Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Hanya Malam ini


__ADS_3

“Kamu mau kita berdebat terus atau kamu pilih segera berpakaian sekarang?”tanya Devara pada Ayra


“Emang kita mau kemana?”tanya Ayra.


“Mumpung cuacanya bagus, aku mau mengajakmu jalan-jalan ke pantai. Kamu mau tidak?”tanya Devara


“Mau..mau”jawab Ayra dengan cepat.


“Pergilah dulu! Aku mau berpakaian sekarang”pinta Ayra


“Aku tunggu di sini saja”ucap Devara sambil duduk di kursi sofa yang ada di ruang ganti.


“Jangan disini Dev! Aku kan malu”ucap Ayra dengan malu-malu.


“Sudahlah! Tak usah malu. Sekarang aku ini suamimu. Jadi aku berhak disini”


“Tapi..”


Devara tak mau mendengar penolakan dari Ayra dan malah duduk santai di sofa.


“Oke..kalo begitu tutup matamu!”pinta Ayra


Devara tersenyum nakal mendengar permintaan Ayra.


“Aku sudah lihat semua, untuk apa kau malu Ay?”tanya Devara.


Ayra akhirnya memilih salah satu gaun yang terpajang di lemari dan memakainya dengan perasaan sangat kesal. Kesal karena Devara tak mau menuruti permintaannya. Sejujurnya Ayra masih merasa malu jika harus berganti pakaian di depan Devara. Walaupun notabene Devara sudah resmi berstatus suaminya. Namun rasa malu itu masih sangat besar dirasakan Ayra.


Ayra memilih berganti pakaian dengan membelakangi Devara sehingga Devara tidak bisa melihat tubuh bagian depan Ayra yang menjadi pemandangan terindah bagi Devara.


Merasa dicurangi Ayra, Devara segera beranjak dari duduknya dan mendekati Ayra. Dan saat berada di belakang Ayra, Devara memeluk erat tubuh mungil Ayra yang hanya dibalut pakaian da*lam. Membuat Ayra terhenyak merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Devara.


“Kamu ngapain Dev? Aku mau pakai baju dulu”seru Ayra


Devara membalik tubuh Ayra hingga Ayra menghadap Devara.


“Kenapa aku tak boleh melihatmu? Padahal kan aku ingin melihat kamu memakainya di depanku”


“Jangan seperti ini Dev..kita udah melakukannya tadi pagi. Apa belum cukup?”gerutu Ayra ketika merasakan sesuatu yang menegang milik Devara menyentuh bagian tubuh bawahnya.


“Kau lihat kan? Hanya dengan melihatmu seperti ini saja sudah bisa membangunkan yang di bawah sana”


“Ahhh..aku bisa gila jika dia terus-terusan seperti ini”gerutu Ayra dalam hati.


“Kondisikan dulu “juniormu” itu”perintah Ayra dengan nada kesal.


Devara tersenyum penuh arti mendengar perintah Ayra. Devara ingin segera menuntaskan has*ratnya, ketika tiba-tiba dia ingat pesan Catherine tadi di telepon untuk tidak membuat Ayra kelelahan.


“Sialah! Hampir saja aku lupa pesan kakak. Menyebalkan!”gerutu Devara dalam hati.


“Baiklah! Aku ke kamar mandi dulu”ucap Devara

__ADS_1


Devara akhirnya memilih keluar dari ruang ganti dan pergi ke kamar mandi.


Ayra menatap Devara yang melepaskannya begitu saja dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Aku pikir dia akan memintanya lagi”gumam Ayra dalam hati.


Begitu Devara meninggalkannya, Ayra segera memakai pakaiannya. Sebuah dress panjang dengan model atasan tank top dengan tali kecil. Hingga memperlihatkan leher jenjang dan dada Ayra.


Devara keluar kamar mandi dengan wajah penuh kekesalan. Ayra menatap Devara dengan penuh kebingungan.


“Kamu kenapa?”tanya Ayra


“Sudahlah lupakan! Kau sudah siap?”tanya Devara


Ayra menganggukkan kepalanya. Devara menggenggam tangan Ayra dan mengajaknya keluar kamar. Mereka berjalan menuju pantai yang cuacanya saat itu tidak terlalu panas.


Tak lupa sebuah payung di serahkan Nanny kepada majikannya itu supaya tidak kepanasan. Keduanya berjalan menuju pantai dengan Devara yang memegang payung untuk melindungi Ayra dari terik matahari.


Sesampainya di pantai, keduanya duduk di kursi santai panjang yang terletak di bawah rindangnya pohon. Devara memeluk tubuh Ayra. Keduanya rebahan di kursi santai panjang itu sambil berpelukan. Ayra juga menyandarkan kepalanya di dada bidang Devara.


Kedua pasangan pengantin baru itu menikmati pemandangan pantai bersama-sama.


“Kamu kenapa? Keluar dari kamar mandi wajahnya jadi jutek gitu?”tanya Ayra


“Apa kau marah karena aku menolak ajakanmu tadi?”tanya Ayra lagi.


Devara mengecup kening Ayra yang berada di bawahnya. Devara senang Ayra mengkhawatirkannya.


“Lalu karena apa?”


Devara tampak berpikir sejenak kemudian menghela nafasnya dengan kasar.


