Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Akhirnya Jadian


__ADS_3

“Huffff” berkali-kali Ayra menghela nafas dengan kasar. Dia sengaja mengeluarkan suara itu beberapa kali, untuk memancing rasa penasaran Devara. Sementara Devara yang seperti sudah paham jalan pikiran Ayra, berpura-pura tak mendengar. Ayra yang melihat Devara tak merespon, memasang wajah musamnya.


“Sialan..Kenapa dia diam saja seperti itu? Apa dia tak tahu aku bosan sekali sekarang. Masak kami hanya disini saja, sementara besok kami sudah harus pulang” gerutu Ayra dalam hati sambil melirik lelaki tampan yang duduk di sampingnya.


Dengan ekspresi cool nya, Devara tampak memainkan hp nya. Mengetik chat pada seseorang. Ayra yang merasa dicuekin, tambah bete saja dibuatnya. Ayra pun memilih beranjak dari kursi sofa yang didudukinya lalu berjalan menuju dapur. Devara melirik Ayra yang pergi meninggalkan dirinya seorang diri dengan senyum tersungging di wajah tampannya. Ayra pun berpapasan dengan kak Arga dalam perjalanan menuju dapur.


“Ada yang nona butuhkan? Biar saya ambilkan”tanya kak Arga


“Ah..tidak usah kak..saya hanya ingin jalan-jalan ke dapur. Disini membosankan. Saya mau cari es krim. Siapa tau bisa mendinginkan hati dan pikiran saya”ucap Ayra sambil cengengesan.


Kak Arga pun mengganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian membiarkan Ayra ke dapur seorang diri. Sementara itu, Devara berdiri dari kursi sofanya dan berbincang dengan seseorang di telpon.


“Bawakan saja yang kemarin aku berikan” ucap Devara pada seseorang di ujung telpon.


Setelah beberapa saat, Devara menutup telponnya. Dia pun duduk kembali di kursi sofanya sambil menunggu kekasihnya yang sedang bete. Ayra yang sudah kembali dari dapur, berjalan mendekati Devara. Kali ini dia akan mencoba merayu Devara. Ayra sudah bersiap memasang wajah imutnya.


“Dev”panggil Ayra dengan lembut.


Devara melirik sekilas ke arah Ayra, masih pura-pura cuek.


“Ada apa?”tanya Devara


Ayra bersiap melakukan “serangannya”. Dia pun duduk disamping Devara lalu merebahkan kepalanya di bahu lebar Devara sambil memejamkan matanya.


“Singkirkan kepalamu”ucap Devara sambil menjauhkan kepala Ayra dari bahunya dengan jari telunjuknya.


Ayra cemberut karena Devara justru “mendorong” dirinya menjauh.


“Aku tak kan menyerah. Aku akan buat kau menuruti keinginanku”gumam Ayra dalam hati.


Ayra pun nekat duduk dipangkuan Devara sambil melingkarkan tangannya di leher lelaki yang sudah jadi pacarnya itu. Devara yang kewalahan dengan sikap manja Ayra, hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kekanak-kanakan Ayra yang jelas bisa dibacanya.


“Ada apa ini? Tumben kamu manja seperti ini?”tanya Devara lembut


“Aku tahu, kamu hanya pura-pura kan? Kau pasti sudah tahu apa mauku. Tapi kau pura-pura saja tak tahu” tebak Ayra jitu.


Karena selama beberapa bulan pacaran, Devara semakin pandai membaca pikiran Ayra. Bahkan tanpa Ayra ucapkan, otak genius Devara sudah bisa membaca jalan pikirannya.


“Sekarang katakan, kau mau apa?”tanya Devara


“Aku bosan. Nadine dan Daniel belum juga kembali. Kita hanya duduk-duduk saja disini sejak tadi. Padahal kan besok kita sudah pulang”rengek Ayra panjang lebar.


“Lalu?”tanya Devara lagi


“Kita jalan-jalan ya.. Kemana sajalah. Asal jangan disini terus”pinta Ayra.


Tiba-tiba pintu dibuka.


“Permisi…TUAN MUDA” ucap Madam O dengan nada tinggi.


Madam O datang membawa sebuah tas berisi baju dan mantel untuk Ayra. Ayra dan Devara kaget setengah mati melihat Madam O yang sedang memergoki mereka bermesraan seperti itu. Buru-buru Ayra berdiri dari pangkuan Devara. Devara pun salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu, Madam O terlihat melotot melihat kedua sejoli itu.


“Apa-apaan mereka ini? Apa mereka pikir mereka bisa bermesraan seperti itu di sembarang tempat? Dasar anak muda” gerutu Madam O dalam hati.


“Madam sudah datang rupanya”ucap Devara ramah


“Iya tuan muda. Ini saya bawakan yang tuan muda minta”ucap Madam O sambil menyerahkan tas berisi sebuah kaos turtleneck putih dan rok selutut berwarna mustard serta sebuah mantel bulu berwarna coklat yang kemarin dibelikan Devara untuk Ayra.


