Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Partner in crime


__ADS_3

Di kamar Nadine,


Ayra memandangi kadonya berkali-kali. Menatapnya lalu memegangnya. Ini pertamakalinya bagi Ayra membelikan hadiah untuk Devara sejak mereka berpacaran beberapa bulan lalu.


“Kamu kenapa sih Ay? Dari tadi ngliatin kado itu mulu?”tanya Nadine


“Aku tak tahu selera Devara itu seperti apa. Aku benar-benar takut kalau dia tak suka hadiahku. Aku tak siap kalau besok dia menertawakan kadoku ini” ucap Ayra dengan wajah sendu.


Ia terlihat menghela nafas berkali-kali. Dalam pikirannya, Ayra membayangkan Devara dengan tawa mengejeknya sedang menertawakan kado yang diberikannya.


Nadine yang paham kegundahan hati sahabatnya itu menepuk bahu Ayra pelan.


“Ay, percayalah padaku. Dev pasti suka hadiah apapun yang kamu berikan. Kamu harus optimis. Tenanglah! Devara tak sejahat itu. Yang ada malahan hadiahmu itu akan dimuseumkan. Dimasukkan kotak kaca seperti di museum itu. Jadi tak ada orang yang bisa menyentuhnya” goda Nadine


Ayra tergelak mendengar perkataan Nadine. Piikiran Ayra pun dapat membayangkan kelakuan “gila” Devara jika sampai perkataan Nadine tadi benar terjadi.


“Bisa aja kamu Nad” Ayra memukul pelan lengan Nadine lalu mereka berdua tertawa bersama.


Ditengah-tengah perbincangan mereka, seorang pelayan Nadine yang diperintah mama Nadine, masuk kamar Nadine dan memberitahu ada tamu datang menemui Nadine.


Ayra dan Nadine berpandangan. Siapa gerangan tamu yang mencari Nadine malam-malam.


“Kamu mau ikut turun Ay?”ajak Nadine


“Boleh..boleh”jawab Ayra


Akhirnya kedua sahabat baik itu turun ke lantai 1 ke ruang tamu untuk melihat tamu yang datang.


Sampai di ruang tamu, Ayra dan Nadine kaget.


“Kalian? Ngapain kesini?”tanya Nadine


Mendengar suara tuan rumah, kedua tamu tak diundang itupun berdiri dari tempatnya semula duduk.


“Aku mau menjemput pacarku”ucap Devara tegas.


“Aku cuma nganterin Dev”jawab Daniel santai.


Devara lalu berjalan menghampiri Ayra lalu melingkarkan tangannya di pinggang Ayra. Melihat kelakuan Devara yang tiba-tiba, Ayra segera meyingkirkan tangan Devara. Dia takut keluarga Nadine melihat hal tersebut.


“Dev..lepasin! Ada keluarga Nadine..jaga sikapmu”ucap Ayra pelan setengah berbisik dengan mata melotot.

__ADS_1


Nadine dan Daniel yang melihat kelakuan Devara hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Sorry”jawab Devara setelah menyadari kelakuannya.


“Kamu mau jemput aku memangnya kenapa?”tanya Ayra.


“Aku sudah ijin Ayah dan Bunda, malam ini kamu menginap di rumahku”terang Devara


“Menginap lagi dirumahnya? Tidak mungkin..aku bisa gila jika menginap lagi dirumahnya” gumam Ayra dalam hati


“Kamu pasti bohong. Aku telpon Ayah sama Bunda dulu”ucap Ayra tak percaya.


“Telpon saja kalo tidak percaya” balas Devara sambil duduk di kursi tamu.


Seorang pelayan Nadine datang membawakan minum dan sedikit cemilan untuk tamu-tamu Nadine. Nadine dan Daniel ikut duduk bersama Devara sambil menikmati cemilan yang disuguhkan.


Ayra menelpon Ayah Bundanya selama beberapa saat. Ayra tak percaya, Devara mendapatkan ijin dari Ayah Bundanya, lagi. Rupanya Devara tidak bohong. Dia memang sudah mengantongi ijin dari Ayah dan Bunda. Karena Devara mengatakan akan mengadakan pesta kecil-kecilan dirumahnya bersama Nadine dan Daniel mumpung hari libur. Tapi Ayah dan Bunda mewanti-wanti Ayra untuk selalu menjaga diri. Karena walaupun Ayra dan Devara sepasang kekasih, tetapi mereka tidak boleh melakukan hal yang dilarang, karena kehormatan seorang wanita adalah tanggungjawab si wanita sepenuhnya. Dan Ayra sadar akan hal itu. Apalagi prinsip hidupnya yang sangat ia pegang teguh. Pantang baginya “tidur” dengan lelaki yang bukan suaminya. Karena Ayra berprinsip hanya akan menyerahkan “kehormatannnya” untuk suaminya seorang.


*


*


*


*


“Cukup sekali ini ya Dev, kau bawa-bawa namaku untuk ijin sama Ayah dan Bunda Ayra” ancam Nadine sambil mengerucutkan bibirnya tanda protes.


“Kamu sih, Nadine jadi marah kan..Tanggungjawab kamu”ucap Ayra pelan sambil memukul lengan Devara yang sedang menyetir.


“Iya..iya..cerewet banget sih. Aku cium disini baru tau rasa kamu”goda Devara yang mulai jengah dengan keributan kecil yang dari tadi dibuat pacarnya sejak dari rumah Nadine. Ayra memarahinya terus karena membawa serta Nadine dan Daniel. Ayra merasa tak enak hati pada kedua sahabatnya itu.


