Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Menemui Sang Jenderal


__ADS_3

Mendengar kabar Ayra dan Devara pulang ke kota mereka, kakek Arya langsung menghubungi Ayah Aldi untuk mengundang kedua sejoli itu. Kakek Arya merindukan keduanya. Walaupun tak pernah menampakkannya secara langsung namun sebenarnya kakek Arya mulai menyayangi Devara. Seringnya bertengkar dengan Devara selama berada di desa membuat kakek secara perlahan membuka hatinya untuk calon cucu menantunya yang tengil itu.


“Iya Ayah..ada apa?”tanya Ayah Aldi melalui sambungan telepon.


“Aku dengar Ayra dan bocah nakal itu pulang, apa itu benar?”tanya kakek Arya


“Iya Ayah..tapi mereka hanya disini selama dua hari saja”ucap Ayah Aldi


“Suruh mereka berdua kemari. Aku ingin bertemu dengan mereka”perintah kakek Arya.


“Coba aku tanyakan mereka dulu, Ayah..karena mereka pulang juga untuk mengurus persiapan pernikahan mereka berdua”ucap Ayah Aldi.


“Untuk apa kau tanyakan pada mereka? Ini perintah dariku. Suruh mereka berdua kemari besok. Jika mereka tak mau kemari, jangan harap ada pernikahan”gertak kakek Arya


Ayah menghela nafasnya perlahan. Sungguh menghadapi Jenderal purnawirawan itu sejak dulu harus dengan kesabaran ekstra. Karena jiwa tentara yang melekat di dalam diri kakek, membuat beliau kadang keras kepala. Sekali beliau memberi perintah, maka semua harus menurutinya.


“Baiklah Ayah”jawab Ayah Aldi.


Sesaat kemudian, telepon pun ditutup.


“Siapa yah yang telpon?”tanya bunda


Bunda meletakkan gelas berisi kopi hangat di atas meja di samping Ayah Aldi.


“Terimakasih sayang”ucap Ayah sambil mencium punggung tangan istri tercintanya.


“Iya sama-sama”jawab Bunda sambil tersenyum.


Bunda kemudian duduk di samping Ayah. Keduanya duduk di teras depan sambil menikmati suasana malam yang syahdu ditemani gemericik air mancur buatan yang ada di teras depan rumah Ayra.


“Itu tadi Ayah”jawab Ayah Aldi.


“Tumben Ayah telpon, ada apa memangnya?”tanya Bunda sedikit penasaran


“Ayah minta besok Ayra dan Devara datang mengunjunginya di rumah”jawab Ayah Aldi.


“Tapi kan Ayra dan Devara sibuk mengurusi persiapan pernikahan mereka. Apa tidak sebaiknya besok jika mereka berdua sudah agak longgar? Lagipula mereka berdua hanya dua hari di sini”ucap Bunda


“Aku juga sudah mengatakan itu pada Ayah, tapi kau tahu sendiri kan Ayah seperti apa. Sekali beliau memerintah, maka harus kita laksanakan”tutur Ayah Aldi sambil menyeruput gelas berisi kopi hangat yang dibuatkan Bunda.


“Bunda kasihan pada Ayra dan Devara yah..Lihatlah! Sampai sekarang mereka juga belum pulang fitting gaun pengantin”ucap Bunda sambil melirik jam dinding yang menunjukkan jam 20.00 malam.


“Belum lagi mereka harus mengurus persiapan foto prewedding mereka”


“Ayah juga tahu bund, tapi bagaimana lagi. Ayah bahkan mengancam tidak akan ada pernikahan jika mereka berdua tidak datang”sahut Ayah Aldi.


Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.


Sedang asyiknya bercengkerama, kedua sejoli yang baru saja melakukan fitting gaun pengantin itu pun datang. Ayra dan Devara keluar dari mobil sport putih milik Devara. Dengan senyum yang terus terpancar di bibir keduanya.


“Selamat malam Ayah..Bunda”sapa Devara sambil mencium punggung tangan Ayah dan Bunda.


Ayah dan Bunda tersenyum ke arah keduanya.


“Bagaimana fitting gaunnya Ay?”tanya Bunda

__ADS_1


“Lancar bunda”jawab Ayra


“Kenapa pulangnya malam banget? Bunda kira cuma 1-2 jam saja”tanya Bunda


Ayra langsung menoleh ke arah Devara.


“Soalnya ada yang ribet banget sih bund”jawab Ayra sambil melirik Devara


Devara yang paham maksud perkataan Ayra langsung menatap tajam ke arah calon istrinya itu. Ayah dan Bunda seakan dapat membaca situasi tanpa Ayra perlu menjelaskannya. Keduanya tersenyum melihat anak dan calon menantunya itu.


“Kalian sudah makan malam apa belum?”tanya Ayah


“Aku belum makan yah..laper banget. Dari tadi sore belum makan apa-apa”jawab Ayra.


“Ya udah, kita makan malam di dalam. Ayo Dev”ajak Bunda


“Baik Bunda”jawab Devara


Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Ayra membantu Bundanya menyiapkan makan malam sementara Devara dan Ayah berbincang-bincang di ruang tamu. Setelah semua siap, keluarga kecil itupun makan malam bersama.


Sejak dulu, Devara selalu menikmati masakan apapun yang dibuat Bunda. Bagi Devara, masakan Bunda dan nasi goreng buatan Ayra adalah yang paling enak sedunia. Di sela makan malam, keempatnya berbincang ringan membahas persiapan pernikahan.


“Oh ya..besok kalian kosongkan agenda kalian ya?”pinta Ayah


“Memangnya kenapa yah?”tanya Ayra sambil mengernyitkan dahinya


“Besok kita ke rumah kakek. Kakek ingin bertemu dengan kalian”ucap Ayah Aldi sambil menatap kedua anak dan calon menantunya itu.