“Oh..iya..terimakasih Madam”ucap Devara seraya menerima tas yang diberikan Madam O.


Devara kemudian memberikan tas itu pada Ayra.

__ADS_1


“Cepat pakai! Sepuluh menit lagi kita berangkat”perintah Devara singkat.


“Hah! Apa-apaan sih Dev ini..main perintah aja”gerutu Ayra dalam hati mendengar perintah Devara.


“Memang kita mau kemana?” tanya Ayra


“Tadi katanya minta jalan-jalan. Gimana sih?”goda Devara


Ayra yang mendengar akan diajak jalan-jalan, kegirangan bukan kepalang. Wajah cantiknya tampak berseri-seri.


“Oke..oke..aku segera bersiap. Permisi Madam”Ayra setengah berlari segera membawa tas itu keluar ruangan dan hendak berganti pakaian di sebuah kamar. Karena buru-buru, Ayra lupa bertanya, kamar yang kosong.


“Hei..itu kamar Daniel. Ganti saja di kamarku”seru Devara melihat Ayra hampir saja masuk kamar Daniel.


Ayra yang sadar hampir salah kamar, menengok ke arah Devara dengan wajah marah.


“Kenapa ga bilang dari tadi sih? Untung saja Daniel tidak di kamar. Coba tadi dia di dalam”seru Ayra marah-marah.


Devara yang dimarahi hanya senyum-senyum sendiri melihat kekasihnya sewot seperti itu. Dia pun berjalan ke arah Ayra.


“Aku ganti di kamar yang kosong aja. Masih ada kamar yang kosong kan?”ucap Ayra sambil clingukan.


“Sudah ganti baju saja di kamarku”ucap Devara sambil menggandeng tangan Ayra ke kamarnya.


“Tuan muda mau kemana?” tanya Madam O melihat sepasang muda mudi yang sedang bergandengan tangan itu berjalan melewatinya menuju kamar Devara.


“Tuan muda disini saja. Saya yang akan mengantar nona Ayra ke kamar tuan muda”perintah Madam O.


Ayra yang melihat Madam O melotot, segera melepaskan genggaman tangan Devara di tangannya.


“Baik Madam”jawab Ayra lalu berjalan di belakang mengikuti Madam O sambil sesekali menengok Devara dengan ekspresi marah-marah walau tanpa suara.


“Kita berangkat sekarang?”tanya Ayra.


“Aku ambil mantelku dulu. Tunggu disini”jawab Devara.


Ayra pun menurut. Dia menunggu Devara yang kini gantian ke kamarnya mengambil mantel tebalnya. Sambil menunggu, Ayra dan Madam O berbincang sejenak.


“Oya Madam..Apa Nadine dan Daniel sudah baikan?”tanya Ayra


“Tadi saat saya kesini..mereka sudah baikan”jawab Madam O


“Benarkah? Ah..syukurlah”ucap Ayra lega mendengar dua sahabatnya itu sudah berbaikan. Ayra tak tahu bahwa mereka berdua sudah resmi jadian.


“Madam, kami berangkat dulu” pamit Devara pada Madam O sambil menggandeng tangan Ayra.


“Baik tuan muda. Apa tuan muda akan makan siang di luar?”tanya Madam O memastikan.


“Sepertinya begitu”jawab Devara singkat.


“Kami pergi dulu” Devara mengajak Ayra keluar apartemen.


Tepat sebelum Devara membuka pintu apartemen,


“Ingat tuan muda. Jaga diri kalian. Jangan melewati batas. Kalian masih muda. Madam harap kalian bisa saling menahan diri dan menjaga diri. Terutama Anda tuan muda” pesan Madam O panjang lebar.


Ia khawatir jiwa muda keduanya, membuat keduanya tak mampu menahan *****.


“Baik Madam. Aku mengerti”jawab Devara.


Sementara Ayra hanya tersenyum kecut sambil menganggukan kepala memberi hormat pada Madam O.

__ADS_1


Di dalam mobil, Ayra terlihat cemberut.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tak mau jalan-jalan?”tanya Devara penasaran melihat kelakuan Ayra sejak keluar apartemen tampak cemberut terus.


“Pasti Madam O berpikir yang tidak-tidak. Gara-gara kamu sih pake gandeng tangan segala tadi”protes Ayra


“Hei..kenapa malah menyalahkan aku. Siapa tadi yang nyuruh kamu duduk di pangkuanku?”protes balik Devara dengan nada tinggi


Ayra yang tak menyangka Devara akan berteriak seperti itu segera menyumbat mulut Devara.


“Apa kau sudah gila? Kau mau semua orang tahu kejadian tadi?”bisik Ayra pada Devara karena malu.


Devara pun menurunkan tangan Ayra yang menyumbat mulutnya.


“Makanya jangan suka menyalahkan orang”jawab Devara


“Ngomong-ngomong kita mau kemana?”tanya Ayra meredakan amarah Devara.