“Maaf Nad. Aku hanya kepikiran ide itu supaya mendapat ijin Ayah dan Bunda. Maaf ya Nad..”ucap Devara meminta maaf sambil melirik kaca spion kearah Nadine yang sedang ngambek di kursi belakangnya.


“Hei Dan..bantuin napa.. buat Nadine jangan marah lagi dong. Kamu ini sahabat macam apa?”protes Devara melihat Daniel yang diam saja melihat dirinya ditekan dua gadis yang semobil dengan mereka.


“Kenapa minta bantuanku? Kau juga seenaknya menyeret namaku. Kau juga harusnya meminta maaf padaku”protes balik Daniel


“Sialan kalian berdua! Kalian semua sekongkol ya..membuat aku terpojok seperti ini” gerutu Devara


“Makanya jangan sembarangan bawa-bawa nama orang. Ijin dulu sama aku dan Daniel. Kita memang berteman tapi kalau seperti ini kan seolah kami setuju jadi partner in crime kamu..Padahal semuanya cuma gara-gara kamu pingin berduaan sama Ayra doang. Kita mah obat nyamuk” cerocos Nadine yang merasa geram dengan kelakuan Devara.

__ADS_1


“Makanya kalian cepetan pacaran, biar sekalian double date” ucap Devara tiba-tiba. Membuat Daniel dan Nadine tersipu malu dengan usul “gila” Devara.


“Iya ya..kok aku ga kepikiran double date”tambah Ayra sambil menengok ke arah Nadine dan Daniel bergantian.


“Kamu ga usah ikut-ikutan gila deh Ay”ucap Nadine sambil memukul pelan lengan Ayra.


“Aduhh..saakiiiit” Ayra mengaduh dengan suara manja sambil mengelus-elus lengannya


Devara yang mendengar Ayra mengaduh segera menepikan mobilnya.


“Apanya yang sakit?”tanya Devara kuatir.


“Lenganku.. Nadine barusan mukul aku”ucap Ayra dengan wajah imut tanpa dosa.


Devara dengan wajah sangarnya langsung menengok ke belakang.


“Hei Nad..berani kamu mukul pacarku ya! Awas kamu!”ancam Devara dengan wajah galak seperti hendak menerkam Nadine.


Nadine yang melihat wajah sangar Devara menjadi ciut nyalinya. Melihat Nadine yang seperti ketakutan dengan ancaman Devara, membuat Daniel duduk mendekat kearah Devara.


“Awas apa? Tadi minta maaf sekarang main ancam. Sudah menyetir saja”jawab Daniel berusaha melindungi Nadine dengan tubuhnya.


“Jangan hiraukan pasangan gila seperti mereka. Sudah biarkan saja”ucap Daniel lembut berusaha menenangkan Nadine.


Nadine mengangguk pelan sambil tersenyum. Hatinya begitu tersentuh dengan perhatian Daniel. Cinta dalam hidupnya itu.


“Sudah..sudah bercandanya. Ayo keburu malam Dev”pinta Ayra sambil mengelus lengan Devara.


“Maaf ya Nad..kami cuma bercanda”ucap Ayra pada sahabatnya


Devara pun melajukan mobilnya menembus kemacetan jalanan yang semakin malam semakin ramai dengan kendaraan. Lampu-lampu jalan menghiasi malam menerangi jiwa-jiwa yang seakan berpacu dengan waktu untuk segera sampai pada tujuan masing-masing.


Karena sudah waktunya makan malam, Devara pun mengajak Ayra, Nadine dan Daniel makan malam di salah satu restoran terbaik di kota. Restoran bintang lima miliknya. Salah satu favorit Devara.


Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dirinya, Ayra, Devara, Daniel dan Nadine turun dari mobil satu per satu. Mereka berjalan menuju pintu lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai khusus tamu VVIP seperti Devara.


Sejak turun dari mobil, Devara terus menggenggam tangan mungil Ayra. Ayra yang sudah mulai terbiasa, membiarkan saja Devara mengandeng tangannya. Membuat dua sahabat mereka benar-benar menjadi obat nyamuk melihat kemesraan yang dipertontonkan pasangan kekasih itu.


Dalam hati sebenarnya mereka juga iri dengan kemesraan keduanya. Namun apa daya, keduanya memang belum punya pasangan. Jomblowers setia. Yang sama-sama tak ingin kehilangan persahabatan indah di antara keduanya. Walaupun sebenarnya ada perasaan lain di hati mereka. Nadine yang sejak SMP menaruh hati pada Daniel. Sementara Daniel yang baru saja patah hati karena gadis pujaan hatinya “direbut” sahabatnya sendiri, belum siap membuka hati. Walaupun tanpa dipungkiri, Daniel juga memiliki rasa pada Nadine yang dikenalnya sejak SMP dulu. Nadine yang selalu ada di saat semua orang menjauhi dirinya sejak berseteru dengan Devara karena Georgina. Nadine yang selalu menemani dan menghiburnya di saat paling rendah dalam hidupnya ketika ditinggalkan kakek kesayangannya.


Melihat Devara dan Ayra yang sedang kasmaran, sukses membuat Daniel dan Nadine salah tingkah. Apalagi saat di lift, Devara sengaja memanas-manasi keadaan dengan memeluk pinggang Ayra lalu mendaratkan kecupan hangat di kening kekasihnya itu. Devara melakukannya tepat di depan mata kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Ayra yang menyadari “permainan” Devara, memilih pasrah. Karena sebelum melakukannya Devara sudah memberi isyarat mata padanya seolah menunjuk kepada kedua sahabatnya yang berdiri tak jauh dari keduanya.


__ADS_2