Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Jenga Game


__ADS_3

Sesampainya di rumah Ayra. Nadine turun sendiri dari mobil. Devara sebenarnya bermaksud membukakan pintu untuk Ayra tapi ternyata Ayra keluar dari mobil sendiri. Wajahnya pun masih sangat kesal.


“Kalian masuk saja ke dalam”ucap Devara


“Kamu ga ikut masuk Dev?”tanya Nadine


“Ga ah..yang punya rumah lagi ngambek” jawab Devara sambil memberi isyarat ke arah Ayra


Nadine tersenyum melihat Ayra yang memasang wajah kesal.


“Ooo”jawab Nadine


“Terimakasih untuk tumpangannya. Akan kukembalikan baju ini secepatnya” ucap Ayra masih dengan wajah cemberut


“Baju itu buat kamu aja. Kakakku juga sudah tak membutuhkannya” jawab Devara


“Kalau begitu aku pulang dulu”ujar Devara


“Oke..hati-hati ya Dev”ucap Nadine lalu Nadine menyenggol Ayra memberi isyarat supaya mengucapkan sesuatu


“Hati-hati di jalan” ucap Ayra datar


Devara tersenyum mendengar ucapan Ayra.


“Iya. Bye”ucap Devara


Ayra hanya mengangguk. Devara segera berjalan ke mobilnya. Sebelum masuk mobil, Devara memanggil Ayra.


“Oya Ayra”


“Apa?”


“Kamu cantik sekali hari ini”seru Devara sambil tersenyum lalu dia segera masuk mobil.


Ayra yang mendengar pujian dari Devara jadi tersipu malu. Pipinya memerah. Wajah Devara yang tersenyum padanya benar-benar sangat tampan. Membuat jantung Ayra berdetak sangat kencang.


“Cieee..”goda Nadine pada Ayra


“Udah ah..ayo masuk”kilah Ayra.


Sebelum masuk rumah, Ayra sempat menengok ke arah mobil Devara. Devara sendiri ternyata juga melihat Ayra dari kaca spion sambil tersenyum


“Dasar cowok gila”gumam Ayra dalam hati sambil tersenyum.


*


*


*


*


Sampai di dalam rumah, Bunda dan Ayah sudah menyambut mereka. Rupanya Ayah hari ini libur. Untung saja Ayah dan Bunda tidak curiga dengan kejadian kemarin, karena Nadine membantu mencarikan alasan untuk Ayra.


Kini Ayra dan Nadine berada di kamar Ayra.


“Selamat ya Ay, akhirnya kamu bisa menaklukkan seorang Devara” goda Nadine


“Apaan sih Nad?”kilah Ayra


“Ini hanya pendapatku saja ya Ay.. Tapi menurutku Devara itu serius sama kamu. Kamu tak tahu kan, kemarin waktu nyariin kamu, dia tu beneran panik lho Ay.. Seumur-umur aku ga pernah lihat Devara yang seperti itu. Bahkan sama Georgina pun tidak. Jadi aku tahu kalau Devara kali ini benar-benar serius sama kamu..Devara itu bukan tipe cowok yang gampang takluk sama cewek. Aku udah sering bilang kan. Jadi jangan sia-sia kan Devara ya Ay.. Aku lihat kalian beneran cocok” jelas Nadine


Ayra pun mencerna setiap kata-kata Nadine. Memang benar ketika menemukannya di gudang kemarin, Ayra juga bisa lihat Devara benar-benar mengkhawatirkannya.


Cara Devara meneriakkan namanya waktu itu pun juga mampu membuat Ayra terharu sampai dia menangis. Ayra juga bisa melihat perhatian Devara yang sangat besar padanya. Walaupun kadang sikapnya yang menyebalkan membuat Ayra juga jengkel.

__ADS_1


“Kamu juga suka Devara kan Ay?”tanya Nadine


Ayra terdiam sejenak. Mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Nadine tadi.


“Entahlah Nad. Aku juga masih bingung. Ada kalanya aku merasa nyaman disisinya. Aku merasa terlindungi. Tapi kadang sikapnya itu lho, nyebelin banget. Jadi perasaanku benar-benar campur aduk. Aku bingung” ungkap Ayra


“Percayalah kata hatimu. Pasti kamu bisa menemukan jawabannya” ucap Nadine


Ayra mengangguk.


“Tapi Ay, aku beneran penasaran. Sejak kapan kalian bisa dekat? Bukannya kalian awalnya musuhan?”tanya Nadine yang masih penasaran


“Aku sendiri juga bingung sejak kapan”jawab Ayra polos


“Oo..ehh, tunggu. Jangan-jangan smartphone yang kemarin itu…”Belum sampai Nadine menyelesaikan kata-katanya, Ayra sudah mengangguk.


Tok..tok..tok


Bunda membuka pintu kamar.


“Iya Bunda?”tanya Ayra setelah melihat Bunda membuka pintu kamar


“Ay, di luar ada dua temenmu nyariin. Cowok. Kamu turun ya”kata Bunda


“Hah..temen cowok? Siapa? Dua cowok?”gumam Ayra dalam hati


“Siapa Ay? Kamu punya temen cowok?” tanya Nadine


“Ssstttt..jangan keras-keras, ada Bunda”bisik Ayra


Nadine pun langsung diam.


“Eh..iya bund, sebentar lagi aku turun. Makasih Bunda” ucap Ayra


“Kita turun yuk”ajak Nadine


Sampai di teras,


“KALIAN? Kenapa bisa kesini?”seru Ayra kaget setelah melihat Daniel dan Devara yang bertamu.


