Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Hujan dan Liontin


__ADS_3

Sesampainya di kota S, Madam O sudah menyambut di depan pintu rumah Devara. Devara meminta Madam O menunjukkan kamar kakek Arya.


“Madam, minta tolong tunjukkan kamar kakek”pinta Devara


“Baik tuan muda”jawab Madam O


“Mari tuan saya antar Anda menuju kamar Anda”ajak Madam O


Kakek hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Madam O. Ayra dan Devara berjalan menuju ruang santai di dekat kolam renang untuk melepaskan penat setelah seharian berkendara.


“Maafkan kakek ya Dev karena sudah merepotkanmu terus”pinta Ayra


Devara menatap wajah cantik Ayra sambil tersenyum.


“Beliau juga akan jadi kakekku. Tenang saja, aku bisa menghadapinya”ucap Devara mencoba menenangkan sang kekasih sambil menggenggam tangan Ayra.


“Terimakasih”sahut Ayra dengan tatapan haru


Keduanya saling bertatapan penuh cinta. Devara merapikan anak rambut Ayra yang menutupi sebagian wajahnya. Membuat keduanya larut dalam perasaan suka cita merasakan cinta yang begitu dalam satu sama lain.


“Ehem”


Suara berat kakek yang berdehem langsung mengacaukan suasana romantis antara kedua sejoli yang sedang saling  bertatapan penuh cinta. Keduanya langsung melepaskan genggaman tangan masing-masing. Ayra dan Devara langsung duduk agak menjauh satu sama lain begitu melihat kehadiran kakek di antara mereka.


“Kenapa kakek mesti merusak suasana sih?”gerutu Devara dalam hati sambil menatap kakek yang ikut duduk bersama keduanya.


“Kakek”sapa Ayra melihat sang kakek


“Aku pikir kakek akan istirahat dulu”ucap Ayra


“Aku tidak merasa lelah untuk apa aku istirahat?”balas kakek


Kakek mengedarkan pandangan matanya menikmati keindahan rumah Devara. Sejenak kakek dibuat takjub akan keindahan dekorasi dan interior rumah modern minimalis milik Devara.


“Rumah ini milik keluargamu ya anak muda?”tanya kakek pada Devara


“Ini rumah saya kek”jawab Devara tegas


“Maksudmu?”


“Ini rumah pribadi saya. Saya yang sudah membelinya”jawab Devara

__ADS_1


“Dari uang keluargamu?”sindir kakek


“Dari uang pribadi saya sendiri kek..Kebetulan saya selama kuliah di Inggris juga merangkap menjadi CEO di perusahaan papa. Saya sudah bekerja di perusahaan keluarga saya. Karena itu, uang yang saya keluarkan untuk membeli rumah ini adalah murni uang pribadi saya. Bukan karena pemberian cuma-cuma dari papa saya”urai Devara penuh penegasan di tiap kata yang diucapkannya.


Kakek langsung terdiam mendengar jawaban Devara. Ayra menatap sang kekasih dengan tatapan penuh kebanggaan.


“Bagaimanapun juga saya adalah putra satu-satunya di keluarga saya, maka saya harus meneruskan bisnis yang sudah dijalankan keluarga. Jika boleh memilih, saya akan memulai bisnis sendiri. Tapi saya tak bisa menafikan bisnis keluarga juga. Ada banyak orang yang bergantung di sana. Jadi saya harus meneruskannya. Demi keluarga-keluarga yang bergantung pada keluarga saya. Jadi maaf jika saya sudah mengecewakan kakek”jelas Devara


Kakek mendengarkan penjelasan Devara sambil mencerna tiap katanya. Kakek bisa melihat di usianya yang masih muda Devara sudah bertanggungjawab dan memahami posisinya sebagai penerus gurita bisnis keluarga. Perusahaan Alexis Global Corp. miliknya. Ada perasaan bangga di hati kakek mendengar penjelasan Devara barusan.


“Aku bangga kau sudah mengerti dan paham posisimu dalam keluarga. Aku harap kau mampu mengemban tampuk kepemimpinan perusahaan keluargamu dengan lebih bertanggung jawab”pesan kakek


“Itu pasti kek. Terimakasih”ucap Devara


Kakek hanya mengulas senyum di bibirnya. Sementara Ayra yang melihat interaksi keduanya tersenyum bahagia mendengar ucapan kakek.


Ketiganya menikmatinya suasana petang itu dengan lebih hangat. Ayra, Devara, kakek ditemani juga dengan Madam O. Mereka berempat menikmati minuman hangat yang tersedia sambil berbincang ringan.


