
Ayra pun mulai memasak. Rupanya Ayra sangat lihai dalam urusan dapur. Dia mengiris semua bahan layaknya chef. Dia sangat fokus dan konsentrasi. Devara tampak menikmati kepandaian Ayra memasak. Sesekali Ayra membetulkan rambutnya yang tergerai karena sedikit mengganggu pergerakannya. Devara keluar sebentar dari dapur. Ayra hanya melihat saja tanpa bertanya.
“Kemana dia pergi? Ahh..sudahlah..aku selesaikan saja masakan ini..aku juga sudah lapar”gumam Ayra dalam hati.
Devara sudah masuk dapur lagi. Tapi Ayra tak melihatnya karena terlalu fokus memasak.
Tiba-tiba,
“Diamlah dulu” Devara sudah di belakang Ayra.
“Kau mau apa?”tanya Ayra bingung
Rupanya tadi Devara keluar untuk mencarikan Ayra ikat rambut. Karena sepertinya rambut panjangnya yang tergerai mengganggunya dalam memasak. Devara membantu mengikat rambut Ayra. Lagi-lagi jantung Ayra bergetar dengan sikap dan perhatian Devara padanya. Cowok aneh gila yang cuek dan suka teriak-teriak itu ternyata sangat perhatian padanya. Membuat jantung Ayra sekali lagi berdetak kencang.
“Selesai” ucap Devara senang
Ayra memegang ikatan rambut yang dibuat Devara. Ayra tak menyukainya. Ayra pun melepas ikatan itu. Devara tampak tak senang melihat hasil karyanya dirusak begitu saja.
“Kenapa kau lepas?”protes Devara
Ayra merapikan rambutnya sendiri sambil menoleh ke arah Devara.
“Kalau ikatannya seperti itu rambutku tetap akan lepas”ujar Ayra sambil mengikat rambutnya menjadi model cepol.
Jantung Devara bergetar hebat saat melihat Ayra yang sedang merapikan rambutnya tepat dihadapannya. Dipandanginya terus Ayra yang sangat cantik dengan rambut model cepolnya itu. Ayra melanjutkan acara masaknya, sementara Devara terus memandangi Ayra yang sedang memasak.
Devara benar-benar terpesona dengan kecantikan Ayra. Dengan rambut cepolnya itu, Devara dapat melihat dengan jelas garis leher Ayra yang indah. Devara salah tingkah. Dia mendadak menjadi bergairah. Berkali-kali dia menelan ludahnya sendiri sambil memandangi kecantikan Ayra.
“Sialan! Kenapa dia cantik sekali?” tanya Devara dalam hati sambil memegang dadanya.
Untuk mengusir kegundahannya, Devara berjalan menuju kulkas besar dua pintu miliknya. Devara mengambil segelas air lalu meneguknya perlahan sambil terus mengamati Ayra yang sedang memasak. Ayra yang melihat Devara minum, membuatnya juga haus. Diapun meminta Devara mengambilkan air.
“Minta tolong ambilkan aku air. Aku juga haus”pinta Ayra sambil memberi isyarat pada Devara dengan memegang lehernya.
Lagi-lagi Devara salah tingkah. Hampir saja Devara tersedak, melihat Ayra yang memegang lehernya sendiri. Devara segera mengambilkan Ayra segelas air lalu diletakkan gelas itu setengah dilempar.
“Ini”ucap Devara ketus
“Lama sekali masaknya? Kapan matangnya?” tanya Devara tak sabar
“Sebentar lagi” jawab Ayra
__ADS_1
Aroma nasi goreng Ayra menyeruak memenuhi dapur itu. Aromanya benar-benar lezat. Devara benar-benar tak sabar ingin segera memakannya.
“Makanya kamu mesti menghargai pelayan-pelayanmu itu. Kamu tahunya cuma makan. Padahal mereka memasaknya juga butuh waktu” ceramah Ayra sambil terus mengaduk nasi gorengnya supaya bumbunya merata.
Akhirnya masakan Ayra sudah jadi. Diletakkannya nasi goreng itu di piring. Dihiasinya dengan potongan udang besar, irisan telur dadar gulung yang dipotong memanjang, selada, mentimun dan irisan tomat. Nasi goreng itu terlihat sangat lezat. Devara sudah tak sabar untuk mencicipinya. Dua piring nasi goreng sudah siap. Devara mulai menyendok nasi goreng itu.
“Bagaimana?”tanya Ayra penasaran setelah melihat Devara memakan nasi gorengnya.
Nasi goreng itu benar-benar lezat. Benar kata Ayra. Nasi gorengnya sangat lezat. Devara hanya manggut-manggut.
“Enak” ucapnya datar.
Padahal sebenarnya dalam hati, dia sangat senang bisa merasakan masakan Ayra. Ayra tersenyum senang. Dia bahagia karena masakannya memang lezat. Devara yang melihat senyum Ayra jadi ikut tersenyum. Mereka memakan makanannya berdua sambil berbincang ringan. Tanpa pertengkaran dan perdebatan yang biasa mereka lakukan.
Selesai makan, Devara mengantar Ayra ke kamar. Kali ini Ayra tak mau dibopong. Ayra hanya berpegangan pada lengan Devara.
