan-jangan..dia mau menculikku? Atau dia mau membalas dendam padaku lagi?”pikiran Ayra semakin liar mengingat semua yang diceritakan Nadine.
“Hai..kamu pasti kaget kan melihatku?” sapa Devara mencoba ramah.
Dia tersenyum ketika melihat Ayra melotot melihat dia.
“Aku harus segera keluar dari mobil ini bagaimanapun caranya”kata Ayra dalam hati.
Diapun melirik kearah pegangan pintu mobil disampingnya. Ayra mencoba membuka pintu dengan paksa.
“Tolonggggg!!!!!tolooongggg!!!! Hmmmpph…hmmmpph” teriak Ayra
Devara yang kaget mendengar Ayra berteriak segera menarik Ayra dan menyumbat mulut Ayra.
“Apa yang kau lakukan? Hentikan!!!”tanya Devara setengah berteriak karena kaget.
Tangan Devara menyumbat mulut Ayra. Wajah mereka sangat dekat. Devara dapat melihat dengan jelas dua bola mata Ayra yang indah tengah melotot menatap kearahnya.
Sementara Ayra walaupun mulutnya disumbat, masih berusaha berteriak.
“Tenanglah!”pinta Devara.
“Aku akan lepaskan tanganku..tapi kamu jangan berteriak lagi. Kita bicara baik-baik..oke?”pinta Devara
Ayra mengangguk pelan.
“Ehem”
Lelaki muda tadi yang ternyata adalah Arga, asisten pribadi Devara, berdehem. Membuat Devara segera berpindah ke tempat duduknya semula.
“Katakan apa maumu? Kenapa kamu membawaku?”tanya Ayra penasaran
“Apa kamu…mau menculikku? Atau jangan-jangan.. kamu mau..mencelakaiku?”tanya Ayra penuh ketakutan dan bergeser menjauh dari Devara.
Dia terbayang cerita-cerita Nadine tentang kelakuan Devara pada rival-rivalnya dulu. Betapa Devara bisa melakukan apa saja kepada musuh-musuhnya.
“Haahahahaha..”Devara tertawa mendengar pertanyaan Ayra
“Kenapa kamu malah tertawa?”tanya Ayra tak terima
“Kamu lucu sekali”ujar Devara sambil tersenyum dan menatap Ayra.
“Aku hanya ingin bicara denganmu..itu saja”jawab Devara
“Benarkah?”tanya Ayra tak percaya.
“Lalu kemana kamu akan membawaku? Ini bukan jalan menuju sekolah?”tanya Ayra setelah melihat jalanan bukan menuju arah ke sekolah.
“Tenang saja. Aku tak kan melukaimu”jawab Devara lembut.
Ayra melirik sepintas ke arah Devara dengan malas.
“Aku..ingin..minta maaf” ucap Devara lirih sambil menunduk
Karena saking lirihnya suara Devara, Ayra sampai mendekatkan telinganya, karena dia tak bisa mendengar ucapan Devara.
__ADS_1
“Kamu bilang apa? Aku tak dengar” kata Ayra sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku..minta maaf”ucap Devara masih dengan nada lirih
“Apaa? Aku tak dengar”tanya Ayra lagi karena suara Devara memang lirih
“Aku bilang aku minta maaf” jawab Devara setengah berteriak
“Kenapa mesti teriak? Aku kan tanya baik-baik”seru Ayra tak terima diteriaki
“Aku bilang dua kali kamu masih tak mendengar makanya aku teriak”balas Devara tak mau kalah.
“Kalau minta maaf..bukan begitu caranya”ujar Ayra dengan nada tinggi
“Lalu aku harus bagaimana?”tanya Devara dengan nada tinggi juga
“Aisshh..Sudahlah. Aku malas bicara denganmu”ucap Ayra dengan nada kesal
Mereka pun menatap kearah yang saling berlawanan.
Pertengkaran Devara dan Ayra mampu membuat Arga menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Baru kali ini Arga melihat tuan mudanya memiliki lawan bicara yang sepadan dengannya. Arga dapat melihat kedua remaja yang sedang bermusuhan itu.
“Gadis ini sangat cocok dengan tuan muda” batin Arga dalam hati.
Devara dan Ayra membisu untuk beberapa saat.
“Kalau kamu sudah selesai bicara denganku, turunkan aku di jalan. Aku mau ke sekolah” ucap Ayra tanpa melihat ke arah Devara.
“Tenang saja. Aku sudah bicara pada kepala sekolah, kamu akan datang terlambat”kata Devara dengan nada sedikit lebih tenang.
Ayra kaget mendengar Devara dengan seenaknya memintakan ijin untuknya. Kali ini dia melihat ke arah Devara.
“Kenapa kamu seenaknya saja memintakan ijin untukku? Aku mau ke sekolah. Turunkan aku sekarang”bentak Ayra
“Gadis ini berisik sekali! Kenapa dia selalu marah-marah?”tanya Devara dalam hati
“Kenapa kamu tak bisa santai sedikit sih? Kenapa harus marah-marah?”teriak Devara
“Tenanglah”pinta Devara
Ayra pun mencoba mengalah. Dia menurunkan nada bicaranya.
“Baiklah! Sekarang aku tanya baik-baik, kemana kamu akan membawaku? Hah?” tanya Ayra dengan menahan amarahnya.
“Ke bandara”jawab Devara singkat
“Kenapa kamu membawaku ke bandara? Apa maumu?”tanya Ayra tak mengerti
“Dengarkan baik-baik..Aku akan ke Singapura selama tiga hari. Nenekku berulangtahun. Aku harus kesana hari ini juga”jelas Devara
Ayra makin tak mengerti.
“Lalu apa hubungannya aku dengan acara keluargamu itu?” Ayra penasaran
“Kenapa kamu mesti membawaku ke bandara juga?”Ayra menuntut penjelasan.
“Pertama, aku mau minta maaf..atas perbuatanku di gudang tempo hari yang sudah menci....”
Belum selesai Devara bicara, Ayra segera menyumbat mulut Devara dengan tangannya. Ayra tahu kemana arah pembicaraan Devara. Ayra malu jika sampai ada orang lain yang tahu kejadian beberapa waktu yang lalu.
Devara kaget, karena kini Ayra sangat dekat dengan dirinya. Dengan tangan Ayra menyumbat mulutnya. Membuat Devara dapat melihat wajah Ayra lebih dekat. Wajahnya yang cantik. Membuat mereka bertatapan selama beberapa saat.
“Apa kau sudah gila? Jangan ceritakan apa-apa tentang kejadian itu pada siapapun. Mengerti”ucap Ayra setengah berbisik sambil bola matanya mengarah ke Arga dan sopir Devara.
Devara segera melepaskan tangan Ayra dari mulutnya.
__ADS_1
“Aku mengerti”jawab Devara
Ayra kini duduk lagi ditempatnya. Sambil sesekali melirik ke arah sopir dan Arga.