“Tadi kak Catherine mengingatkanku kalo aku tak boleh membuatmu kelelahan karena besok adalah acara resepsi pernikahan kita. Yang pastinya akan sangat melelahkan. Aku hanya kesal karena harus menahan diri untuk menyentuhmu”


Mendengar penuturan Devara, membuat Ayra bahagia karena Devara sangat mengkhawatirkan dirinya yang akan kelelahan jika harus melayani dirinya sementara besok acara resepsi pernikahan mereka akan digelar. Resepsi yang pasti akan sangat menguras tenaga dan fisik kedua mempelai pengantin itu. Karena pasti acaranya akan berlangsung lama, lebih lama dari acara akad pernikahan mereka kemarin.


Ayra mendekatkan tubuhnya pada Devara lalu mencium sang suami dengan lembut. Serangan mendadak dari Ayra membuat Devara terbelalak. Karena ini adalah ciuman pertama yang diberikan Ayra pada Devara setelah mereka resmi menjadi suami istri.


Devara menatap wajah cantik Ayra yang tersenyum pada dirinya.


“Terimakasih”ucap Ayra


“Untuk apa?”tanya Devara


“Karena sudah menjadi suami terbaik untukku. Karena sudah mengkhawatirkan aku yang kelelahan jika harus melayanimu sementara besok acara resepsi kita akan digelar”


Devara balik mencium bibir lembut Ayra.


“Aku lepaskan kamu hanya untuk malam ini saja. Malam-malam berikutnya adalah milikku. Jadi bersiaplah!”goda Devara dengan senyum nakal tersungging di wajahnya.


“What?! Dia akan melakukannya setiap malam?”gerutu Ayra dalam hati.

__ADS_1


“Dev..kita harus bicara! Aku setuju kita melakukannya tapi jangan setiap hari juga”keluh Ayra


“Kenapa tidak?”tanya Devara.


“Kau mungkin tidak merasa lelah, tapi aku lelah Dev”protes Ayra.


“Membayangkan kita melakukannya setiap hari membuatku sudah kelelahan. Bahkan sebelum melakukannya”keluh Ayra


“Hahahaha”


Devara malah tertawa terbahak-bahak mendengar Ayra yang mengeluh pada dirinya.


“Ayra sayang, yang kita lakukan itu termasuk ibadah. Kau juga tau itu kan?”jawab Devara


“Iya aku tau..tapi kan..”


Devara meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang istri.


“Ssstttt..jangan membantah lagi! Kalo kau lelah, kau cukup diam saja, biar aku yang melakukan semuanya”ucap Devara sambil mengerlingkan sebelah matanya.


“Percuma membantah dia”gerutu Ayra dalam hati


Akhirnya Ayra memilih diam. Karena percuma membantah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Sekali Devara mengambil keputusan, sangat sulit bagi Ayra merubahnya.


****


Sore harinya, seperti yang sudah dijadwalkan sebuah helicopter datang menjemput keduanya. Ayra dan Devara menaiki helicopter yang akan mengantar mereka kembali ke kota XX. Sepanjang perjalanan, Devara memeluk tubuh mungil Ayra, wanita yang sangat dicintainya. Betapa Devara sangat mencintai wanita ini dengan seluruh jiwa raganya.


Ayra duduk dengan bersandar di dada bidang Devara. Dengan tangan kanannya yang digenggam erat oleh Devara. Meskipun tadi sempat terjadi perdebatan kecil di antara mereka, namun keduanya bisa menempatkan diri untuk menuruti permintaan pasangannya.


Ayra akhirnya juga memilih menuruti keinginan Devara. Karena Ayra sadar sepenuhnya Devara adalah suaminya dan Devara berhak sepenuhnya atas apa yang ada pada dirinya.


Sesampainya di rumah kediaman Alexander, helicopter turun di helipad. Devara turun terlebih dahulu sebelum Ayra. Devara mengulurkan tangannya pada sang istri membantunya turun.


Di pinggir helipad, Arga dan Catherine sudah menunggu keduanya. Setelah turun dari helicopter, Ayra dan Devara segera menghampiri Arga dan Catherine.


“Bagaimana perjalanan kalian?”tanya Arga


“Tentu saja menyenangkan kak”jawab Devara sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ayra.


“Dia tidak membuatmu kelelahan kan Ay?”tanya Catherine pada Ayra.


Ayra menatap Devara lalu tersenyum.


“Tidak kak”jawab Ayra sambil menatap Catherine


“Syukurlah! Kalo kamu sampai kelelahan, aku takut besok kamu akan semakin kelelahan. Karena acara resepsi itu saaangaattt melelahkan”urai Catherine


“Bagus Dev”puji Catherine pada Devara


“Sebaiknya kita ke dalam sekarang. Papa, mommy dan nenek sudah menunggu kita”ajak Arga

__ADS_1


Keempatnya pun berjalan ke rumah. Arga berjalan sambil menggenggam tangan Catherine sementara Devara berjalan sambil memeluk tubuh Ayra. Kebahagiaan jelas terpancar dari kedua pasangan pengantin itu. Namanya juga pengantin baru. Maunya mesra-mesraan terus dengan pasangan hidupnya. Begitu juga dengan Devara dan Ayra.


__ADS_2