“Ayo..aku antar ke kamar”ucap Devara
“Aku jalan aja”pinta Ayra
Sebenarnya Devara malas, karena Ayra berjalan sangat lambat. Tapi Devara akhirnya mengalah setelah melihat Ayra cemberut. Rupanya Devara tak tega melihat wajah cemberut Ayra.
Sampai di depan kamar,
Ayra mengangguk. Devara menatap pipi Ayra. Dia mendekatkan wajahnya mencoba melihat bekas tamparan tadi siang. Bengkaknya sudah hilang.
“Bengkaknya sudah hilang” ujar Devara sambil memegang pipi Ayra
“Syukurlah” jawab Ayra sambil tersenyum.
Sekali lagi mata mereka bertatapan. Wajah mereka sangat dekat. Jantung mereka berdua berdetak sangat kencang. Devara mendekatkan wajahnya perlahan. Tangannya memegang tengkuk leher Ayra. Dia memiringkan wajahnya hendak mencium Ayra. Setiap di dekat Ayra, Devara seperti tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium gadis cantik itu. Apalagi kini, Ayra tak memberikan perlawanan saat Devara ingin menciumnya.
“Kreekkkk”
Seseorang membuka pintu. Dua orang pelayan tiba-tiba muncul dari kamar yang ditunjuk Devara tadi.
Mereka berdua kaget. Pelayan-pelayan itupun kaget.
“Arrgghhhhh…kenapa selalu ada yang mengganggu sih?”protes Devara dalam hati
“Aku pecat saja semua pelayan biar tidak ada yang mengganggu” gerutu Devara dalam hati setelah untuk kedua kalinya kemesaraannya dengan Ayra diganggu.
__ADS_1
“A..aku masuk kamar dulu”ujar Ayra sambil tersipu malu karena ada pelayan itu.
Ayra segera masuk kamar. Setelah menutup pintu, Ayra mematung di balik pintu. Jantungnya masih berdetak kencang. Nafasnya pun terengah-engah karena gugup hampir dicium lagi oleh Devara.
“Selamat Malam” teriak Devara
“Selamat Malam” jawab Ayra lirih sambil tersenyum mendengar teriakan Devara.
“Maaf tuan muda, saya..”ucap pelayan tadi
“Sudah lupakan..apa kamar itu sudah siap?”tanya Devara
“Iya tuan, sudah siap”jawab pelayan itu
“Terimakasih”ucap Devara lalu pergi ke kamar.
Ucapan Devara barusan berhasil membuat pelayan-pelayan tadi melongo. Terheran-heran. Heran karena ini pertama kalinya Devara mengucapkan kata “terimakasih” pada mereka.
*
*
*
*
Di kamar,
Ayra segera tidur karena tubuhnya sudah sangat lelah. Kejadian tadi siang benar-benar membuatnya sangat lelah. Terbayang kembali semua perlakuan Devara padanya sejak siang tadi sampai kejadian barusan. Semua kejadian yang membuat jantung Ayra bergetar. Ada perasaan damai dalam hati Ayra. Walaupun mereka selalu saja bertengkar, tetapi perhatian Devara padanya hari ini mampu membuatnya lupa kejadian mengerikan yang sudah dialaminya. Ayra pun akhirnya tertidur. Tertidur dengan pulas.
Tengah malam,
Saat semua orang sudah tertidur, Seseorang masuk kamar Devara yang saat ini dipakai Ayra. Tentu saja Devara orangnya. Rupanya dia tak bisa tidur. Akhirnya dia pergi ke kamarnya. Dia masuk dengan langkah yang sangat pelan. Dia tak mau membangunkan Ayra.
Dilihatnya Ayra yang sedang tidur. Dia naik ke ranjang dan duduk di samping Ayra. Dipandanginya wajah cantik Ayra yang tertidur sangat pulas. Devara tersenyum melihat Ayra. Dipandanginya setiap inchi wajah Ayra. Bulu matanya yang lentik dan hidungnya yang mancung. Disibaknya anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Devara melakukannya dengan sangat hati-hati. Melihat Ayra yang tertidur pulas membuat Devara ingin menciumnya. Mencium bibir Ayra. Bibir merah lembut yang dari tadi selalu gagal dilakukannya.
Kali ini Devara mendekatkan wajahnya ke wajah Ayra. Mendekat perlahan-lahan. Wajah mereka kini sangat dekat. Jantung Devara berdetak sangat kencang. Nafasnya berburu dengan detak jantungnya. Bibir Devara menyentuh bibir Ayra. Akhirnya Devara berhasil mencium Ayra. Devara tersenyum senang. Ayra masih juga tertidur saking lelahnya.
“Huammpphh” Devara menguap.
Dia mulai merasa mengantuk. Karena sulit tidur di kamar sebelah, Devara memilih tidur di samping Ayra. Ranjang Devara memang sangat besar. Sehingga dia bisa tidur disitu tanpa ketahuan Ayra.
__ADS_1
Ranjang Devara sangat nyaman dan empuk. Sebentar saja, Devara sudah tertidur. Karena merasa kepanasan, Devara pun melepas kaosnya. Kini dia tidur dengan bertelanjang dada.
Ayra dan Devara tidur di ranjang yang sama semalaman.