“Tik..tik..tik..”


"Tik..tik..tik.."


Rintik hujan tiba-tiba menyapa petang itu. Langit yang sudah beranjak malam semakin terlihat gelap. Membuat Ayra yang memang tidak suka suasana hujan memilih untuk masuk ke dalam rumah. Ayra mendekap tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena hawa dingin yang menyapa. Devara yang melihat sang kekasih kedinginan, segera melepaskan kemejanya dan melingkarkannya di tubuh sang kekasih. Meninggalkan kaos putih lengan pendek yang dikenakannya.


"Pakai ini"ucap Devara


"Terimakasih"sahut Ayra sambil tersenyum.


Madam O dan kakek ikut tersenyum dengan perhatian Devara pada sang kekasih.


“Aku masuk ke dalam saja”ucap Ayra


“Aku temani”sahut Devara


Keduanya langsung berpamitan pada kakek dan Madam O yang masih asyik berbincang di ruang santai.


"Kakek, Madam saya masuk ke dalam dulu"ucap Ayra


"Masuklah kedalam dan pakai jaket untuk menghangatkan tubuhmu"pinta kakek


"Iya kek"jawab Ayra

__ADS_1


"Saya temani Ayra dulu kek"ucap Devara


Kakek mengangguk pelan memberi ijin. Keduanya langsung masuk ke dalam rumah. Kakek dan Mdam O menatap punggung kedua sejoli.


“Sepertinya nona Ayra tidak terlalu suka hujan”ucap Madam O


“Dia..punya trauma dengan hujan. Terutama petir”ucap kakek


“Pantas saja jika hari hujan dan ada petir, nona Ayra kelihatan ketakutan sekali”balas Madam O.


“Maaf tuan, sebenarnya sudah lama saya ingin bertanya pada Anda. Apa mungkin kita sudah pernah bertemu sebelumnya? Karena sejak acara lamaran tuan muda, saya selalu merasa kita pernah bertemu sebelumnya”ujar Madam O


Kakek menoleh ke arah Madam O dan mencoba menggali kenangan di dalam pikirannya mendengar ucapan Madam O.


“Apa tuan pernah berada di rumah sakit kota M kira-kira empat belas tahun yang lalu?”tanya Madam O


“Kota M?”kakek mengernyitkan dahinya


“Sebentar, ada yang ingin saya tunjukkan pada Anda”


Madam O berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil sesuatu. Meninggalkan kakek seorang diri di ruang santai. Kakek tampak berpikir mendengar ucapan Madam O tentang kota M. Kota tempat kakek bertugas puluhan tahun silam.


“Maaf membuat tuan menunggu. Apa tuan mengenal liontin ini?”tanya Madam O


Madam O menyerahkan sebuah liontin emas dengan ukiran huruf A pada kakek. Kakek terkejut setengah mati menerima liontin itu. Dari wajahnya kakek tak bisa menyembunyikan keterkejutannya sambil memegang liontin huruf A itu.


“Dari mana Anda mendapatkan liontin ini?”tanya kakek penasaran


“Saya mendapatkannya dari tuan muda kira-kira empat belas tahun silam saat berada di kota M”jawab Madam O


Kaki kakek sedikit bergetar setelah melihat kembali liontin pemberiannya pada Ayra yang hilang akibat tragedi di kota M belasan tahun silam. Kakek terduduk di kursi sofa dengan tatapan tak percaya.


“Bagaimana Devara mendapatkan liontin ini?”tanya kakek


“Saya juga tak tahu. Saat itu tuan muda hanya menyuruh saya menyimpan liontin ini”


“Tapi ini mirip sekali dengan liontin milik Ayra empat belas tahun lalu”ucap kakek


Kenangan dalam hati kakek seolah kembali terbuka setelah melihat liontin berinisial huruf A itu. Liontin yang mirip dengan liontin pemberiannya pada Ayra saat kecil.


Berbagai perasaan berkecambuk di hati kakek, setelah melihat benda berharga yang menjadi saksi sejarah kelam dalam kehidupan cucunya, Ayra. Sejarah yang ingin sekali dirubah oleh kakek Arya karena sudah membuat luka yang begitu dalam di hati sang cucu. Hingga membuatnya trauma dan harus menerima terapi psikologis selama beberapa waktu. Kakek tampak menitikkan airmatanya begitu mengingat kenangan buruk itu.

__ADS_1


__ADS_2