“Rahasia”ucap Devara singkat


“Apaan sih main rahasia-rahasiaan lagi?”gerutu Ayra dalam hati lalu memilih menikmati pemandangan kota Seoul yang besok akan ditinggalkannya.


Hari itu Devara mengajak Ayra mengunjungi beberapa tempat yang biasa dijadikan lokasi syuting drama korea kesukaan Ayra. Devara mengajak Ayra mengunjungi Gwanghwangmun Square yang berada tepat di pusat kota Seoul, 172 Sejong-daero, Sejongno, Jongno-gu, Seoul. Lokasi syuting drama korea The King Eternal Monarch yang diperankan oleh aktor Lee Min Ho dan aktris Kim Go Eun. Di sana, mereka berdua melihat kemegahan  dua patung bersejarah yang dirawat oleh pemerintahan Korea Selatan yaitu Admiral Lee Sung Sin dan King Sejong. Nah, di sana adalah lokasi adegan Lee Min Ho memeluk Kim Go Eun yang berada tepat di belakang patung Admiral Lee Sung Sin.


Mereka kemudian mengunjungi lokasi syuting drama Winter sonata di pulau Nami. Kemudian keduanya pergi mengunjungi sebuah padang ilalang yang muncul di drama korea True Beauty. Di padang itu kebetulan ada sebuah kursi kayu panjang berwarna putih. Karena kelelahan. Devara pun menyandarkan kepalanya di bahu Ayra.


“Kepalamu bisa sakit jika bersandar di bahuku”ucap Ayra.


Karena tubuh Devara yang lebih besar dan tinggi sehingga posisi duduknya saat ini sangatlah tidak nyaman. Apalagi Ayra memang lebih mungil.


Akhirnya Devara tidur di pangkuan Ayra. Tetapi karena matahari mulai terik akhirnya Devara mengajak Ayra berjalan-jalan kembali.


Mereka sampai di sebuah jembatan kayu yang di desain melingkar untuk mendapatkan view pemandangan padang ilalang yang memang dirancang sebagai salah satu destinasi wisata disana. Di jembatan kayu itu keduanya benar-benar menikmati pemandangan indah yang terhampar. Suasana di padang ilalang itu sangat indah seindah kebersamaan kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Keduanya berdiri saling berhadapan. Menatap mata masing-masing dengan penuh cinta. Kemudian mereka saling berciuman di tempat itu.


Mereka berdua benar-benar saling jatuh cinta. Melampiaskan rasa yang menggebu di dalam dada. Ciuman hangat keduanya membuat mereka mabuk kepayang. Ciuman sebagai tanda cinta di antara keduanya. Sepasang kekasih yang bersatu setelah sebuah insiden ciuman paksa di gedung sekolah waktu itu. Siapa sangka, kini keduanya malah saling mencintai.


Setelah lelah berkeliling, Ayra dan Devara akhirnya pulang kembali ke apartemen. Mereka tidak jadi makan di luar karena ingin mengajak makan semua orang termasuk Nadine, Daniel, Madam O dan kak Arga.


Sesampainya di apartemen, Ayra baru tahu bahwa Nadine dan Daniel resmi berpacaran.


“Benarkah?”tanya Ayra tak percaya


Nadine mengangguk pelan sambil tersenyum. Ayra langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


“Selamat Nad..akhirnya kalian jadian juga”ucap Ayra dengan gembira


Devara juga menepuk bahu Daniel, sahabatnya sejak kecil.


“Selamat Bro..akhirnya kamu berani juga mengungkapkan perasaanmu”ucap Devara


“Thanks”jawab Daniel dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Melihat Ayra dan Nadine yang berpelukan dengan perasaan bahagia membuat Daniel juga bahagia. Baik Daniel maupun Nadine merasa lega, seolah sebuah beban berat yang terus menghimpit perasaan keduanya selama ini, sirna begitu saja setelah keduanya berani mengungkapkan perasaan masing-masing.


Akhirnya Devara mengundang seorang chef terkenal untuk memasak di apartemen mereka, sambil merayakan kebahagiaan Daniel dan Nadine yang sudah resmi pacaran.


Mereka berenam, Devara Ayra Nadine Daniel Madam O dan kak Arga tampak bahagia menikmati makan malam mereka hari itu. Mereka tampak menyantap masakan buatan chef sambil berbincang dan bercanda di meja makan.


Sempat saat sedang asyik berbincang dan menyantap makanan, Devara melamun sebentar. Dia tersenyum dan merasa bahagia dikelilingi orang-orang yang sangat baik dan sayang padanya.


Ayra yang sempat melihat Devara melamun, diam-diam menggenggam tangan Devara yang duduk di sampingnya. Devara yang melihat Ayra menggenggam tangannya, menatap kekasih hatinya itu dengan tatapan penuh cinta. Keduanya saling berbalas senyuman. Kemudian mereka berenam berbincang dan bercanda lagi.

__ADS_1


__ADS_2