
Penjahat yang sudah kehilangan jejak Ayra dan tuan muda itu akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan keduanya dan kembali pada gerombolannya.
“Tunggu disini! Aku lihat dulu diluar”pinta tuan muda itu
Perlahan-lahan anak kecil itu pun keluar melihat keadaan. Tiba-tiba dia merasa tangannya ada yang menarik. Diapun menoleh dan melihat Ayra memegang tangannya.
“Jangan..pergi!”ucap Ayra kecil dengan terbata-bata.
Tampak jelas ketakutan terpancar di mata Ayra. Membuat tuan muda itupun menurut dan tidak jadi keluar.
“Kita tidak bisa disini terus..hujannya semakin lebat”ucap tuan muda
Lelaki muda itu menarik tangan Ayra dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih aman. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba,
“Ddduuuaaarrrrr”
Sebuah petir menyambar salah satu pohon besar tak jauh dari keduanya.
“Aaaaaaa…”
Ayra yang kaget mendengar bunyi petir yang sangat menggelegar itupun berteriak ketakutan. Pohon yang disambar petir juga terbelah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah.
Ayra sampai gemetaran melihat kilatan petir yang menyambar pohon itu tadi. Untung saja pohon itu tidak sampai terbakar. Namun saat tersambar petir tadi, kilatan cahayanya membuat pohon itu menyala laksana api yang menyala. Pemandangan mengerikan itu membuat siapapun pasti ketakutan jika menyaksikannya apalagi anak kecil seperti Ayra.
Melihat gadis kecil di sampingnya yang ketakutan, tuan muda itu langsung berusaha menenangkannya. Tuan muda itu menggenggam tangan Ayra kecil. Membuat Ayra menoleh pelan-pelan pada tuan muda itu.
“Tak apa-apa..jangan takut! Ada aku disini”ucap tuan muda pemberani itu sambil tersenyum.
Kata-kata itu membuat Ayra kecil kembali tegar meskipun dengan airmata yang masih menetes. Keduanya pun berjalan menyusuri hutan dan sampailah mereka berdua di sebuah dermaga. Tuan muda itu teringat akan gubuk kecil di tengah pulau buatan.
“Ayo naik!”ajak tuan muda itu pada Ayra
Keduanya lalu naik ke atas sampan yang berada tak jauh dari dermaga. Dengan sekuat tenaga tuan muda itu mendayung sampan menjauh dari dermaga. Sesekali dilihatnya gadis kecil berwajah cantik di depannya yang masih gemetaran dan ketakutan.
Hujan terus saja mengguyur. Petir juga masih menabuh genderangnya di langit. Angin bertiup sangat kencang. Membuat dua anak kecil yang sedang melarikan diri dari penjahat itupun terus mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menyelamatkan diri.
Sesampainya di pulau buatan itu, tuan muda mengajak Ayra kecil menuju gubuk mungil miliknya yang terletak di tengah pulau. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tuan muda itu terus menyemangati Ayra supaya gadis kecil itu tidak ketakutan.
Sesampainya di gubuk mungil miliknya, mereka berdua segera masuk ke dalam untuk berteduh. Karena tubuhnya yang mungil, tuan muda itu harus mencari kursi agar dapat menyalakan saklar lampu yang letaknya lumayan tinggi.
“Ceklek”
Lampu-lampu di gubuk mungil itu pun menyala. Menerangi gubuk mungil itu. Tuan muda mengajak Ayra masuk dan duduk di kursi sofa. Dilihatnya gadis kecil yang penampilannya sangat berantakan. Dengan rambut panjang yang acak-acakan, pakaiannya yang sedikit sobek di beberapa tempat, dan luka-luka di tubuhnya.
__ADS_1
Tuan muda itu ingin mengobati luka Ayra kecil, tapi Ayra menarik tangannya yang terluka.
“Tanganmu terluka. Harus kita obati sebelum infeksi”pinta tuan muda itu
Ayra menggeleng pelan. Dia tidak ingin diobati. Kedua anak kecil itu akhirnya terlibat sedikit perdebatan, karena tuan muda itu memaksa ingin mengobati luka-luka di tubuh Ayra. Tapi Ayra terus saja menolak.
“Kita sudah aman sekarang. Kita tinggal menunggu para pengawalku menemukan kita. Jadi biarkan aku mengobatimu”pinta tuan muda
Ayra tetap menggeleng. Membuat tuan muda itu pun frustasi dan meninggalkan Ayra sendiri di ruang tamu gubuk mungil itu.
“Bersihkan dulu wajah dan tubuhmu. Di dalam ada kamar mandi”ucap tuan muda itu.
Ayra masih juga menggeleng. Tuan muda itupun akhirnya mengalah dan duduk di samping Ayra kecil.
“Siapa namamu? Namaku Devara”sapa Devara memperkenalkan diri
“Namaku Ayra”balas Ayra dengan suara lirih
Bahkan Devara kecil tak sanggup mendengar namanya.