“Uhuk..uhuk..”


Devara langsung tersedak begitu mendengar nama kakek Arya disebut. Ayra spontan menoleh ke arah Devara yang duduk di sampingnya. Wajah Devara memerah. Ayra menyodorkan gelas berisi air putih kepada Devara sambil mengelus punggung lelaki muda itu perlahan.


Ayah dan Bunda juga ikutan kuatir melihat Devara yang tiba-tiba tersedak.


“Kamu baik-baik saja kan Dev?”tanya Ayah


“Minumlah Dev”pinta Bunda


Devara segera meminum gelas berisi air putih yang diberikan Ayra.


“Saya baik-baik saja yah..terimakasih”sahut Devara


“Sialan! Kenapa mesti ketemu kakek lagi sih? Padahal aku sengaja mempersempit jadwal pulang jadi dua hari aja supaya ga harus ketemu kakek. Ini malah disuruh ketemuan”gerutu Devara dalam hati


Devara memaksakan tersenyum meskipun hatinya ingin sekali memberontak. Bertemu sang jenderal yang sudah memberinya kehidupan penuh dengan tekanan dan penderitaan selama tiga bulan yang lalu sungguh membuat Devara tak ingin bertemu beliau. Meskipun ada kalanya kakek mengingatkan Devara pada sosok kakeknya yang sudah meninggal. Namun jika boleh memilih Devara lebih memilih menjauh dari kakek Arya.


Setelah makan malam, Devara pun pulang ke kediamannya. Semalaman Devara dan Ayra melakukan video call. Ayra berusaha menyemangati Devara. Karena Ayra tahu Devara tidak terlalu suka kakek Arya apalagi setelah “ditindas” kakek selama mengikuti pendidikan militer dan berada di desa.


Keesokan harinya, karena semalaman video call dengan Devara, Ayra malah bangun kesiangan.


“Ay..bangun sayang”pinta Bunda sambil membangunkan Ayra


“Ehmmm..”Ayra menggeliat dengan mata yang masih terpejam


Bunda mengelus pelan pucuk kepala putri kesayangannya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


“Bangun sayang..kita harus segera siap-siap. Kakek sudah menunggu kita”ucap Bunda


Ayra langsung membuka matanya begitu mendengar nama kakek Arya disebut dan menepuk dahinya sendiri.


“Jam berapa sekarang bund?”tanya Ayra


“Jam 07.00 sayang”jawab Bunda


“Gawat! Kakek bisa marah besar! Aku siap-siap dulu bund”ucap Ayra


Disibaknya selimut yang membungkus dirinya dan secepat kilat dilipatnya selimut itu. Selanjutnya Ayra langsung ngacir ke kamar mandi untuk mandi. Lima belas menit kemudian, Ayra sudah turun ke lantai bawah. Ayra tampak cantik dengan blouse korean style warna putih dengan motif bunga-bunga kecil yang dipadu dengan celana jeans warna light blue.


Semua orang yang berada di lantai bawah langsung menoleh ke arah Ayra. Bahkan lelaki muda yang sudah siap sejak tadi dan menunggu tunangannya itupun langsung tersenyum melihat wanitanya datang. Ayra yang melihat Devara sudah datang juga membalas senyum sang kekasih.


“Udah lama Dev?”tanya Ayra.


“Baru aja”jawab Devara.


Ayah dan Bunda saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain melihat Devara dan Ayra yang malah mematung.


“Kok malah pada bengong?”goda Bunda


Ayra dan Devara saling memutus tatapan penuh cinta diantara keduanya setelah sadar ketahuan Bunda dan Ayah yang berdiri tak jauh dari keduanya.


“Kita berangkat sekarang aja ya yah?”ajak Ayra


“Kamu ga sarapan dulu Ay?”tanya Bunda


“Ga usah bund..nanti kalo kakek marah malah lebih gawat. Aku sarapan di rumah kakek aja”jawab Ayra


Akhirnya mereka berempat berangkat menuju rumah kakek bersama-sama. Sepanjang perjalanan, Ayra merasakan ada yang tak beres dengan perutnya.


“Kenapa perutku ga enak gini rasanya?”gumam Ayra dalam hati.


Ayra terus menahan dirinya. Entah kenapa, selama perjalanan menuju rumah kakek, Ayra terus merasa mual dan pening. Bahkan wajah Ayra mulai pucat.


Sesampainya di rumah kakek,


Sang jenderal sudah berdiri di teras depan rumah untuk menyambut anak, menantu, cucu, dan calon cucu menantunya. Wajahnya pun terlihat datar saja tanpa senyum terukir di wajahnya yang meskipun sudah menua namun gurat-gurat ketampanan semasa mudanya masih jelas terlihat. Kakek terlihat sangat berwibawa.


Begitu turun dari mobil, satu per satu menjabat tangan kakek dan mencium punggung tangannya. Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.


“Apa kabar Ayah?”sapa Ayah Aldi


“Ayah baik”jawab Arya dengan suara beratnya


Tatapan mata sang jenderal menatap cucu dan calon cucu menantunya secara bergantian. Kakek langsung mengernyitkan dahinya melihat Ayra yang terlihat pucat.


“Kamu baik-baik saja kan Ay?”tanya kakek


Ayra menggeleng.  Semua mata tertuju pada Ayra.


“Selama perjalanan Ayra terus mengeluh pusing, yah”jawab Bunda


Ayra sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Ayra tampak menutup mulutnya. Dan sedetik kemudian langsung beranjak dari kursi di ruang tamu. Ayra langsung berlari ke arah kamar mandi. Semua orang yang melihat Ayra berlari langsung menyusul ke arah Ayra pergi.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi,


“Hoek..hoek..”


__ADS_2