“Bukannya tadi kamu udah pulang?” tanya Ayra pada Devara.


Devara diam saja. Rupanya tadi setelah pamit, Devara berpapasan dengan mobil Daniel. Karena penasaran dengan yang dilakukan Daniel di rumah Ayra, akhirnya Devara memutar balik.


“Ga boleh masuk nih?”tanya Devara


“Masuk Dan”ucap Ayra pada Daniel.


Mendengar Ayra hanya mempersilahkan Daniel masuk, membuat Devara jadi kesal. Devara nekat masuk rumah walaupun tidak dipersilahkan. Diapun menyenggol Daniel. Mirip anak-anak yang ngambek. Devara lalu duduk di kursi tamu. Ketika Ayra akan duduk, Devara segera menarik tangan Ayra, sehingga Ayra duduk di samping Devara.


“Kamu apa-apaan sih?”tanya Ayra.


“Jangan macam-macam ya..di rumah ada Ayah sama Bunda. Kalau kamu macam-macam.. “Ayra mengepalkan tinjunya dan diarahkan ke wajah Devara


“Kalian teman-teman Ayra ya?” tanya Bunda sambil membawakan minuman untuk mereka berempat.


Ayra segera membantu Bunda menerima nampan berisi minuman itu.


“Iya tante”jawab Devara cepat mendahului Daniel.


“Sejak kapan dia berteman dengan Ayra?” gumam Daniel dalam hati


“Sejak kapan juga kami berteman? Cowok aneh! Awas saja kalau dia nanti macam-macam” gumam Ayra dalam hati


“Baru kali ini, ada teman cowok Ayra yang main ke rumah. Anggap saja seperti rumah sendiri ya. Bunda ke dalam dulu” ujar Bunda lembut.

__ADS_1


“Baik tante” jawab Daniel.


Devara yang merasa didahului Daniel menjawab perkataan Bunda langsung menoleh ke arah Daniel dan memasang wajah kesal. Daniel hanya tertawa sinis. Devara tambah kesal dibuatnya.


“Ay, ajak teman-temanmu ke balkon. Di sana mungkin lebih nyaman ngobrolnya” seru Bunda dari dapur


“Aduh..kenapa Bunda nyuruh ke balkon sih?” gerutu Ayra dalam hati


“Iya Bunda” jawab Ayra menuruti permintaan bundanya.


“Ayo..kita ke balkon” ajak Ayra pada ketiga tamunya.


Ayra bermaksud mengambil nampan berisi gelas mereka berempat, lalu Devara menawarkan diri membantu.


“Aku aja yang bawa” ujar Devara


Ayra diam saja. Mereka berempat pun naik ke lantai dua ke balkon. Selama menaiki tangga ke lantai dua, Ayra memandangi punggung Devara.


“Sebenarnya dia baik juga” gumam Ayra sambil tersenyum.


Sampai di balkon, rupanya angin berhembus sangat kencang. Beberapa kali dress Ayra tertiup angin.


“Kita di dalam saja. Di sini anginnya kencang” pinta Devara


“Aku rasa juga begitu”ucap Daniel


Ayra dan Nadine pun menurut saja. Jadilah mereka duduk di ruang keluarga di lantai dua.


“Hei, apa kau tak punya jaket? Cepat pakai jaket sana! Bisa-bisa nanti kamu masuk angin”perintah Devara


Ayra pun segera masuk ke kamarnya mengambil cardigan miliknya.


“Selalu saja memerintah orang..nyebelin”gerutu Ayra sambil cemberut


Rupanya Devara tak suka jika ada lelaki lain yang memandangi tubuh “wanitanya”. Selesai mengambil cardigan, Ayra kembali duduk di karpet bersama teman-temanya. Lagi-lagi Devara menarik tangan Ayra untuk duduk di sampingnya. Daniel dan Nadine hanya bisa melihat tingkah kekanak-kanakan Devara.


“Enaknya kita main apa nih?”tanya Nadine memecah keheningan


“Aah..aku punya game jenga. Aku ambilkan ya”ucap Ayra.


Diapun kembali ke kamarnya mengambil jenga game dan sebuah crayon merah dan hitam.


“Hyaaa..kenapa kamu bawa crayon juga?” tanya Devara setelah melihat Ayra membawa crayon dua warna


“Biar seru. Nanti yang kalah harus mau dicoret”ucap Ayra bersemangat.


“Wah..boleh juga tuh” balas Nadine


“Aku setuju” imbuh Daniel


Ayra melirik Devara. Devara tampak enggan.


“Oke..oke..aku ikut. Tapi hanya kamu yang boleh mencoret wajahku. Kalian berdua awas saja kalau berani corat-coret wajah tampanku” ancam Devara.


Devara hanya mau dicoret sama Ayra.


“Udah nurut aja. Jarang-jarang lho dia mau ikutan main kayak gini” bisik Nadine pada Ayra


Ayra mengangguk. Akhirnya mereka pun bermain game jenga. Mereka mengambil tiap balok dengan hati-hati. Kadang membuat jantung mereka berdetak kencang ketika jenga mereka hampir jatuh.


Byarrrr…


Jenga jatuh karena Devara salah mengambil balok. Ayrapun bersiap mencoret wajah Devara. Tapi Devara berusaha mengelak.


“Hei..diam. Kalau kalah ya harus dicoret” pinta Ayra sambil mencoret wajah Devara.

__ADS_1


“Nah..sudah” ucap Ayra sambil tertawa geli.


Devara pun mengalah tapi dengan cemberut. Wajah tampannya penuh coretan. Hasil karya Ayra.


__ADS_2