“Dia bicara apa? Aku sama sekali tak mendengar namanya”gumam Devara kecil dalam hati sambil mengernyitkan dahinya karena suara Ayra sangat pelan saat menyebutkan namanya.
“Siapa orang-orang itu tadi?”tanya Devara
“Mereka..mau menculikku”ucap Ayra kecil dengan sedih.
Suara tangis Ayra sangat menyayat hati. Membuat Devara kecil tak tega mendengarnya.
“Hei..jangan menangis! Kau aman sekarang. Jangan menangis”pinta Devara dengan suara lembut
Ayra terus menangis sampai sesenggukan. Di usianya yang masih belia, dia harus merasakan pengalaman sepahit itu. Beban mental yang harus ditanggung anak sekecil itu sungguhlah besar. Dan Ayra hanya dapat melampiaskannya dengan menangis.
“Dddduuuuaarrrrrr”
Petir besar kembali menggelegar.
“Aaaaaaaa”
Ayra yang kaget langsung berteriak ketakutan. Masih jelas dalam ingatannya pohon besar yang tersambar petir dan terbelah menjadi beberapa bagian tadi. Tubuh Ayra bergetar hebat begitu mendengar petir besar yang terasa sangat dekat itu.
Devara spontan memeluk tubuh mungil Ayra untuk menenangkannya. Karena gadis kecil itu terlihat sangat ketakutan.
“Jangan takut! Tenanglah! Jangan takut”ucap Devara kecil pada Ayra
__ADS_1
Kedua anak kecil itupun bermalam di gubuk mungil semalaman. Devara terus menjaga Ayra kecil hingga keduanya tertidur di ranjang yang ada di kamar sambil berpegangan tangan.
*****
Matahari pagi menyapa. Cahayanya yang mengintip perlahan dari balik awan, menerobos memasuki ruangan penuh kaca di gubuk mungil itu. Cahaya matahari yang menyilaukan mata, membuat dua anak kecil yang terus berpegangan tangan sepanjang malam akhirnya terbangun.
Ayra dan Devara kecil saling membuka mata. Keduanya baru saja melewati malam panjang disertai hujan angin dan petir yang bersahut-sahutan sepanjang malam.
Ayra bangun dan melepaskan pegangan tangannya. Sambil merapikan baju dan rambutnya. Wajah Ayra terlihat pucat. Seharian kemarin Ayra tidak makan dan minum. Masih harus menyelamatkan diri dari kejaran penjahat. Baju yang dipakainya seharian kemarin juga masih basah terkena hujan.
Devara kecil berjalan keluar dari kamar menuju dapur kecil di ruang makan. Dibukanya lemari makanan yang ada di sana.
“Ahh..ini dia”
Devara kecil tersenyum puas setelah menemukan bungkus mie instan di lemari. Ada juga teh sachet di sana.
“Tapi..bagaimana cara membuatnya?”gumam Devara kecil kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Ayra keluar dari kamar dan melihat Devara yang mencoba menyalakan kompor. Ayra berjalan mendekat. Devara melihatnya lalu tersenyum. Ayra balas tersenyum.
“Apa kau lapar?”tanya Devara kecil
Ayra mengangguk pelan. Sudah sejak kemarin dia tidak makan dan minum. Tentu saja saat ini dia sangat kelaparan.
“Sebentar aku buatkan mie”ucap Devara sambil menunjukkan satu bungkus mie instan di tangannya.
Ayra kecil tersenyum melihatnya. Devara kecil kembali berjuang menyalakan kompor.
“Ceklek..ceklek”
Kompor sudah beberapa kali coba dinyalakan tapi tidak juga mau menyala. Membuat Devara lama-lama frustasi juga dibuatnya.
“Susah sekali menyalakannya”gerutu Devara yang memang tidak pernah memasak seumur hidupnya
“Boleh..aku bantu?”ucap Ayra lirih mencoba membantu
Devara mengangguk tanda setuju. Ayra pun berjalan mendekat dan berdiri di depan kompor. Dengan sekali percobaan kompor itupun menyala.
“Yeyyy”sorak Devara kegirangan
Akhirnya Ayra yang memasak mie instan itu untuk keduanya. Walaupun masih kecil, tapi Ayra cukup cekatan memasak mie instan itu. Dan setelah menunggu beberapa saat, mie instan itupun jadi. Ayra memindahkannya ke dalam dua piring untuk mereka berdua.
“Selamat makan!”ucap Devara kecil
__ADS_1
Ayra hanya tersenyum lalu keduanya menyantap makanan sederhana itu dengan lahap. Mereka berdua merasa kelaparan setelah seharian kemarin belum makan. Saat sedang asyik menyantap mie instan, tiba-tiba terdengar pintu gubuk mungil itu dibuka dari luar. Kedua anak kecil kaget dan saling bertatapan dalam diam. Mereka pun langsung bersembunyi begitu mendengar bunyi pintu yang dibuka tersebut.
“Krekkkk”